APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat

Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat

Setelah kembali ke keluarga konglomeratnya, sang putri kandung mendedikasikan lima tahun hidupnya untuk mengejar Julian Jetarsa, pria yang pernah membelanya. Meski berhasil menjadi tunangannya, ia justru terus direndahkan karena dianggap tidak memiliki tata krama kelas atas. Puncaknya, saat kakek yang membesarkannya sekarat, Julian menolak membantu demi memberinya pelajaran agar bersikap lebih baik. Kematian tragis sang kakek dalam kondisi tak berdaya akhirnya memadamkan seluruh rasa cintanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Maaf... aku akan bersihkan mobilmu nanti."

"Aku bisa duduk di mobil belakang. Maaf ya, mobilmu jadi kotor."

Julian terdiam sejenak, menatapku dengan curiga.

Setelah hening beberapa saat, dia tiba-tiba mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh dahiku.

Melihat tangan itu semakin mendekat, seluruh tubuhku menegang.

Aku tahu, aku tidak seharusnya menghindar.

Karena jika aku menghindar, Julian pasti akan marah, dan dulu, hal yang paling kutakuti adalah kemarahannya.

Begitu dia marah, dia akan menghancurkan harga diriku habis-habisan, membuatku merasa sangat hina dan terluka.

Aku duduk kaku di kursi, terus-menerus mengingatkan diriku: jangan menghindar, jangan menghindar.

Tapi saat jari-jarinya menyentuh kulitku, rasa jijik itu kembali datang, seperti dililit ular.

Aku refleks memalingkan wajah, menghindari sentuhannya.

Tangan Julian terhenti di udara, tidak bergerak.

Saat tatapan matanya jatuh padaku, aku bisa merasakan amarah dan kejengkelannya.

Pusing. Dunia seperti berputar.

Aku menggelengkan kepala, dan wajah Julian di hadapanku perlahan menghilang, tergantikan oleh bayangan Kakek yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, tubuhnya penuh selang.

Aku ingat dengan sangat jelas karena aku tak bisa meminjam uang dan tidak sanggup bayar biaya rumah sakit, mereka menghentikan pengobatannya.

Aku berlutut di samping tempat tidurnya, menangis sangat jelek.

Kakek sudah kesulitan bicara, tapi tetap berusaha tersenyum.

Dengan suara parau, dia bertanya.

"Mereka baik-baik saja sama Mira?"

Aku menutup wajah dengan tangan, menangis tanpa suara.

Meski Ayah dan Ibu lebih peduli pada Yolanda, meski Yolanda selalu menatapku dengan dingin dan curiga, meski Julian sangat membenciku, meski semua orang tidak menyukaiku, aku tetap menahan tangis dan menjawab dengan suara gemetar.

"Mereka baik sama aku."

Kakek mengulurkan tangannya, seolah ingin mengelus kepalaku.

"Mira cucuku ini sekarang juga anak yang disayang orangtuanya."

Belum sempat aku mendekat, belum sempat membiarkannya menyentuh rambutku sekali lagi, dia sudah lebih dulu menutup mata untuk selamanya.

Aku berkedip pelan, setetes air mata jatuh tanpa suara.

Kata-kata keras yang tadi sudah di ujung lidah Julian tiba-tiba ditelan kembali.

Dia hanya menatapku sekilas, lalu dengan suara dingin memerintahkan sopir.

"Cepat."

Aku mengusap air mata dengan lengan bajuku, lalu mengecilkan diri ke pojok kursi, berusaha seolah tak terlihat.

Pandanganku buram, aku memeluk lutut sendiri, dan tiba-tiba terpikir sesuatu.

Kalau saja dulu Julian mau menolongku, apa Kakek mungkin masih bisa diselamatkan?

Kalau iya, mungkin aku tak perlu pinjam uang rentenir.

Mungkin semua ini tak akan terjadi.

Tapi hidup ini tidak mengenal "kalau saja".

Mobil berhenti mendadak, dan karena gaya dorong ke depan, dahiku terbentur ke sandaran kursi.

Luka lama yang sudah mulai mengering, terasa perih lagi seperti akan terbuka kembali.

Julian sempat melirikku.

"Dahimu kenapa?"

Aku memegang dahi, tak menjawab, hanya menggeleng pelan.

Dia juga tak bertanya lagi.

Tanpa menoleh, dia langsung turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah Keluarga Mentari

tanpa sedikit pun peduli padaku yang masih tertinggal di belakang.

Begitu masuk ke rumah Keluarga Mentari, aku langsung naik ke lantai atas, ingin segera mandi.

Saat melepas pakaian, aku akhirnya mencopot sarung tangan kumal itu dan memperlihatkan tangan kiriku.

