APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ZORA Pupus Sebelum Mekar

ZORA Pupus Sebelum Mekar

Ryan memohon agar Nisa mau menyusui bayi perempuan mereka yang baru lahir. Namun, Nisa menolak keras karena sangat membenci anak itu, bahkan sejak dalam kandungan ia sempat berniat melenyapkannya. Meski Ryan terus membujuk demi kesehatan sang buah hati, kebencian Nisa tak tergoyahkan. Bagi Nisa, bayi bernama Zohrah itu tidak pernah diinginkan, walaupun Ryan meminta agar amarah istrinya tidak ditumpahkan pada putri kecil mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab.3 Bayi Perempuan

“Kalian bicarakan baik-baik. Ibu tidak mau ada perpisahan.” Nasihat Sari, ibu mertuanya terngiang di telinga Nisa.

“Bapak tidak ingin kalian berpisah. Ryan dan anak kalian butuh kamu, Nis. Bapak ingin kalian tetap bersama.” Permintaan Adji, bapak mertuanya juga mengusik.

Nisa memejamkan mata. Mengingat kedua orang tua Ryan memohon, sungguh tak sampai

hati bila dia mengingkari. Kedua orang tua Ryan terlalu baik untuk disakiti.

Cukuplah sudah mereka menderita karena perbuatan yang dilakukan olehnya dan Ryan. Yang  membuatnya hamil di luar nikah.

Mengusir pikiran penat,  Nisa menyalakan televisi. Jarinya bergerak lincah di atas tombol remote kontrol. Tidak ada acara yang menarik. Sampai akhirnya jarinya berhenti ketika melihat berita kriminal yang ditayangkan salah satu stasiun televisi.

Seorang pemilik kafe dan restoran ternama di Bali menjadi korban perampokan. Tewas di

rumahnya. Diduga pelaku adalah keluarga dekat korban.

Peristiwa nahas itu terjadi tiga hari lalu. Sementara polisi menetapkan pelaku adalah

sepasang suami istri yang hingga detik itu belum diketahui keberadaannya.

Sepasang suami istri yang tak lain adalah anak dan menantu korban.

Kedua tersangka kini menjadi buronan. Televisi menayangkan foto kedua pelaku. Seorang pria muda, usianya sama dengan Nisa. Dua puluh tiga tahun. Dan istrinya dua puluh tahun yang tengah hamil besar.

“Nisa, Ryan tidak ke sini?” Sari bertanya setelah membuka pintu.

Nisa terlonjak. Dia menoleh ke arah pintu, di mana Sari masih berdiri. Sepuluh menit yang lalu wanita paruh baya itu pamit ke ruang bayi. Berniat membawa Zohrah.

Sebab Nisa sudah bersedia memberikan ASI untuk bayi perempuannya.

Namun, raut kecewa tersirat di wajah Sari. Mertuanya datang seorang diri. Tidak ada bayi mungil dalam  gendongan. Di mana Zohrah?

“Perawat bilang, Ryan membawa Zohrah ke luar. Ibu kira dia ke sini lagi.” Sari menarik kursi di sisi brankar. Duduk dan mengelus lengan Nisa.

“Aku sudah sangat menyinggung perasaannya. Mana mungkin dia mau ketemu aku lagi, Bu?”

“Itu hanya emosi sesaat. Nanti pasti Ryan datang lagi.”

“Ibu sudah coba telepon Ryan?”

“Sudah. Tapi tidak diangkat. Ke mana dia membawa Zohrah?” Sari semakin panik.

“Coba aku yang telepon. Tolong ambilkan, Bu.” Nisa menunjuk ponsel di atas nakas. Panggilan pertama diabaikan. Panggilan kedua tidak diangkat. Panggilan ketiga ditolak. Panggilan keempat....

“Kenapa telepon?” Ryan berdiri di ambang pintu. “Mau bilang selamat tinggal?”

“Mana Zohrah?” tanya Sari cemas.

“Ada di tempat yang aman.” Ryan berjalan menuju lemari. Dia mengeluarkan tas dan mengambil sebuah baju bayi, kain bedong dan tisu basah.

Nisa mengamati dari atas brankar. Mungkin Zohrah pipis makanya Ryan berniat mengganti pakaian bayi mereka. Nisa tersenyum. Namun saat mereka bertemu pandang, senyum itu lenyap.

Ada yang berbeda dari tatapan Ryan. Entah apa. Namun Nisa merasa kehilangan. Amat sesak dan memilukan.

Pria yang berdiri di depan bukanlah Ryan yang Nisa kenal. Tidak ada senyum. Tidak pula perhatian apalagi kasih sayang. Nisa kehilangan itu dari sosok Ryan.

“Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Aku tidak akan menahannya. Bilang padaku kapan kamu mau pulang, nanti aku pesankan tiket."

Menusuk dada hingga tembus ke jantung. Kata-kata Ryan terasa menohok. Mengapa di saat Nisa membuka hati, justru pintu itu tertutup untuknya?

“Di mana Zohrah? Aku ingin menyusui dia.”

Seringai pongah memenuhi wajah Ryan. Dua jam yang lalu dia memohon. Berharap istrinya

akan luluh ketika melihat bayi mereka. Namun hasilnya nihil, bukan?

Itu dua jam yang lalu, sebelum dia bertemu Lisa. Dan kini, dia tak ingin peduli dengan istrinya. Meski di hati terasa tercabik. Karena sesungguhnya  tak mampu menyakiti wanita yang sangat dicintai.

