APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah

12 Wasiat Dari Ayah

Dira menjalani hidup yang berat bersama ibunya, seorang wanita penghibur dengan gangguan mental. Hubungan toksik itu memicu kebencian mendalam, membuat Dira merindukan ayahnya yang lama pergi. Saat kabar kematian sang ayah tiba, ia justru mendapati fakta pilu bahwa mereka tidak sedarah. Kini, berbekal buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menyelesaikan misi terakhirnya. Akankah petunjuk ini memulihkan hubungannya dengan sang ibu, atau malah membuka tabir misteri baru?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Assalamualaikum," teriakku dengan lelah sembari memutar pedal pintu yang ternyata tidak terkunci.

Aku masuk ke dalam rumah seperti biasanya, tanpa balasan salam, apa lagi senyuman hangat oleh ibu seperti teman sebayaku setelah mereka pulang sekolah.

Tidak ada yang spesial dari rumah ini, selain bau alkohol yang menyeruak hingga ke seluruh penjuru rumah. Aku masuk lebih dalam dan duduk menghempaskan diri pada sofa yang sudah tidak layak untuk diduduki.

Kemudian Bola mataku tidak sengaja terfokus pada pintu kamar yang tertutup, air mataku tidak terasa menetes ... mengambil napas kasar lalu dengan cepat menghapusnya.

Perasaan kecewa selalu hinggap di benakku yang terkurung pedih tidak dapat tersalurkan, aku benci ibu ... aku benci dirinya ... aku benci hidupnya.

Andai saja aku bisa memilih waktu itu, pasti akan kupilih hidup bersama ayah bukan hidup bersama wanita kotor seperti ibu.

Pelupuk mataku terpejam mengasihani diri sendiri, menangis dalam diam sambil menahan sakitnya hati karena baru saja diejek oleh temanku yang mengatakan IBUKU ADALAH PELACUR!!! Aku tidak bisa berbuat apa-apa atas perkataan mereka.

Karena pada nyatanya ibuku memang wanita kotor yang melayani orang-orang bodoh dan culas!

Aku benci semuanya, aku benci sekolah dan aku benci rumah yang menurut mereka rumah adalah tempat pulang, tetapi ... bagiku rumah adalah tempat sampah rusak yang harus segera dibakar.

Emosiku semakin naik, setelah mendengar suara mendesah dari balik kamar. Pelupuk mata yang tadi terpejam kini reflek terbuka menatap pintu itu dengan tajam.

"Sialan! Bukannya berubah malah makin menjadi," ujarku sambil menahan napas dendam. Baru saja tadi pagi ibu berjanji padaku untuk tidak melayani warga atau tetangga terdekat kami, sekarang malah mendesah keenakan di siang bolong begini!

Suara ibu semakin menjadi, aku yang panik karena takut terdengar dari luar dan malah menimbulkan masalah lagi seperti kemarin. Langsung beranjak menghampiri pintu mengetuknya kuat. "Buk ... Buk ... ini Dira, Buk. Tolong buka pintunya," panggilanku yang tiba-tiba terpotong setelah melihat pintu kamarku malah terbuka.

Alisku menaut, bola mataku membulat menatap seorang pria bertelanjang dada dan perut yang buncit baru saja keluar dari kamarku.

"Eh ... Neng Dira udah pulang, om tunggu dari tadi di dalam kamar loh ...." Wajahnya tersenyum mengeluarkan gigi yang berwarna kuning, tubuhnya tambun dengan rambut acak keriting dan berkeringat.

Aku bergidik ngeri menatapnya dari depan pintu yang sedari tadi tidak terbuka ... tubuhku terasa kaku dan lidahku kelu padahal aku ingin sekali teriak sekencang mungkin setiap tapak kakinya melangkah menghampiriku.

Tubuhku gemetar hebat saat pria itu mulai menyentuhku dan tangannya mulai masuk secara perlahan ke dalam rok berwarna abu-abu yang saat ini kukenakan.

