
Air Mata Kerinduan
Bab 2
“Kamu… kamu pelan-pelan….”
Saat kehangatan telapak tangan Jeff menyebar ke seluruh tubuhku, aku menjadi tegang karena gugup dan malu.
Namun, suara Jeff yang lembut dan rendah terdengar di telingaku,
“Iya, kakak rileks saja.”
Namun, merasakan tangan besarnya menutupi tubuhku, aku tetap tak bisa rileks sepenuhnya.
Aku hanya bisa memejamkan mata dan memalingkan wajah.
Dalam hati, aku terus meyakinkan diri bahwa ini hanyalah proses yang harus dilakukan dalam pijat laktasi.
Semua ini demi anak.
Barulah setelah itu aku merasa sedikit lebih baik.
Namun, tanpa kuduga, saat pikiranku sedang kacau, tiba-tiba jari-jari Jeff menyentuh titik sensitifku.
“Kamu… apain?”
Perasaan yang aneh langsung membuat diriku waspada.
Sulit bagiku untuk tidak curiga bahwa dia ingin melakukan sesuatu padaku.
Hal itu membuatku tanpa sadar membuka mata, menoleh dan bertanya padanya.
Namun, Jeff malah menenangkanku,
“Kak, area ini memang harus dipijat. Ditambah lagi ada sedikit penyumbatan di saluran ASI-mu, mungkin akan terasa sedikit sakit di awal. Kamu tahan sebentar….”
Jeff duduk di tepi ranjang.
Melihat matanya yang jernih dan nada bicaranya yang tulus, seketika aku merasa bingung.
Seolah-olah di antara kami berdua, hanya diriku yang berpikiran kotor.
Ini membuatku merasa sedikit malu.
Namun, aku hanya bisa pasrah menerima sentuhannya.
“Kak, sebenarnya kondisi penyumbatan saluran ASI-mu nggak terlalu buruk. Pasti akan lancar setelah dipijat beberapa kali.”
Mungkin karena suasana agak canggung, Jeff pun tidak lupa berbincang denganku sambil memijat.
“Benarkah?”
Mendengar suaranya yang lembut dan ramah, meski aku masih merasa sangat canggung dengan sentuhan pria asing, diriku sudah merasa jauh lebih baik.
“Harus dipijat berapa lama?”
“Satu rangkaian terapi, sekitar satu minggu.”
“Setelah itu kita lihat kondisinya, apakah perlu ditambah atau nggak….”
Mendengar ini, barulah aku merasa lega.
Satu minggu, itu masih bisa diterima.
Jeff memijat tubuhku dengan kekuatan yang lembut. Meskipun terkadang ada rasa sakit yang menusuk di dada, secara keseluruhan, aku merasa ada kelancaran setelah dipijat.
Ini membuat sarafku yang tegang perlahan mengendur.
Dan yang lebih mengejutkanku, hanya dalam waktu belasan menit, dia pun berhenti.
“Sudah selesai, kak. Kita sampai di sini dulu untuk pagi ini. Akhir-akhir ini, kamu….”
“Tentu saja, pijatan dipadukan pola makan yang sehat akan lebih baik. Bagaimanapun, aku ini profesional.”
Jeff kembali menekankan sikap profesionalnya.
Ini membuat diriku mulai percaya pada dirinya sebagai terapis laktasi.
Beberapa hari berikutnya.
Jeff memang sangat bertanggung jawab dalam merawatku.
Selain dua kali pijat sehari, dia juga sangat baik dalam urusan pola makan.
“Tak kusangka, kamu punya keahlian ini.”
Setelah selesai dipijat lagi dan menyantap makanan bergizi masakannya, aku tak bisa menahan senyuman dan menatapnya.
Saat masa nifas sebelumnya, aku hampir muntah karena makan makanan bergizi.
Awalnya, aku sangat menolak jenis makanan ini, tapi tak disangka, masakan Jeff begitu lezat.
“Tentu saja, kak. Aku ini profesional.”
Mendengar dia berkata demikian lagi, aku pun tersenyum dan menggelengkan kepala.
Akhir-akhir ini, di bawah perawatannya, kondisi pembengkakkan ASI-ku memang sangat membaik.
Kepercayaanku padanya pun semakin bertambah.
Hanya saja, aku merasa sentuhannya semakin lama semakin mengganggu.
Seolah-olah ada unsur godaan di dalamnya.
Aku tak tahu apakah ini hanya perasaanku saja.
Sampai pada akhir pekan, saluran ASI-ku tersumbat lagi.
Dadaku terasa bengkak dan sakit, anakku juga menangis kelaparan.
Tak ada pilihan, aku harus menyeduhkan susu formula untuk anakku dulu, lalu menelepon Jeff.
“Ada apa, kak? Tersumbat lagi?”
Begitu telepon diangkat, Jeff sudah menebak maksudku.
“Iya….”
Jawabku dengan malu-malu, tapi Jeff menjawab dengan tegas,
“Tunggu sebentar, kak. Aku segera datang.”
Setelah menutup telepon, tak butuh waktu lama, Jeff pun datang dengan terburu-buru.
“Kak, bagaimana… kondisimu?”
Begitu masuk, dia langsung menatap dadaku.
Dulu, aku pasti akan menganggapnya punya niat buruk, tapi sekarang, aku sangat jelas bahwa ini hanya kebiasaan profesionalnya.
“Sangat bengkak dan agak sakit.”
Jawabku pelan.
Kemudian, Jeff mengangguk dan pergi ke kamar mandi.
“Tunggu aku cuci tangan dulu, lalu aku akan memijatmu.”
“Iya.”
Aku mengangguk, lalu kembali ke kamar seperti biasa, lalu membuka kancing pakaianku.
Namun, aku sendiri tak menyadari.
Sekarang, diriku sudah tak lagi merasa malu dan waspada saat berhadapan dengan Jeff seperti dulu.
“Kak, penyumbatan kali ini agak parah.”
Namun, setelah selesai mencuci tangan dan memeriksaku, Jeff pun mengerutkan kening.
Jarang melihatnya begitu serius, ditambah perkataannya itu, aku langsung ketakutan.
“Lalu… bagaimana?”
Aku agak cemas, tapi Jeff malah menggeleng dan berkata,
“Harus disedot keluar.”
Disedot?
Mendengar ucapannya, aku langsung terdiam sesaat.
Kemudian, benakku langsung muncul gambaran Jeff yang menempel di dadaku.
“Nggak boleh!”
Karena malu, aku langsung menutupi dada, menggelengkan kepala dengan wajah memerah.
Pijatan biasa saja sudah cukup… aneh.
Jika dia sampai menyedotnya….
Aku tak sanggup.
“Bukan begitu, kak. Kamu salah paham. Nggak harus aku yang melakukannya, kamu bisa meminta Kak Alvaro pulang untuk menyedotnya.”
Melihat aku hampir meledak sangking marahnya, Jeff hanya bisa menjelaskan dengan pasrah.
Namun, perkataannya malah membuatku menggigit bibir dengan erat.
“Tapi, tapi suamiku… lagi dinas di luar kota….”
Anda Mungkin Juga Suka





