
Air Mata Kerinduan
Bab 3
Aku dan suamiku, Alvaro menjalankan sebuah perusahaan bersama.
Namun, sejak aku hamil, perusahaan diserahkan padanya untuk diurus.
Aku fokus melahirkan dan mengurus perusahaan pun menjadi rutinitasnya. Lembur dan perjalanan dinas adalah hal yang biasa, sehingga sebagian besar waktu di rumah hanya aku dan anakku.
Selama Jeff datang, suamiku semakin jarang pulang.
“Oh begitu….”
Jeff mengangguk sambil berpikir, lalu berkata lagi, “Kalau begitu, kakak juga bisa meminta teman sesama jenis untuk membantu menyedotnya….”
“Malam-malam begini, ke mana aku mencari teman?”
Aku melotot ke arah Jeff, tapi rasa sakit dan bengkak di dada membuat wajahku semakin memerah.
“Kalau begitu nggak ada jalan lain, kak. Hanya bisa aku saja yang melakukannya.”
Ujar Jeff dengan pasrah.
“Kamu?”
Mendengar ucapannya, aku sempat curiga dia sengaja mengatakannya.
Namun, di tengah malam begini, suamiku tidak ada di rumah dan dadaku terasa sangat sakit. Aku tak punya pilihan lain selain membiarkannya membantu menyedot.
“Karena sudah larut malam, kak. Nggak ada orang lain lagi….”
Namun, melihat aku menggigit bibir dan tampak enggan, Jeff pun membujuk,
“Kak, apalagi kalau dibiarkan terlalu lama, bisa meradang. Kamu masih dalam masa menyusui, nggak boleh minum obat….”
Tadinya aku masih baik-baik saja, tapi begitu mendengar ucapannya, aku langsung merasa sangat aneh.
Karena dia selalu memberikan kesan bahwa dirinya juga terpaksa melakukannya.
Namun, semua ini demi anak.
Begitu mengungkit anak, aku hanya bisa menggigit bibir dan menyetujui syarat yang diajukan Jeff.
“Kalau begitu… kamu saja.”
Meskipun aku sangat menolak disentuh pria asing, anakku masih kelaparan. Sekalipun bukan demi diri sendiri, aku juga harus memikirkan anak.
Hanya saja….
Memikirkan Jeff harus menggunakan mulut….
Aku masih merasa sangat canggung.
“Nggak apa-apa, kak. Aku akan pelan-pelan, kamu juga nggak perlu merasa malu. Pejamkan matamu, anggap saja seperti sedang menyusui anakmu.”
Ujar Jeff dengan begitu mudah, tapi aku tak sanggup melewati batas mental di hatiku.
Terutama saat melihat wajahnya yang tersenyum ramah, aku merasa semakin aneh.
“Kalau begitu… kamu harus berjanji satu hal padaku.”
Aku berbaring di ranjang dan melihat Jeff sudah membungkuk. Tapi, aku masih belum melepaskan tangan yang menutupi dada.
“Apa, kak?”
Melihat wajahku yang penuh penolakan, Jeff pun menghentikan gerakannya, lalu menatapku dengan penasaran.
“Selain kamu dan aku, nggak boleh ada orang lain yang tahu soal masalah ini. Bahkan suamiku sekalipun nggak boleh!”
Ini adalah batas terakhirku.
Meskipun sebelumnya saat aku menyarankan mengganti terapis laktasi wanita, suamiku bersikap acuh tak acuh.
Namun, sebagai wanita yang sudah menikah dan punya anak, aku benar-benar tak bisa menerima kalau suamiku tahu ada pria selain dirinya yang melakukan kontak terlalu intim dengan tubuhku.
Apalagi sampai menggunakan mulut….
“Tenang saja, kak. Kalaupun Kak Alvaro tahu juga nggak masalah. Bagaimanapun, ini adalah metode umum dalam pijat laktasi. Kak Alvaro pasti akan mengerti.”
Jeff langsung memahami kekhawatiranku, tapi aku tetap kekeh.
“Tetap nggak boleh!”
Melihat aku begitu keras kepala, akhirnya Jeff mengangguk setuju.
“Baiklah kak, aku janji padamu. Hanya kita berdua yang tahu masalah ini, nggak akan ada orang ketiga yang tahu masalah ini.”
Jeff berulang kali menjamin bahwa dirinya tidak akan menceritakan hal ini.
Barulah aku menarik tangan yang menutupi dada dan memalingkan kepala.
“Kak, kalau begitu aku mulai, ya.”
Melihat aku bersikap pasrah, Jeff pun mulai bertindak.
Aku melihat dia membungkuk dan napas hangatnya langsung menerpa kulitku yang agak dingin.
Meskipun aku sudah mempersiapkan mental, merasakan kedekatan pria itu, seluruh tubuhku tetap tegang tanpa disadari.
Terutama saat merasa mulut Jeff hanya bergerak beberapa milimeter dariku.
Seketika, semua pori-pori di tubuhku seolah terbuka.
Anggap saja ini demi anak.
Aku mengepalkan tangan, tapi tubuhku tetap bereaksi kuat.
Namun, Jeff mungkin merasakan penolakanku, dia pun mengangkat satu tangan dan menekannya di lenganku, sambil dengan cepat membuka mulut dan langsung menghisapnya.
“Hmm….”
Seketika, seluruh tubuhku menegang.
Rasa malu yang luar biasa membuatku ingin menghilang saat itu juga.
Dan yang lebih parah, untuk membantu melancarkannya, Jeff menyedot seperti bayi, sesekali mengeluarkan suara kecapan.
“Su… sudah siap…?”
Mendengar suara sedotan Jeff yang semakin jelas, aku juga merasa ada sesuatu yang keluar dari dadaku.
Namun, tepat saat aku berpikir semua rasa malu ini akan berakhir, Jeff malah tidak berhenti.
Sebaliknya, dia semakin kuat dan bermain-main.
“Jeff, kamu… kamu apain?!”
Perasaan aneh terasa dari dadaku dan aku langsung menyadari bahwa dia tidak hanya sekadar melancarkan.
Aku berusaha keras mendorong Jeff menjauh.
Namun, bukannya berhenti, dia malah mengangkat satu kaki dan langsung menindihku….
“Kak, kamu cantik sekali….”
Anda Mungkin Juga Suka





