APKDock Logo
Sampul Novel Tukang Pijat Tampan

Tukang Pijat Tampan

8.3 / 10.0
Kehidupan Aditya sebagai pemijat biasa berubah drastis setelah mewarisi sebuah cincin misterius. Pusaka itu memberinya kekuatan fisik luar biasa dan sentuhan pemikat wanita. Dalam sekejap, ia menjelma menjadi pengusaha kaya raya yang dikelilingi para pemuja. Namun, di balik kehidupan barunya yang dipenuhi hubungan ambigu dan intrik harem, bahaya besar mulai mengintai seiring dengan perlahan terkuaknya rahasia kuno di balik cincin tersebut.

Tukang Pijat Tampan Bab 1

Aditya, seorang tukang pijat biasa, mewarisi cincin misterius yang memberinya kekuatan super: sentuhan yang membangkitkan gairah wanita dan kekuatan fisik tak tertandingi. Dalam sekejap, ia berubah menjadi pengusaha kaya raya, dikelilingi wanita-wanita yang tergila-gila padanya. Hubungan ambigu dan intrik harem mewarnai kehidupannya yang baru, sementara rahasia cincin itu perlahan terkuak, membawa bahaya yang tak terduga.

Mengintip Manager Cantik

“Heh! Apa yang kamu lakukan di sini?! Kamu mengintipku, hah?!”

Adit, yang tengah mengepel lantai ruang ganti pelanggan, nyaris menjatuhkan pelnya saat mendengar suara bentakan itu.

Di hadapannya, seorang wanita cantik dengan tubuh menggoda dan hanya mengenakan pakaian dalam berenda, berdiri dengan napas memburu.

Itu Bu Celina, manajer tempatnya bekerja!

Tangan wanita itu menutupi dadanya yang montok, tapi pahanya yang mulus justru terabaikan.

Glek.

Adit menelan ludah. Otaknya berteriak untuk tidak melihat, tapi matanya berkhianat.

Takut? Jelas. Adit hanya trainee rendahan. Terpergok dalam situasi seperti ini bisa membuatnya dipecat seketika.

Namun, senang?

Bagaimana tidak? Bu Celina adalah fantasi hidup para terapis pria di panti pijat ini!

Dengan tubuh berlekuk sempurna, kulit sehalus sutra, dan tatapan tajam menggoda, siapa yang tidak pernah membayangkan wanita itu dalam pelukan mereka?

Dan sekarang… tubuh yang biasanya hanya ada dalam bayangan, terpampang jelas di depannya!

Tapi… ada yang aneh.

Kenapa Bu Celina masih di sini? Bukankah semua orang sudah pulang?

Dan yang lebih aneh lagi… kenapa tangannya basah?

“Apa yang kamu lihat, dasar mesum! Mau saya pecat?!”

Deg!

Adit buru-buru menggeleng. “A—ampun, Bu Celina! Saya enggak tahu kalau Ibu masih di sini…”

Sebagai trainee, posisi Adit di panti pijat ini sangat lemah. Dia adalah sasaran empuk senior-senior yang haus kuasa. Tidak heran sebelum dirinya, banyak trainee yang tidak bertahan lama, entah karena mundur atau dikeluarkan dengan alasan sepele.

Itulah alasannya malam ini dia bisa ada di sini. Karena salah satu seniornya melemparkan tanggung jawab kepadanya.

Namun, siapa yang menyangka hal tersebut membawanya ke situasi seperti ini…

Adit melihat Celina takut-takut. Ekspresi manajernya itu dingin, tapi tatapannya panik. Ditambah wajah cantiknya yang memerah, Adit merasa Bu Celina seperti takut ada rahasia besar yang terbongkar.

“Sudah! Aku enggak mau tahu. Pergi dari sini atau…”

Bu Celina mengomel selagi buru-buru mengenakan celananya.

Namun, karena terlalu panik, kakinya tersangkut di celana dan tubuhnya terhuyung ke depan!

Bruk!

Refleks, Adit segera menangkap tengkuk Bu Celina sebelum kepala wanita itu terbentur lantai.

Deg!

Dan saat itu juga, sesuatu terjadi.

Wajah Bu Celina merah padam hingga ke telinga. Napasnya memburu, matanya bergetar, dan…

"Ah…"

Desahan lirih itu lolos begitu saja.

Adit membeku.

Apa-apaan ini?!

Sadar dengan suara yang baru saja keluar dari mulutnya, Bu Celina langsung bangkit dengan wajah panik!

“Kau, kau apakan aku barusan!?”

Adit ikut berdiri, wajahnya bingung. "Sa-saya nggak ngapa-ngapain, Bu! Saya cuma menangkap Ibu biar nggak jatuh—"

“Tapi---”

Celina ingin mengatakan sesuatu.

Ada sensasi aneh yang menyelinap ke dalam tubuhnya.

Hangat.

Menyusup ke saraf-sarafnya.

Tiba-tiba area yang disentuh Adit tadi terasa lebih peka. Seakan… terbakar dari dalam.

Namun, dia menggeleng cepat, menepis perasaan aneh itu.

Mana mungkin dia mengaku sentuhan tangan Adit di lehernya … membuat sesuatu dalam tubuhnya berdenyut?!

“Ah, sudah! Lupakan saja!”

Bu Celina bergegas mengenakan pakaiannya, lalu sebelum keluar ruangan, dia menoleh tajam.

"Ingat ya, urusan kita belum selesai!"

Adit hanya bisa menatap kepergiannya sambil menelan ludah.

Habis sudah…

Sudah menyinggung bosnya, Adit pasti akan kehilangan pekerjaannya ini dalam waktu dekat.

“Haaah … ya sudahlah, itu urusan nanti …” pikirnya sebelum memutuskan membereskan alat-alat bersihnya dan keluar dari ruangan.

Tanpa dia sadari…

Cincin yang melingkar di jarinya berpendar…

Lalu menghilang…

Dan membentuk lingkaran hitam di jarinya.

**

Keesokan paginya.

“Anak baru nggak berguna! Baru berapa hari jadi trainee sudah berani datang terlambat?!"

Makian itu terlontar dari mulut Rudi, senior Adit yang paling berengsek. Pria yang sama dengan yang melemparkan pekerjaan bersih-bersih kepadanya tadi malam.

"Maaf, Pak Rudi! Saya tidak bermaksud untuk datang terlambat…"

Tadi pagi, Adit sebenarnya ingin berangkat kerja seperti biasa. Namun, di tengah Bersiap-siap, Adit menyadari bahwa cincin peninggalan kakeknya tiba-tiba hilang.

Sebagai satu-satunya kenangan yang Adit punya terhadap sang kakek yang baru meninggal beberapa waktu lalu, benda itu sangat berharga.

Dia pun mencarinya dengan panik, sampai akhirnya lupa waktu dan berakhir datang terlambat ke kantor.

Alhasil, di sinilah dia sekarang, menerima ocehan dan menjadi bahan pelampiasan kemarahan seniornya.

BUK!

Satu pukulan dengan gulungan kertas koran diterima di kepala oleh Adit.

“Nggak bermaksud terlambat? Kamu kira aku peduli kamu bermaksud atau nggak?! Di sini ada aturan, dan kamu sudah melanggarnya!”

BUK!

Pukulan kedua.

“Baru trainee aja udah belagu.”

BUK!

Pukulan ketiga.

“Kalau kamu merasa udah jago, kamu sebaiknya---”

BRAK!

Pintu pegawai terbuka keras!

“RUDI!”

Bu Celina muncul dengan wajah marah, membuat Rudi menoleh kaget. “B-Bu Celina?”

Adit langsung mengangkat kepala. Saat melihat sosok Celina, dia langsung menunduk lagi, jantungnya berdegup kencang.

Dia pikir… Bu Celina akan memecatnya.

Namun, yang terjadi selanjutnya sangat di luar dugaan.

“Kenapa pelanggan ruang 25 belum ada yang melayani?!”

Rudi membeku, panik. "A-anu, Bu… saya—"

Mata Bu Celina menatap ke arah Adit.

Dan saat mereka saling bertatapan…

Celina langsung mengenalinya.

"Kamu…"

Adit menahan napas, takut kejadian tadi malam akan diungkit.

Tapi Celina membuang wajah, berdeham, lalu berkata dengan suara tegas.

“Kamu! Siapa nama kamu!” tanya Celina.

“A—Adit bu…”

“Adit! Sekarang kamu pergi ke ruang 25. Pijat pelanggan yang ada di sana itu!”

Wajah Rudi seketika mengeras, “Ta—tapi Bu… Adit kan masih Trainee, seharusnya saya yang—"

"Kalau mau pelanggan, seharusnya kamu peka sejak tadi! Bukan sibuk menindas bawahan!" Kemudian, Celina menatap Adit. “Selain itu, mulai saat ini dia jadi pegawai tetap! Cepat ke sana!”

“Ba—baik bu!”

Adit yang melihat ini sebagai kesempatannya, segera saja berlari ke ruangan itu, diikuti tatapan kesal dari Rudi yang merasa dipermalukan.

Namun, berbeda dengan Bu Celina. Ia melihatnya dengan tatapan berbeda…

‘Adit … ya?’

Pembuktian Adit

Segera saja Adit menuju ke lokernya. Kunci masih tergantung di sana dan dia segera mengambil seragam kerja, lalu ke ruang ganti untuk mengenakan bajunya.

Buru-buru ia memasukkan baju dan bawaannya yang lain, memasukkannya ke loker, menguncinya dan mulai bergegas menuju ke ruang 25.

Satu kamar itu ada satu ranjang untuk klien. Semua peralatan yang dibutuhkan ada di sana.

Adit mengetuk pintu dan kemudian masuk. Dilihatnya seorang wanita berusia 40 tahunan. Dia masih sedang menelefon entah siapa. Jadi Adit hanya berdiri menunggu saja di dekat pintu. Ia pun masih merasa berdebar.

Wanita itu terlihat kaya dengan outfit yang melekat di tubuhnya yang biasa saja itu. Adit memperhatikan wajah wanita itu; biasa saja. Tapi terlihat mahal karena perawatan. Kulitnya putih mulus tanpa jerawat. Make-upnya tampak natural kecuali bibirnya yang terlihat merah oleh gincu. Rambutnya juga terlihat mahal yang tak mungkin pula disentuh oleh salon biasa.

Wanita itu menutup telefon, lalu menoleh ke arah Adit, melihatnya dari atas sampai bawah. “Kok lama? Kok kamu yang ke sini?”

“Maaf Nona, tadi seharusnya melayani Nona ternyata masih sedang melayani klien lain. Jadi, saya diminta untuk menggantikannya. Mohon maaf sebelumnya...” kata Adit.

