APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku

Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku

Dekade pengorbanan istri Daffa Prawirodirdjo sia-sia saat suaminya berpaling pada Leni, cinta masa lalunya. Puncak kepedihan terjadi ketika Daffa menelantarkan Bintang yang terluka di hari ulang tahun demi anak Leni. Enggan bertahan dalam pengkhianatan, sang istri membawa Bintang pergi, lalu bangkit menjadi seniman sukses. Tiga tahun berselang, Daffa datang memohon maaf, namun penyesalannya telah terlambat karena pintu hati sang mantan istri kini telah tertutup rapat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Syifa Sastrowardoyo POV:

Jantungku seperti dipukul palu godam. Bintang berkelahi? Mustahil. Anakku yang penurut itu tidak pernah sekalipun mengangkat suara apalagi tangan. Ada apa ini? Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepalaku.

Aku bergegas menuju sekolah, langkahku terasa berat. Sesampainya di sana, pemandangan yang menyambutku membuatku membeku di tempat. Bintang duduk di pojok ruangan, wajahnya sembab karena menangis, bahunya bergetar hebat. Dan di seberangnya... ada Daffa.

Di sampingnya, Leni tersenyum manis, memeluk seorang gadis kecil yang kuingat bernama Tania. Tania adalah putri Leni dari pernikahan sebelumnya, dan Daffa selalu memperlakukannya dengan begitu lembut. Senyum Leni padaku, entah mengapa, terasa seperti duri yang menusuk.

Tania menunjuk Bintang dengan jari kecilnya yang gemuk. "Dia mencuri mainanku, Papa!" rengeknya.

Bintang mendongak, matanya yang merah dan bengkak menatapku. "Tidak, Mama! Aku tidak mencuri!"

"Diam, Bintang!" Daffa membentak, suaranya menggelegar. Dia bahkan tidak melirik Bintang, pandangannya tertuju pada Tania. "Tania, sayang, ceritakan pada Papa apa yang terjadi."

Tania dengan manja menunjuk sebuah mobil-mobilan remote control yang tergeletak rusak di lantai. "Ini hadiah dari Papa! Bintang mengambilnya lalu merusaknya!"

Bintang menggelengkan kepalanya. "Bukan! Itu... itu mainan kita!"

"Mainan apa?" Leni menyela, tawanya terdengar meremehkan. "Tidakkah kau tahu, Bintang, ini mainan yang sangat mahal. Om Daffa membelikannya khusus untuk Tania."

Tania mencibir. "Om Daffa juga memberiku mobil-mobilan yang lebih besar dari ini. Untuk apa aku mencuri mainanmu yang jelek ini?"

Mata Bintang melebar, seolah baru menyadari sesuatu. Mobil-mobilan itu... mainan yang sama yang pernah Daffa berikan padanya, yang dia hancurkan di depan matanya. Mainan yang Daffa bilang "jangan disentuh tanpa izin".

"Itu... itu Papa yang memberiku mobil-mobilan itu..." Bintang tergagap, menatap Daffa, mencari secercah pengakuan.

Daffa hanya mendengus. "Aku sudah membuangnya. Dan aku tidak pernah memberikan mainan itu padamu, Bintang. Kau anak nakal."

Air mata Bintang mengalir deras. "Tapi... Mama bilang itu..."

"Cukup!" Daffa menggebrak meja. "Minta maaf pada Tania sekarang! Dan kau, Syifa, didiklah anakmu dengan benar! Jangan ajari dia mencuri dan berbohong!"

Jantungku serasa diremas. Bintang menatapku, matanya memohon. Aku tahu dia tidak mencuri. Aku melihatnya saat Daffa membanting mobil-mobilan itu. Aku melihat bagaimana Daffa menghancurkan mainan yang sama, yang pernah dia berikan pada Bintang, kini di tangan Tania.

"Bintang tidak mencuri," kataku pelan, suaraku bergetar. "Mobil-mobilan itu... itu miliknya."

"Syifa!" Daffa menatapku tajam. "Jangan membela anak ini! Ajari dia sopan santun!"

Tania mendekat, mendorong Bintang hingga jatuh. "Dasar anak pencuri! Kau tidak punya Papa! Om Daffa itu Papa-ku!"

Bintang terisak, lalu bangkit, matanya penuh amarah. Dia menatap Daffa, lalu beralih ke Leni dan Tania. "Kau bohong! Papaku... Papaku menyayangiku!"

"Omong kosong!" Tania berteriak, mendorong Bintang lagi. Kali ini, Bintang jatuh dan lututnya terbentur meja. Dia menjerit kesakitan.

"Papa!" Bintang memanggil, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. Dia mengulurkan tangan ke arah Daffa, mencari perlindungan, mencari kasih sayang yang tak pernah dia dapatkan.

Daffa hanya memandang dengan dingin. Dia tidak bergerak. Dia tidak melakukan apa pun.

Leni tersenyum picik. "Syifa, hentikan dramamu. Bintang itu anakmu, bukan anak Daffa. Dan dia jelas harus belajar sopan santun. Tania tidak mungkin berbohong."

Bintang menatapku, lalu pada Daffa, lalu pada mobil-mobilan rusak di lantai. Dia mengerti. Mainan itu, yang dulu pernah jadi miliknya, kini menjadi bukti pengkhianatan Daffa.

"Aku... aku tidak mencuri," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Itu... Papaku yang memberiku..."

"Berapa kali harus kukatakan?" Daffa mendengus. "Hanya mainan murahan. Untuk apa aku memberikannya padamu? Aku bisa membelikan Tania seribu mainan seperti itu."

Kata-kata itu menghantam Bintang seperti pukulan tak terlihat. Dia gemetar, menatap Daffa, lalu menatapku.

"Minta maaf!" Daffa membentak lagi. "Dan Syifa, jangan ajari anakmu berbohong! Kau tidak punya hak untuk membesarkannya jika kau hanya mengajarinya hal-hal buruk!"

Bintang menatapku, matanya penuh keputusasaan. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Itu untukku.

Dengan suara bergetar dan bahu yang masih bergetar, Bintang menoleh ke arah Tania dan Daffa. "Aku... aku minta maaf," ucapnya lirih, menundukkan kepala. "Aku... aku tidak akan mengambil mainan Tania lagi."

Dia tidak meminta maaf karena mencuri, tapi karena apa yang dia rasakan adalah kesalahannya. Bintang meraih tanganku. "Mama, ayo kita pulang."

Aku berdiri, menarik tangan Bintang. Ketika kami melewati kepala sekolah, dia meraih mobil-mobilan rusak itu. "Ini, Bintang. Sayang sekali mainanmu rusak."

Bintang menatap mobil-mobilan itu, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak mau."

Aku terkejut. Bintang menolak mainannya. Dia tidak pernah melakukan itu. Mata Bintang kini hanya menatapku, kosong. Dia telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar mainan.

Aku menatap Daffa, yang masih berdiri di sana, terdiam. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap mobil-mobilan yang ditolak Bintang.

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi aku tahu, bagi Bintang, ini adalah akhir. Dan bagiku, ini juga.

Aku berlutut di depan Bintang, memeluknya erat. "Tidak apa-apa, Sayang. Mama ada di sini."

Di dalam hatiku, aku membuat keputusan. Daffa Prawirodirdjo, aku sudah selesai denganmu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Lama yang Membawa Duka
9.7
Demi menemui cinta pertamanya tanpa dicurigai, seorang suami tega memanfaatkan putra kandungnya yang berusia enam tahun sebagai kedok. Namun, keputusan egois itu berujung petaka saat sang anak disuruh membeli salep luka bakar dan tewas ditikam orang asing di jalan. Di tengah kedukaan mendalam Susi yang menangisi kematian putranya, sang suami justru menelepon dengan penuh amarah. Dia menuduh sang anak telah melukai selingkuhannya dan menuntut bocah yang telah tiada itu segera pulang untuk meminta maaf.
Sampul Novel Minggu-minggu Sebelum Pernikahanku, Tunanganku Hanya Melupakanku
8.6
Menjelang hari pernikahan, Bima Aditama berpura-pura amnesia pasca-cedera demi mendekati Clara Vania. Kirana yang tidak sengaja mendengar obrolan licik Bima dengan rekan-rekannya akhirnya mengetahui pengkhianatan kejam tersebut. Meski terluka karena Bima lebih mementingkan Clara saat kecelakaan, Kirana tidak tinggal diam. Menolak menjadi korban dari pria yang tega memotong dukungannya, ia menyusun rencana matang. Memakai nama Kirana Adelia, ia siap membuang cincinnya dan pergi menghilang.
Sampul Novel Kekasih yang Hilang
9.4
Anya, seorang siswi SMA polos, dituduh berselingkuh dengan gurunya, Pak Jamal. Untuk memulihkan nama baiknya, Renata menjodohkan Anya dengan Bobby, sepupunya, dalam sebuah hubungan palsu. Sandiwara pacaran ini bahkan berlanjut hingga jenjang pertunangan guna membungkam rumor. Sayangnya, konflik pecah saat perceraian Pak Jamal melibatkan Anya, sementara Bobby memilih menikahi Lila. Meski akhirnya mereka harus berpisah, bayang-bayang Bobby tetap melekat erat di ingatan Anya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua, Luka Terakhir
9.3
Niat baik berujung petaka. Usai membelikan teh susu pesanan rekan kerja yang hamil, protagonis dituduh sengaja menggugurkan kandungan tersebut. Fitnah di rumah sakit ini memicu kemarahan keluarga korban yang memukulinya dan menuntut ganti rugi dua miliar rupiah. Demi keadilan, ia melaporkan kasus ini ke polisi dan bersiap menuntut balik. Namun, sebelum hukum bertindak, ia tewas mengenaskan setelah didorong oleh ibu mertua korban hingga dilindas truk.
Sampul Novel Missing You Like Crazy
8.0
Kehidupan indah Rania hancur setelah Adipati, sang suami, hilang dalam kecelakaan pesawat tragis. Di tengah kesedihan mendalam dan kondisi mengandung, secercah harapan muncul beberapa bulan kemudian. Rania tak sengaja melihat pria yang sangat menyerupai Adi sedang bersama perempuan lain. Kini, ia dilingkupi tanda tanya besar: apakah sosok misterius itu benar suaminya yang berhasil bertahan hidup, atau sekadar orang asing berwajah sama?
Sampul Novel Sekretaris Pengkhianat
9.1
Dituduh tidak setia oleh Daniel Lee, Scarlett Chen diusir dalam kondisi mengandung. Sebagai bos besar berdarah dingin dengan latar belakang mafia, Daniel sangat membenci pengkhianatan. Lima tahun kemudian, Scarlett kembali memakai identitas lain demi menuntut keadilan. Akankah momen reuni ini menjadi pembalasan dendam yang sempurna, atau justru menyeret mereka berdua kembali ke dalam pusaran obsesi kelam yang tak berujung?