APKDock Logo
Sampul Novel Will Never Say Good Bye

Will Never Say Good Bye

8.0 / 10.0
Yoan terpaksa melarikan diri demi menghindari rencana jahat ayah tirinya. Pelarian itu mempertemukannya dengan Kenzo, sosok yang kemudian membawa ketenangan dan kebahagiaan baru dalam hidupnya. Sayang, kedamaian tersebut hanya bertahan sesaat. Ketika hubungan mereka menuntut keyakinan yang kokoh, Yoan justru didera keraguan mendalam. Situasi kian pelik saat ia mulai kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri di tengah konflik batin yang hebat.

Will Never Say Good Bye Bab 1

BRAK!

Dobrakan pintu menggema. Barra muncul dari balik pintu dengan ekspresi datarnya. Perlahan, laki-laki setengah baya itu mendekat ke arah Yoan, putri angkatnya.

Yoan yang baru saja terduduk di atas kursi terjengit kaget. Gadis itu baru selesai mengganti kebaya yang ia pakai saat wisudanya.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Yoan pulang dari acara wisuda bersama Barra, papa angkatnya. Namun, apa yang terjadi sekarang? Mengapa Barra tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan aura buruk yang menguar?

“Papa?” Yoan memanggil papanya dengan nada heran. Dia juga menetralkan rasa terkejut yang dirasakannya.

“Yoan, ingatkah sejak umur berapa kamu tinggal bersama Papa dan Mama?” Barra bertanya dengan nada sinis.

“Dulu Mama pernah memberi tahu kalau Papa dan Mama menjemputku di panti asuhan saat aku berusia lima tahun,” jawab Yoan. Nada bicara gadis itu memelan. Raut wajahnya tampak sedikit ketakutan.

Barra berjalan mendekat ke arah sang putri sembari menunjukkan seringai kecil.

“Sekarang kamu sudah lulus kuliah. Sudah cukup banyak biaya yang Papa keluarkan untuk memenuhi kehidupanmu,” ujar Barra.

“I-iya, Pa. Aku tidak akan lupa,” lirih Yoan menjawab. Perlahan gadis itu bangkit, lantas berjalan mundur karena papa angkatnya terus berjalan mendekat dengan aura menakutkan.

“Sudah saatnya kamu harus mengganti semua biaya yang Papa keluarkan untukmu,” ujar Barra.

“A-apa? Aku tidak mengerti ucapan Papa. Bu-bukankah Papa dan Mama mengangkatku sebagai anak? Kenapa aku harus mengganti semua biaya hidup?” tanya Yoan tidak mengerti.

“Yoan, kamu sudah dewasa. Seharusnya kamu memahami jika di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis.” Laki-laki renta itu terkekeh di ujung kalimat.

“Baik, aku mengerti. Setelah ini, aku akan bekerja untuk mendapatkan uang dan memberikan semua gajiku untuk Papa,” jawab Yoan.

“Benarkah? Maka kamu akan membutuhkan waktu sangat lama untuk membayarnya, sedangkan Papa membutuhkan uangnya sekarang.” Barra berkata sambil mengganti-ganti raut wajahnya.

“Bagaimana caraku membayar Papa sekarang? Aku bahkan belum mulai bekerja,” jawab Yoan bingung. Nada suaranya masih melirih sama seperti sebelumnya.

Ada apa dengan Barra sebenarnya? Andai Ayara, mama angkat Yoan masih ada, mungkin Yoan masih bisa mengajaknya diskusi.

“Siapa bilang kamu harus mengganti semua biaya? Kamu tidak perlu bekerja untuk mengganti semua biaya itu, Yoan. Manfaatkanlah tubuh indahmu. Itu sudah lebih dari cukup,” ujar Barra. Pandangannya bergerilya, tergerak mengamati Yoan dari puncak kepala hingga ujung kaki.

Yoan kembali berjalan mundur saat melihat papa angkatnya kembali berjalan mendekat. Lagi-lagi dengan raut wajah menakutkan yang membuat tubuh Yoan bergetar hebat.

Melihat perilaku papanya yang tidak biasa, Yoan mulai melempar semua barang yang ada di dekatnya ke arah Barra. Otak kecilnya mulai berpikir mencari celah untuk keluar dari kamarnya sendiri.

“Anak manis, tidak perlu takut! Papa pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Barra berusaha membujuk Yoan.

“Aku mohon, jangan mendekat, Pa!” pekik Yoan ketakutan.

Namun, Barra masih berusaha mendekati Yoan.

