APKDock Logo
Sampul Novel You Make Me High

You Make Me High

8.3 / 10.0
Kemandirian bertahun-tahun membuat Bianca bersikap dingin dan skeptis saat didekati Ravindra, miliarder muda yang gigih. Meski terus-menerus ditolak, Ravindra tidak menyerah. Ia justru menyodorkan kesepakatan menggiurkan berupa Black Card untuk membiayai seluruh kebutuhan Bianca, dengan syarat Bianca harus menjadi miliknya. Kini, Bianca dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan prinsip hidupnya atau menyerah pada tawaran materi tersebut.

You Make Me High Bab 1

Bianca meraih ponsel dari atas nakas, melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Matanya melirik pria yang masih tidur di sebelahnya. Lalu tanpa membuang waktu lebih lama dengan tubuh telanjang Bianca beranjak.

Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian membungkus dirinya kembali dengan pakaian ketat yang semalam ia kenakan. Tangannya meraih cek yang terletak di sebelah ponsel lalu memasukkan keduanya ke dalam tas.

"Udah mau pergi?"

Suara serak dari pria yang masih terpejam itu membuat Bianca menoleh. Menjawab hanya dengan gumaman.

"Kapan-kapan lagi, ya?"

"Siapin aja uangnya," jawab Bianca sebelum membuka pintu hotel.

Wanita berparas cantik dengan tubuh sexy itu berjalan santai di lorong menuju lift. Suara sepatu hak yang dia pakai terdengar nyaring karena suasana yang sepi.

Bianca yang semula menunduk mengangkat wajah. Mata tajamnya langsung bertabrakan dengan seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. Keduanya sama-sama berhenti di depan lift.

Pria itu yang menekan tombol lift, lalu tak lama pintu lift terbuka. Bianca berdiri di sudut dengan si pria yang berada di sudut berlawanan.

"Alone?"

Bianca melirik, menemukan tatapan pria itu yang memandangnya secara terang-terangan.

"Hm," jawabnya.

"Mau diantar?"

"No, thanks."

Jelas saja Bianca menolak. Mereka baru pertama kali bertemu. Ia memang sudah terbiasa pergi berdua dengan pria asing, namun, tidak pernah dengan pria yang tidak memberikan uang. Semuanya dalam hidup Bianca memang tentang uang.

Karena ia tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang lain selain lembar kertas berharga itu.

Si pria yang awalnya berada di sudut itu mendekat, membuat Bianca menegakkan tubuh. Was-was.

"Ravindra," kata pria itu.

Bianca menaikkan sebelah alis. Menatap pria yang memperkenalkan diri itu dengan penuh tanya.

"What's your name?"

Orang bilang, sepertiga malam terakhir memang waktu yang magis. Mungkin karena itu kedua insan berbeda gender bisa mengobrol tanpa ragu. Meski sangat ketus tapi Bianca tetap menyebutkan nama.

"Bianca."

"Oke, Bianca." Ravindra menjilat bibir bawahnya. "Bye the way, partner sex mu liar juga."

Bianca tidak menunda untuk menoleh. Sedikit mendongak karena perbedaan tingginya dengan Ravindra.

Ravindra yang ditatap tajam seperti itu menunjuk leher dan pundak Bianca yang terekspos. "Itu merah semua."

Dan Bianca hanya memutar bola matanya. Ternyata hanya karena kissmark Ravindra tahu kalau dirinya telah bercinta. Tadinya wanita itu pikir, Ravindra tahu karena ada kamera yang dipasang dikamar tempatnya tadi.

Bukan tanpa alasan Bianca berpikir seperti itu karena dirinya pernah mendapat customer yang diam-diam menaruh kamera untuk merekam sesi bercinta mereka.

"Jeli juga penglihatan lo," balas Bianca sewot.

Setelah mengatakan itu, pintu lift terbuka. Bianca langsung keluar tanpa mengatakan apapun lagi. Tapi baru dua langkah, tangannya dicekal. Ia menoleh, melihat Ravindra yang juga menatapnya.

"Elo mau apa megang tangan gue?" tanya Bianca ketus.

Sikapnya memang tidak akan pernah ramah pada siapapun. Ia selalu menunjukkan cakar dan taringnya. Tidak peduli seberapa penting pria yang ia layani. Bahkan dengan Sarah, mami di club tempatnya bekerja saja Bianca tidak pernah sopan.

"Minta nomor," kata Ravindra. Pria itu menyerahkan ponsel. "Kali aja aku mau makek kamu."

Semua pria memang sama saja. Mendekati wanita sexy hanya untuk kepuasan nafsu.

"Gue mahal."

Ravindra mengangguk. Uang bukan masalah. Ia bisa memberikan berapa pun yang wanita itu minta.

"Mahalnya seberapa? Mau ditransfer sekarang? Berapa? Seratus juta? Eh, kemahalan ya segitu?"

Bianca mendengus kasar. Sudah biasa diremehkan seperti ini. Ia tidak merasa harga dirinya diinjak-injak. Tapi hatinya tetap merasa kesal karena tubuhnya yang sudah lelah dan mau tidur secepatnya, harus terkendala oleh pria asing yang hanya mampu menyebutkan angka seratus juta untuk dirinya.

Harganya jauh lebih mahal dari itu asal tahu saja. Dia adalah wanita penghibur VVIP yang tidak pernah mengecewakan. Dirinya hanya melayani pria kaya dan juga tampan.

Oke. Ia akui Ravindra memang tampan. Tapi apa pria itu juga kaya? Bianca memindai penampilan si pria. Kemeja merah maroon dan juga celana bahan hitam yang dipakai memang dari brand ternama. Jam tangan seharga ratusan juta dan juga bau parfum yang sangat langka.

Bianca mengangguk. Pria didepannya memang kaya. Maka, wanita itu langsung menyahut benda pipih berwarna hitam. Mengetikkan nomor dan langsung menyimpannya di ponsel Ravindra.

"Seratus juta mah cuma buat jajan cilok." Bianca mengembalikan ponsel milik si kaya. "Buat elo harga gue sepuluh miliar. Boleh chat kalau ada uang, kalau gak ada skip."

Setelah mengatakan itu, Bianca langsung berjalan pergi. Tanpa pamit dan tanpa menoleh. Pria dibelakang memang sayang kalau diabaikan tapi dirinya sudah sangat lelah untuk melakukan flirting.

Ravindra yang memperhatikan Bianca dari belakang tersenyum tipis. Mencium bau ponselnya yang ada sisa parfum Bianca. Dia boleh dibilang gila karena bisa-bisanya dirinya tersenyum dengan hati berdebar karena seorang pelacur.

***

Pukul enam sore Bianca sudah selesai dengan make up dan tatanan rambutnya yang ponytail. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu berdiri dari kursi, mematut dirinya sekali lagi di depan cermin sebelum keluar dan mulai mencari pria kaya.

"Bi, ada yang nyari elo, tuh."

Bianca menoleh. Melihat Sarah yang berdiri di ambang pintu. "Siapa?"

"Katanya sih Ravindra."

Si cantik dengan rambut hitam itu mengernyit. Seperti pernah mendengar nama itu tapi lupa dimana. Bianca memang tidak memiliki ingatan yang bagus. Jadi, sebaiknya ia langsung menemui saja.

Siapa tahu pria yang bernama Ravindra itu kaya tujuh turuan dan sangat loyal.

"Dimana dia?"

"Di depan meja bartender."

Bianca langsung berjalan cantik melewati Sarah begitu saja. Tanpa ada ucapan terima kasih atau yang lainnya. Sarah biasa saja, hanya diam tanpa menegur lagi. Sudah hapal dengan sikap Bianca yang memang kurang ajar.

Malam itu Bianca memakai dress merah yang ketat tanpa lengan. Ia sengaja memamerkan lengan putih dan juga kaki sexy miliknya. Begitu keluar dari lorong gelap semua mata langsung memandangnya. Siulan nakal dan juga namanya yang dipanggil tidak membuat Bianca berhenti untuk menoleh atau tersenyum.

Dia memang sedingin itu. Tapi itulah daya tariknya.

Bianca langsung menuju meja bartender. Mata kucingnya yang tajam bisa melihat seorang pria duduk di kursi tinggi, membelakangi dirinya. Bianca benar-benar tidak ingat siapa pria itu meski rasanya pernah mendengar namanya.

"Ravindra?"

Pria yang dipanggil menoleh. Bianca membelalakkan mata, langsung ingat dengan wajah tampan di depannya.

"Gue kira siapa," kata Bianca lalu duduk di sebelah Ravindra.

"Kamu lupa sama aku?" tanya Ravindra tak percaya. "Baru dua hari lho ini."

Bianca mengedikkan bahu. Jangankan dengan pria dua hari yang lalu, dengan siapa dirinya kemarin bercinta saja Bianca tidak ingat.

"Engga harus kan ya gue inget sama wajah tengil kayak elo," balas Bianca cuek. "Jadi, mau apa nyari gue?"

Ravindra melengos. "Nomor yang kamu kasih itu salah. Makanya aku nyari kesini."

Bianca bergumam, nomor yang ia berikan waktu itu hanya asal. Dia memang tidak pernah memberikan nomor hape pada pria secara langsung. Semua lelaki yang menginginkan dirinya harus melewati Sarah lebih dulu.

