APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Arabella

Arabella

Akibat luka masa lalu, Bella memilih menutup diri dan bertekad tidak akan pernah jatuh cinta lagi selama masa SMA-nya. Namun, keyakinan kokoh gadis ini mulai goyah sejak kehadiran seorang pemuda tangguh yang nekat mendekatinya. Walau Bella berulang kali menolak dengan tegas, perjuangan cowok tersebut sama sekali tidak surut. Akankah kegigihan dan ketulusan luar biasa dari sang pemuda berhasil meluluhkan kembali hati Bella yang membeku?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Bella! Bella bangun, nak. Udah pagi. Kamu harus berangkat sekolah."

Bella menggeliat kecil kala sang ibu membangunkannya.

"Ayo mandi dulu. Ingat, kamu udah pindah ke sekolah yang baru. Jangan sampai telat," ucap sang ibu.

"Iya ma." Bella pun beranjak dari kasur lalu bergegas ke toilet untuk mandi. Ini adalah hari pertamanya ia bersekolah di sekolah yang baru. Jangan sampai ia mendapat kesan buruk dihari pertamanya bersekolah.

Tak lama kemudian, Bella sudah selesai mandi dan berpakaian. Bella pun turun ke bawah untuk sarapan bersama kedua orang tua dan juga kakaknya. Ya, Bella memiliki seorang kakak laki-laki yang kebiasaannya menjahili Bella.

"Pagi Pa, Ma, Kak."

"Pagi sayang."

"Ingat pindah ke sekolah baru jangan bikin masalah," ucap sang kakak, Baron.

"Iya bawel." Bella mengunyah roti yang sudah diolesi dengan selai coklat kesukaannya.

Setelah menghabiskan sarapannya, Bella pun berpamitan pada kedua orang tuanya.

"Mau gue antar gak?" tawar Baron.

Bella menoleh pada kakaknya dengan satu alis terangkat. "Tumben? Kesambet apaan lo?"

Tentu saja Bella heran, karena kakaknya itu tidak akan mau mengantarnya ke sekolah setiap kali Bella minta tolong. Kecuali kalau sang mama yang sudah turun tangan.

"Enggak, gue cuma mau antarin adik tersayang gue aja. Sekalian mau liat calon teman-temannya."

"Bilang aja mau liatin cewek-cewek. Dasar cowok." Bella pun pergi.

"Eh, yakin lo gak mau gue antar? Mumpung gue lagi baik, nih."

"Gak! Makasih!"

*****

Bella menarik napas lalu mengembuskannya. Hal itu ia lakukan berulang kali setelah sampai di depan bangunan tinggi yang merupakan sekolah barunya.

Ada rasa gugup dalam diri Bella, karena dirinya merupakan seorang yang cukup sulit untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Bella takut ia tidak mendapatkan teman di sekolah baru.

Setelah meyakinkan dirinya, Bella pun melangkah masuk.

Saat sudah masuk, rasa gugup kembali menyelimuti dirinya, karena kini banyak pasang mata yang tertuju padanya. Dan tatapan mereka membuatnya sangat tidak nyaman. Rasanya Bella ingin menghilang. Namun, Bella memberanikan diri untuk mendekati tiga orang cewek untuk menanyakan ruangan administrasi.

"Permisi, mau nanya ruang administrasi di mana, ya?"

"Nanti lurus aja terus belok kiri."

"Oke, makasih."

Tanpa berlama-lama Bella langsung pergi. Agar tidak membuang waktu. Disamping itu ia juga ingin segera menghindar dari tatapan aneh murid-murid yang ada di situ.

*****

"Tumben banget teman gue yang satu ini udah di kelas."

Seorang cowok yang merupakan teman Vian mengambil duduk di sampingnya. Cowok itu bernama Regan.

"Gak usah ganggu gue. Gue mau tidur." Vian yang menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya sama sekali tidak berniat untuk mengangkat kepalanya. Vian saat ini benar-benar mengantuk. Vian sengaja datang cukup pagi agar bisa tidur di kelas meskipun hanya beberapa menit.

"Pasti begadang lagi. Makanya kalau main game itu tahu batasan. Jangan sampai lupa waktu. Gue aja bisa atur waktu kapan belajar, kapan main game, dan kapan istirahat. Makanya gue gak pernah telat ke sekolah," ucap Regan membanggakan dirinya.

"Bacot!" Karena kesal dengan Regan yang mengganggu tidurnya, Vian pun memasukkan kertas ke dalam mulut Regan.