Klien yang datang bisa pesan lebih dahulu; pesan ruangan, pesan jenis pelayanan, dan juga pesan siapa yang akan melayaninya.

“Ya sudah deh kalau gitu, kamu aja nggak apa-apa...” kata wanita itu.

“Baik, Nona. Em, boleh saya tahu, Nona ingin pelayanan apa ini?” tanya Adit.

Lagi-lagi, wanita itu menghela nafas panjang. Adit merasa semakin tidak enak hati. Seharusnya ia tadi tanya-tanya dulu di bagian penerima tamu, apa yang diminta oleh klien di kamar 25 itu.

“Pijit biasa saja! Pakai minyak zaitun. Sangsi aku kalau kamu bisa melayani kayak biasanya!”

“Eh, baik, Nona. Manager kami mungkin akan memberikan diskon untuk hal ini, karena kami lalai. Mohon maaf. Semoga Nona berkenan nanti dengan pijitan saya...” kata Adit.

“Aku ganti baju dulu! Mana handuknya?” kata wanita itu.

“Mohon ditunggu sebentar...”

Adit segera membuka lemari, lalu menyediakan handuk untuk wanita itu. Ia langsung paham jika nanti wanita itu hanya akan mengenakan pakaian dalam, dan membungkus tubuhnya dengan handuk.

Kadang ada klien yang hanya mau memakai baju utuh. Itu pilihan mereka. Adit tak tahu bagaimana persisnya, sebab itu pertama kali ia bertemu klien sungguhan. Apa yang ia tahu hanya dari trainernya.

Tapi memang benar, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi kecil yang tersedia di ruangan itu, lalu kembali lagi dengan tubuh sudah terlilit handuk yang tak sepenuhnya berhasil menutupi tubuhnya.

Adit menelan ludah melihat kulit yang sangat mulus itu. Tapi ia tak berani lama-lama menatap wanita tersebut dalam situasi seperti itu. Takutnya dia salah paham. Adit hanya sedang ingin mendapatkan kesan baik dan sopan.

Tanpa disuruh, wanita itu menyamankan diri dengan tengkurap di ranjang. Sesaat Adit tertegun memandang wanita itu. Ia pun segera mengenyahkan pikiran kotornya dan segera menyiapkan minyak.

“Saya mulai, Nona...”

“Ya...”

Lalu Adit menuangkan minyak di kedua tangannya, menggosoknya, lalu ia mulai menyentuh telapak kaki wanita itu; memulainya dari sana.

Adit merasa jari manis tangan kanannya sejenak terasa panas kembali, persis seperti kejadian memalukan saat memergoki bu Celina.

Adit tak tahu, ada sesuatu yang sedang bekerja pada dirinya; sesuatu yang berasal dari cincin kakeknya, yang sebetulnya tidak hilang, melainkan telah menyatu dengan tubuhnya, berganti menjadi sebuah tanda garis melingkar berwarna hitam di jari tangannya itu.

Sentuhan tangannya itu menciptakan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata dan sedang dirasakan oleh perempuan itu.

Adit sunguh tak tahu soal itu. Yang ada di pikirannya hanyalah memijit dengan benar dan senyaman mungkin. Ia tak mau melakukan kesalahan setelah apa yang terjadi di hari-hari sebelumnya. Telapak kaki kanan dan kiri sudah cukup lama ia pijit. Kini ia pindah ke betis, memijit dengan normal.

Tapi di titik itu, Adit mulai melihat tanda-tanda aneh. Ia melihat kliennya itu mulai bergerak sedemikian rupa; ototnya tegang dan dia seperti gelisah.

“Nona baik-baik saja kah?”

“E—lanjutkan...” ucap wanita itu.

“Apakah pijitannya kurang nyaman? Mohon disampaikan agar saya bisa melayani dengan benar...”

“Nyaman. Teruskan saja, jangan berhenti...”

“Baik, nona...”

Maka Adit terus memijit dan mencoba untuk tak memedulikan hal-hal aneh yang ia lihat ketika wanita itu bereaksi dengan tangannya.

Dari bagian betis, seharusnya Adit memijit paha. Tapi ia merasa sungkan. Jadinya, dia mulai memijit pundak wanita itu dan setengah punggungnya di bagian atas.

Adit terus memijit. Ia pun agak gugup sebenarnya; merasa seba salah, sebab ia melihat wanita itu sampai mencengkeram bantalnya dan terlihat sangat tegang.

‘Ada apa dengannya? Kenapa dia menggeliat seperti ini? Apakah ada yang salah?’ ucap Adit dalam hati. Ia merasa ragu dan cemas.

“Eghhh...”

Adit mendengar suara yang ambigu. Keringat dingin pun mulai bermunculan di dahinya. Ia benar-benar khawatir melakukan kesalahan, namun di saat yang sama ia juga bingung sebab wanita itu tidak protes apa-apa.

Dan Adit berhenti memijit karena tiba-tiba wanita itu menggigil sedemikian rupa, menggeliat dan sedikit tersentak-sentak sambil menyerukan suara-suara rintihan merdu dari mulutnya.

‘Astaga, dia kenapa? Mati aku kali ini. Aku benar-benar bisa dipecat...’ ucap Adit dalam hati. Ia sungguh takut dan cemas.

Adit hanya bisa mematung melihat wanita itu. Namun untuknya, klien yang ia pijit itu akhirnya mulai kembali normal dan yang tersisa adalah nafasnya yang masih terengah-engah.

“N-nona... maaf jika... s-saya... tidak benar memberikan pijitan. A-apakah ada yang sakit?” tanya Adit.

Wanita itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Adit. Tatapan matanya sungguh sayu dan membuat Adit bertambah gugup.

“Nyaman kok... lanjutkan saja. Tapi aku mau punggung yang bawah juga dipijit dengan minyak. Paha dan lain-lain... handuk ini dilepas saja...” ucapnya dengan suara sedikit serak. Ia melepaskan handuknya dan kembali tengkurap, menunggu Adit mulai lagi memijit tubuhnya.

“K-kamu orang baru di sini?” wanita itu mengajak ngobrol.

“Benar, Belum lama saya kerja di sini. Jadi pengalaman masih kurang. Dan, Emm, sejujurnya, saya sungguh khawatir jika pelayanan saya kurang memuaskan. Mohon saya ditegur saja jika ada yang kurang pas dan tidak membuat Nona merasa puas” jawab Adit formal.

“Aku puas kok. Dan aku kira kamu hanya pura-pura terapis pemula, soalnya kamu kaku dan formal sekali. Tidak seperti seniormu yang santai. Pijitanmu nyaman banget. Lebih berani lagi nggak apa-apa...” balas wanita itu.

‘Lebih berani? Apa maksudnya?’ ucap Adit dalam hati. Ia bingung, tapi tidak enak juga jika bertanya. Jadi ia putuskan untuk mengoleskan lagi minyak ke tangannya dan mulai memijit lagi.

Klien Merasa Sangat Puas

Adit kembali memijit. Ia merasa lebih tenang saat ini karena ternyata kliennya suka dengan pelayanannya.

Namun demikian, Adit bertanya-tanya; kenapa wanita itu meliuk-liuk seperti cacing dan juga mengeluarkan suara aneh?

Adit memang polos. Di usianya yang ke 22 tahun itu, dia belum pernah sekali pun nonton film dewasa.

Bukannya ia tak mengerti apa itu terangsang dan apa itu hubungan badan. Tapi sesungguhnya baru kali ini ia melihat secara langsung ada wanita yang sedang merasa seperti itu yang menurutnya sangat ambigu; apakah dia sakit atau apa? Sebab ia sungguh murni hanya memijit.

Adit juga sangat sopan dalam memijit. Ia tak aneh-aneh. Bahkan tak berani benar-benar melihat wanita itu. Ia memijit bagian yang semestinya sopan untuk dipijit.

Hingga kemudian, dua jam berlalu begitu saja. Dua jam adalah waktu standard klinik untuk melayani konsumen dengan pijitan.

“Huff... amazing... aku, sampai dibuat basah sama kamu. Siapa tadi namamu?” tanya wanita itu dengan nafas terengah.

“E—Adit, Nona...” jawab Adit. Ia pun juga tak begitu paham apa maksud wanita itu ketika dia mengatakan amazing; menjadi basah? Berkeringatkah maksudnya?

“Adit, sebentar. Jangan pergi dulu...”

“Ada yang bisa saya bantu lagi, nona?” tanya Adit.

“Nggak. Aku sudah puas. Tapi ada tips untukmu dan kalau aku ke sini lagi, aku mau kamu yang melayaniku ya!” kata wanita itu.

“Dengan senang hati, nona. Syukurlah jika Nona puas,” kata Adit.

Wanita itu mengambil uang 300 ribu dari dalam tasnya, lalu memberikan uang itu kepada Adit.

“Ini tips untukmu. Thanks ya. Sekarang kamu boleh pergi. Aku mau mandi dulu lalu check out!” kata wanita itu.

“Wah, banyak sekali... ini buat saya?”

“Wah, kamu ini beneran anak baru ya?”

“E—iya, nona...”

“Iya. Itu tips untuk kamu!”

“Terimakasih banyak, nona. Terimakasih. Semoga rejekinya lancar terus!” kata Adit. Lalu ia pamit pergi.

Rasanya masih deg-degan. Ia keluar dari kamar itu dan pergi menuju ke ruang istirahatnya para karyawan cowok. Di sana sepi. Yang lain sudah pasti sedang ada klien.

Adit masih terbayang-bayang dengan pekerjaan yang baru saja ia selesaikan itu. Namun kemudian, ia menyadari sesuatu; ia tak bereaksi sama sekali. Tak ada yang sesak dan mengganjal di celananya. Padahal, kadang-kadang benda tumpul itu mengembang juga jika ia melihat ada wanita yang berpenampilan seksi dan ketat.

Dan sebelumnya, ketika ia memijit wanita yang tampak menarik, sesuatu di dalam celananya pun pasti terbangun.

Namun kemudian, ia merasa baik-baik saja. Wajar jika miliknya tak bereaksi, sebab ia pun juga gugup saat memijit kliennya itu, sebab ia berada dalam posisi gawat. Rentan dipecat.

Lima belas menit istirahat untuk meredakan tangannya yang pegal, Bu Celina sang manager datang ke ruangan itu untuk mencarinya.

“Adit!”

“E—iya, ibu Celina...” Adit tersentak kaget.

“Good job! Customer puas. Tadi kamu kasih service apa aja? Berkali-kali dia memujimu!” kata Celina.

Adit lega sekaligus bingung, “Saya hanya pijit biasa seperti sebelumnya, Ibu...”

“Oh ya? Nggak ada service lain gitu?” Ibu Celina menyelidik curiga.

“Servis lain? Maksudnya Ibu?” tanya Adit bingung.

Celina menghela nafas, “Ya sudah. Kamu break aja dulu. Nggak ada jadwal klien lagi sampai nanti lewat makan siang. Jadi kamu lanjut training aja nanti!” kata Ibu Celina.

Tempat itu sebenarnya menawarkan satu layanan terselubung. Namun tidak semua karyawan tahu. Itu pun juga merupakan sesuatu yang dirahasiakan. Hanya pekerja senior yang tahu. Bagi Celina yang menjadi manager sekaligus yang mengatur pula permainan rahasia itu, Adit belum saatnya tahu.

Namun, kecurigaannya pada kemampuan Adit ia harap tepat. Sebab, ia bisa memanfatkan pria itu untuk memaksimalkan layanan terselubung yang paling menguntungkan panti pijatnya itu!

***

Tak ada jatah makan siang dari tempat kerja. Mereka harus mencari makan sendiri di luar atau di kantin untuk karyawan jika malas keluar.

Adit memilih untuk keluar mencari makan yang lebih murah. Meski tadi ia mendapatkan tips yang buatnya banyak, namun ia harus tetap hemat. Nasibnya belum jelas. Ia masih terancam dipecat.

Sampai di lobi, ia bertemu lagi dengan Pak Rudi. Orang itu menatapnya dengan tatapan penuh permusuhan.

Adit pura-pura tidak tahu. Ia kesal sebetulnya, namun tak mau mencari masalah. Bagaimana pun, Pak Rudi adalah supervisor; atasannya. Dia yang memiliki peran mengatur klien akan dilayani siapa. Kecuali klien meminta sendiri siapa yang harus melayaninya.

Banyak terapis, entah perempuan, entah lelaki, yang menghormatinya. Lebih ke arah takut sebetulnya, sebab Pak Rudi ini menentukan nasib mereka. Sekalinya Pak Rudi tidak suka dengan seseorang, dia akan memberikan kesialan bertubi-tubi.

“Hah kamu! Sini!”

“Bapak memanggil saya?” tanya Adit masih sopan.

“Ya!”

Adit mendekat. “Mau kemana kamu?”

“Ini istirahat siang Pak. Saya mau cari makan di luar...”

“Bersihkan gudang! Sekarang! Setelah itu kamu boleh makan siang!”

“Tapi ini jam istirahat, pak...” kata Adit.

“Aku bilang istirahatnya nanti ya nanti!” bentak Pak Rudi. Lalu ia mendekat dan berkata pelan penuh tekanan, “Kamu hanya beruntung hari ini. Lihat saja, kamu bikin masalah lagi denganku, maka kamu akan kehilangan pekerjaan!”

“Baik, Pak...” Adit sungguh kesal. Namun apa boleh buat. Ia menurut saja. Padahal membersihkan gudang jelas bukan bagiannya. Ia paham, Pak Rudi hanya sedang mencari pelampiasan.

Adit membersihkan gudang. Setelah selesai, waktu istirahat hanya tinggal 10 menit. Terpaksa ia ke kantin saja dan membeli roti sekadar untuk mengganjal perut.

Dari kantin itu, Adit agak tergesa menuju ke ruangan pelatihan. Ia tak tahu akan mendapatkan materi apa nantinya. Sebagai orang baru, seminggu sekali ia masih harus mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan performa kerja. Dan hari itu adalah jadwalnya.

Sampai di kelokan koridor, tanpa sengaja, Adit menabrak seseorang sampai jatuh. Ayunda nama orang yang ditabrak Adit. Dia seorang terapis senior. Masih muda. Cantik pula. Tapi dia galak, sombong dan tak mau tersaingi.

“Aduh... sialan! Jalan pakai mata dong!” Ayunda marah.

“Eh, maaf. Aku nggak sengaja. Buru-buru!” kata Adit. Ia cukup terpesona juga dengan kecantikan Ayunda. Siapapun akan terpesona oleh kecantikannya. Dan selama bekerja, Adit hanya berkesempatan sesekali melihat Ayunda dari jauh.

“Brengsek. Aduh sakit! Awas saja kau ini ya!” ketus Ayunda.

Adit mencoba membantu wanita itu. Namun tangannya ditepis dengan kasar. Ayunda ingin bangun sendiri. Namun ia agak terhuyung. Adit segera memasang badan untuk memegangi wanita itu agar dia tak terjatuh.

Telapak tangan Adit bersentuhan dengan kulit Ayunda. Seketika terjadi sebuah reaksi tak wajar di mana saat itu juga Ayunda merasakan sesuatu yang aneh.

Mulai Menyadari Sesuatu

Buru-buru Ayunda melepaskan diri dari rengkuhan Adit. Namun aura marah yang tadinya tampak di wajah cantik itu seketika lenyap, berganti rona merah di pipinya. Tanpa mengatakan apa-apa, Ayunda pergi meninggalkan Adit.

‘Dia itu kenapa!’ ucap Adit dalam hati. Ia sungguh tak mengerti. Namun ia tak mau terlalu memikirkannya, sebab ia pun buru-buru harus ke ruang pelatihan.

Ada lima orang termasuk Adit yang merupakan terapis baru. Adit satu-satunya calon terapis cowok. Lalu empat yang lain adalah terapis cewek. Ada dua trainer, satu cewek dan satu cowok. Keduanya adalah senior yang sudah lama bekerja di tempat itu.

“Maaf terlambat!” kata Adit.

“Loh, kok kamu ada di sini? Bukannya kata Pak Rudy kamu sudah out ya!” ucap Anton, trainer cowok yang mendapatkan tugas mengajari anak-anak baru itu.

“Iya. Tiga hari kamu nggak masuk dan hari ini pun datang setelah istirahat siang!” kata Cindy, si trainer cewek. Adit bertanya-tanya pula, kenapa Cindy juga tahu ia tak masuk kerja.

Di titik itu, ia yakin pak Rudy sudah mengatakan kepada banyak orang aku sudah dipecat, namun hari ini aku terselamatkan oleh kedatangan klien yang tadi itu.

“Maaf kak, tadi pagi dapat tugas dari Ibu Celina untuk melayani klien!” kata Adit.

“Jangan bohong ya!” ketus Cindy. Tadinya dia senang karena ada anak baru ganteng dan gagah. Namun pak Rudy mengatakan akan memusuhi siapa saja yang baik dengan Adit. Jadi, Cindy batal merasa senang dengan kehadiran pemuda tampan itu.

“Sumpah Kak. Bisa konfirmasi ke Ibu Celina soal ini. Tadi beliau sendiri yang menyuruhku,” Adit membela diri.

“Ya sudah. Hari ini kamu nonton aja. Sudah ketinggalan banyak hari ini. Malas aku mengulang lagi!” kata Anton.

“Siap Kak!” kata Adit.

Maka Adit hanya bisa menonton saja tanpa praktek. Tapi dengan menonton itu, dia juga belajar.

Satu jam berlalu begitu saja. Lalu Pak Rudy datang ke ruangan itu. “Adit, layani klien di ruangan 12! Sekarang!” ujarnya dengan nada tak enak untuk didengar.

Adit pun heran; kenapa pula Pak Rudy malah memberikan kesempatan baginya. Tak hanya Adit yang heran. Anton, Cindy dan empat calon terapis itu pun juga dibuat heran olehnya.

“Jika klien tidak puas dengan pelayananmu, atau bahkan sampai komplain, besok kamu nggak usah lagi datang ke sini!” kata Pak Rudy.

Kini semua pun paham maksud Pak Rudy. Dia sedang menjerumuskan Adit.

Tapi saat itu, Adit tak berpikir ke arah sana.

“Siap Pak, saya segera ke sana!” kata Adit. Ia pun meninggalkan ruangan itu. Begitu Adit keluar dan pintu ditutup kembali, Pak Rudy tersenyum licik.

“Kliennya ibu Nesya yang suka marah-marah itu!”

Anton tertawa, “Astaga Pak! Ibu gendut yang galak itu kan?”

“Ya!” kata Pak Rudy.

“Dia itu maunya banyak, tapi komplain terus. Ya gimana lagi Pak. Lemaknya itu loh, tebel. Susah dipijit!” kata Anton sambil tertawa. Cindy pun juga tertawa.

“Ya sudah. Kalian lanjut aja. Aku akan ke depan lagi!” kata Pak Rudy.

Sementara itu, Adit yang tak tahu apa-apa segera masuk ke ruang nomor 10.

Ia agak syok melihat klien yang datang saat itu; tubuhnya sangat besar dan hampir berbentuk bulat.

“Selamat siang, Nona...”

“Nona kepalamu itu! Kamu menyindirku, hah!” hardik wanita itu dengan suara keras. Ia menatap Adit dengan tatapan tajam.

“E, maaf Nyonya. Saya orang baru. Maaf jika salah menyebut!” kata Adit langsung dibuat kena mental dengan bentakan klien yang satu itu.

Wanita itu masih terlihat kesal. Tapi ia memang selalu seperti itu. Dan dia merupakan salah satu pelanggan yang cukup sering datang ke klinik tersebut untuk layanan pijat biasa.

“Baik, Nyonya. A-Anda ingin dilayani seperti apa?” tanya Adit.

“Pijit full body!” ucapnya ketus.

“Baik, Nyonya. Akan saya persiapkan!” kata Adit.

Klien itu membuka pakaiannya, menyisakan dalamannya, dan tidur telungkup di tempat yang disediakan.

Adit mengambil handuk, mengambil beberapa jenis minyak pijit, menyalakan dupa aroma terapi dan menyetel musik terapi.

Kali ini dia lebih siap dari sebelumnya.

“Mau menggunakan minyak apa, Nyonya?”

“Yang wangi dan tidak panas! Apa itu namanya aku lupa!” balasnya masih dengan sikap ketus-judes.

“Baik,” kata Adit. Ia segera mengambil satu jenis minyak yang diminta oleh nyonya itu. “Saya mulai sekarang, Nyonya?”

“Ya!”

Adit menuangkan di bagian kaki terlebih dulu. ‘Semoga lancar!’ ucapnya dalam hati. Lalu ia mulai memijit. Ia kembali dibuat heran. Baru beberapa detik ia memulai, wanita itu menunjukkan gejala serupa dengan klien sebelumnya.

‘Sebenarnya kenapa dengan pijitanku?’ ucap Adit dalam hati. Ia sungguh penasaran dan bertanya juga, “Apakah kurang nyaman, Nyonya? Terlalu keras kah?”

“Tidak. Itu nyaman sekali. Teruskan!” ucapnya. Kini nada bicaranya melunak dan enak didengar. Maka Adit pun langsung tahu juga jika kliennya memang sungguh merasa nyaman.

Masih dengan perasaan penuh tanda tanya, Adit terus memijit sesuai prosedur. Sesekali ia berhenti ketika klien itu menggeliat parah dan mengeluarkan suara-suara khas.

Adit paham dan menyadari sesuatu kini; wanita itu mengalami perasaan nikmat dari pijitannya. Dan yang membuat Adit penasaran adalah, kenapa bisa begitu?

Waktu berlalu. Pijitan hanya sesuai standard. Tak ada yang aneh. Namun wanita itu sungguh sangat puas.

“Pijitanmu nyaman sekali. Siapa namamu? Lain kali kalau ke sini, aku hanya mau dipijit olehmu!” ucap klien itu. Wajahnya masih merona merah setelah ia mendapatkan pijitan itu. Nafasnya masih terengah dan tatapan matanya masih sayu mendayu syahdu. Gerak-geriknya pun terlihat manja dan jinak-jinak merpati.

“E, nama saya Adit. Jika Nyonya merekomendasikan saya, kemungkinan saya akan lanjut menjadi terapis tetap. Saat ini saya masih dalam masa training!” kata Adit mencoba memanfaatkan situasi.

“Tentu aku rekomendasikan. Teman-temanku juga banyak yang langganan di sini. Mereka harus coba pijitanmu!” kata klien itu.

“Terimakasih banyak, Nyonya. Saat ini ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Aku sudah cukup puas. Hampir dua jam kamu pijit aku. Sudah cukup. Lain kali saja lagi. Haah, sudah lama aku tak merasakan perasaan seperti ini. Terimakasih, Adit! Tunggu sebentar, ada hadiah untukmu!” Nyonya itu mengambil dompetnya, mengambil beberapa lembar berwarna merah tanpa menghitungnya, lalu memberikannya kepada Adit.

“E, ini...”

“Tips buat kamu. Besok-besok kamu yang layani aku ya!”

“Terimakasih banyak Nyonya. Saya siap. Dan mohon Nyonya menegur saya jika ada salah agar saya bisa mengerti!” kata Adit.

“Ya. Tentu saja!”

Perubahan sikap wanita itu membuat Adit merasa lega. Ia tak tahu berapa uang tips yang diberikan untuknya. Tapi cukup banyak. Lebih dari empat ratus ribu sepertinya. Adit juga tak menghitungnya. Malu. Ia memasukkannya ke dalam saku.

Di depan sana, Pak Rudy sudah menunggu dengan tidak sabar. Kebetulan pula Celina juga ada di depan, sibuk dengan resepsionis.

Waktu untuk melayani klien sudah habis. Ia tahu, ibu klien yang pemarah itu pasti sebentar lagi akan keluar dengan wajah seperti biasa. Dan ia bisa menggunakannya untuk menyingkirkan Adit dari tempat itu.

Ujian Dari Sang Manager

Pak Rudi menunggu di luar ruangan dengan senyum penuh kemenangan. Di sebelahnya ada Anton dan Cindy yang baru saja menyusul karena ingin menyampaikan sesuatu.

“Nanti dulu. Aku ingin melihat drama!” kata Pak Rudy. Dia yakin sebentar lagi, Nyonya Nesya akan keluar dengan wajah merah padam dan mengomel seperti biasanya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Saat pintu terbuka, yang keluar adalah seorang wanita yang sama sekali berbeda dari yang mereka kenal selama ini. Nyonya Nesya terlihat begitu rileks, wajahnya berseri-seri, dan langkahnya ringan seolah baru saja kembali dari liburan mewah.

"Adit!" serunya sambil menepuk bahu pemuda itu dengan akrab. "jangan lupa ya, pokoknya aku hanya mau dipijat olehmu. Pastikan kamu ada setiap kali aku datang, ya?"

Pak Rudi hampir terlonjak. Mata Anton dan Cindy terbelalak tak percaya. Mereka saling berpandangan, mencoba mencari penjelasan atas fenomena langka ini. Adit sendiri hanya bisa tersenyum canggung.

“Siap Nyonya!” balas Adit.

Nyonya Nesya diam sejenak, lalu ia Kembali mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya pada Adit. "Ini aku tambahkan lagi untukmu. Hari ini aku sangat senang. Kamu pantas mendapatkannya. Sampai jumpa!"

“Terimakasih banyak, Nyonya. Anda sungguh murah hati. Semoga lancar terus rejekinya!” kata Adit.

Nyonya Nesya berjalan pergi dengan langkah ringan, meninggalkan keheningan di belakangnya.

Pak Rudi menggertakkan giginya. Rencananya untuk menyingkirkan Adit gagal total. Namun, seseorang lain justru lebih tertarik dengan kejadian ini; seorang wanita yang sejak tadi mengamati dari jauh dengan penuh rasa penasaran. Dia tak lain adalah sang manager.

Hari sudah sore. Jam kerja Adit habis meski tempat itu masih buka. Ia shift pagi sampai sore. Jadi kini ia hedak pulang. Ia melihat Pak Rudy sebetulnya. Namun ia memilih untuk tak mendekati lelaki itu, dan langsung saja ke ruangan ganti karyawan, membuka loker dan mengambil barang-barangnya.

Sementara itu, di dalam kantornya, Ibu Celina mengamati kejadian tadi dengan kening berkerut. Ia sudah bekerja di industri ini bertahun-tahun dan sudah melihat berbagai macam klien. Tapi ini? Ini adalah pertama kalinya dia melihat perubahan drastis dari seorang pelanggan yang dikenal paling sulit dipuaskan.

Ia menekan interkom. "Panggil Adit ke kantorku."

Adit yang saat itu hendak pulang segera dipanggil oleh staf di depan. “Jangan pulang dulu, barusan Ibu Celina mencarimu. Langsung saja datang ke ruangannya!”

“Oke…” balas Adit.

Tak lama kemudian, pintu diketuk. "Permisi, Bu. Anda memanggil saya?"

"Masuk, Adit. Duduklah."

Adit duduk dengan canggung, sementara wanita itu menatapnya tajam. "Aku ingin tahu," katanya, jari-jarinya mengetuk meja, "apa yang kamu lakukan hingga Nyonya Nesya keluar dari ruangan dengan ekspresi seperti itu?"

Adit menelan ludah. "Saya... hanya memijat seperti biasa, Bu."

"Seperti biasa?" Mata Celina menyipit. "Dengar, aku sudah bekerja di industri ini bertahun-tahun. Aku tahu perbedaan antara pijatan biasa dan sesuatu yang... lebih. Jadi, katakan padaku, teknik apa yang kamu gunakan?"

Adit benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dia bahkan sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. "Saya tidak tahu, Bu. Saya hanya mengikuti prosedur."

Celina menyandarkan punggungnya ke kursi. Sejenak ia berpikir, lalu tiba-tiba tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu. Aku ingin memastikan sendiri. Pijat aku."

Adit terkejut. "Bu... Anda ingin saya memijat Anda?"

"Ya. Anggap saja ini sebagai ujian terakhirmu sebelum aku benar-benar memutuskan apakah kamu layak dipertahankan di sini atau tidak. Kamu berani?"

Adit menatapnya, lalu mengangguk. "Baik, Bu."

Mereka berpindah ke ruangan terapi khusus yang lebih privat. Ibu Celina melepas blazer yang dikenakannya, menyisakan pakaian dalam yang cukup sopan namun tetap menggoda. Ia berbaring tengkurap di atas meja pijat, sementara Adit menyiapkan minyak terapi.

"Kamu bisa mulai," katanya santai.

Adit menuangkan minyak ke tangannya, lalu mulai memijat punggung Ibu Celina dengan lembut. Baru beberapa detik berlalu, Aditya sudah bisa merasakan perubahan dari wanita itu. Otot-ototnya yang awalnya tegang mulai melunak. Napasnya, yang tadinya teratur, kini sedikit lebih berat.

Adit berusaha tetap profesional, tetapi ia tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa tubuh manajernya mulai menunjukkan reaksi yang sama seperti klien sebelumnya. Wanita itu menggeliat tipis, dan hembusan napasnya semakin terdengar.

"Hmmm..." suara lirih lolos dari bibirnya, membuat Adit semakin yakin bahwa ini bukan pijatan biasa.

Sementara itu, di luar ruangan, Pak Rudi yang mendengar perintah Ibu Celina sebelumnya hanya bisa mengepalkan tangan dengan penuh kekesalan. "Apa-apaan ini?! Kenapa malah jadi begini?!"

Setelah hampir satu jam berlalu, pijatan itu selesai. Ibu Celina masih terdiam di tempatnya, matanya terpejam seolah sedang menikmati efek yang baru saja ia rasakan.

Adit mundur selangkah. "Selesai, Bu. Apa Anda merasa lebih baik?"

Perlahan, Celina membuka matanya. Ia menatap Aditya dengan pandangan yang berbeda; bukan lagi hanya sekadar seorang manajer yang menilai karyawannya, tapi ada sesuatu yang lebih dari itu.

"Adit..." katanya dengan suara lebih lembut dari biasanya. "Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya, tapi... kamu spesial."

Adit hanya diam, menunggu kelanjutan dari kata-katanya.

Celina menarik napas dalam, lalu bangkit dari meja. Ia mengenakan kembali blazernya dan merapikan rambutnya. "Kamu lulus ujian ini. Dan mulai sekarang... aku ingin kamu tetap bekerja di sini. Tidak usah lagi ikut training mingguan. Aku akan menghubungi HRD dan merubah statusmu di sini! Kamu sudah setara terapis senior. Gajimu harus disesuaikan"

Adit mengangguk. "Terima kasih, Bu. Saya akan bekerja sebaik mungkin."

Saat ia keluar dari ruangan itu, Ibu Celina masih berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia meraba tengkuknya yang masih terasa hangat.

"Apa sebenarnya yang dimiliki anak itu...?" gumamnya lirih, senyum tipis terukir di bibirnya.

Di luar, Pak Rudi mendekati Adit dengan wajah muram. "Kamu pikir kamu bisa bertahan di sini selamanya?" bisiknya geram.

Adit hanya tersenyum. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Pak."

Pak Rudi menggertakkan giginya. Ia tahu, rencananya telah gagal lagi. Tapi ini belum berakhir.

Sementara itu, di dalam kantornya, Ibu Celina masih belum bisa melupakan apa yang baru saja terjadi. Kini, ada satu pertanyaan besar di pikirannya:

Siapa sebenarnya Aditya Wijaya?

Insiden Di Jalan

Petang itu, selepas melewati ujian tak terduga dari Ibu Celina, Adit akhirnya bisa pulang.

Jam kerja seharusnya sudah selesai sejak satu jam lalu, tapi karena permintaan sang manajer, ia terpaksa lembur.

