APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Pecandu Brondong

Wanita Pecandu Brondong

Di balik kemandiriannya, Tasya, seorang ibu tunggal berusia tiga puluhan, menyimpan fantasi liar yang tak terduga. Enggan berhubungan dengan pria sebaya yang ia anggap rumit dan penuh perhitungan, ia justru lebih terpikat oleh gairah pria muda. Bagi Tasya, para brondong membawa kesegaran serta spontanitas yang mampu mengusir kejenuhan hidup. Sosok tegar ini terus mencari kehangatan dan kebahagiaan baru demi memuaskan imajinasi terdalamnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Aduuh, gatal banget, aaaaahhhh!" suara wanita itu tiba-tiba pecah dari teras rumah. Dia dengan cemas mengelus-elus bagian kewanitaannya, wajahnya berkerut karena tak nyaman.

Di jalan komplek perumahan, dentingan lonceng kecil menggema, "Dung dung dung! Es dung dung!" seru Dul, pemuda berkaus putih yang membawa nampan es balok di atas kepala. Tubuhnya tinggi dan atletis, posturnya tegas saat melangkah, membuat siapa pun yang melihat dari belakang pasti menganggapnya cukup maco.

Namun di balik wajahnya yang tampan, Dul punya selera humor yang kerap melontarkan guyonan saat berjualan. "Tampan, beli esnya dong!" suara menggoda dari arah teras memanggil.

Tasya berdiri dengan tangan di pinggul, senyum tipis menghiasi wajahnya yang matang. Di usianya yang sudah 35 tahun, dia masih menyandang status single parent. Bukan karena penampilannya yang biasa-biasa saja, tapi lebih karena hatinya yang belum sepenuhnya luluh pada pria manapun, meski ia terus berharap menemukan yang tepat. Tasya, dengan aura tegas seorang supervisor kosmetik di kota, selalu tahu cara bermain kata saat menggoda Dul.

Tasya duduk santai, wajah mungilnya yang bersih memantulkan cahaya mentari sore. Kulitnya yang putih seperti porselen, dipadu dengan tubuh aduhai yang bikin siapa pun sulit menoleh tanpa sengaja.

Dadanya yang indah, terasa pas dan proporsional, seolah jadi rahasia kecil yang membuat orang penasaran.

"Makasih, Mba. Mba Tasya baru tiba, ya?" suara Dul terdengar bersemangat sambil mengemasi dagangannya.

"Iya, Dul. Mba ambil cuti dua hari, sekalian lepas rindu sama kamu!" Tasya membalas dengan senyum paling manis yang bisa ia berikan, bibirnya membentuk lengkungan sempurna. Hehe, kamu makin cantik kalau lagi ngegombal, ya,"

Dul menyela, mencoba menahan senyum sambil melempar es ke keranjang. "Eh, Mba mau beli es satu nggak?" Tasya menatap Dul, tidak ingin si penjual pergi begitu saja. Ia menepuk dagunya dan mengerutkan alis, berusaha merancang cara supaya bisa bertahan lebih lama.

"Kira-kira, masih sisa berapa porsi, Dul?" tanyanya dengan suara lembut. "Kurang lebih dua puluh, Mba," jawab Dul sambil menghitung es di kotak pendingin. Tasya tersenyum penuh arti, lalu berkata, "Kalau begitu, aku borong semuanya, tapi kamu temani aku makan, ya!"

Ia menatap Dul sambil memainkan alis, penuh godaan. Dul tertawa kecil, lalu mengangkat bahu santai. "Siapa, sih, yang bisa nolak permintaan wanita secantik Mba Tasya?" ujarnya tulus, menghapus lelah seharian dengan senyuman itu.

Dul sudah pernah merasakan manisnya bibir Tasya, kenangan itu membuat kedekatan mereka terasa hangat, hampir seperti rahasia yang mereka bagi bersama.

Saat Dul mulai merapikan posri pesanan dari Tasya, tiba-tiba Tasya menatapnya dengan senyum menggoda. "Kamu nggak kangen sama aku, Dul?" godanya, matanya berbinar.

Dul cuma mengangkat bahu santai. "Nggak, Mba. Cuma kangen aja!" jawabnya sambil menyembunyikan senyum kecil. Tiba-tiba, tangan Tasya mencubit perut Dul dengan cekatan. "Nyiuutt...!"

Dul terkejut, es yang tadi dia pegang itu langsung meluncur dan mendarat tepat di dada Tasya. "Aduh, dingin, Dul!" teriak Tasya, sambil menarik nafas panjang.

