
Ambil Kembali Hatiku
Bab 7
Setelah Sena bilang mau lapor polisi, reaksi Yuki dan Erik sangat menarik.
Pandangan Yuki mengelak, sementara Erik sangat marah, "Sena, apa kamu pikir aku tidak berani memanggil polisi karena tidak tega berpisah denganmu?!"
'Tidak, Erik, aku tahu kamu tega melakukannya. Tapi, wanita idamanmu bakal melarangmu melapor polisi, karena dia tahu dirinya hanya bisa menipumu, tidak akan bisa menipu polisi,' jawab Sena dalam hati.
Kalau polisi tahu dia sendiri yang menaburkan bubuk kacang itu, bukankah itu sangat memalukan?
Benar saja, detik berikutnya terdengar Yuki berkata dengan lembut, "Erik, jangan begini, Sena itu istrimu, kamu tidak boleh memenjarakannya karena aku."
"Lagi pula, aku baik-baik saja, bukan? Dan meski tidak pertimbangkan Sena, kamu juga harus mempertimbangkan Keluarga Rosli, Nyonya Muda dari Keluarga Rosli masuk penjara... kalau hal ini tersebar, saham Grup Rosli pasti akan terpengaruh."
Dengan bujukan Yuki, Erik akhirnya menahan amarahnya dan tidak melapor polisi.
Meski tidak melapor polisi, hukuman tetap diperlukan.
"Sena, Yuki baik hati dan tidak ingin meminta pertanggungjawabanmu, tapi itu tidak berarti kamu tidak perlu menanggung akibatnya." Erik mencekik leher Sena dan mengucapkan setiap kata dengan kejam, "Kamu harus menanggung semua rasa sakit yang dialami Yuki malam ini!"
"Dr. Dedy, bawakan obat yang kamu siapkan!"
Erik mencubit dagu Sena dan menuangkan obat yang tidak diketahui ke dalam mulutnya secara paksa.
Obat tersebut bereaksi dengan cepat, Sena berkeringat deras karena kesakitan. Dia memegangi perutnya dan terus berguling di lantai, beberapa kali dia merasakan sakit yang amat sangat, sampai dia hampir pingsan.
Erik berdiri di samping, menatap Sena yang terbaring di lantai dan menggeliat kesakitan, bahkan tanpa mengerutkan kening.
"Sakit, 'kan? Saat meminum bubur yang dicampuri bubuk kacang olehmu, Yuki juga kesakitan seperti ini." Erik berkata dengan dingin, "Jangan lupa rasa sakit ini, hanya ketika mengingat rasa sakit itu, kamu baru tahu harus berubah."
Sena menggigit punggung tangannya dengan keras, hingga kulitnya terluka dan berdarah, tetapi dia tidak melepaskannya, dia juga tidak menjerit kesakitan.
'Erik, jangan khawatir, aku bakal mengingat rasa sakit ini seperti yang kamu katakan.'
Beginilah rasanya mencintainya dan beginilah yang terjadi saat dia mencintainya.
Kali ini dia sudah mengingatnya dengan jelas dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi!
Sena merasakan kesakitan sepanjang hari, efek obatnya baru hilang saat larut malam.
Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin, wajahnya sangat pucat.
Saat ini, bibi meneleponnya. Sena memaksakan diri untuk tetap semangat dan menekan tombol jawab, "Halo..."
"Sena, ini aku." Suara tawa lembut Bibi terdengar dari ujung telepon, "Aku sudah mengurus semua prosedur ke luar negeri, kapan kamu datang? Aku akan membelikanmu tiket pesawat."
Sena berbaring di lantai, bulu matanya sedikit bergetar. Dia ingin berangkat saat fajar, dia tidak mau tinggal di sini bahkan semenit pun.
Namun, setelah berguling-guling kesakitan sepanjang hari, Sena merasa seperti boneka yang vitalitasnya terkuras habis, dia tidak memiliki sedikit pun kekuatan dalam tubuhnya dan bahkan menggerakkan satu jari pun sulit.
Dalam keadaan seperti ini, kayaknya tidak bisa naik pesawat.
Lagi pula, kalau dia ke luar negeri seperti ini, Bibinya pasti akan merasa kasihan padanya.
Jadi Sena berkata, "Malam lusa saja, aku sudah menyelesaikan prosedur perceraian di sini, jadi bisa berkemas dan pergi."
"Baiklah, kalau begitu aku akan membelikanmu tiket untuk lusa pukul 7. Bawalah kartu identitas dan paspormu untuk mengambil tiket di bandara."
Anda Mungkin Juga Suka