Regan tentu terkejut. Lalu segera mengeluarkan kertas tersebut dari mulutnya.

"Tega banget sih lo sama gue. Padahal gue aja gak pernah jahat sama lo," ucap Regan dramatis.

"Mau gue kasih makan kaos kaki gue?"

Dengan cepat Regan menggeleng. Tentu saja Vian tidak bercanda.

"Mau kemana lo?" Regan bertanya ketika Vian bangkit berdiri.

"Cari tempat sepi buat tidur. Biar gak ada yang ganggu gue."

"Ya udah, jangan lama-lama. Keburu Pak Edi masuk."

Vian hanya mengangguk. Saat ia baru di depan pintu, seseorang menghadangnya.

"Vian! Gue ada berita penting."

"Gue gak mau dengar," ujar Vian tidak peduli. Vian yakin berita yang dibilang penting oleh temannya yang bernama Beno itu adalah berita yang tidak penting.

"Dengar dulu dong. Kali ini beneran berita penting."

"Berita penting apa?" Regan yang penasaran langsung mendekati Beno.

"Ada anak baru di kelas Mipa 4. Katanya cantik."

Vian berdecak. Sudah ia duga berita penting yang dibilang Beno adalah berita yang sangat-sangat tidak penting untuknya.

"Minggir." Vian mendorong Beno agar tidak menghalangi jalannya.

"Lo gak mau dekatin, Yan? Siapa tahu cocok."

Vian tidak menjawab. Cowok itu terus berjalan menjauh.

"Lo gak bohong, kan, No?" tanya Regan memastikan.

"Ya iyalah masa gue bohong."

"Ya udah, kalau gitu temenin gue ke kelas Ipa 4."

Beno mengernyit heran. "Hah? Mau ngapain?"

"Mau liat cewek itu lah. Sekalian ngajak kenalan."

"Udah gila lo. Gue gak mau. Lo pergi aja sendiri."

*****

Bella hanya tersenyum ketika mendengar teman barunya bercerita. Ya, saat ini Bella sudah mendapatkan teman baru. Sita namanya. Gadis yang cukup cerewet.

Keduanya kini sedang berjalan menuju perpustakaan. Karena guru di kelas mereka menyuruh keduanya untuk meminjam buku paket di perpustakaan.

"Jadi lo pindahan dari Surabaya? Bisa ngomong bahasa Jawa dong."

"Em, dikit."

"Coba ngomong dikit dong. Gue pengin dengar."

"Em, Sita, ini belok kiri atau kanan?" tanya Bella ketika mereka sampai di pertigaan. Pasalnya, Bella belum mengetahui di mana letak perpustakaan.

"Kanan." Bella mengangguk lalu berbelok ke kanan.

"Bell, tungguin gue. Jalannya jangan cepat-cepat dong."

*****

Ketika mereka sampai di perpustakaan, Bella langsung berjalan menuju rak buku. Mencari buku paket yang diminta oleh sang guru.

"Ini Bell, bukunya." Sita langsung menunjukkan letak buku paket tersebut ketika Bella masih mencari-cari.

Mereka berdua mengambil buku paket tersebut sesuai dengan jumlah murid yang ada di kelas.

Saat hendak pergi, Bella menatap seorang cowok yang berada di pojok. Cowok itu menenggelamkan wajahnya di kedua lipatan tangannya. Bella tidak habis pikir kenapa ada orang yang menyalahgunakan perpustakaan seperti ini.

"Lo liat apa Bell?" Sita yang sudah berjalan lebih dulu kembali menghampiri Bella.

Sita mengikuti arah pandangan Bella. Kemudian ia tersenyum. "Cowok itu namanya Vian. Dia ganteng, tapi nakal. Sering PHP-in cewek juga. Dulunya sih gue suka dia, tapi sekarang udah enggak."

"Tiap hari dia emang tidur di perpus?"

"Gak tiap hari sih, tapi lumayan sering."

Bella hanya geleng-geleng kepala, lalu pergi.

"Eh, Bell tungguin!"

Setelah mereka pergi, Vian mengangkat kepalanya. Lalu mengarahkan pandangannya ke segala arah. Vian mendengar suara seorang cewek yang tidak asing di telinganya. Vian menggeleng. Pasti ia salah dengar. Vian pun kembali melanjutkan tidurnya.

*****

"Bell, ayo ke kantin," ajak Sita.

Bella yang cukup lapar hanya mengangguk. Lalu mengikuti Sita.

Saat sampai di kantin mereka langsung membeli makanan. Bella membeli nasi ayam kesukaannya, sedangkan Sita membeli bakso.