Dul merengut, membela diri. "Siapa suruh cubitin aku, Mba? Lagian, kok kamu cuma pakai singlet gitu?" Tasya cuma melempar pandangan sambil tersipu. "Dul, aku mau bersihin badan dulu. Kalau udah selesai langsung masuk, ya!"

Dia lalu berlari kecil ke dalam rumah. Dul mengerutkan kening, tak bisa menahan senyum saat matanya tertuju pada lekuk pinggul Tasya yang bergoyang pelan. "Wih, semok banget bokongmu, Mba..." batinnya.

Dia kembali fokus pada pesanan, tapi pikirannya sudah melayang ke tubuh Tasya, berharap kenangan manis bulan lalu akan terulang lagi.

Tak lama kemudian, Tasya melangkah keluar membawa talenan untuk wadah es Dul. Begitu muncul di pintu, Dul spontan melotot, matanya membesar seolah nyaris melompat keluar saat melihat Tasya hanya membalut tubuhnya dengan handuk mandi tipis.

"Cepetan, Dul! Nanti tetangga pada julid liatin kita," bisik Tasya sambil melempar senyum nakal.

"I-iya, Mba," jawab Dul terbata, napasnya tercekat, tangan gemetar sedikit.

Tasya, yang jelas-jelas berniat menggoda, meletakkan es di atas meja lalu sengaja menunggingkan pinggulnya. Tatapan Dul tak bisa lepas dari lekuk tubuh Tasya yang menggoda-dan tanpa dalaman sama sekali.

"Astajim, mataku ternodai..." gumam Dul dalam hati, dadanya sesak ketika pandangannya jatuh ke paha mulus Tasya yang terekspos.

Tasya menoleh sebentar, matanya menyapu wajah Dul, menikmati kekagetan yang terpancar jelas. Lalu ia duduk di sofa berhadapan, membuka jarak kakinya lebar-lebar seolah ingin membuat Dul semakin terperangkap dalam perasaannya.

"Dul, kamu kenapa sih? Dari tadi cuma ngelototin aku terus, ada apa?" Tasya akhirnya memecah keheningan dengan nada penasaran, matanya tak lepas menatap wajah Dul.

Dul tiba-tiba terbatuk, wajahnya memerah, bibir gemetar. "J–jambut, e–em... m3mek, eh... anu, Mba, aku mau izin makan esnya dulu ya!" jawabnya terbata-bata, keringat dingin mulai menitik di pelipis.

Pandangannya berusaha menghindar tapi seolah tak bisa melepaskan diri dari tatapan Tasya yang menusuk. Tasya tersenyum tipis, lalu melirik ke bawah celana jeans Dul, menyadari sesuatu yang membuat pipinya hangat.

Dengan santai, dia mengulurkan tangan, "Ayo, duduk di sini aja."

Kaki Dul seperti bergerak sendiri, tanpa sadar menapak mendekat ke sisi Tasya.

Sluuuurrrppp... Tasya menikmati es krim yang dipegangnya, suara hisapan itu mengisi ruang hening. "Enak banget, Dul," ujarnya sambil menjilati ujung es yang mulai mencair.

Dul menelan ludah, lalu tanpa sadar berkata, "Kalau jilatin ini sih, Mba, lebih enak lagi."

Wajahnya makin merah tapi ada keberanian yang baru saja muncul. "Udah mulai nakal ya? Padahal bulan lalu minta ciuman aja sudah bikin keringetan," goda Tasya dengan nada menggoda, matanya berbinar.

Seketika, Tasya mencondongkan badan, bibirnya menyentuh lembut bibir Dul. Suara pelan "cup, cup, cup" berulang kali, membangkitkan getaran di dada Dul.

"Heh, bentar, Mba," Dul protes sambil tertawa kecil, "Biasanya sambil pangutan juga, lho!"

Tasya menatap Dul tanpa menjawab, lalu tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut tapi tegas. Dengan tarikan pelan, dia mengajak Dul masuk ke kamarya.

Begitu pintu tertutup, Tasya melepaskan lilitan handuknya, napasnya sedikit berat. "Come on, baby, tubuhku sekarang milikmu," bisiknya penuh keyakinan.

Dul mengangguk gugup, matanya membelalak, "Bo-boleh masukin itu, Mba?" tanyanya lirih, berharap mendapat izin.

"Tentu, tapi jangan sampai ada yang tahu, ini rahasia kita saja," jawab Tasya sambil tersenyum misterius.