"Kok tau gue ada disini?" tanya Bianca heran. "Elo pelanggan club sini?"

Ravindra menggeleng. "Bukan."

Bianca berharap ada kalimat lanjutan dari Ravindra sebagai penjelasan. Karena sekarang Bianca sangat ingin tahu. Tapi sepertinya si pria tidak berniat menjawab lebih banyak. Maka, ya sudah. Bianca bisa apa memangnya?

Ia terlalu malas untuk sekedar memaksa Ravindra menjawab lebih banyak.

"Jadi kesini mau minta nomor asli?"

Ravindra mengangguk. Tujuannya memang itu. Percaya atau tidak, Ravindra merasa stress sejak mencoba menghubungi Bianca tapi nomornya malah tertuju pada abang-abang tukang bakso.

"Engga bakalan gue kasih."

Ravindra mengernyit. Menopang kepalanya dengan tangan di atas meja.

"Kalau dikasih sepuluh miliar masih engga mau ngasih?"

Lanjut Membaca

Daftar Isi You Make Me High

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Dua tahun Ava dan Jay terjebak pernikahan paksa. Saat Jay asyik berselingkuh, Ava membalasnya lewat hubungan rahasia bersama pria kaya terpandang. Walau sama-sama ingin berpisah, perceraian mustahil dilakukan. Akhirnya, Jay mengizinkan Ava menjalin kasih dengan lelaki lain demi menjaga status mereka. Namun, mampukah rahasia besar ini terus tersimpan rapat? Akankah sandiwara pernikahan mereka bertahan selamanya tanpa pernah terbongkar?
Sampul Novel Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu
9.1
Tragedi berdarah di rumah sakit mengubah hidupku selamanya. Saat sebuah pisau terayun, aku berusaha melindungi suamiku, Elvano Wiratama. Namun, ia justru menjadikanku tameng demi menyelamatkan adik juniornya. Tusukan itu merenggut bayi di kandunganku. Di ambang kematian, Elvano malah menurunkan tubuhku dari brankar ICU dan memaksa dokter mendahulukan juniornya yang hanya lecet. Di tengah kemarahan para medis, aku merelakan segalanya. Dengan sisa kekuatan, aku bertekad memutuskan semua ikatan dengannya.
Sampul Novel Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku
8.1
Kehidupan Mariana runtuh akibat pengkhianatan sang suami dan kepergian bayinya. Saat terpuruk, bosnya yang baru menduda memohon agar Mariana bersedia menjadi ibu susu bagi sang anak. Walau sempat bimbang, tanggung jawab baru ini justru menyeretnya ke dalam konflik batin yang rumit. Kedekatan tak terduga pun mulai terjalin, menumbuhkan rasa cinta yang hadir di saat tidak tepat. Mampukah hubungan ini bertahan di tengah bayang-bayang trauma masa lalu dan keadaan yang serba salah?
Sampul Novel Pengantin Pengganti Calon Ipar
9.7
Aliya terpaksa menikahi Argan, pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya, demi menggantikan Alison yang mendadak kabur sebelum pernikahan. Namun, setelah mereka resmi menjadi suami istri, Alison kembali dan bertekad merusak hubungan mereka karena dendam. Meski Argan yang telanjur kecewa memilih setia kepada Aliya, berbagai rintangan terus menguji ikatan pernikahan pengganti ini. Mampukah cinta mereka bertahan dari segala badai yang datang?
Sampul Novel Pernikahan Si Mungil
7.9
Hiram, seorang CEO tampan yang dingin, berencana menceraikan Rachel dalam waktu sebulan setelah dipaksa menjalani perjodohan kuno dari kakek mereka. Ia menganggap Rachel sebagai wanita yang kasar. Di sisi lain, Hiram memiliki masalah gairah terhadap lawan jenis, sementara Rachel selalu dituduh membawa kesialan bagi setiap pria dekatnya. Meski awalnya saling menolak karena perbedaan sifat yang kontras, takdir perlahan menyatukan mereka dalam pernikahan tak terduga.
Sampul Novel WURAKE
8.3
Wurake adalah penganut ilmu hitam yang mengincar janin, bayi, serta ibu hamil dan nifas demi memuaskan dahaga mereka. Berbeda dengan Kuyang, sosok Wurake bisa berupa pria maupun wanita, dengan ancaman nyata yang mengintai siapa saja tanpa memedulikan umur atau gender korban. Kisah misteri berbalut horor fantasi ini merupakan karya fiksi belaka, sehingga jika terdapat kesamaan nama tokoh ataupun lokasi, hal tersebut hanyalah unsur ketidaksengajaan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan