APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Nadia, wanita bergelimang harta yang ambisius, mengalami guncangan batin setelah mengenal Akbar. Kesederhanaan sang penghafal Al-Qur'an itu perlahan mengikis pandangan Nadia tentang kekayaan materi. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan gengsi sosial atau mengejar cinta tulusnya. Situasi kian rumit karena keluarga besarnya menolak keras Akbar akibat jurang perbedaan ekonomi. Akankah cinta mereka sanggup meruntuhkan tembok status sosial?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah semingguan lebih sibuk dengan pekerjaan, Nadia merasa jenuh. Sejak percakapan pertamanya dengan Akbar di kajian yang lalu, pikirannya seakan dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban memuaskan. Setiap malam, ia teringat ucapan Akbar tentang kedamaian batin, ambisi, dan kesederhanaan yang terasa asing namun terus-menerus menggoda pemikirannya. Meski ia mencoba mengabaikannya, ada perasaan gelisah yang tak mau hilang.

"Nad, kamu kenapa sih akhir-akhir ini? Kayak nggak fokus," tanya Sofi, teman baiknya, saat mereka sedang makan siang di kantin kantor.

Nadia menghela napas, sambil memainkan sendok di mangkuknya. "Aku cuma... Ada yang aneh aja di pikiran."

Sofi menaikkan alisnya, tersenyum geli. "Aneh? Jangan bilang gara-gara cowok?"

"Apa sih, Sof!" Nadia mendengus, merasa malu. "Bukan gitu maksudku. Ini tuh... tentang hal-hal yang dibahas di kajian yang minggu lalu kita datangi."

"Oh, soal Akbar dan kedamaian batin itu?" Sofi tersenyum lebar. "Berarti kamu masih penasaran sama dia, dong?"

Nadia terdiam, tidak ingin mengakui perasaannya yang sebenarnya. "Aku cuma merasa... ucapan dia ada yang nggak masuk akal buat aku. Kayak ambisi itu nggak penting, atau materi nggak punya arti... Aku nggak ngerti gimana bisa hidup kayak gitu."

Sofi menepuk bahu Nadia. "Yah, kalau penasaran, kita dateng aja lagi ke kajiannya minggu ini. Siapa tahu, jawaban yang kamu cari ada di sana."

Nadia berpikir sejenak, mempertimbangkan saran Sofi. Dalam hatinya, ada dorongan kuat untuk menemui Akbar lagi, bukan hanya untuk mendapatkan jawaban, tapi mungkin juga untuk sedikit menantangnya. Dia tak ingin mengakui rasa ketertarikannya, tapi tak dapat menyangkal bahwa Akbar memicu sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Tanpa sadar, Nadia mengangguk setuju.

---

Di Minggu sore, Sofi datang menjemput Nadia. Mereka menuju ke masjid tempat kajian Akbar dilangsungkan, dan meski Nadia mencoba terlihat tenang, dalam hatinya ia merasa cemas sekaligus penasaran.

"Tenang aja, Nad. Kamu nggak perlu sok cuek gitu, aku tahu kamu penasaran sama dia," goda Sofi sambil tersenyum lebar.

"Bukan penasaran sama dia, Sof," Nadia mendengus, berusaha menyangkal. "Aku cuma mau ngerti kenapa dia bisa hidup dengan prinsip yang... kayak gitu."

Sofi hanya tertawa kecil, tidak membalas. Mereka masuk ke ruangan kajian yang mulai penuh dengan peserta. Nadia memilih duduk di barisan belakang, mencoba menjaga jarak. Meski berusaha terlihat tak tertarik, matanya terus mengikuti gerak-gerik Akbar yang sedang bersiap di depan ruangan.

Ketika sesi kajian dimulai, Akbar langsung membahas tentang kedamaian batin dan pentingnya melepaskan hal-hal yang membebani hati. Kalimatnya penuh makna, sederhana namun dalam. Di tengah penjelasannya, Akbar menyebutkan bahwa "kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa menerima diri apa adanya, tanpa perlu pengakuan dari orang lain."

Nadia tertegun, merasa kalimat itu menohok langsung ke hatinya. Ia ingin langsung menanggapi, tapi memilih menahan diri hingga sesi tanya jawab. Sofi menyikutnya pelan, berbisik, "Nad, kamu keliatan serius banget dengerin dia."

"Apa sih, Sof," balas Nadia, sedikit canggung. Namun dalam hati, ia tahu Sofi benar.

Setelah Akbar menyelesaikan pembicaraannya, sesi tanya jawab dimulai. Seorang pria paruh baya, Rahman, mengangkat tangan pertama kali. "Maaf, Akbar, saya setuju kalau kedamaian itu penting, tapi bukankah kita juga perlu kestabilan finansial untuk merasa tenang?"

Akbar tersenyum. "Kedamaian memang bisa hadir saat kita merasa cukup, Pak Rahman. Namun, yang saya maksud adalah rasa cukup itu sendiri harus datang dari dalam hati. Ketenangan tidak hanya dari apa yang kita miliki, tapi juga dari penerimaan kita atas keadaan."

Mendengar itu, Nadia tak tahan lagi untuk bertanya. Dengan nada yang terdengar ketus, ia bertanya, "Kalau kedamaian itu datang dari hati, kenapa kita harus berusaha mencapai sesuatu? Apa nggak sama aja dengan menyerah?"

Akbar menatap Nadia dengan pandangan tenang, menjawab dengan lembut bahwa kedamaian bukan berarti berhenti berusaha. Dialog mereka terus berlanjut, dengan Nadia yang terus mencoba menggali dan menantang perspektif Akbar. Rahman dan beberapa peserta lain ikut memberikan pendapat mereka, membentuk diskusi yang hangat.

Setelah sesi kajian selesai, Nadia merasa pikirannya semakin kacau. Ia menatap Akbar dari jauh, merasa masih belum puas dengan jawaban-jawabannya, namun juga semakin tertarik untuk memahaminya lebih dalam. Saat mereka hendak pergi, Sofi menyarankan untuk mampir ke kedai kopi di seberang masjid.

"Biar kita nggak langsung pulang, siapa tahu kamu bisa lebih tenang dulu," ujar Sofi sambil menarik tangan Nadia.

Di kedai kopi itu, mereka memesan minuman sambil duduk di sudut ruangan. Sofi terus menggodanya tentang Akbar, tetapi Nadia hanya tertawa kecil, setengah berusaha menyangkal. Namun, ia tak bisa menutupi bahwa pandangan hidup Akbar memang memengaruhi pikirannya.

"Kamu serius banget tadi, Nad. Aku belum pernah lihat kamu kayak gitu sebelumnya," kata Sofi, tersenyum penuh arti.

"Aku cuma nggak ngerti gimana dia bisa berpikir kayak gitu, Sof. Semua hidupku, aku selalu ngejar prestasi, pencapaian, dan pengakuan. Terus sekarang dia bilang kalau semua itu nggak penting? Rasanya... aneh."

Sofi menatapnya lembut. "Mungkin ada sesuatu yang bisa kamu pelajari dari dia, Nad. Siapa tahu, pemikirannya bisa ngasih kamu perspektif baru."

Nadia terdiam, menatap kopi di depannya sambil merenung. "Aku nggak tahu, Sof. Tapi... aku rasa aku mau datang lagi ke kajiannya minggu depan. Ada sesuatu di dalam diri dia yang bikin aku penasaran."

Sofi tersenyum puas. "Akhirnya ngaku juga, ya."

Setelah itu, mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Nadia kembali pada rutinitas pekerjaannya. Namun, pikirannya terus kembali pada diskusi yang ia hadiri kemarin. Saat ia menatap layar komputernya, bayangan tentang kedamaian batin dan ambisi terus mengganggu pikirannya.

Di kantor, Nadia mencoba fokus, tetapi beberapa kali ia termenung, bahkan lupa akan pekerjaannya. Rekan-rekannya memperhatikan perubahan dalam dirinya dan bertanya-tanya ada apa. Tapi Nadia hanya mengangkat bahu, tersenyum, berusaha meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang salah.

Namun, dalam hati, Nadia menyadari ada sesuatu yang berubah. Kata-kata Akbar, meski sederhana, terus mengiang dalam benaknya. Ia mulai mempertanyakan apakah selama ini ia benar-benar mencari kedamaian atau hanya mengejar sesuatu yang fana. Meskipun ia tidak ingin mengakuinya, bagian dari dirinya merasa ingin memahami pandangan hidup Akbar.

Malam harinya, saat berbaring di tempat tidur, Nadia memikirkan kembali setiap dialog yang terjadi di kajian itu. Kata-kata Akbar terasa bagaikan teka-teki yang belum ia pecahkan. Akhirnya, ia mengambil keputusan.

"Baiklah, minggu depan aku akan ke kajian itu lagi," gumamnya dalam hati, sambil menarik selimut. "Aku harus tahu lebih banyak tentang cara pandang hidupnya."

Dengan tekad itu, Nadia merasa hatinya sedikit lebih tenang. Namun, di balik ketenangan itu, ada perasaan cemas yang tak ia pahami. Entah mengapa, bayangan tentang Akbar terus menghantui pikirannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Hari Menuju Akad
9.3
Kania Salsabila menghadapi dilema berat di usia 27 tahun akibat perjodohan sepihak dengan seorang ustadz pilihan orang tuanya. Padahal, cintanya hanya milik sang sahabat, Aryaguna Wiratmaja, pelindung setianya. Kania akhirnya bersedia patuh dengan satu syarat: ia meminta waktu 180 hari bersama Arya. Namun, kebersamaan intens tersebut justru membuat Kania kian sulit merelakan sosok Arya demi melangkah ke pernikahan yang terpaksa ia jalani.
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani terusir setelah malam tragis bersama bos mafia, Rafael Damar, membuatnya mengandung lima bayi kembar jenius. Demi membesarkan anak-anaknya, ia melarikan diri ke luar negeri. Tahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai sosok wanita yang sangat berkuasa. Takdir pun mempertemukannya lagi dengan Rafael. Namun, kali ini kelima anak kembarnya yang cerdas telah mempersiapkan sebuah rencana balas dendam besar untuk ayah kandung mereka sendiri.
Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Kecurigaan langsung menyelimuti hatiku begitu menempati rumah Mas Yusuf. Suamiku menyimpan rahasia besar di balik satu kamar yang selalu terkunci rapat. Kejanggalan kian nyata saat aku melihatnya mengendap-endap setiap malam, membawa baki berisi makanan dan minuman ke ruangan misterius itu. Apa yang sebenarnya Yusuf sembunyikan dariku? Misteri di balik bilik terlarang tersebut kini mulai mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Ibu Susu Bayi Presdir
8.2
Kehidupan Liana berubah total setelah malam misterius lima tahun lalu. Kini, ia terkejut saat menyadari bahwa bos barunya, CEO Ethan Alvaro, merupakan ayah kandung dari putranya, Noel. Meski Ethan tidak mengingat dirinya, rahasia masa lalu perlahan mulai terungkap dan memicu kecurigaan. Liana berupaya menjauh demi melindungi sang anak, tetapi Ethan justru terus mendekat. Akankah kebenaran ini membuat Ethan merebut Noel, atau ia justru menerima Liana kembali?
Sampul Novel Kali Ini, Aku Pilih Pergi
9.5
Unggahan viral mengungkap pengkhianatan Bondan yang merayakan ulang tahun cinta sejatinya bersama putra mereka di hari jadi pernikahannya dengan Sofia Jayadi. Saat membereskan dekorasi yang sia-sia, Sofia menerima telepon suaminya yang mencoba mencari alasan. Namun, mendengar tawa sang anak yang ingin menginap di rumah wanita itu membuat Sofia tersadar. Tanpa kemarahan, Sofia memilih merelakan segalanya. Kali ini, dia memutuskan pergi dan meninggalkan suami serta anaknya.
Sampul Novel Lama-lama Jadi Cinta
9.5
Akibat perjodohan mendadak oleh orang tuanya, Rini Zaskia Putri terpaksa membina rumah tangga bersama Muhammad Andre. Di sisi lain, hatinya masih terpikat pada Bagaskara Agam, mantan kekasih yang dahulu terhalang restu keluarga. Kini Rini berada di persimpangan jalan, bimbang antara menjalankan bakti sebagai istri Andre atau terus memikirkan masa lalunya. Akankah ia berhasil melupakan Agam demi membuka hati untuk suaminya, ataukah perasaan lamanya justru takkan pernah pudar?