Mendapat lampu hijau, Dul langsung melucuti pakaiannya perlahan, tangan gemetar. Ia menghampiri Tasya dengan tatapan cemas tapi penasaran.

"Kamu udah pernah, kan?" suara Tasya mengandung rasa ingin tahu, seakan ingin tahu apakah Dul benar-benar siap. Dul hanya menggeleng, bibirnya tercekat, jari-jarinya mulai meraba lembut dada Tasya yang mengundang.

"Indah banget dadamu, Mba," katanya serak, tangannya menopang kedua ******** Tasya seolah mencoba mengukur beban rasa di balik kelembutan itu.

Perlahan tubuh Tasya menunduk, dan mulutnya sejajar dengan Dul. "Mba kenapa, apa punyaku kecil?" tanya Dul sambil menunduk sejenak, namun Tasya memilih diam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Jual Suamiku
7.9
Bagaimana jadinya jika pernikahan impian yang Anda dambakan justru berubah menjadi realitas yang penuh kerumitan? Novel ini menyoroti perjuangan emosional seorang istri yang harus mengarungi pasang surut kehidupan rumah tangga yang tak terduga. Bukannya meraih kebahagiaan yang dinanti, ia malah terperangkap dalam kondisi sulit yang menguji batas kesabaran serta kesetiaannya di tengah gempuran berbagai konflik yang datang melanda.
Sampul Novel LANGIT SENJA DAN JANJI KITA
8.8
Dua sahabat masa kecil yang sempat terpisah oleh waktu kini dipertemukan kembali lewat sebuah proyek sekolah yang tidak terduga. Pertemuan ini perlahan membangkitkan ingatan mereka tentang janji masa lalu yang pernah terucap di bawah langit senja. Di tengah kebersamaan yang terjalin lagi, mereka menyadari bahwa perasaan mendalam yang sekian lama terpendam ternyata tidak pernah benar-benar padam meski jarak dan waktu sempat memisahkan mereka.
Sampul Novel Let's Watch the Stars Forever
7.9
Ataya, seorang gadis yang selalu didera rasa benci pada diri sendiri, menemukan titik balik hidupnya setelah bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki kecintaan mendalam pada astronomi. Lewat pesona langit malam yang mereka amati bersama, ia perlahan mulai berdamai dan menghargai jati dirinya. Di tengah proses memulihkan luka batin tersebut, Ataya menyadari bahwa benih cinta yang tulus telah tumbuh untuk sosok lelaki yang setia mendampingi setiap langkahnya.
Sampul Novel Manusia milikmu
8.6
Selena, seorang manusia biasa dengan masa lalu kelam, hanya mendambakan kehidupan kuliah yang tenang. Namun, takdirnya berubah total saat Blackwell bersaudara yang berkuasa menyadari kehadirannya. Trio werewolf kuat ini terkejut ketika sang Alpha mendeteksi Selena sebagai pasangannya. Sempat ditolak karena status manusianya, sebuah serangan mendesak sang Alpha menggigit Selena demi menyelamatkan nyawanya. Di tengah konflik kampus dan persaingan saudara, Selena berubah menjadi serigala dan harus menentukan takdirnya.
Sampul Novel Menyelamatkannya, Menghancurkan Pernikahan Kita
8.2
Tiga tahun membina rumah tangga, pernikahan sang istri hancur setelah Jared Stanley secara terbuka di televisi menyebut selingkuhannya, Bailee Brooks, sebagai sosok paling berharga. Merasa dikhianati, ia pun melayangkan gugatan cerai. Sebagai penerjemah elite di konferensi G20, ia dipertemukan kembali dengan Jared. Di sana, ia membuktikan profesionalitasnya dengan tetap akurat menerjemahkan instruksi penyelamatan untuk Jared, meski pria itu nyaris tewas demi menyelamatkan Bailee.
Sampul Novel Pengantin Bos Mafia
8.2
Dipilih sebagai tunangan Alexander sang pewaris mafia, Alana menghadapi kenyataan pahit saat Alexander terpikat oleh keliaran Kiara, putri pedagang senjata. Demi meredam pemberontakan Kiara yang menolak menjadi selir, Alexander meminta Alana menyerahkan gelar istrinya. Di tengah rusaknya gaun pengantin yang terkena darah, Alana mengambil keputusan ekstrem. Menolak tersingkir, ia bertekad merebut posisi yang lebih tinggi: jika tidak bisa menjadi istri sang pewaris, maka ia akan menjadi wanita dari sang Bos Mafia sendiri.