Tubuh wanita itu ketakutan. Yoan berakhir menubruk pintu balkon. Kamarnya di lantai dua. Haruskah dia terjun dari sini? Namun, jika Yoan tetap menurut pada papa angkatnya, dia tidak yakin akan mendapat perlakuan yang benar-benar baik.

“Mau lari ke mana?” Barra bertanya. Laki-laki itu lantas tertawa terbahak-bahak melihat Yoan yang kebingungan. Kali ini Barra yakin Yoan akan menyerah sebab jalannya sudah buntu.

“Aku mohon, jangan lakukan ini, Pa!” pinta Yoan. Pipinya sudah mulai basah karena air mata yang mengalir.

“Gadis kecilku, kemarilah!” Barra berkata sambil menepuk-nepuk tempat tidur anak angkatnya itu.

Untuk sesaat Yoan berharap ini hanyalah candaan Barra semata. Namun, sepertinya Barra tidak berniat untuk membalikkan ucapannya.

Tangan kiri Yoan mengarah ke belakang punggungnya untuk membuka pintu balkon. Yoan lantas buru-buru keluar dan menutup pintu balkon. Gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menahan pintu agar papa angkatnya tidak berhasil menangkapnya. Namun sayang, tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan.

Tidak ada waktu lagi! Yoan merasa lebih baik mati daripada harus melayani laki-laki yang bertahun-tahun sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung.

BRUK!

“Ouch!” pekik Yoan.

Perlahan Yoan membuka matanya. Gadis itu berpikir akan segera menyusul Ayara atau setidaknya dia harus mengorbankan kakinya. Namun, ternyata tidak … Yoan masih baik-baik saja.

Ah, Yoan rupanya harus berterima kasih pada Bik Umi yang menjemur kasur tepat di bawah kamarnya.

Tidak ada waktu! Barra sudah mengerahkan para penjaga rumahnya untuk mengejar Yoan. Dia harus segera kabur dari rumah ini.

***

Sementara itu di sebuah ruang rapat yang ada di gedung perkantoran yang tampak mewah.

Terdengar suara riuh tepuk tangan diikuti ucapan selamat atas pengangkatan Kenzo menjadi CEO di Pranadipa Corp.

“Waktu dan tempat dipersilakan,” ujar seorang pembawa acara dengan pandangan yang tertuju pada putra tunggal almarhum Ryu Pranadipa dan Rani.

Kenzo lantas maju satu langkah dan membungkuk sedikit untuk memberi hormat.

“Terima kasih untuk kepercayaan yang sudah diberikan. Saya mohon dukungannya,” ucap Kenzo singkat.

Suara tepuk tangan kembali menggema di ruang rapat.

Usai bersalaman, Kenzo bersama Raka berjalan menuju ke ruangan Ryu. Ruangan ini akan menjadi ruang kerjanya sekarang.

Kenzo perlahan mendekati meja kerja Ryu sambil mengedarkan pandang ke seluruh ruangan.

Masih jelas di dalam ingatan saat Ryu sibuk menandatangani dokumen penting. Dengan wibawa penuh, Ryu bertanya kesiapan Kenzo memimpin perusahaan.

“Keinginan Papa sudah terpenuhi. Namun, aku masih membutuhkan Papa untuk membimbingku,” gumam Kenzo lirih. Hatinya masih sangat sedih dan merindukan kedua orang tuanya.

Raka, sang tangan kanan, yang mendengar perkataan Kenzo hanya bisa menghela napas. Tak hanya Kenzo yang sedih, pun Raka turut merasakan kesedihan Kenzo.

Siapa yang tidak sedih kehilangan sosok pemimpin yang begitu bijaksana dan baik hati seperti Ryu? Di mansion, para pekerja tak hanya kehilangan Ryu, tetapi juga Rani, seorang ibu rumah tangga yang berhati lembut.

“Apa saya perlu menata ulang ruangan ini?” tanya Raka menawarkan.

“Tolong ganti semua lampu dengan yang lebih terang,” jawab Kenzo memberi titah.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Kenzo lantas melangkah keluar dari ruangan menuju lobby, diikuti oleh Raka. Dari luar Kenzo memang terlihat sangat tegar, tetapi hatinya masih merasa sangat kehilangan.

“Tunda semua pekerjaan untukku! Aku ingin ke cafe.” Kenzo kembali berkata.

“Baik, Tuan,” sahut Raka.

Raka segera menghubungi Suparmin untuk menyiapkan kendaraan.

