APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Will Never Say Good Bye

Will Never Say Good Bye

Yoan terpaksa melarikan diri demi menghindari rencana jahat ayah tirinya. Pelarian itu mempertemukannya dengan Kenzo, sosok yang kemudian membawa ketenangan dan kebahagiaan baru dalam hidupnya. Sayang, kedamaian tersebut hanya bertahan sesaat. Ketika hubungan mereka menuntut keyakinan yang kokoh, Yoan justru didera keraguan mendalam. Situasi kian pelik saat ia mulai kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri di tengah konflik batin yang hebat.
Bab
Bagikan

Bab 1

BRAK!

Dobrakan pintu menggema. Barra muncul dari balik pintu dengan ekspresi datarnya. Perlahan, laki-laki setengah baya itu mendekat ke arah Yoan, putri angkatnya.

Yoan yang baru saja terduduk di atas kursi terjengit kaget. Gadis itu baru selesai mengganti kebaya yang ia pakai saat wisudanya.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Yoan pulang dari acara wisuda bersama Barra, papa angkatnya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Mengapa Barra tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan aura buruk yang menguar?

“Papa?” Yoan memanggil papanya dengan nada heran. Dia juga menetralkan rasa terkejut yang dirasakannya.

“Yoan, ingatkah sejak umur berapa kamu tinggal bersama Papa dan Mama?” Barra bertanya dengan nada sinis.

“Dulu Mama pernah memberi tahu kalau Papa dan Mama menjemputku di panti asuhan saat aku berusia lima tahun,” jawab Yoan. Nada bicara gadis itu memelan. Raut wajahnya tampak sedikit ketakutan.

Barra berjalan mendekat ke arah sang putri sembari menunjukkan seringai kecil.

“Sekarang kamu sudah lulus kuliah. Sudah cukup banyak biaya yang Papa keluarkan untuk memenuhi kehidupanmu,” ujar Barra.

“I-iya, Pa. Aku tidak akan lupa,” lirih Yoan menjawab. Perlahan gadis itu bangkit, lantas berjalan mundur karena papa angkatnya terus berjalan mendekat dengan aura menakutkan.

“Sudah saatnya kamu harus mengganti semua biaya yang Papa keluarkan untukmu,” ujar Barra.

“A-apa? Aku tidak mengerti ucapan Papa. Bu-bukankah Papa dan Mama mengangkatku sebagai anak? Kenapa aku harus mengganti semua biaya hidup?” tanya Yoan tidak mengerti.

“Yoan, kamu sudah dewasa. Seharusnya kamu memahami jika di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis.” Laki-laki renta itu terkekeh di ujung kalimat.

“Baik, aku mengerti. Setelah ini, aku akan bekerja untuk mendapatkan uang dan memberikan semua gajiku untuk Papa,” jawab Yoan.

“Benarkah? Maka kamu akan membutuhkan waktu sangat lama untuk membayarnya, sedangkan Papa membutuhkan uangnya sekarang.” Barra berkata sambil mengganti-ganti raut wajahnya.

“Bagaimana caraku membayar Papa sekarang? Aku bahkan belum mulai bekerja,” jawab Yoan bingung. Nada suaranya masih melirih sama seperti sebelumnya.

Ada apa dengan Barra sebenarnya? Andai Ayara, mama angkat Yoan masih ada, mungkin Yoan masih bisa mengajaknya diskusi.

“Siapa bilang kamu harus mengganti semua biaya? Kamu tidak perlu bekerja untuk mengganti semua biaya itu, Yoan. Manfaatkanlah tubuh indahmu. Itu sudah lebih dari cukup,” ujar Barra. Pandangannya bergerilya, tergerak mengamati Yoan dari puncak kepala hingga ujung kaki.

Yoan kembali berjalan mundur saat melihat papa angkatnya kembali berjalan mendekat. Lagi-lagi dengan raut wajah menakutkan yang membuat tubuh Yoan bergetar hebat.

Melihat perilaku papanya yang tidak biasa, Yoan mulai melempar semua barang yang ada di dekatnya ke arah Barra. Otak kecilnya mulai berpikir mencari celah untuk keluar dari kamarnya sendiri.

“Anak manis, tidak perlu takut! Papa pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Barra berusaha membujuk Yoan.

“Aku mohon, jangan mendekat, Pa!” pekik Yoan ketakutan.

