APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ANAK KETIGA

ANAK KETIGA

Sebuah karya lukis legendaris menyimpan misteri kelam di balik keindahan goresan kuasnya. Kanvas ini bukan pajangan biasa, melainkan saksi sejarah yang sarat intrik mengerikan. Perlahan, asal-usul karya seni tersebut mulai terungkap, membangkitkan teror masa lalu yang siap menghantui setiap mata yang memandangnya. Kisah mencekam ini akan mengungkap rahasia dan jejak kelam yang selama ini tersembunyi rapat di balik estetika semu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dari kejauhan Fiki tersenyum melihat Nay sudah bangun. Nay nampak kelelahan. Fiki mengurungkan niatnya untuk mendekati Nay. Fiki memberi waktu terlebih dahulu bagi Nay untuk beradaptasi dengan keadaannya dan lingkungan sekitarnya."Saya tidur mendadak lagi, ya, Ustadzah?" tanya Nay lemas. Mutia mengangguk."Iya, Ndhuk. Sepertinya kamu memang harus banyak beristirahat." Nay nampak sedih."Ada apa dengan saya, Ustadzah? Apakah saya perlu diruqyah?" tanya Nay, dia terlihat begitu merana.Mutia tersenyum, dia memeluk Nay."Nanti ustadz yang akan memberitahu padamu, Nay, apa yang terjadi padamu dan apa yang akan dilakukan ustadz padamu. Sabar sebentar, njih?" kata Mutia. Nay mengangguk. Air mata menggenang di pipinya."Sambil menunggu Nay mungkin mau cerita apa saja yang pernah kamu alami Nay? Ustadzah sangat ingin mendengarnya."Nay tersenyum. Dia tahu Mutia sedang menghiburnya. Nay mengangguk dan mengembuskan napas panjang."Saya menyadari kalau saya sering pingsan atau tidur ketika saya mulai masuk SMP, Ust. Waktu itu, setiap hari Senin, ketika upacara saya pasti pingsan, atau, yah, sekarang saya tahu kalau saya tidak pingsan tapi tidur. Sampai guru saya meminta orang tua saya memeriksakan saya ke dokter dan semua hasil pemeriksaan itu adalah normal. Jantung dan paru-paru saya normal. Saya sehat sepenuhnya. Ayah saya mengirim saya ke Singapura dan bahkan ke Jerman untuk mengetahui sakit yang saya derita, tapi semua hasil pemeriksaannya normal dan saya selalu dinyatakan sehat. Dan kemudian ayah saya menyuruh saya untuk tinggal di Singapura saja sampai beberapa bulan yang lalu. Ayah saya sakit, dan kami diminta pulang ke rumah. Ayah saya meminta saya tinggal di pesantren ruqyah untuk mengetahui apa yang terjadi pada diri saya."Nay mengerjapkan matanya beberapa kali. Beberapa bulir air mata menetes di pipinya."Saya lelah sekali, Ust," bisik Nay. Mutia mengangguk paham, dia merasa iba."Apakah dulu di Singapura sering terjadi tidur mendadak juga, Mbak?" tanya Mutia.Nay menggeleng."Jarang sekali terjadi. Pernah satu atau dua kali. Mungkin sering terjadi di rumah, tapi tidak sesering kejadian di sini," jawab Nay. Dia mengusap air matanya."Kata Ustadz Hasan dulu pernah ada keluarga Mbak Nay yang ke pesantren juga, nggih? Kalau tidak salah tadi Ustadz Hasan ngendiko (bilang) namanya Kayana, apa, ya? Atau siapa, ya, saya lupa," kata Mutia.Dan seketika wajah Nay berubah drastis. Wajah yang semula ramah dan ceria, tiba-tiba berubah datar dan terkesan murka. Dia memandang Mutia dengan pandangan yang aneh."Apakah Kay?" tanya Nay.Mutia mengangguk."Nah! Iya, namanya Kay!" seru Mutia. Nay tersenyum samar. Dia mengangguk."Dia kakak saya, Ust. Saya tidak tahu Kay pernah ke sini!" kata Nay, pandangannya nampak menerawang. Mutia bergidik melihat Nay berubah jadi seperti kosong. Mutia segera bertindak, dia mengguncang tubuh Nay."Nay! Nay! Jangan melamun!" kata Mutia. Nay tersenyum. "Mboten, Ustadzah. Kulo mboten ngalamun! (Tidak, Ustadzah. Saya tidak melamun!)" kata Nay. Mutia menelan ludah. Nay nampak berbeda. Mutia berpikir jangan-jangan Nay kerasukan. Dan Nay mengangguk."Iya! Aku ngrasuki awake bocah iki! Coba celuken ustadze mau! Aku tak ngomong langsung karo ustadze wae! (Iya! Aku merasuki anak ini! Coba panggilkan ustadz yang tadi! Aku mau bilang sendiri dengan ustadznya!)" kata Nay.Mutia beristighfar dan langsung berlari ke arah Fiki, Hasan dan Faza."Ustadz! Ustadz! Mbak Naya!" kata Mutia dengan khawatir, dia menunjuk-nunjuk ke arah Nay. Nay nampak duduk tenang dan tersenyum ke arah Mutia."Kerasukan lagi?" tanya Fiki.Mutia mengangguk. Dia menangis terisak. "Njih, Ustadzah, istighfar dulu, njih, Ust!" kata Hasan. Mutia mengangguk. Beberapa ustadzah menenangkan Mutia. Fiki dan Hasan segera menghampiri Nay, sementara Faza masuk ke dalam untuk memanggil Iqbal dan Fadli dan asatidz yang lainnya. Dan pagi itu semua berubah menjadi ingar bingar.