Lidahnya menjulur, air liurnyaa mulai berjatuhan mengenai wajahku. Jantungku berdegup kencang ... aku berusaha sekuat mungkin melawan rasa takut agar lidahku tidak kelu.

"I-i-i-buuuuu ...," teriakku dengan menggedor pintu sangat kencang. "I-i-i-ibuuuuu ...," teriakku lagii.

Namun, semakin aku berteriak semakin pria itu mengulum bibirku dan tubuhku yang kecil kini terjatuh dengan posisi di bawah tubuh pria gila ini, diri ini mulai kesusahan untuk berteriak sebab mulutku sudah sepenuhnya di dalam mulutnya, aku pun juga kesusahan untuk melawan, tubuhnya sangat berat ... aromanya seperti got sangat menjijikkan.

Aku menangis pasrah menatap pintu, sambil berharap ibu akan mengasihaniku. Air mataku menetes deras, kancing bajuku mulai satu persatu pria itu membukanya.

Dan sekarang ... baju seragam yang kukenakan lepas sudah, ia melempar baju itu tepat di samping wajahku.

Tek!! Suara pisau kater yang jatuh bersamaan dengan baju yang dilempar kuat di depan mata.

Dengan cepat aku mengambilnya, lalu ....

Crakk!!!!

Goresan panjang kubuat di wajah pria jelek itu, ia reflek menjauhiku mengerang kesakitan menutupi wajahnya. Aku segera bangkit dan berlari menjauh darinya ....

"Sialan!" pria itu mengumpat sambil menggetarkan gigi dan memasang mimik wajah yang begitu menyeramkan. Ia menghusap darah yang menetes dari wajahnya lalu melihat telapak tangannya yang sudah dipenuhi oleh darah.

"Cih! Cari mati kau rupanya ...." Ia menatapku tajam, kemudian berlari menghampiriku.

Aku pun juga berlari ke arah luar, berteriak meminta pertolongan. "Tolong ... tolong," teriakku sekencang mungkin dan tubuh pria itu berhenti di balik pintu lalu menutupnya.

Aku menangis, meraung dan tersungkur di halaman rumah. Masih kutatap ke arah dalam yang sama sekali ibu tidak keluar dari sana untuk sekedar mengkhawatirkan keadaanku sedikit saja ....

Tiba-tiba, entah dari mana datangnya seorang pria paruh baya memakai kemeja batik menutup tubuhku dengan kain jarik yang ia bawa.

Pria itu ketua RT di desaku dengan tatapan ramah ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ndok ... ada apa?"

Tubuhku masih gemetar, lidahku sangat kelu untuk menjelaskan, tangisku tersengal terdengar pecah.

"P-pak ... t-tolonng aku, bawa warga ke rumahku dan bakarlah rumah ini! Ada banyak sampah di dalamnya!" ujarku yang masih gemetar.

Pak RT hanya mengangguk mengiyakan, tidak lama setelah ia menghubungi seseorang datang banyak warga mengerumuni rumahku.

Terlihat banyak orang yang mencebik melihat ke arahku, ntah apa yang mereka pikirkan tentangku. Tetapi wajah itu menggambarkan penuh kejijikan

"Silahkan, Pak ...." Aku mengangguk mempersilahkan.

Seluruh warga berkumpul menimpuki kaca rumahku dengan batu. "Keluarlah! Sarni! Keluarlah! Atau kami bakar rumah ini," teriak salah satu warga memanggil nama ibu dan mengancamnya.

Kemudian ibu keluar hanya menggunakan sarung yang ia pakai sebagai kemben menutupi dada, rambutnya masih acak bak tidak kenal malu dan tidak lagi takut oleh warga sekitar.

"Ada apa?" tanya ibu wajahnya datar, tetapi bola matanya tajam menyorot ke arahku.

"Pergilah dari sini jangan jadi tulah dan kesialan di desa ini!" teriak warga lain menimpali.

