APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah

12 Wasiat Dari Ayah

Dira menjalani hidup yang berat bersama ibunya, seorang wanita penghibur dengan gangguan mental. Hubungan toksik itu memicu kebencian mendalam, membuat Dira merindukan ayahnya yang lama pergi. Saat kabar kematian sang ayah tiba, ia justru mendapati fakta pilu bahwa mereka tidak sedarah. Kini, berbekal buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menyelesaikan misi terakhirnya. Akankah petunjuk ini memulihkan hubungannya dengan sang ibu, atau malah membuka tabir misteri baru?
Bab
Bagikan

Bab 2

Lampung, 08 Mei 2023.

"Bu, ibu yakin nggak mau dateng ke pemakaman ayah?" tanyaku pada wanita yang begitu sangat menjijikkan bagi hidupku.

Ibu menoleh ke arahku, memandangku tajam penuh kebencian lalu dirinya secara tiba-tiba tersenyum. "Untuk apa? Setelah dia ngebuat aku kayak gini, aku masih sudi untuk hadir kembali dalam hidupnya, Cih! Dasar pria brengsek! Jangan harap, itu nggak akan pernah."

Aku menghela napas, lagi-lagi hati ini terlalu sakit setiap kali ibu mengumpat dengan sebutan kotor tentang ayah. Sekarang aku hanya bisa pasrah, meski sangat berharap ibu menemui ayah untuk terakhir kalinya ... agar aku bisa melihat keluargaku berkumpul kembali walau dalam keadaan terbawah sekali pun.

Namun, sudahlah ... harapan yang selalu aku bayangkan kini pupus. Ternyata sampai kapan pun keluargaku tidak akan bisa bersatu kembali.

"Dira, bisa pergi sekarang?" panggil pria tadi yang ternyata adik dari ayah. Aku langsung mengangguk ke arahnya.

Kemudian kami pergi berdua menggunakan mobil sedan berwarna putih, hampir sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sampai akhirnya paman memandangku dengan tatapan senyum yang diukir paksa olehnya. "Gimana kabar ibumu, Ra?" tanya paman membuka obrolan.

Aku menoleh ke arahnya menjawab seadanya lalu tersenyum. "Baik." Hanya itulah yang bisa kuucapkan, tidak mungkin kuceritakan semua keadaanku selama ini padanya.

Walau sebenarnya ibu adalah sosok yang sangat menakutkan bagiku, mental ibu seperti terganggu aku menyadari saat aku menginjak sekolah menengah pertama. Ibu pernah terlihat menangis lalu tiba-tiba bisa dengan cepat tertawa! Terkadang juga ibu menghadap pada cermin, berbicara sendiri lalu menangis dan histeris dengan sendirinya di dalam kamar.

Ibu tidak pernah mandi, dia tidak peduli pada penampilannya, kadang pula bau badan ibu sampai menyeruak menusuk hidungku. Namun, ntah mengapa ibu masih saja tetap laku menjual diri di setiap harinya ... sampai sekarang perilaku itu tidak pernah ada yang berubah. Membuatku merasa mual setiap saat membayangkan aroma rumah itu, jika sudah bercampur aroma tubuh ibu yang bau, aroma alkohol dan bau anyir yang begitu amis entah berasal dari mana.

"Ra? Jangan ngelamun!" ujar paman membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk ke arahnya, sungguh ... aku ingin bertanya mengapa ayah sudah dua belas tahun lebih tidak menemuiku? Namun, aku lebih memilih untuk diam. Takut jika aku menyakiti hati paman padahal ini pertama kalinya kami bertemu kembali di saat aku telah dewasa.

Sekitar 30 menitan lamanya, akhirnya mobil paman berhenti di depan halaman rumah yang begitu sangat kurindukan.

Aku turun tanpa perintah, bola mataku mengedar pada rumah yang sama sekali tidak ada yang berubah masih sama seperti dua belas tahun silam. Rumah yang dulu menjadi rumah ternyaman bersama seorang lelaki yang rela bermain kejar-kejaran bersamaku meski tubuhnya sangat lelah, karena telah bekerja seharian.

Langkah ini semakin lemas rasanya saat melihat pada semua orang yang memakai pakaian serba hitam, membuatku tersadar jika ayah sudah tidak lagi bernyawa di dalam sana.