****Fiki melihat Nay duduk dengan sangat anggun. Dia duduk dengan rapi dan kedua tangannya ditangkupkan di atas pangkuannya. Dia tersenyum pada Fiki."Pangapunten, Ustadz. Kawulo badhe ngrepoti, (Mohon maaf, Ustadz. Saya akan ngrepoti,)" kata Nay. Bahasa dan tingkah lakunya seperti bangsawan."Njih, monggo! Pangapunten sakderenge, panjenengan sinten, njih? (Iya, silahkan! Mohon maaf sebelumnya, anda siapa, ya?)" tanya Fiki.Nay tersenyum sopan."Kulo Dewi Drupadi, Ustadz. Kulo ingkang ngrencangi lare meniko kawit riyin, Ustadz, (Saya Dewi Drupadi, Ustadz. Saya yang menemani anak ini sejak dulu, Ustadz,)" jawab Nay penuh kelembutan, tak lupa senyum manis selalu terukir di bibirnya.Benar-benar perubahan kepribadian yang sangat signifikan, membuat Fiki terpana dibuatnya. Nay benar-benar seperti seorang artis, yang seakan bisa mengubah wataknya secara tiba-tiba."Oh, njih. Tepangaken kulo Fiki. (Oh, ya. Perkenalkan saya Fiki.)" Nay tersenyum. "Njih, Ustadz Fiki. Kulo badhe matur. Mangkih bapak saking Nay meniko badhe mriki amargi dipun undang kaliyan Ustadz Hasan. Pangapunten sanget sakderenge, mangkih Nay didhawuhi wangsul, Ustadz. Mangkih saksampune Nay wangsul, Ustadz mboten sisah madosi Nay malih, njih, Ust! Amargi menawi Nay wangsul, Nay badhe kulo aturaken dumateng Prabu Sri Katon, Ustadz. (Ya, Ustadz Fiki. Saya mau bilang. Nanti bapak dan ibu dari Nay akan datang ke sini karena diundang Ustadz Hasan. Maaf sekali sebelumnya, nanti Nay disuruh pulang, Ustadz. Nanti setelah Nay pulang, Ustadz tidak usah mencari Nay lagi, ya, Ust! Karena Nay akan saya berikan kepada Prabu Sri Katon, Ustadz.)" kata Nay, masih dengan posisi duduk yang anggun dan senyum manisnya.Fiki mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia nyaris hendak tertawa ketika mendengarkan Nay barusan. Tapi demi menjaga etika, Fiki mencoba menahan tawanya itu dan mengalihkannya dengan berdeham."Prabu Sri Katon meniko sinten, njih? Oh, njih, kulo kok, radi benget. Kulo kedah ngaturi panjenengan sinten, njih? Kok kadose radi mboten sopan menawi kulo langsung ngaturi asmanipun panjenengan, njih? (Prabu Sri Katon itu siapa, ya? Oh, ya saya kok, agak bingung, ya. Saya harus memanggil panjenengan siapa, ya? Kok sepertinya agak tidak sopan kalau saya memanggil nama panjenengan langsung, ya?)" tanya Fiki.Nay tertawa sopan, dia menutup mulutnya dengan tangannya."Injih, Ustadz. Ustadz sopan sekali. Ustadz boleh memanggil saya Raden Ayu Drupadi, Ustadz. Saya adalah putri dari kerajaan Karang Asem Kaler. Ayah saya adalah Prabu Winongsari, dan Prabu Sri Katon adalah calon suami saya. Dan Nay akan menjadi makanan calon suami saya!" kata Nay ringan dan ceria, "jadi kalau bisa ustadz jangan mencari Nay, njih, Ust!" lanjut Nay.Ruangan itu penuh dengan gumaman istighfar dan seruan kemarahan."Astaghfirullahal 'adzim! Tentu saja Mbak Nay tidak boleh dijadikan makanan jin, Raden Ayu. Mbak Nay adalah manusia yang berhak hidup di dunia ini....""Tapi sesuai perjanjiannya, Ustadz! Nay boleh kami ambil kalau dia sudah berusia dua puluh satu tahun!" potong Nay cepat, matanya nampak nyalang menatap Fiki. Fiki mendengus, sifat jin fasik yang asli --kasar, serakah, suka bohong dan penghasut-- sebentar lagi akan keluar."Tapi maaf, perjanjiannya, kan bukan dengan kami. Jadi kami berkewajiban menghentikan perjanjian itu!" kata