Namun, Barra masih berusaha mendekati Yoan.

Tubuh wanita itu ketakutan. Yoan berakhir menubruk pintu balkon. Kamarnya di lantai dua. Haruskah dia terjun dari sini? Namun, jika Yoan tetap menurut pada papa angkatnya, dia tidak yakin akan mendapat perlakuan yang benar-benar baik.

“Mau lari ke mana?” Barra bertanya. Laki-laki itu lantas tertawa terbahak-bahak melihat Yoan yang kebingungan. Kali ini Barra yakin Yoan akan menyerah sebab jalannya sudah buntu.

“Aku mohon, jangan lakukan ini, Pa!” pinta Yoan. Pipinya sudah mulai basah karena air mata yang mengalir.

“Gadis kecilku, kemarilah!” Barra berkata sambil menepuk-nepuk tempat tidur anak angkatnya itu.

Untuk sesaat Yoan berharap ini hanyalah candaan Barra semata. Namun, sepertinya Barra tidak berniat untuk membalikkan ucapannya.

Tangan kiri Yoan mengarah ke belakang punggungnya untuk membuka pintu balkon. Yoan lantas buru-buru keluar dan menutup pintu balkon. Gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menahan pintu agar papa angkatnya tidak berhasil menangkapnya. Namun sayang, tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan.

Tidak ada waktu lagi! Yoan merasa lebih baik mati daripada harus melayani laki-laki yang bertahun-tahun sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung.

BRUK!

“Ouch!” pekik Yoan.

Perlahan Yoan membuka matanya. Gadis itu berpikir akan segera menyusul Ayara atau setidaknya dia harus mengorbankan kakinya. Namun, ternyata tidak … Yoan masih baik-baik saja.

Ah, Yoan rupanya harus berterima kasih pada Bik Umi yang menjemur kasur tepat di bawah kamarnya.

Tidak ada waktu! Barra sudah mengerahkan para penjaga rumahnya untuk mengejar Yoan. Dia harus segera kabur dari rumah ini.

***

Sementara itu di sebuah ruang rapat yang ada di gedung perkantoran yang tampak mewah.

Terdengar suara riuh tepuk tangan diikuti ucapan selamat atas pengangkatan Kenzo menjadi CEO di Pranadipa Corp.

“Waktu dan tempat dipersilakan,” ujar seorang pembawa acara dengan pandangan yang tertuju pada putra tunggal almarhum Ryu Pranadipa dan Rani.

Kenzo lantas maju satu langkah dan membungkuk sedikit untuk memberi hormat.

“Terima kasih untuk kepercayaan yang sudah diberikan. Saya mohon dukungannya,” ucap Kenzo singkat.

Suara tepuk tangan kembali menggema di ruang rapat.

Usai bersalaman, Kenzo bersama Raka berjalan menuju ke ruangan Ryu. Ruangan ini akan menjadi ruang kerjanya sekarang.

Kenzo perlahan mendekati meja kerja Ryu sambil mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

Masih jelas di dalam ingatan saat Ryu sibuk menandatangani dokumen penting. Dengan wibawa penuh, Ryu bertanya kesiapan Kenzo memimpin perusahaan.

“Keinginan Papa sudah terpenuhi. Namun, aku masih membutuhkan Papa untuk membimbingku,” gumam Kenzo lirih. Hatinya masih sangat sedih dan merindukan kedua orang tuanya.

Raka, sang tangan kanan, yang mendengar perkataan Kenzo hanya bisa menghela napas. Tak hanya Kenzo yang sedih, pun Raka turut merasakan kesedihan Kenzo.

Siapa yang tidak sedih kehilangan sosok pemimpin yang begitu bijaksana dan baik hati seperti Ryu? Di mansion, para pekerja tak hanya kehilangan Ryu, tetapi juga Rani, seorang ibu rumah tangga yang berhati lembut.

“Apa saya perlu menata ulang ruangan ini?” tanya Raka menawarkan.

“Tolong ganti semua lampu dengan yang lebih terang,” jawab Kenzo memberi titah.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Kenzo lantas melangkah keluar dari ruangan menuju lobby, diikuti oleh Raka. Dari luar Kenzo memang terlihat sangat tegar, tetapi hatinya masih merasa sangat kehilangan.

“Tunda semua pekerjaan untukku! Aku ingin ke cafe.” Kenzo kembali berkata.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Raka segera menghubungi Suparmin untuk menyiapkan kendaraan.

