APKDock Logo
Sampul Novel Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

8.7 / 10.0
Nadia, wanita bergelimang harta yang ambisius, mengalami guncangan batin setelah mengenal Akbar. Kesederhanaan sang penghafal Al-Qur'an itu perlahan mengikis pandangan Nadia tentang kekayaan materi. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan gengsi sosial atau mengejar cinta tulusnya. Situasi kian rumit karena keluarga besarnya menolak keras Akbar akibat jurang perbedaan ekonomi. Akankah cinta mereka sanggup meruntuhkan tembok status sosial?

Antara Tajir dan Hafidz Qur'an Bab 1

"Untuk apa bicara soal kedamaian kalau hidup ini butuh uang?" tanya Nadia, nada sinis terdengar jelas dalam suaranya, memecah keheningan ruangan.

Semua menoleh ke arah suara itu, sebagian kaget, sebagian lainnya hanya terdiam, menanti reaksi pria yang berdiri di atas panggung. Pria itu adalah Akbar, sosok sederhana yang tampak berbeda di antara tamu-tamu lain yang hadir dengan busana mewah dan rapi.

Akbar tersenyum tipis, tak menunjukkan tanda terganggu sedikit pun oleh pertanyaan itu. Dengan tenang, dia menatap ke arah Nadia, sorot matanya lembut tapi tajam. "Kedamaian bukan tentang uang, Nadia," ucapnya pelan namun cukup jelas didengar oleh semua yang hadir.

Nadia mendengus pelan, merasa tertantang dengan balasan tersebut. "Kedamaian bukan tentang uang? Kamu tahu nggak, dunia ini berputar karena uang? Semua yang ada di sini, termasuk acara amal ini, membutuhkan uang agar bisa berjalan."

Akbar hanya mengangguk, tetap tenang. "Betul, tapi uang hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuan kita seharusnya lebih dari sekadar materi."

"Jadi menurutmu, tujuan hidup itu apa? Kalau bukan untuk sukses?" tanya Nadia, nada sinisnya tak berkurang sedikit pun.

"Sukses adalah saat kita bisa hidup tanpa perlu terus-menerus mengejar sesuatu di luar diri kita," jawab Akbar dengan senyum yang tetap tenang.

Nadia merengut, merasa semakin tidak nyaman. Ia tak menyukai cara pria itu berbicara-tenang, tanpa nada emosi, seolah-olah benar-benar yakin dengan setiap kata yang diucapkannya. Namun, justru ketenangan itu yang membuat Nadia semakin terganggu.

Sofi, sahabatnya yang duduk di samping, menyenggolnya pelan. "Udah, Nad. Jangan terlalu keras."

Namun, Nadia mengabaikannya. Ia menatap Akbar dengan penuh rasa penasaran bercampur sinis. "Kamu hidup sederhana mungkin karena kamu belum pernah merasakan yang namanya kenyamanan. Jadi, wajar aja kamu nggak paham betapa pentingnya uang dalam hidup ini."

Akbar tersenyum, tetap tenang. "Saya tidak menyalahkan siapa pun yang menginginkan kenyamanan, Nadia. Semua orang berhak hidup layak. Tapi pertanyaannya adalah, apakah yang kita kejar itu benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan yang kita tanam karena terbiasa membandingkan diri?"

Kata-katanya menghantam Nadia. Ia terdiam sejenak, merasa seperti ditelanjangi di hadapan orang-orang. Selama ini, ia berusaha memiliki yang terbaik, menjalani hidup yang dianggap sukses. Tapi, mengapa kata-kata Akbar terdengar begitu menantang? Mengapa ia merasa seolah pria itu sedang berbicara langsung padanya?

"Jadi menurutmu hidup tanpa uang itu lebih baik?" Nadia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah.

"Tidak begitu," jawab Akbar lembut. "Uang penting, sangat penting. Tapi hidup kita lebih berharga dari sekadar angka-angka di rekening. Mungkin kita bisa memiliki segalanya, tapi hati kita kosong. Mungkin kita terlihat bahagia, tapi di dalam diri kita, ada yang hilang."

Nadia merasakan perasaan aneh. Seakan-akan Akbar sedang berbicara langsung ke dalam hatinya. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka merasa rapuh.

"Omong kosong," gumamnya, walau tak cukup pelan untuk menyembunyikan nada frustrasi dalam suaranya.

Akbar tetap tersenyum, tak terpancing oleh ketegangan yang terlihat di wajah Nadia. "Bukan omong kosong, Nadia. Mungkin kamu belum pernah merasakannya, atau mungkin kamu belum sadar. Tapi di saat kita berhenti mengejar hal-hal yang membuat kita letih, kita bisa mulai melihat apa yang benar-benar berarti."

Nadia ingin membalas, namun kata-kata Akbar terus bergema di kepalanya, seolah menghancurkan semua dinding yang selama ini ia bangun.

Sofi menarik napas dalam, lalu menepuk bahunya pelan. "Udah, Nad. Kita di sini untuk acara keluarga, bukan buat debat."

Nadia memalingkan wajah, berusaha mengendalikan emosinya. "Iya, aku tahu," jawabnya lirih, tapi tatapannya tak lepas dari Akbar, pria yang berhasil mengusik pikirannya dengan cara yang tak terduga.

Akbar menyudahi sesi bicaranya dan turun dari panggung. Saat ia mendekati meja Nadia, ia berhenti sejenak, menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. "Maaf kalau tadi ada kata-kata saya yang mungkin menyinggungmu, Nadia. Saya hanya ingin berbagi pemahaman."

Nadia merasa ingin menghindar, tetapi tatapan Akbar membuatnya sulit berpaling. "Kamu terlalu yakin dengan apa yang kamu katakan, seakan-akan kamu sudah tahu semuanya."

Akbar mengangguk pelan. "Saya tidak tahu semuanya, Nadia. Saya hanya tahu apa yang membuat saya merasa damai. Mungkin apa yang saya katakan tadi hanya cocok untuk sebagian orang, atau mungkin juga tidak."

"Jadi kamu nggak yakin juga?" Nadia menyipitkan mata, mencoba mencari kelemahan di balik jawaban Akbar.

Akbar tersenyum lagi. "Saya yakin pada kedamaian yang saya rasakan. Itu cukup buat saya."

Saat itu, Nadia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang terguncang. Selama ini, ia hidup dengan keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah yang terbaik, mengejar kesuksesan, meraih apa yang ia inginkan. Namun, kata-kata Akbar seolah membuatnya ragu.

Sebelum Nadia sempat berkata apa-apa lagi, seorang tamu lain menghampiri Akbar, memintanya untuk berbicara. Akbar pun pamit dengan anggukan singkat, meninggalkan Nadia yang masih terpaku di tempat.

Sofi menarik lengannya pelan, mencoba mengajaknya duduk kembali. "Nad, kamu kenapa sih? Kelihatan banget kalau kamu terusik sama dia."

Nadia menghela napas panjang, mengalihkan pandangan dari punggung Akbar yang semakin menjauh. "Aku nggak tahu, Sof. Dia... dia ngomong seakan-akan semua yang aku percaya selama ini salah."

Sofi tersenyum tipis. "Mungkin kamu cuma nggak terbiasa mendengar perspektif lain."

Nadia diam, merenung. "Mungkin," gumamnya pelan.

Selama sisa acara, Nadia tak bisa fokus. Kata-kata Akbar terus berputar di kepalanya, menghantui pikirannya. Ia selalu berpikir bahwa hidup yang sempurna adalah memiliki segalanya. Tapi kenapa sekarang ia merasa kosong? Mengapa kata-kata Akbar begitu mengusik, seolah ia baru menyadari bahwa ada hal yang hilang dalam hidupnya?

Saat acara selesai, Nadia pamit pada Sofi dan langsung berjalan keluar ruangan. Udara malam yang dingin menyambutnya, tetapi itu tidak cukup untuk mengusir perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya.

Langkahnya terhenti ketika melihat Akbar berdiri di halaman, mengamati langit malam dengan tenang. Ada kedamaian di wajahnya, sesuatu yang langka dalam hidup Nadia.

Tanpa sadar, Nadia melangkah mendekat. "Kamu nggak takut kedinginan di sini?"

Akbar menoleh, tersenyum. "Udara malam ini menyegarkan. Membantu kita berpikir."

Nadia tersenyum kecil, menatap langit bersama Akbar. "Aku nggak ngerti gimana bisa kamu hidup seperti itu, seolah nggak ada yang kamu kejar."

Akbar menatapnya dengan lembut. "Kedamaian bukan berarti berhenti mengejar sesuatu, Nadia. Kedamaian adalah saat kita tahu apa yang harus kita kejar, dan apa yang harus kita lepaskan."

Nadia terdiam, kata-kata itu kembali mengusik. Selama ini, apa yang sebenarnya ia kejar?

"Aku nggak tahu apa yang harus aku lepaskan," akhirnya ia mengakui, lirih.

"Kadang, kita hanya butuh diam sejenak, memberi ruang untuk mendengarkan hati kita sendiri," jawab Akbar, suaranya lembut seperti angin malam.

