APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!

Assalamu'alaikum, Mas CEO!

Hanif, bos INANTA Group, dikenal sebagai sosok religius yang taat beribadah di tengah kesuksesan bisnisnya. Kehidupannya berubah drastis setelah putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang berwajah sangat mirip dengan mendiang sang ibu. Kedekatan erat di antara mereka berdua mulai mengancam rencana pertunangan Hanif dengan Soraya. Terjebak antara kewajiban dan kebahagiaan sang anak, ke manakah takdir akan membawa pelabuhan hati Hanif berikutnya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Di sebuah meeting room perusahaan berskala international PT. Inanta Group, seorang pria berusia sekitar 30 tahunan berwajah serius sedang memimpin rapat akhir tahun. Dialah Mohammad Hanif As-Siddiq yang memegang jabatan sebagai Chief Excecutif Officer (CEO) di perusahaan yang bergerak di bidang agraria itu.

"Sampai saat ini perusahaan kita masih menjadi produsen lateks terbesar di indonesia. Meskipun kelapa sawit telah menyusul karet baru-baru ini dalam hal luas lahan, perusahaan tetap berkomitmen dalam segmen usaha karet dan melanjutkan pengembangan perkebunan karet melalui penanaman lahan baru," kata Hanif.

"Kapan kira-kira penanaman lahan itu akan dilaksanakan? Kita juga harus memperhitungkan waktunya agar pengalokasian dananya tidak saling bertabrakan dengan pengeluaran dana untuk maintenance (pemeliharaan) alat-alat dan fasilitas di perusahaan kita," sela salah satu peserta rapat.

"Perkebunan karet perusahaan saat ini dalam siklus penanaman ketiga. Penanaman kembali secara teratur akan dilakukan setelah pohon karet mencapai umur 25 tahun. Namun, perusahaan sedikit menunda penanaman kembali selama dua tahun belakangan untuk mengambil keuntungan dari tingginya harga karet yang berlaku. Dan hemat saya mengatakan sebaiknya kita mempercepat kembali program penanaman kembali pada awal Februari nanti karena pohon karet yang tua pasti akan berkurang produktifitas-nya," jawab Hanif.

"Jika penanaman kembali direncanakan awal Februari, bukankah itu terlalu cepat?"

"Terlalu cepat bagaimana? Dua bulan, apakah itu tidak cukup mempersiapkan segala sesuatunya?"

"Tapi ...."

"Abi!!!"

Jreeeeng!!!

Semua peserta rapat menoleh ke asal suara itu.

Seorang bocah perempuan berhijab berusia sekitar 4 tahunan memperlihatkan kepalanya dari balik pintu ruang rapat. Namun tatkala semua mata tertuju padanya, gadis kecil itu kembali bersembunyi.

Hanif berusaha mengabaikan bocah itu. Dan kembali melanjutkan rapat.

"Tapi apa tadi?" tanya Hanif lagi.

"Tapi kalau kita nekad melakukan penana ...."

"Abi!!!! Hihihi ...."

Suara mungil nan menggemaskan itu terdengar lagi. Kali ini dibarengi dengan tawa cekikikan. Kepalanya menyembul lagi dari balik pintu.

Hanif menghela napas dan bangkit dari duduknya.

"Tunggu sebentar!" pamitnya pada semua peserta rapat yang juga telah kehilangan fokus akibat ulah bocah kecil itu.

Hanif lantas keluar dari ruang rapat dan ingin menemui anak itu.

"Ah, Ais! Kamu mau apa? Abi lagi rapat nih!" tanya Hanif pada bocah itu.

Aisyah gadis perempuan cilik nan cantik lagi berhijap itu tertawa.

"Abi, pulang yuk! Ais bosyan di syini. Di syinni nda da eman," rengeknya.

Hanif menghela napas sambil mengelus kepala gadis itu.

"Sebentar lagi ya, Sayang. Abi selesaikan dulu rapatnya."

"Cebentalnya belapa banyak?" tanya Aisyah lagi.

Hanif pura-pura berpikir keras.

"Segini!" katanya sambil menunjukkan sepuluh jarinya.

"Haaa? Sephuluh? Itu lama syekali, Abi!"

"Hanya sepuluh menit. Bukan sepuluh jam, oke?"

Gadis kecil itu kembali berlagak seperti orang yang sedang berpikir keras. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di pelipisnya.

"Sepuluh menit, ya?" tanya Hanif lagi meminta persetujuan sang bocah.

"Hmmm, ote (oke)!" kata Aisyah pada akhirnya.

"Dian! tolong awasi Aisyah sebentar, ya! saya mau lanjutin rapat dulu. Paling hanya sepuluh menitan lagi," kata Hanif menyuruh salah seorang staf untuk mengawasi Aisyah.

"Oh iya, Pak!" jawab Dian. "Ais, ikut kakak yuk!"