“Tidak perlu. Aku bisa membelikan dia susu formula.”

Satu bulir air mata lolos dari sudut mata wanita di depannya. Ryan ingin mendekat, ingin menghapusnya. Namun diurungkan langkahnya. Dia memilih keluar. Berjalan terburu, tak menoleh. Bahkan saat Sari memanggil. Di sepanjang koridor dia merutuk diri. Mengutuk tindakan bodohnya. Saat dia menemukan ibu susu untuk Zohrah, mengapa pada saat yang sama Nisa bersedia memberikan ASI untuk bayi

itu?

Ryan sudah membuat kesepakatan dengan Lisa. Wanita muda itu bersedia menjadi ibu susu bagi bayinya selama enam bulan penuh. Dengan imbalan yang tidak sedikit tentu saja. Bukan sekadar membiayai persalinan Lisa. Melainkan juga seluruh biaya hidup Lisa termasuk tempat tinggal.

Lalu dengan mudahnya Nisa berkata ingin menyusui Zohrah? Di mana hati nuraninya tatkala Ryan memohon?  

“Lisa, boleh saya masuk?” Ryan mengetuk pintu di depan ruangan wanita muda itu.

Tentu itu hanya demi formalitas. Nyatanya sebelum Lisa menjawab, Ryan sudah terlebih dulu membuka pintu.

“Kamu kenapa Lisa?” Ryan terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan wanita berambut

panjang itu. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mungkin marah, kecewa, sedih atau entahlah? Ryan bukanlah orang yang pandai membaca raut muka orang lain.

Lisa mendekat. Sementara bayi itu ditinggal di atas brankar dalam keadaan kain bedong dan popok yang terbuka. Bayi itu mengompol tadi, dan Lisa ingin mengganti bajunya. Maka dia meminta Ryan mengambil baju ganti berikut kain bedong yang baru.

Namun sebuah kejutan menampar kenyataan. Dia silau dengan bayaran yang dijanjikan Ryan. Sehingga tidak bertanya sebelumnya tentang jenis kelamin bayi itu.

“Kenapa Anda tidak bilang kalau bayi Anda perempuan?” Lisa menyusut sudut mata yang

berair.

♧♧♧

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benihku Bukan Cintamu
9.4
Aluna Callysta, pengusaha sukses yang kaya raya, tak lagi memercayai cinta setelah dikhianati oleh Elian Dharma. Mantan kekasihnya itu justru memilih menikahi kakak tirinya. Enggan menjalin hubungan emosional namun mendambakan seorang pewaris, Aluna memanfaatkan kekayaannya untuk menggelar sayembara mencari donor pria terbaik. Lewat cara ini, ia berhasil melahirkan dan membesarkan tiga anak tanpa harus membuka hatinya kembali pada pria mana pun.
Sampul Novel Bittersweet
9.0
Arvin Bintang Mahatama dan Hana Farsya Aurina bertetangga sejak kecil. Meski Arvin sangat jahil sedangkan Hana manja tapi dewasa, mereka tak terpisahkan dari TK hingga SMA. Hubungan keduanya kerap diwarnai pertengkaran bagai Tom and Jerry akibat perbedaan sifat. Memasuki masa remaja, persahabatan erat ini diuji oleh tumbuhnya benih-benih cinta. Akankah ikatan platonis mereka mampu bertahan saat perasaan baru mulai mewarnai kisah pahit manis di sekolah?
Sampul Novel Perceraian Ditolak: CEO yang Sombong Tak Mau Biarkan Saya Pergi
8.1
Banyak orang menantikan kabar perceraian Rhett dan Jillian demi kembalinya sang mantan kekasih. Namun, kejutan besar terjadi dalam konferensi pers. Sang CEO justru memamerkan bayi mereka ke publik dan membantah rumor miring tentang rumah tangganya. Rhett menegaskan bahwa pernikahan mereka sangat harmonis dan kian bahagia dengan kehadiran buah hati mereka. Harapan publik untuk melihat pasangan ini berpisah pun akhirnya pupus seketika.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan hidupnya demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menolak perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia rancangan orang tua. Di tengah perselisihan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang perdagangan manusia. Akankah benih cinta akhirnya tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Gadis Desa yang Kecanduan Seksual
8.9
Sebagai seorang petani, hidupku terusik oleh kecanduan seksual berat yang kerap kambuh dan mengacaukan pekerjaan penting di ladang saat musim panen tiba. Demi mengatasi kondisi yang kian menyulitkan ini, aku dan suamiku memutuskan menemui dokter baru yang baru saja bertugas di desa kami. Namun, harapan kami untuk sembuh berubah menjadi kebingungan yang mendalam ketika sang dokter menawarkan metode pengobatan yang benar-benar tidak lazim dan membuatku sangat terkejut.
Sampul Novel Hilangnya Masa Muda
9.7
Safira Ayu Andini harus merelakan masa mudanya demi pernikahan paksa dengan Danu Pratama. Danu, seorang duda satu anak berusia tiga puluh tahun yang bersikap dingin dan ketus, bersedia menikah hanya untuk memenuhi desakan ibunya, Bu Rina. Tanpa adanya rasa cinta di antara mereka, Safira kini terperangkap dalam kehidupan rumah tangga yang penuh tekanan bersama suami yang sama sekali tidak memedulikannya.