
Amnesia Palsu, Tapi Melepaskannya Sungguh-sungguh
Bab 4
Namun saat menutup mata, semuanya seolah terjadi kemarin.
Hari itu hujan deras, aku dan Rayan sedang berada di jalan tol.
Seseorang menelepon Rayan dan suara dari seberang telepon terdengar sangat jelas olehku.
"Pak Rayan, ada sekelompok rentenir yang akan membuat keributan di rumah Keluarga Wisam. Mereka sedang mencari masalah dengan putri pertama Keluarga Wisam."
Rayan menoleh sekilas padaku.
Aku tahu, dia bukan sedang meminta persetujuanku, melainkan memberitahuku bahwa dia akan pergi ke rumah Keluarga Wisam untuk mencari Yuki.
Arah yang kami tuju sekarang justru berlawanan dengan arah menuju rumah Keluarga Wisam.
Dengan suara pelan aku berkata, "Turunkan aku di area peristirahatan depan saja, aku akan naik taksi sendiri pulang."
Begitu turun dari mobil, aku tetap basah kuyup meskipun sudah cepat-cepat membuka payung.
Tubuhku terkena cipratan mobil Bentley hitam yang melaju kencang melewatiku. Perasaan yang telah berkarat, basah terkena hujan.
Karena sudah tua, taksi yang kunaiki malah tergelincir di jalan tol.
Di detik mobil kehilangan kendali, seluruh tubuhku seolah mati rasa. Aku buru-buru mengenakan sabuk pengaman di kursi belakang.
Jantungku berdebar kencang, pikiranku kosong.
Dengan suara benturan yang sangat keras, kepalaku terbentur jendela mobil dengan hebat.
Saat itu, waktu seakan melambat.
Pikiranku tanpa kendali mulai berkelana menelusuri kembali setengah hidupku sebelumnya, dan semuanya berpusat pada kenangan tentang Rayan.
Saat aku berusia sepuluh tahun, orang tuaku memaksakan diri mengambil pinjaman demi membeli vila di kawasan paling elite di Bijai dan di sanalah aku mengenal Rayan.
Orang tuaku bilang aku harus sangat hati-hati dan berusaha menyenangkan pria itu, karena dia adalah 'Pangeran' di kalangan elite Bijai.
Rayan memiliki wajah yang sangat tampan dan aku senang bermain dengannya. Aku mengikuti dia kemanapun selama tujuh tahun.
Saat aku berumur tujuh belas tahun, sepertinya aku mulai menyukainya, tetapi dia sangat membenciku. Selama setahun aku mencintainya sepenuh hati, aku malah dicaci maki oleh teman-temannya sebagai 'anjing penjilat', dan orang-orang di sekitarku memanggilku 'badut kecil'.
Saat aku berusia delapan belas tahun, Rayan jatuh cinta pada Yuki. Aku melihatnya membuntuti wanita itu lalu melihatnya terpuruk setelah patah hati.
Saat berusia dua puluh satu tahun, Rayan mabuk dan menindihku di ranjang. Dia menciumku sambil berulang kali memanggil nama Yuki.
Seharusnya aku mendorongnya dan menamparnya saat itu juga, tetapi tanganku justru ragu.
Saat itu, perusahaan ayahku sedang kesulitan keuangan dan butuh suntikan dana besar.
Dan bersama Rayan adalah harapan yang telah aku dan orang tuaku pegang selama lebih dari sepuluh tahun.
Aku menanggung semuanya dalam diam. Selama Rayan 'menghancurkanku', selama itu pula dia memanggil nama Yuki.
Tak lama kemudian, kakek Rayan mengetahui hubungan kami. Keluarga Pahlevi adalah keluarga yang sangat tradisional dan dia memaksa Rayan menikahiku. Aku akhirnya menikahi Rayan seperti yang aku inginkan.
Saat berusia dua puluh dua tahun, aku hamil. Bayinya sangat aktif dan menyulitkanku. Selama kehamilan aku mengalami mual dan muntah parah, proses persalinannya pun sangat sulit
...
Ingatan seperti jalinan rasa sakit yang kusut.
Saat aku kembali membuka mata, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
Seluruh tubuhku terasa sakit dan kepalaku rasanya mau pecah.
Saat berusia dua puluh tujuh tahun, di depan ranjangku, putraku memanggil Yuki 'ibu' dan suamiku membiarkannya.
Aku pura-pura tak peduli, tetapi momen yang tak terhitung jumlahnya terus menyakitiku.
Orang yang paling tak ingin aku lepaskan justru berharap aku cepat pergi.
Aku memilih diam. Mungkin kebahagiaan memang tidak ditakdirkan untukku.
"Apa kalian juga akan berkata kasar pada orang yang kalian cintai?" Aku sangat ingin menanyakan pertanyaan itu pada Rayan dan Zavier.
Tetapi, ketika mereka melihat Yuki, aku rasa aku sudah tahu jawabannya.
Rayan jatuh cinta pada Yuki pada pandangan pertama.
Dan Zavier juga langsung menyukai Yuki pada pandangan pertama. Itulah kali pertama putranya menunjukkan ketertarikan pada seseorang.
Manusia memang cenderung terobsesi pada hal-hal yang mereka pilih sejak pandangan pertama.
Zavier makin mirip dengan ayahnya, baik dari segi penampilan, kepribadian, maupun kesukaannya.
Mereka sama-sama menyukai Yuki.
Aku tidak pernah menganggap wanita itu sebagai orang ketiga.
Karena sejak malam itu, akulah yang mencuri sesuatu yang seharusnya milik Yuki.
Manusia menderita karena mengejar sesuatu yang salah.
Tampaknya pernikahan ini memang sudah berakhir.
Sudah waktunya mengembalikan Rayan dan Zavier pada Yuki.
Sebenarnya, Rayan sudah menyiapkan surat cerai sejak hari Yuki kembali.
Anda Mungkin Juga Suka