Tak ada luka di sana, tapi jari kelingkingku bengkok ke arah yang aneh dan menyeramkan.

Itu aku yang melakukannya sendiri. Aku mematahkan tulangnya dengan tanganku sendiri. Hanya setelah itu mereka tertawa puas, baru mereka mau memberiku sesuap nasi.

Waktu itu, yang ada di dalam pikiranku cuma satu: biarlah tulang yang patah ini menemaniku seumur hidup, agar aku bisa tetap sadar setiap saat.

Aku mengganti pakaian dengan gaun panjang, lalu kembali mengenakan sarung tangan, dan barulah turun ke bawah.

Kebetulan sudah waktunya makan. Ibu langsung melihatku, tatapannya seperti tak percaya. Ia melambaikan tangan padaku, suaranya terdengar sedikit menggerutu.

“Beberapa hari ini ke mana saja? Telepon pun nggak ada.”

Aku membuka mulut, ingin bicara. Tapi entah kenapa, rasa sedih langsung menyergap. Baru saja hendak mengeluarkan satu suku kata, suaraku sudah dipotong.

“Mama, cantik nggak?”

Yolanda melangkah turun dari lantai atas, mengenakan gaun yang belum pernah kulihat sebelumnya, gerak-geriknya anggun bak kupu-kupu yang menari di udara.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga yang Tumbuh di Kegelapan
8.0
Tragedi kelam merusak hari pernikahan Laras Pradipta dan Kevin. Sang ayah mertua mengakhiri hidupnya di kamar pengantin mereka, meninggalkan surat wasiat yang menuduh Laras sebagai pembunuh. Didorong dendam membara, Kevin bersumpah membuat hidup Laras menderita. Laras pun jatuh miskin menjadi gelandangan, kehilangan kewarasan serta suaranya dalam kesengsaraan yang teramat sangat. Namun, saat Laras telah hidup lebih rendah dari seekor anjing, penyesalan mendalam justru mulai menghantui Kevin.
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku
8.4
Briella Moretti dianggap beruntung karena menikah dengan pewaris keluarga terpandang, Adrian Maven. Namun di balik pernikahan mewah ini, Adrian hanya ingin membalas dendam dan menghancurkan hidup Briella. Ia berniat menyiksa batin istrinya perlahan. Tak disangka, ketulusan Briella justru mulai menyentuh hatinya. Adrian kini terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan ego dendamnya atau menerima cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Istri yang menjadi Gundik
9.1
Niat bahagia mendaftarkan calon bayinya ke asuransi kantor suami berujung petaka bagi seorang wanita. Di sana, ia menemukan dokumen yang mencantumkan Vivi Wisnutama sebagai istri sah suaminya, lengkap dengan dua anak berusia tujuh tahun. Kenyataan pahit terungkap bahwa pria yang ia cintai selama lima tahun ini telah berkeluarga dengan seorang pewaris bisnis hotel. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah gundik dan anak di kandungannya terancam menjadi anak haram tanpa pengakuan.
Sampul Novel Seputih Mawar
9.7
Saat jiwanya terguncang, Dinda akhirnya mengungkap cinta terpendamnya kepada Shalu. Pengakuan ini terpaksa ia lakukan karena Shalu nekat menodongkan senjata ke kepalanya sendiri. Meski sadar takdir mustahil mempersatukan hubungan mereka, Dinda dan Shalu tetap teguh mempertahankan perasaan tersebut. Di tengah keterbatasan yang ada, keduanya memilih terus saling berbagi kisah dan menghargai setiap momen kebersamaan yang tersisa dalam hidup mereka.
Sampul Novel Suami Tiga Bulan
8.5
Manda, seorang direktur sukses berusia 35 tahun, terancam dicopot dari jabatannya jika tidak cepat menikah dan punya anak demi memenuhi syarat sang Oma. Di tengah keputusasaan, ia menawarkan kesepakatan gila kepada Adam, sekuriti tampan yang sedang terlilit utang. Manda bersedia melunasi seluruh utang Adam, asalkan pria itu mau menjadi suaminya selama tiga bulan dan membuatnya hamil. Akankah pernikahan kontrak ini berhasil menyelamatkan karier Manda?
Sampul Novel SUAMIKU TIDAK TAHU AKU PEMILIK RESTO
8.8
Demi mewujudkan pernikahan impian dengan Aksa, Aira memilih menyembunyikan status aslinya sebagai pemilik restoran kaya raya lewat bantuan sahabatnya. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan pahit saat suaminya berselingkuh dengan Selena. Enggan terus ditindas, Aira yang semula terlihat lemah kini bangkit untuk membalas dendam. Aksa akan segera menyadari bahwa mencampakkan sang istri adalah kesalahan terbesar yang akan menghancurkan hidupnya hingga jatuh miskin.