
Aku Pelakor?
Bab 3
Ketika aku bangun keesokan harinya, aku secara otomatis mengulurkan tangan untuk meraba tempat di sebelahku dan ternyata memang dingin.
Aku berjalan keluar kamar. Sandal masih di posisi semula dan air dalam termos di atas meja masih penuh.
Butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari jika Jimmy tidak pulang semalam.
Jari-jariku gemetar tak terkendali, saat aku mengeluarkan ponselku. Kemudian, aku merasa sedih saat menyadari satu hal …
Aku tidak punya keberanian untuk menelepon dan bertanya, seperti di pesta pernikahan kemarin.
Aku bahkan tidak bisa membantah sepatah kata pun.
Selama 25 tahun, Jimmy berhasil menjinakkanku sepenuhnya. Dari yang sebelumnya tidak menarik dan membosankan, menjadi begitu tunduk dan tidak tahu cara untuk melawan.
Ponselku tergelincir. Tangan dan kakiku tiba-tiba menjadi dingin. Kemudian, aku duduk di sofa dengan tatapan kosong, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan tenang.
Aku duduk di sana sepanjang hari sampai pintu dibuka pada pukul enam sore.
Aku menggerakkan kakiku yang mati rasa dan menatap orang yang berdiri di pintu masuk.
Orang itu bukan Jimmy.
Liana tersenyum lembut kepadaku. "Maafkan aku. Jimmy memintaku kembali mengambilkan dua setel baju ganti untuknya."
"Oh, ya. Jimmy nggak akan pulang untuk beberapa hari ke depan. Lagi pula, tiga hari lagi Ryan juga akan pulang ke rumah mertuanya."
"Aku dan Jimmy masih sibuk menyiapkan hadiah untuk anak kami. Jadi, kami mungkin nggak bisa memperhatikanmu, hehehe."
Aku mengangkat mataku dan menatap Liana. Liana mengangkat alisnya. Matanya memancarkan tantangan dan kebanggaan.
Setelah berkata seperti itu, Liana langsung berjalan menuju kamar tidur. Dia membuka lemari dan mengeluarkan beberapa setel baju yang biasanya sering dipakai oleh Jimmy.
Padahal, ini jelas-jelas pertama kalinya Liana pergi ke rumah ini. Akan tetapi, Liana bisa langsung menemukan lemari di mana pakaian Jimmy berada dan mengemasnya dengan rapi.
Aku memperhatikan gerak-gerik Liana dan bertanya-tanya di dalam hati apakah Liana sudah pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat aku tidak berada di rumah setengah tahun yang lalu.
Itulah sebabnya Liana sangat akrab dengan segala sesuatu yang ada di rumah ini dan gerakannya juga sangat terampil. Seakan-akan, Liana sudah berulang kali melakukannya.
Setelah selesai mengemasi semuanya, Liana tidak pergi. Dia malah berbalik dan duduk di sofa, di seberangku.
Suara lembut Liana menyiratkan sedikit penyesalan. "Izinkan aku menceritakan tentang diriku dan Jimmy."
"Kami sudah saling kenal sejak SMA dan sudah bersama selama lima tahun penuh sampai kami lulus kuliah."
"Kalau dulu kamu nggak datang tiba-tiba dan nggak mau dijodohkan dengannya, mungkin yang sekarang menjadi istri Jimmy itu adalah aku."
Aku mengangkat alisku dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata, hubungan kalian selama lima tahun adalah sesuatu yang bisa kuhancurkan dengan bersedia dijodohkan dengannya."
"Sandra, aku dan Jimmy sudah saling merindukan selama 25 tahun ini. Sekarang, kami berdua tengah melakukan yang terbaik untuk mengembalikan cinta yang hilang itu."
"Jangan khawatir. Aku nggak mencoba untuk dengan sengaja mengganggu pernikahan kalian yang biasa-biasa saja itu. Kami cuma ingin mendapatkan kembali perasaan yang pernah kami miliki. Bagaimanapun, aku dan Jimmy sudah makin tua. Kalau kami nggak melakukan sesuatu untuk itu, kami akan menjadi makin tua."
"Karena kamu menyukai Jimmy, kamu pasti ingin dia bahagia, 'kan?"
Aku mendengarkan Liana berbicara. Meskipun sudah menyiapkan mental untuk hal itu, tetap saja dadaku terasa panas bagaikan api yang berkobar. Rasanya benar-benar sakit sampai-sampai aku ingin membungkuk dan meringkuk.
Pada titik ini, aku benar-benar ingin melompat dan menampar Liana, juga Jimmy.
Kalian ingin mengembalikan lima tahun yang sudah terlewat, lalu bagaimana dengan diriku?
Yang hilang dariku bukan hanya sehari semalam, melainkan 25 tahun.
Hari sudah larut dan aku duduk sendirian di sofa sepanjang malam.
Di masa lalu, aku mengira malam itu sangat singkat. Langit akan menjadi terang segera setelah aku memejamkan mata.
Namun, ternyata malam itu sebenarnya sangat panjang. Begitu panjangnya, sehingga memberiku cukup waktu untuk bangun dan bahkan untuk mengemasi semua barang-barangku.
Aku menelepon perusahaan yang mengurusi pindah rumah dan pindah ke sebuah apartemen kecil atas namaku. Tempat itu tidak besar, tetapi cukup untuk kutinggali.
Aku tidak memberi tahu Jimmy mengenai perceraian. Aku hanya meletakkan surat perjanjian cerai di tempat yang paling terlihat di rumah.
Anda Mungkin Juga Suka