Ketika selesai membeli dan hendak berjalan menuju meja mereka, Sita malah menabrak seorang cowok membuat bakso yang dipegangnya tumpah mengenai baju cowok itu.

Sita membulatkan kedua matanya ketika tahu kalau yang ia tabrak adalah Vian.

"So ... Sorry, Vian. Gue gak sengaja. Gue bersihin, ya." Sita hendak menyentuh baju seragam Vian, namun ditepis oleh cowok itu.

"Gan, mana minuman lo?" tanya Vian pada Regan.

"Nih, emang kenapa?" Tanpa menjawab pertanyaan Regan, Vian langsung mengambil alih minuman tersebut.

Seolah tahu apa yang ingin dilakukan Vian, Bella langsung menahan tangan Vian.

Vian yang kesal karena seseorang yang berani menahannya langsung terkejut ketika melihat wajahnya.

"A ... Arabella?"

******************************

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Demi Wanita Itu, Kau Ceraikan Aku
9.5
Pernikahan impian Aleandra hancur seketika saat pengkhianatan Raffael terungkap. Usai diceraikan demi perempuan lain, ia menolak terpuruk meski seluruh pengorbanannya sia-sia. Sebagai ibu tunggal, Aleandra bangkit demi masa depan putranya. Ia bertekad meraih kesuksesan mandiri sekaligus membuktikan kepada mantan suami dan mertuanya bahwa dia bukan sosok yang lemah. Mampukah ia membungkam hinaan Raffael dengan keberhasilan, atau justru tenggelam dalam kegagalan?
Sampul Novel Don't Leave Me
9.5
Amel, seorang mahasiswi polos, tak menyangka akan dilamar oleh Barry, yang merupakan kakak ipar dari dosen pembimbingnya. Rupanya, Barry telah lama memendam rasa dan mengincar Amel secara senyap. Harapan Amel untuk membangun biduk rumah tangga yang indah seketika sirna begitu perselingkuhan suaminya terbongkar. Barry bermain api dengan sekretaris pribadinya, yang juga teman lama keluarganya. Amel kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau mengakhiri pernikahan yang menyakitkan ini.
Sampul Novel Jejak Cinta Terlarang di Kampus Perjuangan
8.0
Di tengah dinamika kampus perjuangan, Adrian nekat menjalin hubungan terlarang dengan Maya. Padahal, Maya telah bertunangan dengan Romeo, yang berjuang keras menjaga komitmennya dari kejauhan demi norma keluarga. Situasi kian rumit saat Rina memanfaatkan kekecewaan Romeo demi menghidupkan kembali cinta masa lalu mereka, yang justru memicu luka baru. Ketika kebenaran terungkap, mereka terjebak dilema besar antara cinta, idealisme, dan tanggung jawab dalam pencarian jati diri.
Sampul Novel Menantu Hina Ternyata Kaya Raya
8.5
Randi kerap direndahkan dan diperlakukan buruk oleh mertuanya yang buta akan jati dirinya. Di balik kesederhanaannya, ia sebenarnya adalah seorang miliarder dengan kekayaan melimpah yang tak terduga. Ketika status aslinya perlahan terbongkar, akankah kebencian keluarga sang istri berubah menjadi penyesalan mendalam? Simak perjuangan menantu yang tertindas ini membuktikan kuasa dan harta melimpah miliknya.
Sampul Novel Tentang Kita.
8.1
Keharmonisan rumah tangga Adrian Admajaya hancur akibat ketiadaan buah hati dan hadirnya orang ketiga. Meski sangat mencintai pasangannya, Adrian terjebak dilema besar saat terpaksa memulai hubungan baru demi tanggung jawab tak terduga. Kini, ia harus berjuang membagi hati antara Naura Lideoni dan Asti Wulandari. Sanggupkah Adrian bertahan di tengah berbagai asumsi yang menguji komitmen pernikahan mereka?
Sampul Novel Tukang Pijat Tampan
8.3
Kehidupan Aditya sebagai pemijat biasa berubah drastis setelah mewarisi sebuah cincin misterius. Pusaka itu memberinya kekuatan fisik luar biasa dan sentuhan pemikat wanita. Dalam sekejap, ia menjelma menjadi pengusaha kaya raya yang dikelilingi para pemuja. Namun, di balik kehidupan barunya yang dipenuhi hubungan ambigu dan intrik harem, bahaya besar mulai mengintai seiring dengan perlahan terkuaknya rahasia kuno di balik cincin tersebut.