Nadia merasa tenggelam dalam kedamaian yang Akbar bicarakan. Namun, ia tahu ketenangan ini tak akan bertahan lama. Hidupnya penuh dengan tuntutan, ambisi, dan ekspektasi. Bagaimana mungkin ia bisa hidup seperti Akbar?

"Nadia," suara Akbar menyela lamunannya. "Kamu nggak harus punya jawaban sekarang. Kadang, perjalanan menemukan jawaban itu lebih penting daripada jawabannya sendiri."

Nadia menghela napas panjang. Mungkin Akbar benar, tapi semua ini terasa begitu asing, begitu jauh dari kehidupannya yang biasa. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang meronta, seakan ingin merasakan kedamaian yang Akbar bicarakan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah panggilan dari salah satu rekan kerja. Ekspresinya berubah, kembali pada realitas yang ia kenal.

"Aku harus pergi," ucapnya cepat pada Akbar.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Antara Tajir dan Hafidz Qur'an

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Masuk Tiga Besar Daftar Orang Terkaya di Negara Ini
7.9
Divonis tumor otak saat suaminya, Ethan Wood, berselingkuh dengan manajernya membuat dunia wanita ini runtuh. Menolak diam demi menutupi skandal itu, ia memilih bercerai demi mengejar impiannya. Tak disangka, investasi impulsif dan galeri seninya sukses besar hingga ia masuk daftar tiga orang terkaya di Preayork. Di tengah ejekan Ethan tentang sisa umurnya, sebuah keajaiban datang: diagnosis tumor itu ternyata salah. Kini, ia siap bangkit berkuasa.
Sampul Novel DIA
9.5
DIA
Masyarakat diguncang kepanikan hebat saat sebuah jasad bangkit kembali secara misterius. Fenomena mengerikan di luar nalar ini tidak hanya menyebarkan ketakutan nyata bagi siapa pun yang melihatnya, tetapi juga mulai menyingkap tabir rahasia kelam yang sekian lama tersimpan rapat. Di balik peristiwa mayat hidup yang menggemparkan tersebut, ada sebuah kebenaran terlarang yang siap membongkar segalanya dalam atmosfer misteri yang sangat menegangkan.
Sampul Novel Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
8.2
Tiga tahun ketulusan Chelsea hancur seketika setelah dicampakkan di hari pernikahan demi perempuan lain. Namun, identitas aslinya sebagai gadis desa hanyalah penyamaran. Chelsea bangkit menunjukkan jati dirinya sebagai pewaris tunggal konglomerat terkaya pemilik harta triliunan. Saat musuh yang dengki mulai menyerangnya, Nicholas datang membantu. Pria dingin dan kejam itu kini menjadi sekutu tak terduga yang siap mendukung aksi balas dendamnya.
Sampul Novel Kisah Heroik Sang Menantu
9.6
Baru sehari menikah, sang protagonis langsung menyaksikan kebrutalan di kediaman Keluarga Kuncoro saat ayah mertuanya menyiksa sang ibu mertua. Alih-alih dihargai karena mencoba melerai, ia justru dicaci dan diperkenalkan pada tradisi kekerasan keluarga tersebut. Namun, ketika suaminya sendiri mencoba melakukan tindakan fisik yang sama terhadap dirinya, ia tidak merasa takut. Momen penindasan ini justru menjadi kesempatan emas yang ia tunggu-tunggu untuk membongkar kekuatan super rahasianya.
Sampul Novel Putri Palsu Menikahi Seorang Taipan
8.5
Setelah ayah wafat, ibu tiri Destinee Vaughn mengusirnya dari perusahaan dan mengungkap bahwa ia bukan anak kandung keluarga Haynes. Lola Haynes pun datang merebut posisi pewaris, sementara tunangan Destinee, Caden Fletcher, memilih berkhianat demi status. Namun, mereka tak tahu siapa Destinee sebenarnya. Ia adalah cucu dari gembong mafia terbesar di Eura dan putri seorang wanita berkuasa yang kini tengah dicari.
Sampul Novel Tawaran Gila Suamiku
8.4
Arga dan istrinya merupakan sepasang dokter yang telah memadu kasih sejak kuliah hingga bekerja di satu rumah sakit. Sayangnya, kejenuhan pernikahan mengikis gairah seksual Arga pada istrinya. Demi memantik kembali hasrat yang padam, ia terpikir sebuah rencana ekstrem untuk bertukar pasangan. Kini, Arga dilanda kebimbangan besar, apakah sang istri yang sangat terhormat dan berharga diri tinggi bersedia menerima usulan gila tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan