
Akibat Percaya Pekerja Magang
Bab 3
Agar tidak memengaruhi hari libur kemerdekaan, sehingga hari libur tetap berjalan dengan normal, seluruh tim bekerja lembur untuk mengejar target. Saat pekerjaan sudah hampir selesai, tiba-tiba saja listrik padam.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa ini? Programku! Belum tersimpan!"
"Cepat periksa sakelar listriknya!"
Suasana kantor benar-benar menjadi kacau balau.
Akan tetapi, Nadia justru berjalan mendekat dengan tenang, lalu menatap semua dengan tatapan merendahkan.
"Memangnya listrik di perusahaan itu nggak bayar? Jangan selalu berpikir untuk mengambil keuntungan dari perusahaan! Pekerjaan kalian nggak selesai karena kalian itu nggak kompeten. Siapa suruh kalian nggak pulang dan malah kerja di kantor? Kalau kalian menggunakan listrik perusahaan di kantor, aku berhak untuk memutus aliran listriknya. Hmph, kebiasaan buruk kalian ini memang harus diubah. AC, komputer, mengisi daya ponsel, apa kalian nggak tahu kalau tagihan listrik perusahaan itu sangat mahal?"
Aku tidak tahan lagi. Aku langsung menggebrak meja dan berdiri. Kemudian, aku menuding hidung Nadya dan memakinya dengan penuh amarah.
"Nadya, apa kamu sudah gila? Aku sudah lama bersabar denganmu. Perusahaan nggak peduli dengan tagihan listrik! Apa kamu sadar kalau semua kerja keras yang kami lakukan selama lembur akhir-akhir ini jadi sia-sia dengan kamu memutus aliran listriknya? Bajingan, apa yang kamu lakukan? Aku benar-benar nggak paham kenapa perusahaan mempekerjakanmu. Cepat pergi dari sini!"
Rekan-rekan yang lainnya juga berkata dengan marah, "Apa-apaan ini? Benar-benar ya, dia pikir dia itu siapa?"
Nadya tidak mau kalah dan langsung berteriak, "Aku ditunjuk langsung oleh Pak Faris. Kamu nggak berhak memecatku!"
Ketika melihat Faris datang mendekat dari sudut matanya, Nadya pun langsung menunjukkan wajah sedih.
"Aku cuma nggak tega melihat semua orang membuang-buang listrik. Aku tahu, aku nggak bisa dibandingkan dengan kalian yang orang kota. Aku sudah terbiasa miskin sejak kecil, nggak seperti kalian yang hidup mewah. Kalian hidup nyaman sejak lahir, nggak seperti diriku ...."
Lagi-lagi Nadya mulai memamerkan kemalangannya.
Faris pun berbisik kepadaku, "Nadya itu terlalu hemat. Tapi, semua itu juga karena kondisi keluarganya yang buruk. Jadi, kamu harus pengertian padanya. Ada begitu banyak rekan-rekan kerja yang melihat, jangan buat keributan!"
Mataku langsung menjadi dingin mendengar kata-kata Faris yang membela Nadya itu.
"Lucu sekali. Penderitaannya bukan karena aku, kenapa aku harus pengertian padanya?"
Faris langsung menunjukkan wajah serius saat melihatku tidak menghormatinya.
"Amel, jangan kelewatan. Nadya nggak sengaja melakukannya. Dia cuma ingin menghemat listrik perusahaan. Niatnya baik. Cuma cara dan metodenya saja yang agak kurang tepat. Begini saja. Nadya, kamu cukup minta maaf saja."
"Bu Amel, aku minta maaf, oke?"
Nadya memang mengucapkan kata-kata permintaan maaf, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, melainkan malah sedikit bangga.
"Apakah cukup cuma dengan meminta maaf? Dia dengan entengnya bilang maaf, sementara usaha semua orang akhir-akhir ini menjadi sia-sia. Apa itu adil?"
"Lalu apa yang kamu inginkan?" Faris mengusap dahinya. Nada bicaranya sedikit tidak sabar.
"Dia yang pergi, atau aku yang pergi?"
Aku menatap Faris lekat-lekat. Ekspresiku benar-benar serius.
"Amel, kenapa kamu harus mengancam seperti ini? Nadya sudah minta maaf. Jangan nggak kenal ampun begini!"
Wajah Faris terlihat muram. Suaranya penuh amarah.
"Hmph, biarkan dia pergi. Kalau dia nggak pergi, perusahaan ini akan hancur. Lihatlah ini, Nak!"
Ibu Faris bergegas memasuki kantor dengan marah. Kemudian, dia membanting setumpuk kertas ke atas meja.
"Bu, apa yang Ibu lakukan di sini? Apa ini?"
Faris dengan bingung mengambil data yang dibanting di atas meja itu.
Ibunya Faris mendengus, lalu berkata dengan marah.
"Lihat saja dan kamu akan tahu. Semua ini berkat Nadya yang sangat teliti. Kalau nggak, kamu akan terus dibodohi oleh wanita ini. Lihatlah, berapa banyak uang yang sudah dihabiskan oleh Amel!"
Makin melihat data itu, wajah Faris menjadi makin muram.
Nadya memanfaatkan kesempatan dan berkata.
"Uangnya Pak Faris nggak datang begitu saja. Pak Faris mendapatkan uang itu dengan susah payah, bukan untuk kamu hambur-hamburkan seperti ini. Bu Amel, kamu sangat boros. Cepat atau lambat, perusahaan ini pasti akan hancur karenanya!"
Setelah berkata seperti itu, Nadya juga menatapku dengan kecewa dan penuh penghinaan.
Aku tidak mengerti. Oleh karena itu, aku langsung mengambil data tersebut dan melihatnya. Setelah itu, aku pun hampir tertawa karena marah.
Anda Mungkin Juga Suka