"Aku?" Alis ibu menaut seolah dibuat bingung, "Aku tidak melakukan apa pun?!" jawab ibu berkelit.

Aku menggeleng sambil menangis, semua warga kini balik menatapku tajam.

"Ohh ... anak itu, dia habis kupukuli karena sudah lancang menjual diri pada temanku. Kupukuli habis-habisan ... aku tidak mau ia salah melangkah sepertiku dulu ...." Ibu menyeringai lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Lalu apa aku salah mengajarkan anakku, agar tidak salah melangkah?" tanya ibu tersenyum manis.

Aku menggeleng lagi, tubuhku merapat pada pak RT. "Pak, Buk ... tolong periksa rumah kami," jawabku pelan.

Pak RT mengangguk dan mempersilakan beberapa warganya untuk masuk.

Beberapa menit mereka masuk lalu kembali lagi, "Tidak ada apa-apa di dalam, Pak. Hanya ada bau alkohol yang menyeruak di dalam sana."

Ibu menyeringai puas. "Anak itu sudah mencoba mabuk-mabukkan semalam, Pak! Jadi wajar dong kuhajar dia habis-habisaan!" ucap ibu yang sudah lihai dalam mengarang cerita.

Semua warga menggeleng menatapku penuh dengan kebencian.

"Ibu sama anak ... sama aja!"

"Wajar sih keturunan, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya!"

"Ibunya mau berubah, malah sekarang anaknya yang berulah!"

Begitulah rentetan kata-kata yang mereka ucapkan ke arahku.

Kemudian pak RT menepuk bahuku berkali-kali. "Ndok ... turutilah ibumu, dia menghajarmu karena ingin dirimu menjadi yang lebih baik lagi. Pesan bapak ... jangan lakukan hal yang sama lagi yaa, Ndok ...."

Sekarang pria itu menghusap rambutku lalu pergi bersamaan dengan perginya para warga meninggalkan aku sendiri yang masih menunduk dan menangis, tidak lagi sanggup melihat wajah perempuan jahanam di hadapanku.

Plak!!

Tamparan kuat melayang di wajahku, "Kau bodoh!" umpatnya, matanya melotot hampir melompat keluar seperti di film zombie.

Lalu mencengkram tanganku kuat, ditariknya aku untuk masuk ke dalam. Aku menolak untuk masuk, meski aku tahu pria bejat itu pasti sudah melarikan diri lewat pintu belakang. Tetapi, rasanya ... tubuh ini sudah enggan untuk masuk.

"Aku ingin ke rumah ayah ...," ujarku yang entah keberapa kali aku mengucap ingin ke rumah ayah.

Ibu tersenyum miring seketika, "Ck! Kamu lupa? Ayahmu sudah nggak menemuimu 12 tahun lamanya! Dia tidak lagi peduli padamu, Dira!" bentak ibu wajahnya merah padam sangat menakutkan.

"Aku nggak peduli, setidaknya aku nggak hidup bersama ibu sepertimu!" teriakku tidak kalah keras.

"Seperti apa maksutmu?!" tanyanya dengan wajah yang semakin menyeramkan. "Ibu yang kamu maksut kotor begini juga bisa menyekolahkanmu hingga kau SMA, Dira! Mana ayahmu yang selalu kau puja-puja dan kau sebut? Tidak ada kan?!"

Aku terdiam ....

Benar perkataan itu, aku juga ikut menikmati hasil dari jerih payah keharaman ibu.

Di saat kami saling diam, tidak lama pria paruh baya yang samar kumengingatnya datang menemui kami.

"Assalamualaikum, Sarni ...," panggilnya.

Lalu aku dan ibu menoleh secara bersamaan memandang nya. "Walaikumsalam," jawabku yang masih memandang wajahnya untuk memastikan siapa dirinya.

"Mbak ... aku datang kemari memberi tahu jika Bang Hadi meninggal jam 10 siang tadi akan dimakamkan secepatnya hanya menunggu Dira dan Mba Sarni lagi."