Setibanya di sebuah cafe yang dekat dengan kantor …

“Pesan seperti biasanya, Tuan?” tanya seorang pemilik cafe.

Kenzo mengangguk sebagai respons.

Ukh!

Tiba-tiba seorang gadis dengan penampilan berantakan masuk ke dalam cafe. Gadis itu tidak sengaja menyenggol Kenzo dan langsung duduk tepat di sebelahnya.

“Eee, maaf …,” ucap Yoan. Perlahan dia bergeser ke kursi yang lain.

“Mau pesan apa, Nona?” tanya seorang pemilik cafe.

“Tolong izinkan saya duduk di sini sebentar saja,” jawab Yoan, seorang gadis itu.

“Keluarlah! Tidak ada tempat duduk gratis di sini, Nona,” ledek pemilik cafe itu.

“Aku mohon ….”

“Pesanlah sesuatu! Aku akan membayar untukmu.” Itu suara Kenzo.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Tak Bersyarat
8.9
Arini mengalami depresi mendalam akibat patah hati yang mengacaukan kondisi hormonnya. Demi memulihkan kesehatan mentalnya tanpa memicu rasa terhakimi, Burhan berkolaborasi secara rahasia dengan seorang psikiater bernama Morela. Walau awalnya Arini menolak perawatan medis karena merasa dirinya tidak gila, terapi perlahan lewat olahraga dan pendampingan emosional mulai membawa perubahan positif. Burhan pun paham bahwa ketulusan cintanya diuji lewat dukungan tanpa syarat demi kesembuhan Arini.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Kepergian Sari dua tahun lalu menyisakan sepi mendalam bagi seorang guru SD berusia 35 tahun. Di tengah kesederhanaan hidupnya, pria duda ini terus didesak oleh keluarga serta sahabat karib untuk segera mencari istri baru. Meski merasa hampa dan kesepian, ia masih didera keraguan besar. Hatinya belum sepenuhnya siap melepaskan masa lalu dan menyambut kehadiran sosok pendamping lain dalam lembaran hidupnya yang baru.
Sampul Novel Kumpulan Cerita 21+
9.0
Antologi fiksi romantis modern ini dirancang khusus untuk pembaca dewasa. Setiap kisah di dalamnya menyajikan dinamika hubungan yang intim dan emosi mendalam, lengkap dengan unsur eksplisit yang memerlukan kedewasaan sikap. Konten ini sangat tidak diperuntukkan bagi anak di bawah umur. Pastikan usia Anda telah memenuhi syarat sebelum mulai membaca lembar demi lembar penuh gairah ini.
Sampul Novel Pernikahan Ketiga
8.8
Kayra Angelina Atmaja, anak dari pengusaha yang kejam, dirundung duka mendalam di balik kemewahannya. Status janda muda disandangnya setelah pernikahan pertama berujung tragis dan yang kedua kandas seketika usai ijab kabul. Di tengah depresi akibat cibiran publik, Tuan Bima berjuang menyelidiki pelaku yang membongkar rahasia masa lalu Kayra di rumah sakit jiwa. Mampukah pernikahan ketiganya mengakhiri kutukan nasib dan membimbingnya ke cinta sejati?
Sampul Novel Scent of Love
9.3
Kebahagiaan Shane Johnson sirna setelah Gerald Davis, kekasih yang melamarnya setelah setahun berpacaran, tega berkhianat. Gerald berselingkuh dengan sahabat dekat Shane, Hyena Anderson. Saat Shane terpuruk akibat pengkhianatan sang tunangan, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalu yang pernah sangat ia cintai. Pertemuan tak terduga ini pun memicu tanya, mampukah rasa cinta yang dulu pernah ada di antara mereka kini bersemi kembali?
Sampul Novel Symphony Hati
8.7
Trauma kegagalan pernikahan keluarga membuat Dayana bersumpah melajang selamanya. Ia hanya ingin fokus bekerja dan menua bersama sahabatnya. Namun, demi sewa apartemen gratis, ia terpaksa menyepakati kencan buta dari teman-temannya. Dayana selalu mengacaukan pertemuan itu secara sengaja, sampai Debby mengenalkannya pada Naren, pria menyebalkan yang berbahaya. Siapa sangka, Naren justru menyodorkan tawaran menggiurkan yang menguji prinsip hidup Dayana.