"Tapi Abi janan boong, ya! Janan lama," kata si kecil Aisyah memperingatkan.

"He em. Nggak lama, kok!" jawab sang Abi.

Lalu Hanif pun kembali melanjutkan rapat.

Waktu 10 menit yang dijanjikan oleh Hanif ternyata tak dapat dia penuhi. Nyatanya rapat itu membutuhkan waktu yang lebih banyak dari yang dia perkirakan.

Aisyah mulai bosan.

"Akak, Ais lapaaal (lapar)," rengeknya.

Dian, staf yang disuruh menjaga Aisyah sedang fokus menginput data saat mendengar anak dari bosnya itu merengek.

"Bentar ya Ais. Kkak masih sibuk, nih. Kalau ini sudah selesai, nanti kita cari makanan, ya, ya, ya?" bujuk Dian sambil tangannya masing ketik-ketik di atas keyboard komputer.

***

Di sisi lain gedung Inanta Group, terdapat sebuah pantry. Seorang gadis berusia 21 tahun sedang sibuk membuatkan kopi untuk para karyawan perusahaan itu.

Tok!Tok!Tok!

Gadis itu menoleh. Seorang lelaki dengan kemeja biru sedang bersandar di pintu pantry.

"Ummi, antarin kopi ke ruang Pak Heru, ya!" kata lelaki itu.

"Satu ajakah, Mas?" tanya gadis bernama Ummi itu.

"He em. Kalau kamu nggak keberatan sih, bisa juga antar ke ruanganku sekalian," jawab Dirga.

Wanita yang ternyata bernama Ummi itu mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah, takarannya seperti biasa ya, Mas?" tanya gadis itu.

"Yoi!!! jangan lama-lama, ya!" kata pria itu seraya berlalu pergi dari pantry itu.

Usai menyiapkan kopi yang diminta oleh karyawan bernama Dirga tadi, Ummi pun mengantarkan kopi tersebut ke ruangan Pak Heru kemudian segera mengantar segelas kopi lagi ke meja kerja Dirga.

"Ini Mas kopinya!" kata Ummi sembari meletakkan kopi di atas meja.

"Kopi Pak Heru sudah?"tanyanya.

"Sudah," jawab Ummi.

"Kalau begitu, nanti tolong antarkan file ini ke ruangan pak Hanif," kata Dirga lagi.

"Pak Hanif siapa ya, mas? Di divisi apa?" tanya Ummi mengingat-ingat.

Dia baru tiga bulanan bekerja di perusahaan ini sebagai office girl, dan seingatnya dia tak kenal dengan seseorang bernama Hanif di sini.

"Pak Hanif CEO, di lantai 54," jawab Dirga seraya menyerahkan beberapa file ke tangan Ummi.

"Hah?"

Ummi termangu. Sekarang dia baru ingat kalau di sini ada seorang Hanif yang terkenal di lingkungan karyawati. Hanif CEO! Orang yang selalu jadi perbincangan karyawati wanita di kantor ini.

"Kenapa? Merasa dapat anugrah ya? hahaha ..." ledek Dirga.

Ummi tersentak dari ketermanguannya.

"Mas Dirga ini! Anugrah apanya? Saya kan cuma disuruh ngantarin ini, kan?" tanyanya.

"Hahaha, Ummi, Ummi! Kamu nggak tau aja sih ada berapa banyak cewek yang berharap aku nyuruh mereka ngantarin sesuatu ke Hanif kayak begini. Dan sekarang aku ngasih kamu kesempatan itu, terima kasih, donk!"

Ummi mengedip-ngedipkan matanya heran.

"Terima kasih buat apa, Mas?"

"Haisss, kamu itu susah nyambungnya, Mi! udah antarin gih sana!"

"Hmmm, oke deh."

Setelah mengantar nampannya ke pantry, Ummi pun langsung mengantar file itu menuju lantai 54 gedung itu. Setelah mencari-cari di mana ruang kerja CEO, akhirnya Ummi pun menemukannya.

"Mbak, saya mau ngantarin file untuk pak Hanif," kata Ummi sopan pada sekretarisnya Hanif yang meja kerjanya berada di luar ruangan CEO itu.

"Sini! Berikan sama saya aja. Pak Hanif lagi rapat," kata wanita itu.

Tak banyak yang bisa dilakukan disitu. Ummi sampai geleng-geleng kepala mengingat kata-kata Dirga yang menyuruh dia berterima kasih padanya. Terima kasih buat apa coba? Kan tenaganya yang keluar untuk mengantarkan file ini kesini? Ketemu orangnya aja dia tidak pernah, mau terima kasih bagaimana maksudnya?

Usai mengantarkan file itu, Ummi pun segera kembali ke bawah. Saat hendak masuk ke dalam lift, dia melihat seorang anak kecil berhijap bersama ibunya. Dalam hatinya merasa miris. Kenapa saat anaknya memakai hijap, ibunya malah berpakaian minim?

Tapi Ummi tidak ambil pusing, toh itu bukan urusannya. Ketika dia sampai di bawah, pekerjaannya telah menunggunya kembali.

"Ummi, kopi!!"

"Ummi, tolong ambilkan staples di depan!"

"Ummi, fotocopy!"

"Ummi ...!!!"

"Ummi ...."

Hingga menjelang sore, akhirnya pegawai yang menyuruh-nyuruhnya mulai berkurang satu persatu. Dan kini dia kembali ke pantry. Perutnya pun mulai lapar, dan Ummi baru ingat kalau dia lupa makan siang.

Tak sempat membeli makan siang lagi, akhirnya Ummi memutuskan untuk menyeduh mi instan dalam kemasan cup saja. Perutnya benar-benar lapar sekarang.

Tak menunggu lama mie instan itu terhidang, Ummi pun mulai menyuap mie instan itu ke dalam mulutnya.

"Ummi ...."

Dasar! Baru juga makan sesuap sudah ada saja yang memanggil-manggil dia.

"Hmmm ... ?"

Ummi buru-buru meraih air minum meneguknya dan .... tunggu dulu! Bukankah itu seperti suara anak kecil?

"Ummi ...."

Kini Ummi menoleh dan tak sempat dia berpikir jenih, seorang bocah kecil perempuan berhijap kini memeluknya.

****

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Angkatku Tak Tahan
8.4
Kehidupan bergelimang harta sebagai istri dari keluarga miliarder tidak menjamin ketenangan bagi wanita ini. Di balik paras cantik dan kemewahannya, sebuah ancaman terselubung muncul dari sosok anak angkat yang selama ini dikenal sangat perhatian. Tatapan penuh kepemilikan yang ganjil mulai membayangi kesehariannya. Batas hubungan ibu dan anak terkikis saat pemuda itu berani menyentuhnya di tengah sesi yoga, hingga puncaknya, sebuah gelas berisi air yang telah dicampur obat disodorkan demi melampiaskan obsesi yang tak lagi terbendung.
Sampul Novel Bukan Lagi April Mayo: Kembalinya Sang Pewaris
8.7
Demi cinta, aku rela melepas status pewaris selama tujuh tahun. Namun, suamiku malah berselingkuh, ibunya memperlakukanku bak pembantu, bahkan berniat membuang anak kami. Puncaknya, mereka menyakiti putraku di sebuah pesta hingga ia trauma. Sadar pengorbananku sia-sia, aku memutuskan pergi membawa anakku dan menghubungi keluarga besarku yang sangat berkuasa. Saat identitas asliku terungkap, dunia yang dulu meremehkan kami akan segera gemetar.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pantas Kupertahankan
8.9
Seminggu menjelang pernikahan, Jimmy mendadak memutuskan menikahi cinta pertamanya, Mia, demi memenuhi wasiat terakhir mendiang ibunya. Jimmy bahkan tega meremehkan proyek perhiasan bernilai triliunan rupiah milik bersama yang dijadwalkan rilis di hari pernikahan mereka. Karena sang tunangan justru menyuruhnya mencari orang lain jika hanya mengincar keuntungan bisnis tersebut, kesadaran sang protagonis pun pulih sepenuhnya. Ia segera menghubungi kakaknya untuk mencarikannya calon suami baru.
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Sebagai anak di luar nikah, Ariel harus menanggung cemoohan publik yang merusak nama besar ayahnya. Di tengah perlakuan kejam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan. Kehadiran miliarder sempurna ini membawa harapan baru bagi Ariel. Namun, perbedaan kasta yang jurang pemisah menjadi ujian berat bagi hubungan mereka. Mampukah Shawn melindungi Ariel dari kejamnya dunia? Temukan kisah perjuangan cinta mereka yang penuh rintangan.
Sampul Novel Istri Kontrak Mr Billionaire
8.6
Claudya terpaksa menikahi seorang miliarder Eropa demi melunasi biaya pengobatan ibunya. Alih-alih bahagia, kehidupan barunya justru dipenuhi siksaan batin karena sang suami menjadikannya pelampiasan atas luka masa lalu dari sang mantan kekasih. Meski sempat menaruh hati pada pria tersebut, Claudya akhirnya memilih menyerah. Ia memutuskan pergi jauh demi mengakhiri penderitaan dalam pernikahan kontrak tanpa cinta ini.
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarganya yang menumpuk, Hana terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Ray, seorang CEO dingin yang ingin mempertahankan reputasinya. Walau sepakat menjaga jarak secara emosional, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Namun, ikatan palsu ini mulai diuji ketika masa lalu kelam Ray terkuak dan ancaman dari rival bisnisnya datang menyerang. Akankah ketulusan sejati berhasil lahir dari sebuah kebohongan yang rumit?