Paman menggandeng lenganku, sepertinya dia paham perasaanku saat ini. "Ayuk, Masuk." Aku mengangguk mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Semua orang menatapku dengan raut wajah kesedihan, aku berjalan pelan berusaha menembus keramaian.

"Tolong beri ruang untuk anaknya, agar bisa mencium ayahnya." Suara paman pada orang-orang yang hadir membacakan doa.

Semua orang menoleh ke arahku lalu memberi ruang agar aku bisa menemui ayah.

Sekarang ... terlihat jelas, lelaki yang dulu tubuhnya tegap dan kuat saat menggendongku. Kini terbaring sangat kurus, pucat dan kaku di atas ranjang.

Kemudian tangisanku pecah, aku merasa Tuhan sedang mempermainkan takdirku, aku merasa Tuhan tidak pernah sedikit saja memberiku waktu untuk merasakan kebahagiaan sekali lagi bersama ayah ... ibu dan aku, lengkap seperti dulu.

Aku memeluk ayah erat lalu menciumnya penuh kerinduan. Aku sangat rindu pada lelaki yang selalu mencintaiku sepenuh hatinya.

Kupandangi wajah itu, wajahnya tersenyum sangat tenang tanpa beban.

Sedangkan aku ... hatiku begitu hancur saat aku ingin mencium ayah, paman berbisik di telinga kananku. "Sayang ... air matanya jangan sampai netes kena ayah ya, kasian ayah."

Aku melemah, seluruh anggota keluarga ayah menguatkanku. Kini kami berjalan mengantarkan ayah pada peristirahatan terakhirnya.

***

Tanah masih basah itu menutupi jiwa yang sangat tulus mencintaiku dan raga yang selalu tidak kenal lelah untuk memelukku setiap waktu. Aku terkehening sekarang, menatap lelaki yang aku rindukan kini semakin jauh ... kini tidak bisa lagi aku berandai untuk memeluknya meski hanya sedetik.

Kenapa Tuhan sekejam ini padaku? Bukan pertemuan ini yang aku inginkan! Aku hanya ingin berbahagia dengannya sekali saja, tidak boleh? Hanya ingin mengulang semua yang dulu pernah aku dapatkan, mengulang kisah lalu yang dulu pernah aku rasakan ... mengapa semua itu terasa begitu sulit bagimu, Tuhan? Bahkan sekarang Tuhan seperti menghilangkan ingatanku pada ritme suara ayah yang pernah tersimpan jelas di memoriku.

Melihat tubuh ayah hampir hilang dari pandangan, hatiku semakin sakit rasanya. Hingga tak sadar aku meraung kuat. "Ayah ... ayah!" teriakku histeris.

Semua terenyuh menatapku, tidak ada yang bisa menenangkan diriku termasuk paman. Akhirnya paman menepuk bahuku. "Ra ... ikhlas, ayahmu sudah sehat sekarang. Nanti akan paman ceritakan semuanya padamu. Yuk sekarang kita pulang."

Kaki ini masih belum siap untuk melangkah meninggalkan ayah, masih kutaburi bunga sedikit demi sedikit sebagai pengobat rindu yang belum sepenuhnya terobati.

Seandainya ayah tahu aku selalu iri pada teman-temanku, pada mereka yang hidupnya ditemani oleh sosok ayah. Dan seandainya ayah tahu ... ternyata perpisahannya dengan ibu merubah semua rasa kehidupan menjadi kesakitan dan derita.

Bisakah aku menyebut ayah sekarang tidak menyanyangiku lagi seperti ibu? Buktinya ... di saat aku kehilangan tempat untuk bertumpu, di saat aku sudah tidak tahu harus kemana dan tujuanku satu-satunya hanyalah pulang kepelukan ayah. Ia malah pergi menjauh ... tanpa memberi pesan lebih dulu padaku, tentang bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupan selanjutnya? Tentang bagaimana seharusnya aku mengejar mimpi dan tentang semua perjalanan dunia yang penuh air mata ini.

Sekarang ... suara langkah orang-orang mulai pergi, paman menuntunku untuk pulang.

Selamat tinggal ayah, selamat jalan cintaku ... selamat jalan pahlawanku ... tunggu aku disana. Nanti akan kuceritakan, cerita yang belum sempat aku ceritakan bagaimana hidup tanpa sosok dirimu. Nanti ... di keabadian.

