
Aku Pelakor?
Bab 2
Aku duduk di antara para tamu undangan dan berusaha sekuat tenaga untuk menekan darah yang mendidih di dalam hatiku.
Dia itu anakku, anak yang kulahirkan dengan separuh nyawaku. Sekarang, dia berlutut di lantai dan memanggil orang lain dengan sebutan ibu.
Ada banyak orang yang hadir di pernikahan hari ini dan banyak orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, karena kekuatan Jimmy untuk menghalangi terlalu besar, maka tidak ada seorang pun yang berani maju untuk membujuknya.
Di atas panggung, Jimmy mengenakan pakaian tradisional berwarna hitam pekat. Meskipun usianya sudah lebih dari 50 tahun, Jimmy tetap terlihat energik, tanpa sedikit pun tanda penuaan di wajahnya.
Liana sepertinya sudah melakukan persiapan untuk hari ini. Dia mengenakan gaun terusan berwarna merah dan selendang berwarna putih beras yang tersampir di bahunya.
Jimmy dan Liana tampak seperti pasangan suami istri yang saling mencintai selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, aku mengenakan gaun merah muda dan duduk sendirian di sudut, seperti anjing liar.
Tidak berlebihan untuk mengatakan jika ayam betina tua yang kalah bertarung itu terlihat sedikit memiliki karakter yang kuat dibanding diriku.
Jimmy memeluk erat wanita itu sambil menangis seperti wanita yang juga menangis di dalam pelukannya itu. Rasa sayang di matanya, akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.
"Liana, jangan menangis. Anak kita sudah dewasa, kamu seharusnya merasa bahagia."
"Kamu ibunya, wajar kalau dia memanggilmu begitu."
Ryan terus mengiakan kata-kata ayahnya dari samping. Bahkan, dia juga menarik menantuku untuk ikut berlutut bersamanya.
Menantuku menjadi agak bingung. Ditambah lagi, dia belum pernah bertemu denganku sebelumnya.
Ryan mendesak menantuku dari samping. Akhirnya, menantuku mengubah panggilannya kepada Liana menjadi "ibu".
Melihat Liana menangis sampai napasnya tersengal-sengal, Jimmy dan Ryan menjadi begitu cemas dan buru-buru melangkah maju untuk menenangkannya.
Jimmy membujuk Liana dengan suara pelan dan tanpa sengaja matanya melirik ke arahku. Mata kami berpapasan. Hanya sesaat saja, Jimmy buru-buru mengalihkan tatapan matanya.
Pada titik itu, aku jelas-jelas melihat kilatan rasa bersalah di mata Jimmy.
Rasa sakit yang begitu menusuk langsung muncul di hatiku.
Jimmy tahu.
Jimmy sebenarnya mengetahui semuanya.
Jimmy memahami semua rasa malu, marah, sakit, dan pergulatan yang kurasakan.
Namun, Jimmy tetap memilih Liana dan melihatku yang susah payah mencari jalan keluar dari dalam rawa, dengan tatapan tak berdaya.
Di atas panggung, Ryan mengambil alih topik pembawa acara. Kemudian, kata demi kata, Ryan menceritakan masa lalu dan masa muda Jimmy juga Liana.
Di akhir pidatonya, tanpa diduga, ujung mata Ryan juga ikut memerah. "Meski ada penyesalan di masa muda, tapi untungnya segala sesuatunya kembali seperti semula."
Penyesalan?
Kembali seperti semula?
Memangnya bagaimana seharusnya semuanya ini sebelumnya?
Apakah aku harus menyerahkan tempatku dan merelakan mereka menjadi keluarga utuh dengan empat orang anggota keluarga?
Pada titik ini, aku benar-benar sedikit menyalahkan pembawa acara, kenapa dia membeli mikrofon yang bagus.
Kenapa aku harus mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ryan?
Aku duduk dengan hampa di kursiku, seakan-akan semua tenagaku sudah terkuras habis.
Aku tidak habis pikir bagaimana aku bisa jadi seperti ini dan bagaimana hidupku bisa berakhir seperti ini?
Aku tidak tahu kapan pernikahan itu selesai dan kapan aku menyadarinya?
Aku sudah berbaring di tempat tidur, sementara yang lain belum kembali. Mereka masih ingin mengadakan tradisi pesta di kamar pengantin.
Ryan tidak rela melepaskan "ibu" barunya, sehingga dia menyeret Liana ke kamar pengantin bersamanya.
Selama semua ini berlangsung, Jimmy terus meneleponku beberapa kali. Melihatku tidak menjawab teleponnya, Jimmy pun mengirimkan beberapa pesan kepadaku secara berturut-turut.
Dari awal yang awalnya bertanya lalu menyalahkan, pada akhirnya Jimmy menimpakan semua kesalahan kepadaku.
"Kapan kamu pergi? Kenapa nggak bilang-bilang?"
"Hari ini, hari pernikahan putramu. Haruskah kamu mempermalukan semua orang hari ini? Kamu nggak ngasih seserahan untuk menantumu, sampai-sampai Liana-lah yang menggantikanmu."
"Sandra, kamu itu sudah tua. Bisakah kamu berhenti marah-marah? Aku sudah nggak punya lagi kesabaran untuk membujukmu."
"Aku sangat kecewa padamu."
Ryan sendiri sama sekali tidak meneleponku, seakan-akan aku ini benar-benar tidak ada.
Kurasa Ryan masih menungguku mengambil inisiatif untuk menemuinya, sama seperti sebelumnya. Tidak peduli siapa yang salah dan apakah itu kesalahan besar atau kecil …
Semuanya selalu menjadi kesalahanku.
Padahal, jelas-jelas sebelum berusia tiga tahun, Ryan sangat bergantung padaku dan memanggilku "Ibu" dengan manis.
Ketika Ryan memegang makanan enak, gigitan pertama pasti akan selalu diberikan kepadaku. Saat aku lelah, Ryan akan merangkak ke pangkuanku.
Dengan tangan kecilnya yang kikuk itu, Ryan akan memijat kepalaku.
Dibandingkan dengan Jimmy yang tahu betul hal itu tidak bisa dilakukan, tetapi tetap melakukannya, Ryan-lah yang paling membuatku sedih dan tidak bisa menerimanya.
Anda Mungkin Juga Suka