Setibanya di sebuah cafe yang dekat dengan kantor …

“Pesan seperti biasanya, Tuan?” tanya seorang pemilik cafe.

Kenzo mengangguk sebagai respons.

Ukh!

Tiba-tiba seorang gadis dengan penampilan berantakan masuk ke dalam cafe. Gadis itu tidak sengaja menyenggol Kenzo dan langsung duduk tepat di sebelahnya.

“Eee, maaf …,” ucap Yoan. Perlahan dia bergeser ke kursi yang lain.

“Mau pesan apa, Nona?” tanya seorang pemilik cafe.

“Tolong izinkan saya duduk di sini sebentar saja,” jawab Yoan, seorang gadis itu.

“Keluarlah! Tidak ada tempat duduk gratis di sini, Nona,” ledek pemilik cafe itu.

“Aku mohon ….”

“Pesanlah sesuatu! Aku akan membayar untukmu.” Itu suara Kenzo.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Will Never Say Good Bye

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bangkitnya Istri yang Terbuang
8.2
Dian sangat terpukul saat Radit mengusirnya dengan kejam dan melempar koper bajunya. Sikap sang suami berubah drastis dan menyakitkan, terlebih dengan kehadiran wanita lain yang memandangnya penuh kebencian. Di tengah kondisi hamil delapan bulan, Dian harus menerima kenyataan pahit dicampakkan. Ia sempat memohon belas kasih demi bayi di kandungannya, tetapi Radit tetap tega mengusir sang istri tanpa peduli nasib calon anaknya.
Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Tewas secara tragis membawa Juwita Chou bereinkarnasi menjadi Sallyana Fedelian. Karakter barunya ini adalah putri bangsawan kejam yang ditakdirkan mati di usia muda. Demi bertahan hidup, Juwita harus mengubah nasib buruk tersebut. Ia pun berusaha mengacaukan alur cerita asli sambil menghadapi kecurigaan dari lima tokoh utama pria. Namun perlahan, sebuah rahasia takdir yang kelam mulai terkuak, mengungkap hubungan misterius antara dirinya dan sosok asli Sallyana.
Sampul Novel Ketagihan Ibu Tiri
9.6
Kisah romansa modern khusus pembaca dewasa ini menyajikan narasi mendalam yang penuh emosi dan intrik. Alur ceritanya secara berani mengeksplorasi kompleksitas serta gairah dalam dinamika hubungan kontemporer. Melalui konflik yang memikat dan penggambaran karakter yang kuat, pembaca akan diajak menyelami sisi lain dari sebuah ikatan yang tidak terduga. Sebuah karya fiksi yang emosional sekaligus menantang.
Sampul Novel Pernikahannya, Makam Rahasianya
8.1
Maya Prameswari menjalani pernikahan toxic dengan miliarder Bima Wijaya, yang menuduhnya sebagai wanita matre tanpa sadar bahwa Maya adalah penyelamat hidupnya. Kebencian Bima kian memuncak akibat hasutan jahat Sarah Hartono. Demi menuntut keadilan bagi sang ibu dan melindungi Bima dari ancaman musuh rahasia, Maya nekat memalsukan kematiannya. Namun, kepergian Maya justru mendatangkan duka mendalam serta bahaya baru bagi Bima yang masih tertipu kebohongan.
Sampul Novel REVEAL
9.6
Demi menemukan sahabat kecilnya, Rasen memutuskan kuliah. Di sana, ia malah bertemu Eleena, gadis unik yang terus mendekatinya hingga mereka bersahabat erat. Namun, hubungan manis ini goyah ketika sesosok hantu wanita hadir dan mengklaim sebagai sosok yang dicari Rasen. Perubahan sikap Rasen yang drastis pun membuat Eleena cemas. Mampukah Eleena membawa Rasen kembali, atau sang hantu justru sukses menjauhkan mereka demi membongkar rahasia kelam masa lalu?
Sampul Novel Saat Cinta Menjadi Racun
9.2
Demi mempertahankan pernikahan lima tahun mereka, Stella nekat mengusir wanita simpanan Joshua Catra ke luar negeri. Namun, tindakan bodoh ini memicu murka sang suami. Tanpa banyak bicara, Joshua menghancurkan keluarga Stella hingga bangkrut seketika, membuat ayahnya berlutut, dan ibunya menderita. Kini, sang miliarder berdiri di hadapan Stella dengan kemarahan besar, siap membalas dendam dan menyeret hidup istrinya ke dalam penderitaan yang lebih buruk daripada kematian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan