APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Arabella

Arabella

Akibat luka masa lalu, Bella memilih menutup diri dan bertekad tidak akan pernah jatuh cinta lagi selama masa SMA-nya. Namun, keyakinan kokoh gadis ini mulai goyah sejak kehadiran seorang pemuda tangguh yang nekat mendekatinya. Walau Bella berulang kali menolak dengan tegas, perjuangan cowok tersebut sama sekali tidak surut. Akankah kegigihan dan ketulusan luar biasa dari sang pemuda berhasil meluluhkan kembali hati Bella yang membeku?
Bab
Bagikan

Bab 2

"A ... Arabella?"

Bella terkejut. Bagaimana tidak terkejut. Vian mengetahui namanya. Dan tatapan cowok itu seolah sudah mengenali Bella sebelum Bella pindah ke sekolah ini. Padahal Bella baru pertama kali bertemu Vian.

Tidak hanya Bella yang terkejut, Sita, Regan dan Beno pun ikut terkejut. Apakah mereka berdua saling mengenal?

"Lo tahu nama gue?" tanya Bella masih terkejut.

Vian mengangguk lalu tersenyum. "Gue yang waktu itu balikin KTP lo."

Bella terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian ia pun sadar. Kini Bella mengingat Vian. Cowok itu yang ia temui saat ia masih di Surabaya.

"Udah ingat, kan?" tanya Vian ketika merasa Bella sudah mengingatnya.

Bella hanya mengangguk.

"Gue yakin lo udah lupa nama gue. Jadi gue mau kita kenalan. Gue Vian." Vian menjulurkan tangannya.

"Bella."

Vian hanya tersenyum karena Bella tidak menyambut tangannya. Sedangkan Regan dan Beno yang berada di belakang Vian hanya menahan tawa. Karena baru kali ini Vian diabaikan oleh cewek.

"Mau gabung sama gue? Kebetulan meja kita masih kosong." Vian menawari dengan tujuan agar bisa mengobrol dengan Bella.

"Ma---"

"Enggak, makasih." Sita yang tadinya senang langsung kecewa dengan jawaban Bella.

Setelah Bella dan Sita pergi, barulah Regan dan Beno tertawa.

Vian menatap tajam keduanya. "Kenapa lo berdua ketawa?"

"Lucu aja. Baru kali ini ada cewek yang nolak lo mentah-mentah."

"Benar banget. Eh, bentar. Waktu itu lo bilang ada cewek Surabaya yang bikin lo tertarik. Apa jangan-jangan ceweknya anak baru itu?" tanya Beno memastikan.

Vian hanya diam. Masih fokus memperhatikan Bella yang kini sedang menikmati makanannya.

"Fix! Benar dugaan lo, No. Kayaknya jodoh lo, Yan." Regan menepuk pundak Vian.

"Tapi kayaknya enggak deh."

"Kenapa?" Vian seketika langsung menoleh pada Beno membuat kedua temannya menertawainya.

"Kayaknya dia beneran suka deh sama anak baru." Beno mengangguk menyetujui ucapan Regan.

"Jawab dulu pertanyaan gue."

"Dari cara dia liat lo aja keliatan banget dia gak tertarik sama lo, Yan. Tipe cewek kayak dia bakal susah didekatin. Ujung-ujungnya lo bakal nyerah sendiri."

Vian menggeleng. "Kalau dia gak tertarik, gue yang bakal buat dia tertarik sama gue," ucap Vian penuh yakin.

"Terserah lo aja deh."

*****

"Bell, Vian daritadi liatin lo terus," ujar Sita.

Bella tidak peduli. Bella tetap sibuk menikmati makanannya.

"Lo kenapa gak mau gabung sama Vian aja?"

"Kita udah ada meja," jawab Bella.

"Iya sih, tapi gue pengin rasain duduk sama Vian. Selama ini kan gue cuma bisa liat dia dari jauh doang."

"Katanya udah gak suka."

Sita cengengesan. "Iya, emang udah gak suka, tapi gue pengin aja dia tahu gue."

"Eh, tapi kayaknya Vian suka deh sama lo, Bell. Baru kali ini dia perhatiin cewek sampai lama gini. Biasanya cewek yang perhatiin dia."

"Eh, Bell, mau ke mana?" Sita bertanya ketika Bella hendak pergi.

"Toilet."

"Ya udah, jangan lama-lama, ya."

Bella hanya mengangguk. Lalu mempercepat langkahnya keluar dari kantin.

Saat sudah keluar dari kantin, ia malah bertemu dengan dua orang cowok.

"Hai, anak baru, ya? Boleh kenalan?"

Bella tidak menjawab. Bella hendak melanjutkan langkahnya, namun ia terjatuh karena salah satu cowok menjegalnya.

Ketiga cowok itu tertawa. "Makanya jadi cewek jangan sok jual mahal. Lo pikir lo paling cantik?"

Bella bangkit berdiri hendak memberi pelajaran pada cowok itu. Namun, sudah ada yang mendahuluinya.

"Gak usah macam-macam lo sama dia," ucap Vian emosi ketika berhasil mendaratkan sebuah pukulan pada wajah cowok itu.

"Santai bro. Gue gak ada masalah sama lo. Kenapa lo malah mukul gue?"

"Ini pertama dan terakhir kalinya lo cari masalah sama dia. Kalau sampai lo masih ulang, gue bikin lo babak belur."

Vian beralih menatap Bella yang hanya diam.

"Lo gak papa, kan?" tanya Vian yang hanya dibalas anggukan oleh Bella.

"Kaki lo luka, gue antarin ke UKS, ya?"

"Gak usah gue bisa sendiri." Bella pun pergi dari sana.

"Gue bilang juga apa tuh cewek jual mahal," sahut cowok yang tadi dipukul oleh Vian.

"Tutup mulut lo kalau gak mau babak belur."

*****

"Bell, kok lo tinggalin gue di kantin, sih? Kan tadi gue suruh lo balik ke kantin." Sita yang baru kembali ke kelas terlihat kesal.

Tentu saja Sita kesal karena Bella meninggalkannya begitu saja.

"Sorry, Sit, gue lupa." Bella jadi merasa bersalah pada Sita. Kalau saja ketiga cowok itu tadi tidak mengganggunya mungkin Bella akan kembali menemui Sita.

Tatapan Sita beralih ke kaki Bella. "Itu dengkul lo luka kenapa? Lo jatuh?"

"Iya jatuh di tangga." Bella berbohong agar Sita tidak khawatir dan bertanya lebih banyak.

"Ayo gue antar ke UKS."

Bella menggeleng. "Gak usah. Cuma luka kecil."

"Gak usah gimana? Nanti bisa infeksi kalau dibiarin."

"Nanti diobatin di rumah." Bukannya tidak mau hanya saja Bella tidak suka pergi ke UKS. Dari dulu ia sangat jarang pergi ke ruangan itu.

*****

"Vian?" Vian tersenyum tipis melihat Bella dan Sita keluar dari kelas.

"Cari siapa?" Sita bertanya.

Vian melirik Bella," Teman lo."

"Oh, ya udah kalau gitu. Gue duluan, ya." Sita hendak pergi, tapi Bella langsung menahannya.

"Kenapa Bell?"

Bella tidak menjawab, tapi Bella memberikan isyarat melalui tatapannya meminta Sita untuk tidak meninggalkannya berdua dengan Vian.

"Gue gak bisa di sini. Ojek online pesanan gue udah di depan soalnya." Sita melepas tangan Bella dari lengannya.

"Duluan, ya, Vian. Ingat, jangan macam-macam sama Bella."

"Iya."

Bella menatap ke arah lain. Sama sekali tidak mau menatap Vian. Bella sangat tidak nyaman. Apalagi sekarang hanya tersisa mereka berdua.

"Gue cuma mau kasih lo plester doang. Gue tahu lo pasti belum obatin luka lo, kan?" Vian memberikan plester pada Bella. "Nih, dipakai biar luka lo gak makin parah."

Bella masih diam. Tidak merespons ataupun menerima plester tersebut.

"Mau pakai sendiri atau gue yang pakein?" Vian hendak membuka plester untuk menempelkannya pada luka Bella. Namun, Bella sudah lebih dulu mengambilnya dari tangan Vian, membuat cowok itu tersenyum.

"Makasih." Tanpa berpamitan Bella langsung pergi begitu saja.

"Sampai ketemu besok, ya."

*****

"Aku pulang." Baron yang sedang menonton televisi langsung menoleh pada adiknya.

"Udah pulang lo?"

"Lo sendiri kok di rumah? Gak kuliah? Bolos ya lo?"

"Enak aja lo dosen gue gak ada yang masuk, makanya gue pulang cepat."

Bella hanya manggut-manggut, lalu mengambil duduk di samping Baron. Bella mengambil alih remote tv dari sang kakak lalu mengganti ke channel lain.

"Ganti pakaian dulu sana."

"Bawel lo."

"Itu dengkul lo kenapa diplester gitu?" tanya Baron menyadari kaki Bella yang diplester.

"Dijegal orang."

"Emang lo ngapain sampai bisa dijegal? Pasti lo yang cari masalah duluan, kan, makanya lo dijegal?" tuding Baron.

"Enak aja lo! Yang ada juga dia yang cari masalah sama gue. Cuma karena gue gak mau kenalan sama dia aja gue dijegal. Untung gak gue pukul."

"Makanya lo jangan kayak gitu. Lagian kan dia cuma mau kenalan doang. Lo harus lupain masa lalu lo. Lo harus bisa jadi diri lo yang dulu. Jangan cuma karena dia lo jadi tertutup sama semua cowok."

Bella melempar bantal sofa ke wajah Baron. "Bacot lo. Berhenti ungkit masa lalu gue." Bella pun pergi ke kamarnya.

"Ingat Bell gak semua cowok sama!"

