
Amnesia Palsu, Tapi Melepaskannya Sungguh-sungguh
Bab 3
Aku mengenakan anting mutiara, lalu dengan langkah santai berjalan keluar dari kamar.
Begitu melihatku turun, Yuki terlihat agak canggung dan berkata, "Nyonya, saya ….."
"Tidak apa-apa, Yuki. Kamu tinggal saja di sini. Aku tahu kamu butuh waktu tiga jam pulang-pergi naik bus setiap hari."
Aku menerima sepatu dari pelayan dan berkata, "Kamu nggak perlu merasa terbebani. Aku juga senang kamu bisa kembali."
Zavier agak terkejut dan terdiam.
Dulu, kalau ayahnya mabuk lalu menyebut nama 'Yuki', kedua mata ibunya pasti langsung menangis.
Ya, kedatangan Yuki ke rumah bulan lalu sebenarnya bukan pertama kalinya Zavier bertemu dengannya.
Dia pernah diam-diam melihat foto-foto wanita yang disimpan ayahnya dengan sangat hati-hati di laci, juga nama wanita lain yang disebut ayahnya saat mabuk.
Itulah sebabnya Zavier merasa dia telah menemukan senjata terbaik untuk menghukum ibunya.
Namun, sekarang sepertinya senjata itu sudah tidak mempan.
"Aku mau es krim! Ambilkan dua, nggak, aku mau sepuluh!"
Yang terdengar hanyalah bunyi pintu tertutup.
Selama dirawat di rumah sakit, aku selalu terlihat kusut dan tak terurus. Sekarang akhirnya keluar juga, aku harus segera ke salon untuk perawatan kulit.
Supir sudah lama menunggu di luar.
Sementara itu, di dalam rumah, Zavier perlahan menghapus ekspresi di wajahnya.
"Tuan Muda, ini es krim-nya," kata pelayan yang buru-buru mengambil dari kulkas.
"Siapa yang mau makan eskrim?!" Dia membuang es krim itu ke lantai.
Matanya menatap lurus ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat.
Apa … Ibunya benar-benar sudah tidak mengingatnya?
Ibu Rayan, Zara Liam, mengetahui bahwa Yuki telah kembali ke negara ini dan putranya mempekerjakannya sebagai guru piano untuk Zavier. Tanpa banyak bicara, dia segera datang membawa beberapa kantong besar berisi barang-barang mewah.
Di atas sofa, wanita bangsawan yang tampak anggun dan berkelas itu menggenggam tangan Yuki dengan penuh kasih. "Yuki, anak baik … kamu sudah sangat menderita."
"Coba dulu kamu bisa bersama Rayan sejak awal, pasti Grup Wisam nggak akan bangkrut. Dengan bantuan Rayan, semua urusan bisnis pasti bisa ditangani dengan mudah."
Yuki terlihat gugup dan buru-buru menolak, "Tante Zara, tolong jangan bicara seperti itu. Semua itu sudah masa lalu. Aku sudah sangat berterima kasih Karena Pak Rayan bersedia mempekerjakan."
"Apa yang salah dengan omongan tante? Tante merasa sangat tenang karena Zavier dititipkan padamu." Zara menepuk tangannya dengan puas.
Dengan suara pelan, Zara berkata, "Kamu tahu Rayan akan bercerai, 'kan? Kamu baru saja kembali dan dia langsung ingin bercerai. Apa itu belum cukup menjadi bukti?"
"Tenang saja, bahkan Vier juga sangat menyukaimu. Di rumah kami, kamu nggak akan diperlakukan dengan buruk dan Rayan pasti juga akan membantu Keluarga Wisam bangkit lagi."
Saat Zara datang, wanita itu tidak memberitahuku, tidak juga memintaku untuk menjamunya, padahal dia jelas tahu aku ada di rumah.
Aku pun tahu diri, tidak keluar dan tidak mengganggu reuni mereka.
Bukan hanya Rayan dan Zavier yang menyukai Yuki, bahkan ibu mertuanya, Zara, juga sangat menyukainya.
Bahkan jauh sebelum aku dan Rayan menikah, Zara sudah menginginkan Yuki menjadi menantunya.
Yuki berasal dari keluarga terpelajar, sepadan secara status dan latar belakang dengan Keluarga Pahlevi.
Kebetulan juga, Rayan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Yuki, hal ini membuat Zara makin senang. Dia pun langsung mulai merancang rencana untuk menjodohkan mereka dan menyatukan kedua keluarga lewat pernikahan.
Sayangnya, Yuki tidak memiliki perasaan yang sama. Dia dengan tegas menolak pernyataan cinta Rayan dan kemudian memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri demi mengejar impiannya di bidang musik.
Meski Zara merasa sedikit kecewa, dia justru makin menyukai Yuki. Baginya, Yuki adalah perempuan yang punya prinsip dan ambisi.
Sedangkan aku, lahir dari keluarga sederhana, terobsesi akan kemewahan dan status. Demi bisa menikah dengan Rayan, aku mengerahkan segala cara.
Aku tahu betul, Zara sebenarnya memandang rendah diriku, bahkan mungkin membenciku. Tetetapi, karena pendidikan dan sopan santunnya, dia tak pernah menunjukkannya secara gamblang.
Kadang aku berpikir, jika sejak awal yang menikah dengan Rayan adalah Yuki, mungkin semua orang akan merasa bahagia dan segalanya akan berjalan sempurna.
Ponselku bergetar. Aku membuka layar dan melihat sebuah notifikasi pesan masuk.
Itu pesan dari pihak asuransi, uang ganti rugi kecelakaan terakhirku sudah ditransfer.
Kupikir, rasa takutku akan membuatku perlahan-lahan melupakan apa yang sebenarnya terjadi di hari kecelakaan itu.
Anda Mungkin Juga Suka





