
Warisan dari sang Bibi
Bab 3
Ternyata benar, hati manusia itu cenderung berat sebelah. Aku yang sibuk berlari ke sana kemari mengurus semuanya tidak dipedulikan, tetapi begitu anak kandungnya datang, dia langsung penuh perhatian.
Di mata orang lain, jelas-jelas aku yang memegang slip pembayaran, bolak-balik di rumah sakit.
Aku juga yang terus bertanya kepada dokter tentang kondisi bibiku dan detail perawatan yang perlu diperhatikan.
Sebagai seorang keponakan, aku bahkan lebih berbakti daripada anak kandungnya sendiri.
Keberpihakan bibiku yang seperti ini sungguh memalukan.
Kalau mau jujur, siapa pun yang terluka pasti ingin mendapat perawatan seperti yang aku berikan.
Daripada mengalami kecelakaan dan baru disambangi anaknya setengah hari kemudian.
Namun, bibiku dan Yulia belum menyadari perubahan sikap orang-orang terhadap mereka.
"Ah, Bu, jangan terlalu khawatir soal aku. Ibu mengalami kecelakaan seberat ini, aku hampir mati karena khawatir."
"Kalau saja nggak sibuk belajar dan nggak sempat melihat ponsel, aku pasti sudah langsung ke rumah sakit untuk merawat Ibu."
Kata-katanya terdengar baik, tetapi sejak dia masuk ke kamar hingga sekarang, dia bahkan tidak berniat menuangkan segelas air untuk ibunya sendiri.
Namun, ekspresi tulus di wajahnya tampak cukup meyakinkan, seolah-olah dia benar-benar seorang pelajar teladan yang hanya fokus belajar tanpa peduli hal lain.
Kalau saja kami tidak melihat unggahan media sosialnya, mungkin kami semua akan tertipu.
Wajah pamanku makin terlihat suram.
Datang terlambat saja sudah buruk, apalagi ditambah berbohong dan menipu orang.
Sebagai seorang guru, pamanku sangat membenci perilaku seperti itu.
Awalnya, pamanku sudah memiliki pendapat buruk tentang Yulia, dan sekarang rasa tidak sukanya makin kuat.
Istri pamanku, yang dikenal berwatak blak-blakan dan tidak sabaran, langsung menegur bibiku, "Kamu sudah dirawat karena kecelakaan selama ini, dan dia baru sekarang datang ke rumah sakit. Kampus dengan rumah sakit ini sedekat apa, sih?"
"Punya perhatian atau nggak, itu jelas kelihatan, 'kan?"
"Lagi pula, Cynthia sudah sibuk di sini sejak tadi, bahkan belum sempat duduk untuk minum seteguk air. Tapi kamu malah memedulikan Yulia yang nggak melakukan apa-apa. Otak kamu baik-baik saja, 'kan?"
Kata-kata bibiku yang satu ini memang kasar, tetapi masuk akal. Kata-katanya ini membuat wajah ibu Yulia langsung berubah muram.
Barulah sekarang bibiku bersedia mengangkat kepala dan melihat ke arahku.
Namun, sebelum bibiku sempat bicara, Yulia langsung menyela.
"Bukannya merawat ibuku memang sudah seharusnya?"
"Ayahnya meninggal begitu cepat, bukannya ibuku yang susah payah membesarkannya? Jadi, apa salahnya kalau dia membantu sedikit?"
"Lucu banget. Uang keluarga kami nggak jatuh dari pohon. Kenapa kami harus membiayai orang yang cuma nebeng hidup?"
Pandangan matanya menghina, menatapku dengan sinis.
Kata-kata seperti ini sudah sering kudengar sejak kecil.
Ruangan menjadi sunyi, semua mata tertuju padaku.
Meskipun kata-kata Yulia terdengar kasar, tetapi itu adalah fakta.
Saat aku lulus SMP, orang tuaku meninggal karena ditabrak oleh pengemudi mabuk dalam perjalanan menghadiri upacara kelulusanku.
Untungnya, bibiku mengadopsiku dan memberiku tempat tinggal.
Namun, di rumah bibiku ini, aku harus membersihkan rumah setiap hari, mencuci pakaian, memasak, dan tidak pernah mendapat pakaian bagus atau uang saku seperti Yulia.
Meski begitu, aku tidak pernah merasa benci. Aku tahu, bibiku tidak punya kewajiban kepadaku.
Meskipun aku bekerja keras, dia sudah memberikan aku tempat berlindung dan kesempatan untuk melanjutkan sekolah.
Bahkan di kehidupan sebelumnya, setelah merawat bibiku selama 15 tahun dan dihina dengan uang 100 juta, aku tidak pernah merasa dendam.
Aku hanya merasa diriku menyedihkan, mengharapkan sesuatu yang bukan hakku.
Atas rasa terima kasih atas jasa bibiku membesarkan aku, aku tidak pernah berpikir untuk membalas dendam.
Di kehidupan ini, aku ingin membedakan mana urusan yang seharusnya selesai dan mana yang tidak perlu diperpanjang.
Aku tidak akan menghabiskan waktu dan tenaga untuk merawatnya lagi demi mendapatkan rumah. Namun, setelah aku bekerja nanti, aku akan perlahan-lahan melunasi utangku kepadanya.
Namun, semuanya harus diperhitungkan dengan jelas. Lebih baik dinyatakan di depan keluarga, supaya tidak ada perdebatan di kemudian hari.
Aku tidak seperti dulu lagi, memilih diam. Kali ini, aku mengangguk dan berkata,
"Yulia benar. Aku selalu mengingat kebaikan Tante kepadaku."
Aku melihat senyum puas di wajah bibiku setelah mendengar kata-kataku.
Yulia mengangkat dagunya, seperti burung merak yang bangga memamerkan bulunya.
Namun, pada detik berikutnya, aku mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tasku.
Anda Mungkin Juga Suka