*****

Bella merebahkan tubuhnya di kasur. Ternyata hari pertama di sekolah baru sangat melelahkan. Padahal saat di sekolahnya yang dulu, Bella tidak secapek ini. Mungkin karena ia bertemu orang-orang yang karakternya jauh berbeda dari sekolah lamanya.

Bella dapat merasakan perbedaan sekolah baru dan lamanya. Di mana sekolah baru lebih banyak orang-orang menyebalkan.

Bella menatap plester pemberian Vian yang masih melekat pada kakinya. Bella melepasnya lalu membuangnya ke tempat sampah.

Bella tidak tahu apa alasan Vian bersikap seperti itu padanya, tapi intinya Bella akan menjauhi cowok itu. Bella sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan berhubungan dengan cowok manapun. Baik itu hubungan pertemanan atau percintaan. Bella akan sangat membatasi pertemanannya. Ia tidak peduli jika tidak punya teman cowok. Walaupun Baron berulang kali mengatakan padanya kalau semua cowok itu berbeda, Bella tidak peduli.

Yang paling Bella tidak suka adalah Baron yang terus mengungkit masa lalunya. Bella tahu kakaknya itu berniat baik dan hanya ingin dirinya menjadi Bella yang seperti dulu, tapi sayangnya tidak mudah dan mungkin Bella tidak akan bisa kembali ke Bella yang dulu.

******************************

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berpisah Karena Game Online
9.0
Pernikahan harmonis Rani kini hancur akibat kecanduan sang suami pada game online. Hobi yang semula dianggap biasa justru menjadi awal dari keretakan rumah tangga mereka. Kenyataan pahit menghantam Rani saat mengetahui suaminya telah mengkhianati janji suci pernikahan. Melalui dunia virtual tersebut, sang suami tega menjalin hubungan gelap dengan wanita lain. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Rani akhirnya terpaksa mengambil keputusan berat untuk berpisah.
Sampul Novel DI ANTARA DUA HATI
8.2
Kehidupan mapan seorang wanita karier mendadak terguncang oleh dilema asmara yang rumit. Kembalinya sang mantan kekasih membangkitkan lagi kenangan lama yang belum usai. Di waktu yang sama, ia memiliki suami setia yang selalu ada untuknya. Kini, ia terjebak di antara nostalgia masa lalu dan komitmen masa depan yang telah dibangun bersama pasangannya. Keputusan sulit harus segera diambil demi menentukan arah hidup dan takdir cintanya.
Sampul Novel Dia Mendanai Wanita Lain Menggunakan Uangku
8.9
Demi menguji kesetiaan sang kekasih, Julissa Palmer memilih menyamar sebagai staf biasa di perusahaannya sendiri. Siasat ini justru membuat Ethan Wilson salah paham. Ia mengira Noreen adalah ahli waris Grup Palmer yang sesungguhnya. Sambil terus merendahkan Julissa, Ethan diam-diam mendekati Noreen demi mengincar harta. Di sebuah pesta mewah, Ethan bahkan nekat melamar Noreen di hadapan media. Ia tidak sadar bahwa Julissa adalah pemilik asli Grup Palmer yang sebenarnya.
Sampul Novel Jodohku Seorang Janda Kaya Raya
8.6
Kisah cinta tumbuh di antara Lintar, pemuda yang ulet, dan Dewi, seorang janda yang sukses menjabat sebagai CEO. Walau awalnya terasa canggung, perasaan tulus mulai menyatukan mereka. Rintangan besar menghadang saat paman Lintar menentang keras hubungan ini. Demi mempertahankan cintanya pada janda kaya tersebut, Lintar berjuang keras meyakinkan orang tuanya. Simak perjuangan emosional Lintar dalam meraih kesuksesan sekaligus kebahagiaan sejati bersama wanita dambaannya.
Sampul Novel Lidah Menantu
9.5
Sikap santun sang menantu rupanya hanya topeng. Kini, Mak Esah harus menghadapi lisan tajam dan perilaku tidak sopan dari istri anaknya tersebut. Di balik perubahan drastis ini, Mak Esah mencium adanya sebuah rahasia besar yang sengaja ditutupi darinya. Konflik batin dan ketegangan di antara mereka pun kian memuncak. Sanggupkah Mak Esah bertahan dari tekanan mental yang menderanya? Mampukah semua misteri dan kebenaran yang tersembunyi akhirnya terbongkar?
Sampul Novel Menyelamatkannya, Menghancurkan Pernikahan Kita
8.2
Tiga tahun membina rumah tangga, pernikahan sang istri hancur setelah Jared Stanley secara terbuka di televisi menyebut selingkuhannya, Bailee Brooks, sebagai sosok paling berharga. Merasa dikhianati, ia pun melayangkan gugatan cerai. Sebagai penerjemah elite di konferensi G20, ia dipertemukan kembali dengan Jared. Di sana, ia membuktikan profesionalitasnya dengan tetap akurat menerjemahkan instruksi penyelamatan untuk Jared, meski pria itu nyaris tewas demi menyelamatkan Bailee.