Dengan tubuh yang masih terasa hangat setelah menyentuh kulit halus atasannya, Adit menghela napas panjang sambil menghidupkan motor bututnya.

Mesin tua itu berderu kasar, seolah ikut lelah setelah hari yang terasa panjang.

Adit melajukan motornya perlahan melewati jalanan kota yang mulai sepi. Lampu-lampu jalan berpendar, menerangi aspal yang masih terasa hangat sisa matahari siang tadi. Hembusan angin malam yang menerpa wajahnya sedikit mengurangi rasa penat yang menggelayuti tubuhnya.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.

Di sebuah tikungan yang agak gelap, tiba-tiba seorang wanita muncul dari arah samping. Terlambat menyadari kehadirannya, Adit hanya sempat menarik rem sekuat tenaga. Motor oleng ke samping. Adit terpental dan menubruk wanita itu. Ia terhempas ke kanan, dan manita itu terdorong jatuh ke belakang.

"Aduh!" Suara rintihan terdengar dari orang yang ia tubruk.

Adit meringis, lutut dan sikunya nya terasa perih akibat bergesekan dengan jalanan. Tapi lebih dari itu, ia segera bangkit dan menghampiri korban.

Di bawah cahaya lampu jalan yang remang, ia melihat sosok seorang wanita muda yang terjatuh dengan lutut tertekuk. Wajahnya tersembunyi di balik helaian rambut panjang yang berantakan.

"Maaf, Mbak! Saya nggak sengaja!" Adit buru-buru mendekat, hatinya berdebar panik.

Wanita itu mendongak. Tatapan tajam dan penuh amarah langsung menghantam Adit.

"Matamu di mana?! Sembarangan bawa motor!" bentaknya.

Adit menelan ludah. Dari nada suaranya, wanita ini bukan tipe yang mudah diredakan hanya dengan permintaan maaf. Ia pun segera mengulurkan tangan. "Beneran saya nggak sengaja. Saya bantu berdiri, ya?"

Wanita itu tampak ragu sejenak sebelum akhirnya menerima uluran tangan Adit. Begitu tangannya bersentuhan dengan kulit Adit, ekspresinya berubah sekilas. Napasnya tertahan, dan matanya membelalak sebelum buru-buru dikedipkan. Wajahnya tampak sedikit lebih merah, meskipun ia cepat-cepat mengalihkan perhatian dengan mendengus kesal.

Adit menyipitkan mata. Ada yang aneh lagi. Kini ia bertanya-tanya; apakah sentuhan tangannya bisa membuat wanita seketika berubah drastis? Tadi siang dia juga menabrak Ayunda. Setelah ia bersentuhan dengan wanita itu, ekspresi wajahnya berubah. Kurang lebih mirip dengan wanita yang ia tubruk kali ini.

Wanita itu menarik tangannya dengan cepat seolah tersengat, lalu berdehem dan berdiri tegak. Pakaian yang dikenakannya terlihat mahal, blazer hitam elegan membalut tubuhnya, dan sepatu hak tinggi yang kini ternoda debu makin memperjelas kelasnya. Rambutnya yang panjang tergerai, meski sedikit berantakan karena jatuh, tetap terlihat indah.

“Kamu tahu siapa aku?” tanyanya dengan nada penuh percaya diri. Namun sebetulnya, ia sedang merasa rumit. Sensasi aneh yang baru saja ia rasakan segera pula ia tutupi dengan sikapnya yang angkuh.

Adit mengerutkan kening. “Eh... Nggak. Memangnya saya harus tahu?”

Wanita itu mendengus. “Tentu saja! Aku Larasati Sudirman. Dan kamu baru saja menabrakku!”

Nama itu terdengar familiar. Adit mencoba mengingat-ingat, lalu matanya sedikit membesar. Larasati Sudirman... Sudirman... nama itu seperti nama pejabat sekaligus pengusaha kaya.

Namun Adit tak habis pikir; bagaimana bisa wanita ini ada di tikungan dan menyeberang mendadak pula. Apa yang dia lakukan? Namun di seberang ada sebuah mobil mewah terparkir di pinggir jalan.

"Saya beneran minta maaf, Mbak Larasati. Apa saya perlu antar ke rumah sakit? Atau ada yang bisa saya lakukan?" tanya Adit dengan suara lebih hati-hati.

Larasati menatapnya dengan mata menyipit, lalu melirik lututnya yang sedikit lecet. Ia masih tampak sedikit linglung, tapi kembali menguasai dirinya.

"Aku nggak mau berurusan dengan rumah sakit. Tapi kamu tetap harus bertanggung jawab."

Adit menelan ludah. "Maksudnya?"

Larasati menyeringai tipis. "Mulai sekarang, kamu utang budi sama aku. Dan aku bakal cari cara buat menagihnya. Siap-siap aja."

Adit tidak tahu apakah harus lega atau semakin cemas. Ia tak begitu paham maksud wanita itu. Yang jelas, malam ini, hidupnya baru saja bertambah rumit.

“Nona, aku tidak paham...”

“Aku buru-buru. Berikan nomor ponselmu!”

“E, oke...” Adit mengucapkan nomornya. Wanita itu mencatatnya di ponsel mahalnya. Namun ia tak sekadar mencatat, namun juga memastikan dengan menelefon nomor itu.

Ponsel di saku Adit berbunyi. Ia mengambilnya dan mengeceknya. Larasati heran juga; betapa kuno ponsel pemuda tampan yang menabraknya itu.

“Ini nomormu, mbak?”

“Ya. Kamu simpan saja. Kamu kerja di mana?”

“E, terapis di Klinik Kesehatan dan Kecantikan Ophelia. Tak jauh dari sini... itu di sana!” kata Adit. Ia siap tanggung jawab jika wanita itu memang butuh ganti rugi. Entah apa itu.

“Namamu siapa?”

“Aditya...”

“Aditya siapa?”

“Aditya Wijaya...”

“Oke...” kata wanita itu. Ia meninggalkan Adit begitu saja; menyeberang dan masuk ke dalam mobil mewah di seberang jalan itu.

***

Keesokan harinya, Adit tiba di klinik dengan perasaan campur aduk. Setelah insiden dengan Larasati semalam, ia masih belum tahu apakah perempuan itu benar-benar serius menagih "utang budi" atau hanya sekadar menggertaknya. Namun, rasa penasaran yang lebih besar adalah efek cincin yang mulai menunjukkan perubahan.

Saat bersentuhan dengan Larasati, ia merasakan sesuatu yang berbeda; bukan sekadar reaksi biasa dari efek cincin, tetapi seolah-olah ada arus energi yang mengalir dari tubuh perempuan itu ke dirinya. Itu adalah sensasi yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Saat Adit baru saja mengganti seragamnya, pintu ruang loker terbuka dengan keras. Seorang staf masuk dengan wajah panik.

"Adit! Ada tamu mencarimu!"

Adit mengernyit. "Tamu? Siapa?"

"Seorang wanita cantik, kelihatannya orang kaya. Dia nunggu di lobi dan ngotot mau ketemu kamu."

Jantung Adit langsung berdegup kencang. Jangan-jangan…

Dengan langkah hati-hati, Adit keluar menuju lobi. Dan benar saja, di sana berdiri Larasati Dharmawan dengan pakaian kasual yang tetap terlihat mahal. Ia bersedekap, menatap Adit dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Akhirnya kamu datang juga," ucapnya dengan nada setengah mengejek.

Adit menarik napas. "Kenapa mencariku ke sini?"

Larasati tersenyum tipis. "Karena aku sudah bilang, kamu punya utang budi sama aku. Dan sekarang aku mau menagihnya."

"Oke. Apa yang kamu mau?"

Larasati mendekat dan berbisik pelan, "Ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang harus kamu lakukan."

Adit menatapnya curiga. "Aku lagi kerja."

"Aku nggak peduli. Kamu ikut atau aku bikin masalah di tempat ini?"

Adit menggeram pelan. Perempuan ini benar-benar menyebalkan. Namun, ia tidak punya pilihan. Dengan sedikit enggan, ia menoleh ke resepsionis. "Bilang ke Pak Rudi aku ada urusan sebentar. Aku bakal balik dalam satu jam."

Tanpa menunggu balasan, Larasati menarik lengan Adit dan menyeretnya keluar. Begitu kulit mereka bersentuhan lagi, sesuatu yang aneh terjadi.

Jantung Adit berdetak lebih cepat, tapi bukan karena panik. Ada arus halus yang merambat dari ujung jarinya ke tubuhnya, seolah-olah cincin di jarinya merespons kehadiran Larasati. Perempuan itu juga tampak terkejut, tapi tidak melepaskan genggamannya.

Mereka masuk ke mobil mewah Larasati. Begitu mesin menyala, Larasati mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, membuat Adit semakin curiga.

"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Adit.

Larasati tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jarinya ke kemudi, sebelum akhirnya menghela napas. "Aku butuh bantuanmu. Ada seseorang yang mengejarku."

Adit membelalak. "Apa?! Siapa?"

"Aku nggak bisa jelaskan sekarang. Tapi aku tahu satu hal." Larasati melirik sekilas ke arahnya. "Kamu bukan orang biasa, Adit. Sentuhanmu… Itu bukan sentuhan normal."

Adit tercekat. Jadi Larasati memang merasakan sesuatu saat bersentuhan dengannya semalam. Tapi bagaimana bisa perempuan ini menyadarinya begitu cepat?

"Jangan pura-pura nggak tahu," lanjut Larasati. "Aku nggak tahu apa yang kamu lakukan semalam, tapi tubuhku masih bereaksi. Dan aku yakin, kamu bisa melakukan lebih dari itu."

Adit menelan ludah. Situasi ini makin rumit. Tidak hanya cincin di jarinya bereaksi lebih kuat, kini ada perempuan kaya yang sepertinya memiliki masalah besar dan entah bagaimana menyeretnya ke dalamnya.

Kejadian Di Sore Hari

Adit bersandar di jok mobil, mencoba mencerna situasi. Cincin itu memang tidak terlihat bentuk fisiknya. Hanya seperti tatto di jari tangan adit. Namun demikian, Adit merasakannya saat merabanya.

Dan kini, dekat dengan Larasati, ia tak mengerti kenapa jemarinya itu terasa hangat.

Larasati mengemudi dengan ekspresi tegang, matanya sesekali melirik ke kaca spion seakan-akan sedang memastikan sesuatu. Di luar, matahari mulai condong ke barat, lampu-lampu jalanan mulai menyala, menciptakan bayangan panjang di kota yang masih cukup ramai.

"Kamu bilang ada yang mengejarmu?" Adit akhirnya membuka suara.

