
Aku Hilang, Dia Mencariku Kemana-mana
Bab 4
Itu bukan presentasiku, melainkan adalah sebuah slideshow foto-foto berdefinisi tinggi.
Tentang aku dan Denis di tempat tidur.
Aku di atasnya, kepala mendongak karena kenikmatan. Tangan dia mencengkeram pinggangku, wajahnya adalah topeng ekstasi yang menyakitkan.
Foto lain diriku berlutut di depannya. Bibirku di bagian intimnya.
"Ya Tuhan!"
"Apa ini?"
"Itu menjijikkan!"
Tarikan napas dan bisikan meledak dari penonton.
Aku berdiri kaku di atas panggung, merasa seluruh dunia menyaksikan momen pribadiku.
Kapan foto-foto ini diambil? Aku tidak tahu.
"Matikan! Matikan sekarang!" Aku berteriak pada kru teknis.
Namun, foto-fotonya terus berganti. Setiap foto lebih eksplisit dari yang sebelumnya.
Aku melihat Bella di antara penonton, menutupi mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikan senyum puas.
Pasti Bella pelakunya.
Aku bergegas turun dari panggung dan langsung ke arahnya.
"Kamu yang lakukan ini!" Aku mencengkeram lengannya. "Gimana kamu bisa dapat foto-foto ini?"
"Aku nggak paham ucapanmu," kata Bella, pura-pura tidak bersalah. "Mungkin kamu yang mengambilnya sendiri buat memeras?"
"Dasar jalang!"
Aku mengangkat tanganku untuk menamparnya, tetapi sebuah tangan kuat menangkap pergelangan tanganku.
Itu Denis.
Wajahnya seperti topeng amarah yang dingin.
Dia tidak menatapku juga tidak menatap Bella. Matanya menyapu ruangan, seperti pemangsa menilai ancaman.
"Cukup." Suara geramannya rendah yang membelah keheningan. Itu bukan ditujukan padaku, tetapi perintah untuk seluruh ruangan.
Dia menjentikkan jari, dua anak buahnya segera bergerak ke bilik teknis yang langsung membuat layar mendadak gelap.
Lalu, tatapannya yang sedingin es akhirnya jatuh padaku. "Selesai sudah urusanmu di sini."
"Dia pelakunya. Denis, foto-foto itu… "
"Satpam." Dia memotong ucapanku, suaranya datar tanpa emosi. "Antar Nona Elian keluar sekarang."
Dua penjaga bersetelan hitam bergerak ke arahku.
"Jangan sentuh aku!" Aku melepaskan lenganku dari genggaman Denis. "Aku bisa keluar sendiri!"
Namun saat berbalik, hak sepatuku terpelintir.
Aku kehilangan keseimbangan hingga terguling menuruni anak tangga panggung.
Bagian belakang kepalaku membentur lantai marmer.
Dunia berputar dan penglihatanku kabur.
Aku mendengar seseorang berteriak, tapi suaranya makin jauh.
Lalu, semuanya gelap.
...
Aku terbangun di rumah sakit.
Kepalaku dibalut perban, dan infus terpasang di lenganku.
"Kamu sudah bangun?" Suara pria yang lembut.
Aku menoleh. Seorang pria muda berkacamata duduk di samping ranjangku.
Dia Mark, seorang akuntan dari perusahaanku.
"Kamu yang membawaku ke sini?" Suaraku lemah.
"Ya." Dia mengangguk. "Kamu jatuh dari tangga dan kepalamu terbentur cukup keras. Dokter bilang kamu gegar otak ringan."
Aku mengingat semuanya, dan air mata mulai jatuh.
"Foto-foto itu... sekarang tersebar di internet, bukan?"
Ekspresi Mark mengeras.
"Aku sangat menyesal, Elian."
Aku memejamkan mata.
Karierku tamat.
Reputasiku hancur.
Semuanya lenyap.
"Sebenarnya... aku selalu ingin bilang," ujar Mark tiba-tiba. "Menurutku kamu istimewa. Bukan hanya karena bakatmu, tapi karena dirimu."
Aku membuka mata menatap Mark.
"Kamu nggak perlu tunduk pada siapa pun," lanjutnya. "Kamu pantas dapat yang lebih baik."
Dia mengeluarkan seikat mawar putih dari belakangnya.
"Ini untukmu, semoga cepat pulih."
Aku memandang bunga-bunga itu, kehangatan menyebar di dadaku.
Selama lima tahun, tidak ada yang sebaik ini padaku.
"Mark… "
Brak! Pintu kamarku terbuka, tapi tidak dengan normal, melainkan terpelintir.
Dentuman itu bergema di ruang kecil, Mark serta aku tersentak.
Berdiri di ambang pintu, siluetnya seperti iblis. Dia adalah Denis Sanggu.
Dia mengabaikanku, matanya mengunci pada Mark.
Ucapan disertai geraman keluar dari mulutnya, yaitu sebuah ancaman maut.
"Enyah sekarang juga."
Anda Mungkin Juga Suka