Fiki dengan senyum yang terukir di bibirnya.Nay sepertinya terlihat menahan dirinya, dia berusaha untuk tidak marah dan menyerang Fiki. Nay tersenyum, tapi senyumnya terlihat agak menyeramkan."Kenapa ustadz sombong sekali? Ustadz pikir ustadz bisa mengalahkan kami?" tanya Nay dengan nada mencibir.Fiki hanya tersenyum."Bukan kami yang mengalahkan kallian, tapi kekuatan Allah lah yang akan mengalahkan kalian. Kami di sini hanya memohon kesembuhan dari Allah untuk manusia yang kalian ganggu ini!" jawab Fiki.Nay melengak dan tertawa. "Ah! Sudahlah! Mereka sebentar lagi akan datang. Sebaiknya ustadz-ustadz di sini bersiap!" kata Nay. Dan kemudian Nay mendadak tertidur lagi, membuat semua orang terkejut dan panik.Fiki hanya termenung. Dia benci memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi kalau orang tuanya Nay datang ke sini.****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanda Rhea
9.1
Terlempar ke masa lalu, Amanda Rhea kembali dipertemukan dengan Hagana. Takdir unik kemudian menjalin ikatan misterius antara Amanda dan putri dari pria tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika iblis mimpi mulai muncul dan mencelakai orang-orang terdekat Amanda. Di tengah teror mencekam yang terus mengintai, mampukah cinta lama antara Amanda dan Hagana tumbuh kembali seiring takdir yang terus mempersatukan mereka?
Sampul Novel Ayah Pembawa Masalah
9.3
Uang gaji karyawan sebesar empat ratus juta rupiah yang dititipkan atasan raib karena dipinjamkan oleh ayah kepada tetangga. Alih-alih dibela, seluruh keluarga justru menyalahkan kelalaianku. Setelah dipecat dan dituntut mengembalikan uang tersebut, ayah menjerumuskanku ke pekerjaan baru sebagai pengasuh lansia. Di sana, aku dilecehkan dan akhirnya tewas dipukuli akibat kesalahpahaman. Namun, maut bukanlah akhir. Aku terbangun kembali di hari fatal saat ayah menyerahkan uang itu.
Sampul Novel Gairah sang Gadis
9.4
Sejak kecil, hidupku terkekang oleh aturan konservatif ibu yang memaksaku memakai bodysuit ketat bersimpul mati demi menjaga kesucian. Gesekan kain kasar itu justru memicu hasrat tak tertahankan yang tak lagi bisa kuredakan sendiri, hingga aku harus menyembunyikan berbagai benda besar di dalam pakaian. Ketika ibu tewas dalam kecelakaan tragis, aku akhirnya terbebas dari belenggu pakaian sialan itu. Namun, kebebasan ini justru membawa sensasi asing yang jauh lebih tidak nyaman bagi tubuhku.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso didera dendam hebat usai Mawar, cucunya yang bermata merah, tewas mengenaskan di tebing akibat kejaran dan fitnah warga Ledokombo. Demi membalas kematian keji sang cucu, ia nekat membangkitkan iblis kuno bernama Nyai Larapati yang telah lama tertidur. Jasad Mawar yang tak bernyawa pun dipaksa bangkit kembali untuk mengobarkan aksi balas dendam berdarah tanpa ampun, menyasar seluruh penduduk desa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Sejak kecil, Alicia Lucero telah dijual oleh pamannya yang tamak kepada seorang pria bermata merah bernama Lucius Denovan. Setelah sekian lama diasingkan, Lucius kembali untuk mengambil Alicia yang kini telah dewasa. Kehidupan Alicia seketika berubah menjadi neraka penuh siksaan, karena Lucius sangat senang melihatnya menderita sebagai mainan. Namun, di balik segala kekejaman yang harus ia lalui, Alicia memilih bertahan demi menjaga sebuah rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Kematian tragis Siska akibat racun pelumpuh saraf menyisakan pesan misterius dari sosok bertopeng berjuluk Malaikat Maut Pelakor. Teror pun berlanjut dengan target para wanita perebut suami. Ranti, seorang istri yang tersakiti oleh perselingkuhan, dituduh sebagai pelaku utama setelah bukti kuat ditemukan di kediamannya. Apakah rasa sakit hati telah mengubah Ranti menjadi pembunuh berdarah dingin, atau justru ada dalang lain yang bergerak dalam bayang-bayang dendam ini?