Larasati menggigit bibirnya, lalu mengangguk. "Ya, dan aku tidak tahu harus lari ke mana lagi."

Adit menghela napas. "Tapi kenapa aku? Kenapa kamu tiba-tiba menyeretku ke dalam masalah ini?"

Larasati tidak langsung menjawab. Ia membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil yang lebih sepi, lalu mematikan mesin. Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, wajahnya tampak sedikit pucat.

"Karena aku yakin kamu bisa melindungiku. Dan... ada hal aneh yang terjadi sejak aku bersentuhan denganmu," ucapnya lirih.

Adit mengepalkan tangan. Ia sangat yakin, itu pasti karena cincin tinggalan kakeknya dan hal itu membuatnya terseret dalam situasi yang semakin rumit. Masalahnya, Adit tak tahu bagaimana melepaskannya; cincin itu sudah berubah menjadi tatto.

Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, suara deru mobil mendekat dengan cepat. Larasati tampak panik, segera menyalakan kembali mesin mobil.

"Mereka menemukan kita! Pegangan!" seru Larasati. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil melaju kencang di jalanan sempit, suara klakson dan ban berdecit terdengar dari belakang. Adit menoleh dan melihat sebuah sedan hitam mengejar mereka dengan kecepatan tinggi. Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Siapa mereka?" tanya Adit.

"Orang-orang yang ingin mengambil sesuatu dariku," jawab Larasati singkat.

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar! Kaca belakang mobil retak, Larasati berteriak tertahan. Adit langsung merunduk refleks.

"Sial! Mereka benar-benar serius!" Adit meraih sabuk pengaman dan mengencangkannya. "Kita nggak bisa terus lari begini. Kamu tahu tempat aman?"

"Ada," jawab Larasati. "Tapi kita harus sempat sampai ke sana dulu!"

Mobil berbelok tajam, hampir kehilangan kendali, tapi Larasati tetap memegang kemudi dengan kuat. Adit merasakan cincin di jarinya mulai hangat, seolah merespons ketegangan situasi. Ada sesuatu yang mengalir dalam tubuhnya, perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

"Laras!" seru Adit tiba-tiba. "Ke kiri!"

Tanpa bertanya, Larasati membanting setir ke kiri. Sedan hitam yang mengejar mereka tidak siap dengan manuver mendadak itu dan melaju lurus, kehilangan jejak sesaat.

Larasati tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menekan gas lebih dalam, membawa mereka menjauh. Setelah beberapa menit, ia akhirnya memperlambat mobil dan memasuki sebuah gang tersembunyi di belakang bangunan tua.

Mereka berdua terengah-engah. Suasana di dalam mobil terasa sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar.

"Aku rasa kita aman untuk sementara," bisik Larasati.

Adit menatapnya. "Sekarang kamu bisa jelaskan? Siapa yang mengejarmu dan kenapa?"

Larasati diam beberapa saat, lalu menarik napas dalam. "Mereka orang-orang yang dulu berurusan dengan keluargaku. Ada sesuatu yang mereka inginkan, dan aku satu-satunya yang tahu di mana itu berada."

Adit mengernyit. "Sesuatu? Apa maksudmu?"

“Aku belum bisa bercerita sekarang,” kata Larasati.

Adit duduk bersandar di jok mobil, masih mencoba mengatur napasnya. Sementara itu, Larasati mengintip dari celah jendela, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka lagi. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, langit berubah menjadi oranye kemerahan yang kontras dengan ketegangan yang masih menggantung di antara mereka.

"Sepertinya kita sudah aman," ucap Adit, meski di dalam hatinya ia masih waspada.

Larasati menarik napas panjang, lalu menatap Adit. "Aku tahu kamu pasti punya banyak pertanyaan." Matanya terlihat sedikit lelah, tetapi sorotnya tetap tajam.

Adit mengangguk. "Ya, dan aku rasa ini waktunya kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka mengejarmu?"

Larasati menunduk, jemarinya saling menggenggam di pangkuannya. "Aku nggak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Tapi yang jelas, ini berhubungan dengan keluargaku. Dengan sesuatu yang berharga yang mereka inginkan dariku."

Adit menatapnya tajam. "Sesuatu? Apa itu?"

Larasati menggeleng. "Aku nggak bisa memberitahumu sekarang. Tapi satu hal yang aku tahu pasti… sejak bersentuhan denganmu, ada sesuatu yang berubah."

Adit mengernyit. "Berubah bagaimana?"

Larasati menggigit bibirnya, lalu mengangkat telapak tangannya, memperlihatkan punggung tangan yang tadi sempat bersentuhan dengan Adit. “Genggam tanganku…”

Tanpa bertanya, Adit melakukannya.

"Aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tapi ada rasa… hangat, dan sesuatu seperti getaran yang aneh di tubuhku sejak saat itu."

Adit menatap tangannya, lalu merasakan cincin di jarinya sedikit berdenyut. Ia mulai menyadari bahwa cincinnya tidak hanya sekadar memberikan efek biasa. Ada hal lain yang lebih dalam yang belum ia pahami sepenuhnya.

Keduanya sama-sama diam. Tangan Adit masih menggenggam tangan Larasati. Ia melihat wajah sosok yang cantik itu bersemu kemerahan. Dan ada tanda-tanda serupa dengan orang yang pernah ia pijat, meski Laras tak seekstrim itu menunjukkannya.

“Cukup…” kata Larasati.

Adit melepaskan genggaman tangannya.

Sebelum Adit sempat bertanya lebih jauh, Larasati kembali berbicara, kali ini suaranya lebih tegas. "Kita harus berpisah untuk sementara. Aku nggak ingin kamu terseret lebih jauh ke dalam masalah ini."

Adit mengerutkan dahi. "Kamu pikir aku bisa lepas begitu saja setelah apa yang terjadi? Aku sudah terlibat, Laras. Dan aku juga nggak bisa membiarkanmu menghadapi ini sendirian."

Larasati terdiam beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Kalau begitu… kita akan bertemu lagi. Aku yang akan menghubungimu. Untuk sementara, jangan cari aku. Jangan ikut campur sebelum aku siap menjelaskan semuanya."

Adit tahu ada banyak hal yang masih disembunyikan Larasati, tetapi ia juga sadar bahwa memaksanya sekarang hanya akan membuat keadaan semakin rumit. Akhirnya, ia mengangguk setuju. Toh ia juga tak tahu bagaimana harus mencari wanita kaya itu.

Larasati menyalakan kembali mobilnya dan mengantarkan Adit kembali ke tempat kerjanya.

Pak Rudi Terus Mencari Celah

Adit kembali ke tempat kerja dengan perasaan campur aduk. Setelah semua kejadian yang dialaminya bersama Larasati, pikirannya masih penuh tanda tanya.

Sentuhan Larasati tadi menciptakan suatu reaksinya aneh; seolah ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya. Namun, belum sempat ia merenungkan lebih jauh, langkahnya terhenti saat melihat sosok Pak Rudi berdiri di depan pintu klinik dengan tangan terlipat di dada.

"Akhirnya muncul juga," suara Pak Rudi terdengar tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Kamu pikir tempat ini warung kopi yang bisa keluar masuk seenaknya?"

Adit menarik napas, menahan kesal. Ia tahu ia salah juga karena yang tadi itu bisa dibilang ia membolos kerja. Namun sikap Pak Rudi sungguh tak menyenangkan. "Saya tadi ada urusan mendadak, Pak."

Pak Rudi mendengus. "Urusan? Saya lihat sendiri kamu pergi sama perempuan cantik naik mobil mewah. Enak ya, baru kerja sebentar sudah bisa keluyuran. Jangan-jangan kamu jadi gigolo, ya?"

Ucapan itu membuat Adit merasa malu. Tak pernah ia berpikir untuk menjadi seperti apa yang dituduhkan oleh Pak Rudi. Ia hanya ingin bekerja baik-baik.

Beberapa pegawai yang masih ada di klinik mulai berbisik-bisik. Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu dan, beberapa di antaranya, iri. Adit mengepalkan tangan, tapi ia tahu harus tetap tenang.

"Pak, saya nggak melakukan hal yang melanggar aturan. Kalau Bapak mau tahu, perempuan itu yang menarik saya pergi tanpa sempat saya menolak," jawabnya dengan nada datar.

"Alasan!" Pak Rudi membentak. "Saya sudah mencatat ini. Besok pagi saya akan laporkan ke Ibu Celina. Kita lihat apakah dia masih mau mempertahankan pegawai yang tidak disiplin seperti kamu!"

Adit menghela napas panjang. Ia tahu Pak Rudi memang mencari-cari celah untuk menyingkirkannya. Namun, belum sempat ia membalas, suara seorang pegawai perempuan menyela.

"Pak Rudi, mungkin lebih baik dengar penjelasan dari Adit dulu," ujar seorang pegawai bernama Tia, seorang resepsionis yang selalu tampak ramah padanya. "Selama ini dia bekerja dengan baik. Lagipula, kalau benar-benar pergi tanpa izin, kenapa Ibu Celina tidak langsung menegurnya?"

Pak Rudi menoleh tajam ke arah Tia. "Kamu membela anak ini? Kamu pikir kamu siapa di sini?" bentaknya.

Tia menunduk, tapi beberapa pegawai lain tampak setuju dengannya. Adit hanya diam, tak ingin memperpanjang masalah dengan perdebatan yang sia-sia.

***

Adit sampai di rumah. Rasanya lelah sekali, padahal seharian tadi, bisa dibilang, tak ada klien yang ia pijit. Tapi ia membantu menjadi asisten terapis senior lain. Kebanyakan klien yang datang maunya dilayani perempuan.

Terapis di tempat itu kadang memang menganggur jika memang tak ada klien. Namun kadang, mereka harus mengerjakan hal lain di luar urusan memijit. Ada banyak hal yang harud dikerjakan; membersihkan ruangan, loundry handuk dan lain-lain, mengurusi peralatan dan pokoknya banyak.

Pak Rudi juga tak akan rela melihat bawahannya bersantai saat tempat itu sepi. Jadi, pasti selalu ada hal yang harus dikerjakan.

Adit segera mandi, lalu membuat mie rebus. Tadi ia terlalu malas mampir untuk membeli makanan di jalan.

Kini setelah makan, ia berbaring di kasurnya. Rumah terasa sepi. Sejak dulu memang sepi. Tapi setidaknya, jika dulu kakeknya masih hidup, rasanya juga tak sesepi itu.

Kini sambil mencoba tidur, Adit mengingat kembali kejadian yang ia alami. Sungguh sial. Baru kali ini ia mengalami hal gila di mana ia berada satu mobil dengan seorang wanita yang dikejar sekelompok orang. Dan peliknya, ada tembakan pula. Untung masih selamat.

Yang membuat Adit heran, dalam situasi seperti itu, meski ia panik dan bingung, namun ia masih juga merasa tenang. Ia tak mengerti kenapa. Dan saat ia menggenggam tangan Larasati, ia merasakan ketenangan. Di saat yang sama, ia merasa seolah energinya mengalir masuk ke dalam tubuh Larasati, lalu juga sebaliknya, ia seolah merasakan ada getaran energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Itu adalah sesuatu yang baginya sulit ia pahami.

Kini ia memandangi lingkaran hitam di jarinya itu.

“Kakek, sebenarnya apa yang terjadi padaku?” ucap Adit lirih.

Kemudian Adit terlelap.

Pagi harinya, seperti yang dijanjikan, Pak Rudi membawa masalah ini ke hadapan Ibu Celina. Adit dipanggil ke ruangannya, sementara Pak Rudi berdiri di samping dengan ekspresi penuh kemenangan.

Adit benar-benar tak habis pikir. Hari masih pagi dan ia baru saja datang. Tiba-tiba saja, Pak Rudi yang seolah sudah menunggunya, segera menghadangnya.

Kini mereka berada di ruangan Ibu Celina.

"Jadi, Adit," suara Ibu Celina terdengar tenang, tapi matanya tajam menatapnya. "Pak Rudi melaporkan bahwa kemarin kamu pergi meninggalkan tempat kerja tanpa izin. Bisa kamu jelaskan?"

Adit menatap lurus ke arah Ibu Celina. "Saya tidak pergi dengan sengaja, Bu. Seorang klien tiba-tiba datang dan menarik saya ke mobilnya. Saya sendiri kaget, tapi saat itu saya tak bisa langsung menolak karena situasinya mendadak."

Pak Rudi tertawa kecil dengan nada mengejek. "Oh, jadi alasanmu karena perempuan? Alasan klasik. Klien apaan! Tak boleh ada klien dilayani di luar klinik ini. Lantas mereka harus membayarnya bagaimana? Ke kamu secara langsung begitu? Ini menyalahi aturan dan kamu layak dipecat!"

Namun, sebelum Pak Rudi bisa melanjutkan serangannya, Ibu Celina menatapnya tajam. "Pak Rudi, saya yang bertanya di sini."

Pak Rudi langsung diam, meskipun wajahnya memerah karena kesal.

"Adit, siapa perempuan itu?" tanya Ibu Celina lagi.

Adit ragu sejenak. "Namanya Larasati, Bu. Saya juga tidak tahu kenapa dia menarik saya seperti itu. Tapi sepertinya dia dalam masalah."

Mata Ibu Celina menyipit. "Larasati?" gumamnya, seolah nama itu tidak asing baginya.

Adit menunggu tanggapannya, tapi alih-alih marah, Ibu Celina justru tersenyum kecil. "Baiklah, saya akan mencari tahu lebih lanjut. Untuk saat ini, saya anggap kamu tidak bersalah. Tapi lain kali, kalau ada hal seperti ini lagi, segera lapor ke saya atau supervisor yang bertugas. Mengerti?"

"Baik, Bu. Terima kasih."

Pak Rudi tampak tidak percaya dengan keputusan itu. Wajahnya merah padam, dan begitu Adit keluar dari ruangan, ia langsung mengejarnya.

"Jangan pikir kamu bisa lolos terus, anak baru," geram Pak Rudi. "Aku akan pastikan kamu jatuh. Ini belum selesai."

Adit hanya tersenyum tipis. Ia sudah tahu kalau Pak Rudi tidak akan berhenti begitu saja. Tapi yang lebih mengusik pikirannya sekarang bukan ancaman Pak Rudi, melainkan reaksi aneh Ibu Celina saat mendengar nama Larasati.

Siapa sebenarnya Larasati? Dan kenapa ia seolah punya hubungan dengan tempat ini?

Diajak Makan Malam Klien

Dari ruangan Ibu Celina, dan lolos dari Pak Rudi, Adit kembali bekerja seperti biasa. Belum ada klien yang datang. Ia memilih untuk mengobrol bersama terapis lain. Namun sesungguhnya, ia tidak fokus juga diajak mengobrol teman-temannya.

Setelah kejadian dengan Larasati dan perdebatan panjang dengan Pak Rudi, ia merasa butuh angin segar sebetulnya. Mengobrol bersama yang lain bisa menjadi sebuah solusi. Namun, entah kenapa, pikirannya masih melayang ke kejadian-kejadian aneh yang dialaminya belakangan ini.

Waktu berjalan dan satu demi satu para terapis senior itu sudah mendapatkan klien. Tinggal adit seorang di ruangan itu. Sendirian menunggu. Namun tak lama kemudian, ia mendengar seseorang memanggil namanya.

"Adit, kamu ada klien baru. Dia minta dipijat oleh terapis pria. Hanya kamu yang kosong kan!" ujar Tia, si resepsionis yang kemarin sore membelanya saat Pak Rudi marah-marah.

“E, iya...” Adir segera berdiri. “Ruangan mana?”

“Ruang 18,” balas Tia. Ia mendekat dan berkata pelan, “Yang sabar ya. Rejeki nggak akan kemana kok...”

“Ada apa memangnya?”

“Pak Rudi sengaja nggak kasih kamu klien. Tapi ini tadi ada satu klien lain yang nggak mau dilayani terapis cewek. Dan hanya kamu terapis cowok yang tersisa. Kalau kamu nggak layani mereka kan nggak ada tips...” kata Tia.

“Hehehe. Nggak apa-apa. Masih ada gaji pokok. Aku cukup beryukur kok. Kebutuhanku juga nggak banyak...” kata Adit.

“Ya sudah sana. Semoga beruntung!” kata Tia.

“Makasih ya Tia. Juga buat kemarin sore. Kamu jadi ikutan kena marah...” kata Adit.

“Santai! Sudah biasa kok!” Tia tersenyum cantik. Ia pun kembali ke ruang depan.

Adit mengangguk. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menuju ke kamar pijat nomor 18. Begitu ia masuk, matanya langsung bertemu dengan sosok wanita yang duduk di kursi menghadap ke cermin besar di sebelah ranjang itu.

Wanita itu tidak muda, namun juga belum bisa dikatakan tua. Usianya mungkin sekitar empat puluhan. Meski begitu, ia masih tampak cantik dengan riasan yang tidak berlebihan. Rambutnya yang sedikit bergelombang tergerai rapi, dan ia memakai gaun santai yang menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan berada.

“Selamat pagi menjelang siang. Maaf telah menunggu!” Adit menyapa dengan ramah.

"Kamu yang akan memijat saya?" tanyanya dengan suara lembut, namun ada nada penasaran dalam suaranya.

"Ya, Bu. Saya Adit, terapis Anda hari ini," jawab Adit sopan.

Wanita itu tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang. "Akhirnya, ada juga terapis pria yang bisa saya coba. Saya sudah sering datang ke sini, tapi selalu dapat yang wanita."

Adit hanya membalas dengan anggukan kecil.

“Aku akan ganti pakaian sebentar...” kata wanita itu.

“Akan saya siapkan pakaian untuk pijit terlebih dahulu,” kata Adit. Ia segera menuju ke lemari dan mengambil semua yang dibutuhkan. Wanita itu mengambil baju ganti untuk pijat, lalu segera ke ruang ganti.

Adit menyiapkan minyak. Tak lama kemudian, wanita itu kembali. Pakaian khusus pijit yang ia kenakan itu tampak ketat dan pas. Pikiran aneh-aneh mulai menyerang Adit. Namun ia segera menepiskannya agar tetap bisa fokus dan profesional.

Wanita itu berbaring tengkurap di ranjang. Adit menelan ludah, “bisa dimulai, Ibu?”

"Nama saya Ratna," katanya. Ia menolehkan kepalanya dan menatap Adit dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Saya sebenarnya datang ke sini bukan hanya karena ingin dipijat, tapi juga karena saya butuh seseorang untuk diajak bicara."

Adit tetap mempertahankan senyum profesionalnya. "Kalau saya bisa membantu, saya akan mendengarkan, Bu."

Ratna tertawa kecil. "Jangan terlalu formal begitu. Panggil saja saya Mbak Ratna. Saya belum setua itu."

Adit tersenyum, lalu mengangguk. "Baik, Mbak Ratna. Jadi, ada yang ingin diceritakan?"

Wanita itu menghela napas panjang, lalu mulai berbicara. "Suami saya bekerja di pelayaran. Dia jarang pulang. Kadang berbulan-bulan, bahkan hampir setahun baru kembali ke rumah. Awalnya, saya pikir saya bisa menerima itu. Tapi semakin lama, semakin terasa sepi. Rumah besar, uang berlimpah, tapi tidak ada yang bisa diajak bicara."

Adit mendengarkan dengan tenang. Meski tidak memiliki pengalaman dalam hubungan rumah tangga, ia bisa merasakan kesepian yang dirasakan wanita itu. Namun, ia juga tahu bahwa dirinya bukan orang yang tepat untuk memberikan saran.

"Saya rasa itu sulit, Mbak Ratna. Mungkin bisa coba mencari kesibukan lain? Seperti komunitas, atau hobi yang menyenangkan?" Adit mencoba memberikan saran seadanya.

Ratna tersenyum kecil. "Aku sudah mencoba. Tapi tetap saja, rasa sepi itu tidak hilang."

Adit tidak tahu harus menanggapi seperti apa, maka ia memutuskan untuk mulai memijat. Ia tuangkan minyak di bagian kaki, lalu tangannya mulai bekerja, memberikan tekanan yang tepat di titik-titik tertentu yang terasa keras dan kaku.

Dalam beberapa menit, napas Ratna mulai berubah. "Astaga..." gumamnya pelan. "Ini luar biasa..."

Adit tetap fokus, tidak menanggapi reaksi itu. Namun, ia tahu betul bahwa efek cincinnya kembali bekerja. Tubuh Ratna tampak lebih rileks, bahkan suara desahannya semakin terdengar jelas.

"Adit..." suara Ratna terdengar berat. "Sentuhanmu... ini... lebih nikmat dari apa pun yang pernah kurasakan."

Adit tetap menjaga ekspresi profesionalnya, walau ia tahu betul apa yang sedang terjadi. Efek pijatan ini bukan sekadar relaksasi biasa. Wanita itu benar-benar tenggelam dalam sensasi yang diciptakan oleh cincin mistis di jarinya.

Demi apa, adit sendiri merasa bingung. Stres juga rasanya melihat wanita itu menggeliat sedemikian rupa diiringi dengan desahan merdu yang lolos dari bibirnya.

Setelah sesi berakhir, Ratna masih berbaring di tempat tidur pijat, matanya terpejam seolah tak ingin kehilangan rasa nyaman yang masih tersisa.