Aku ternganga berapa detik tidak percaya yang pria itu katakan adalah nama ayahku, bagiku semuanya terlalu mendadak. Aku belum siap untuk mendengar kabar itu ... bahkan rindu ingin bertemu pun belum juga terkabulkan, malah sudah tertinggal lagi untuk kedua kalinya ....

"Hargh!"

Ibu menarik napasnya kasar lalu ia tertawa sebentar. "Dua belas tahun nggak memberi kabar, sekarang kebetulan banget baru aja lelaki itu diomongin. Sudahlah ... aku nggak sempat untuk menemuinya, Jika Dira mau ajaklah dia ...," ujar Ibu sembari melangkah mengarah masuk ke dalam rumah meninggalkan kami berdua di depan halaman rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta dan Keluarga
8.2
Dalam novel modern Antara Cinta dan Keluarga, kedatangan kakak sepupu pacar yang baru bercerai mengacaukan segalanya. Sambil membawa anak berusia lima tahun dalam kondisi hamil besar, wanita itu menumpang tinggal dan memperlakukan kekasih protagonis seolah miliknya sendiri. Ketegangan memuncak di sebuah acara keluarga ketika anak tersebut menyiramkan minuman dan berteriak menuduh protagonis telah merebut ayahnya.
Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Saat sedang hamil, aku harus menghadapi kenyataan mengerikan. Selama tiga tahun ini, Liam Barnes yang merupakan kekasihku sendiri, membiarkan kembarannya, Lucas, meniduriku. Pengkhianatan kejam ini dilakukan Liam sebagai bentuk balas dendam demi cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, reaksi berbeda ditunjukkan Lucas saat aku mengonfrontasinya. Di hadapanku, ia justru berlutut khidmat, mencium kakiku, dan bersumpah bahwa kesetiaannya kini sepenuhnya hanya milikku.
Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Panggilan polisi seketika menghancurkan hidup Emily yang damai. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jaka Guntur, kekasihnya, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah badai emosi tersebut, sebuah ketidaksengajaan membawa Emily ke dalam hubungan satu malam bersama Jacob, paman dari Jaka. Kini, ia terjebak di tengah konflik rumit dan dilema asmara antara sang mantan kekasih dengan pria berkuasa yang merupakan paman mantannya itu.
Sampul Novel Dimadu Saat Koma
9.0
Terbangun dari koma pasca-melahirkan, Inara harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya telah berpoligami dan anaknya sendiri bersikap dingin. Di tengah rasa sakit akibat pengkhianatan tersebut, Feri, dokter sekaligus mantan kekasihnya, datang menawarkan kenyamanan. Inara yang terluka akhirnya terjerat dalam hubungan terlarang sebagai wujud balas dendam. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang hancur atau menyudahinya demi harga diri.
Sampul Novel Gadis Bangsawan
8.6
Ulang tahun ke-17 Amore Cardozo Pienza berubah menjadi mimpi buruk saat seorang wanita bergaun mewah mempermalukannya di depan umum. Amore diejek sebagai anak tiri manja yang hanya bisa menggambar bebek aneh, memicu tawa sang ayah kandung dan para tamu. Namun, dengan ketenangan luar biasa, Amore membalikkan keadaan. Lewat satu pernyataan tajam, ia membungkam semua hinaan sekaligus membongkar rahasia gelap ibu tirinya yang ternyata seorang psikopat berbahaya.
Sampul Novel Gara-Gara Taruhan
7.9
Tekanan besar melanda delapan pria lajang rupawan saat orang tua mereka menuntut pernikahan segera. Tanpa kekasih dan dikejar tenggat waktu kawin paksa yang sepihak, mereka harus bergerak cepat. Sebagian mulai berjuang memburu cinta sejati dalam waktu singkat, sementara yang lain menyusun taktik cerdik demi lolos dari perjodohan. Saksikan keseruan perjuangan unik kedelapan pria ini dalam menghadapi kemelut drama kehidupan mereka.