Air mataku terus menetes mengiringi langkahku. Sekarang ... aku hanya bisa berharap, semua bisa terlewati dengan mudah dan penuh kebahagiaan.

Di saat mataku basah dengan linangan air mata, bola mataku terfokus pada wanita yang berdiri di depan rumah ayah memakai dress berwarna merah dengan riasan wajah yang masih on fresh. Tidak nampak sama sekali kesedihan dari raut wajahnya.

Sebegitu hilangkah rasa semua di hati ibu pada ayah? Aku yang melihatnya saja seperti sakit hati. Apa lagi ayah yang melihat wanita yang pernah dicintainya selama puluhan tahun berlaga seperti orang biasa di pemakamannya.

Lalu untuk apa ibu datang ke rumah ayah? Apa ibu menyesali semua perbuatannya dan ingin menemui ayah?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)
8.9
Alena awalnya mengira pernikahan dengan Andrio akan berjalan mulus dan selalu bahagia. Namun kenyataan berkata lain, biduk rumah tangga mereka justru diterpa berbagai cobaan berat dan konflik rumit. Di tengah badai ujian yang terus mengguncang komitmen mereka, Alena memilih bertahan dan berjuang demi sang suami. Kisah romantis yang menyentuh hati ini menjadi saksi perjuangan cinta Alena untuk memastikan bahwa Andrio tetap menjadi miliknya selamanya.
Sampul Novel Bukan Mauku Menjomlo
9.4
Di usianya yang melewati kepala tiga, Hasmi Azzahra kerap menjadi sasaran gunjingan tetangga karena masih melajang. Berprofesi sebagai perawat desa, ia tak ambil pusing dengan cap tidak laku yang disematkan padanya. Bagi Hasmi, pernikahan bukanlah hal yang bisa terburu-buru demi status sosial belaka, melainkan komitmen seumur hidup yang sakral. Walau mendambakan kehadiran pendamping hidup, ia memilih sabar menanti sosok yang tepat di tengah derasnya tekanan lingkungan sekitar.
Sampul Novel Mr. G itu Bos-nya!
9.6
Tepat pada hari istimewa mereka, Briana Jeany dikhianati oleh sang kekasih, Alex. Di tengah amarah yang membara, ia nekat mendekati pria asing berinisial Mr. G dan membayarnya karena dikira pria sewaan. Sialnya, sosok tersebut ternyata adalah bos barunya yang kini dendam karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Ketika sang bos mulai membalas dendam hingga memicu benih cinta, Alex justru datang lagi membawa janji pernikahan. Briana pun terjebak di antara masa lalu dan bosnya.
Sampul Novel Pria Yang Disimpan
9.7
Nadia menderita dalam pernikahan dengan Robin, yang merahasiakan penyakitnya hingga Nadia terus disalahkan oleh mertua. Sementara itu, Riska merasa kesepian karena Alvin, suaminya yang berprofesi sebagai kapten kapal, jarang pulang ke rumah, ditambah tekanan dari ibu mertuanya yang terus membayangi. Di tengah badai konflik ini, hadir Arfan, sosok pria penuh trauma yang perlahan mulai membuka hati. Takdir pun kini mempertemukan dan menguji kesetiaan serta cinta mereka.
Sampul Novel RAHASIA SANG PLAYBOY
9.1
Kehidupan bebas seorang miliarder ternama yang gemar bergonta-ganti pasangan seketika terusik. Ia yang awalnya sangat skeptis terhadap komitmen, kini dihadapkan pada sosok wanita unik yang berhasil memikat hatinya. Pertemuan tak terduga ini memicu romansa yang begitu membara. Kini, sang playboy terjebak di persimpangan jalan yang sulit. Ia harus menentukan pilihan antara mempertahankan gaya hidupnya yang liar atau berkomitmen penuh pada cinta sejatinya.
Sampul Novel Wedding Doll
8.9
Seorang gadis dengan berani mendatangi Allard dan langsung memintanya untuk menikah. Bukannya menolak, pria itu justru merasa tertarik. Dengan senyum tipis di wajahnya, Allard memberikan sebuah syarat yang menantang. Ia menuntut sang gadis untuk melayaninya sepanjang malam. Kesepakatan pernikahan itu baru akan dipertimbangkan jika Allard merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Hubungan penuh syarat ini pun dimulai dengan penuh ketegangan.