Saat ia akhirnya duduk kembali, ekspresinya telah berubah. Ada tatapan berbeda di matanya saat menatap Adit. Tatapan yang penuh keinginan.

“Sesi sudah selesai Mbak. Apakah ada lagi yang kira-kira belum nyaman?” tanya Adit.

"Adit," katanya dengan suara pelan. "Malam ini... kamu sudah ada rencana?"

Adit mengernyit, merasa ada sesuatu di balik pertanyaan itu. "Belum, Mbak Ratna. Kenapa?"

Ratna tersenyum tipis. "Kalau begitu, temani aku makan malam. Aku tahu restoran yang enak dan aku butuh teman bicara yang menyenangkan seperti kamu."

Adit terdiam sejenak. Tawaran ini jelas lebih dari sekadar makan malam biasa. Ia bisa melihat sesuatu di mata Ratna; sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kesepian.

Namun, pertanyaannya sekarang, haruskah ia menerimanya?

Ajakan Ke Hotel

Adit menatap uang lima lembar seratus ribuan di tangannya. Rasanya masih sulit percaya kalau ia baru saja menerima tip sebesar itu hanya dari satu sesi pijat. Seumur-umur bekerja di tempat ini, belum pernah ada klien yang memberinya uang sebanyak ini sebagai bonus.

"Kamu layak mendapatkannya," kata Ratna tadi sebelum keluar dari ruangan. "Aku harap kamu tidak keberatan aku mengajakmu makan malam nanti."

Adit tidak tahu harus menjawab apa saat itu. Namun, melihat cara Ratna tersenyum, caranya menggenggam tangannya sesaat sebelum pergi, ia tahu bahwa ajakan itu bukan sekadar basa-basi.

Maka, ia pun mengangguk dan menerima ajakan tersebut. Adit sendiri tak tahu kenapa ia tak bisa menolak. Mereka sempat bertukar nomor telepon sebelum Ratna meninggalkan tempat pijat dengan langkah ringan.

Ia menyimpan uang itu dengan hati-hati ke dalam dompetnya yang sudah mulai usang. Lima ratus ribu—jumlah yang sangat berarti bagi Adit yang selama ini hidup pas-pasan. Apalagi ia masih harus membayar cicilan utang pinjaman online yang dulu ia ambil demi membiayai pengobatan kakeknya. Sayangnya, meski sudah berusaha semaksimal mungkin, takdir berkata lain. Kakeknya tetap meninggal dunia, meninggalkan Adit dengan beban finansial yang cukup berat.

Hari itu, Adit tidak menerima klien lain. Entah kebetulan atau memang Pak Rudi yang mengaturnya, ia tidak terlalu peduli. Dengan uang yang baru ia dapat, rasanya ia tidak masalah meski hanya menangani satu pelanggan saja hari ini. Gaji pokoknya tetap ada, dan kini ada tambahan besar yang bisa meringankan bebannya.

Waktu terasa berlalu cepat. Jam kerja pun berakhir. Adit segera menuju ke rumahnya yang kecil dan sederhana itu. Begitu sampai, ia langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dengan air dingin yang sedikit mengusir rasa lelah. Setelah itu, ia mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki; kaus hitam polos dan celana jeans yang masih cukup layak.

Saat ia sedang merapikan rambutnya di depan cermin kecil di dinding, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk.

"Halo?" Adit mengangkatnya. Jantungnya sedikit deg-degan.

"Adit... kamu sudah siap?" Suara Ratna terdengar di seberang, lembut namun ada nada antusias.

Adit melirik jam dinding. Masih ada waktu, tapi sepertinya Ratna sudah tidak sabar. "Iya, Mbak Ratna. Sebentar lagi aku berangkat. Kita ketemu di mana?"

“Aku sudah di restoran, nih. Restoran Orchid di pusat kota. Aku tunggu kamu di sini, ya. Jangan lama-lama,” balas Ratna.

“Baik, Mbak. Aku segera ke sana,” jawab Adit. Ia semakin gugup saja. ‘Hanya makan malam. Bukan apa-apa...’ ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.

Panggilan berakhir. Adit menarik napas panjang sebelum mengambil kunci motornya. Malam ini mungkin akan jadi malam yang menarik. Ia tidak tahu pasti apa yang Ratna inginkan darinya, tapi ia memutuskan untuk mengalir saja mengikuti arus.

Tanpa menunda lagi, ia pun bergegas keluar, menyalakan motor, melaju dengan kecepatan terbaik yang bisa ditempuh oleh motor tuanya itu menuju restoran tempat janji temu mereka.

Sesampainya di restoran Orchid, Adit segera melangkah masuk dan mencari sosok Ratna. Wanita itu sudah duduk di sebuah meja dekat jendela, mengenakan gaun elegan berwarna merah anggur. Rambutnya tertata rapi, dan ada senyum lembut di wajahnya saat melihat Adit datang.

"Akhirnya kamu datang," ujar Ratna saat Adit duduk di hadapannya. "Kamu terlihat lebih segar setelah mandi."

Adit tersenyum canggung. "Terima kasih, Mbak Ratna. Saya tidak ingin terlihat berantakan di tempat seperti ini. Mbak Ratna juga kelihatan beda,” balas Adit.

“Beda apanya?” tanya Ratna dengan eskpresi menggoda.

“E, lebih cantik... em, maaf Mbak...” kata Adit. Ia cukup salah tingkah di depan wanita yang lebih tua darinya itu. Masalahnya, Ratna sudah menikah. Ia pun kepikiran juga sebenarnya.

Ratna terkekeh kecil. "Santai saja, Adit. Anggap saja kita teman. Tidak usah terlalu formal. Oh ya, pesan saja apa pun yang kamu mau. Jangan sungkan."

Adit menatap menu di tangannya dengan sedikit bimbang. Restoran ini jelas bukan tempat makan murah yang biasa ia datangi. Semua harga di sini cukup mahal baginya. Namun, melihat tatapan Ratna yang meyakinkan, akhirnya ia memilih menu yang sekiranya tidak terlalu berlebihan.

Tak lama, pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Setelah makanan dipesan, mereka kembali mengobrol santai. Ratna banyak bertanya tentang kehidupan Adit, tentang bagaimana ia bisa menjadi terapis pijat, dan juga sedikit tentang masa lalunya. Adit menjawab secukupnya, meski ada beberapa hal yang ia simpan untuk dirinya sendiri.

"Jadi, kamu tinggal sendiri di rumah?" tanya Ratna sambil menyesap anggurnya.

"Iya, Mbak. Saya sudah lama hidup mandiri. Sejak kakek meninggal, saya harus mengurus semuanya sendiri,” jawab Adit.

Ratna mengangguk dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Kamu anak yang mandiri. Itu bagus. Tidak banyak pria seusiamu yang bisa bertahan sendiri seperti itu!”

Adit hanya tersenyum tipis. "Saya tidak punya pilihan, Mbak. Kalau tidak bekerja, saya tidak bisa hidup,”

“Berapa sih usiamu? Sory, hanya penasaran...”

“Hampir 19 mbak. Ya lulus SMA terus kerja serabutan, lalu nemu lowongan di klinik itu. Nggak tahu kenapa aku dimasukkan ke terapis. Padahal lowongannya cuma OB...”

“Itu karena kamu punya penampilan menarik. Tubuhmu bagus. Rajin olah raga kah?”

“Ya lumayan sih. Dulu ikut pencak silat. Tapi karena itu aku jadi rutin berolah raga!”

“Wow! Bisa jadi pelindung dong! Hehehe!”

Obrolan mereka berlanjut hingga makanan datang. Mereka makan dalam suasana nyaman, diselingi percakapan ringan dan beberapa tawa kecil. Ratna tampak benar-benar menikmati kebersamaan ini, dan Adit, meski awalnya canggung, mulai merasa lebih santai.

Setelah makanan hampir habis, Ratna meletakkan garpunya dan menatap Adit dengan senyum penuh arti. "Adit, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu malam ini. Bagaimana kalau kita menginap di hotel?"

Adit terdiam sejenak. Tawaran itu jelas memiliki makna tersendiri. Ia bisa membaca isyarat dari cara Ratna menatapnya. Namun, ia juga tahu bahwa ini bukan sekadar ajakan biasa.

"Hotel?" Adit mengulang kata itu, mencoba memastikan maksudnya.

Ratna mengangguk. "Ya. Aku ingin bersantai lebih lama. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya. Aku yang urus semuanya."

Adit menatap Ratna dalam diam. Malam ini benar-benar semakin membuat dia galau berat.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tukang Pijat Tampan

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam bagi sang wanita. Apakah pernikahan ini berjalan atas dasar cinta lama yang tersisa, ataukah sang suami tengah menyusun rencana balas dendam demi membalas luka masa lalunya? Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, pasangan suami istri ini harus berkomitmen di tengah bayang-bayang masa lalu. Kini, rahasia serta konflik mulai menguji kesetiaan dan keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan kampus Bunga mendadak gempar setelah ia mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Ezza, pria yang dijodohkan dengannya dan kini sah menjadi suaminya, tiba-tiba hadir sebagai dosen baru di sana. Kemunculan Ezza yang tidak disangka-sangka ini langsung memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai menyangsikan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada rencana rahasia yang disembunyikan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam yang menegangkan, Shila harus menahan rasa sakit dan gejolak gairah saat Sam menyentuhnya. Di tengah situasi berisiko tinggi ini, Sam memperingatkan Shila dengan bisikan lirih agar tetap diam. Mereka harus menyembunyikan hubungan terlarang ini dengan sangat hati-hati, sebab orang tua Shila berada sangat dekat dan bisa mendengar setiap suara di dalam rumah. Ketakutan akan ketahuan membuat hubungan rahasia mereka terasa kian mencekam.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika rela bersabar atas perlakuan buruk ibu mertuanya demi membina rumah tangga bersama Askara Brahma selama dua tahun. Namun, kehangatan Askara mendadak hilang dan ia berubah menjadi sangat dingin. Perubahan drastis ini memicu kecurigaan Nadia akan adanya rahasia kelam. Akankah ia sanggup menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan cinta Raka dan Cherry kini terancam retak akibat kehadiran Nadia. Raka merasa terus dikesampingkan oleh sang kekasih, yang selalu mendahulukan sahabat berkacamata tebalnya tersebut. Emosi Raka akhirnya memuncak begitu menyadari dirinya cuma menjadi prioritas kedua bagi Cherry. Namun, rasa cemburu yang membakar ini malah mengantarkan Raka pada sebuah titik balik tak terduga dalam hidupnya. Sanggupkah jalinan asmara mereka bertahan di tengah renggangnya prioritas Cherry?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan