APKDock Logo
Sampul Novel Wanita Pecandu Brondong

Wanita Pecandu Brondong

7.9 / 10.0
Di balik kemandiriannya, Tasya, seorang ibu tunggal berusia tiga puluhan, menyimpan fantasi liar yang tak terduga. Enggan berhubungan dengan pria sebaya yang ia anggap rumit dan penuh perhitungan, ia justru lebih terpikat oleh gairah pria muda. Bagi Tasya, para brondong membawa kesegaran serta spontanitas yang mampu mengusir kejenuhan hidup. Sosok tegar ini terus mencari kehangatan dan kebahagiaan baru demi memuaskan imajinasi terdalamnya.

Wanita Pecandu Brondong Bab 1

"Aduuh, gatal banget, aaaaahhhh!" suara wanita itu tiba-tiba pecah dari teras rumah. Dia dengan cemas mengelus-elus bagian kewanitaannya, wajahnya berkerut karena tak nyaman.

Di jalan komplek perumahan, dentingan lonceng kecil menggema, "Dung dung dung! Es dung dung!" seru Dul, pemuda berkaus putih yang membawa nampan es balok di atas kepala. Tubuhnya tinggi dan atletis, posturnya tegas saat melangkah, membuat siapa pun yang melihat dari belakang pasti menganggapnya cukup maco.

Namun di balik wajahnya yang tampan, Dul punya selera humor yang kerap melontarkan guyonan saat berjualan. "Tampan, beli esnya dong!" suara menggoda dari arah teras memanggil.

Tasya berdiri dengan tangan di pinggul, senyum tipis menghiasi wajahnya yang matang. Di usianya yang sudah 35 tahun, dia masih menyandang status single parent. Bukan karena penampilannya yang biasa-biasa saja, tapi lebih karena hatinya yang belum sepenuhnya luluh pada pria manapun, meski ia terus berharap menemukan yang tepat. Tasya, dengan aura tegas seorang supervisor kosmetik di kota, selalu tahu cara bermain kata saat menggoda Dul.

Tasya duduk santai, wajah mungilnya yang bersih memantulkan cahaya mentari sore. Kulitnya yang putih seperti porselen, dipadu dengan tubuh aduhai yang bikin siapa pun sulit menoleh tanpa sengaja.

Dadanya yang indah, terasa pas dan proporsional, seolah jadi rahasia kecil yang membuat orang penasaran.

"Makasih, Mba. Mba Tasya baru tiba, ya?" suara Dul terdengar bersemangat sambil mengemasi dagangannya.

"Iya, Dul. Mba ambil cuti dua hari, sekalian lepas rindu sama kamu!" Tasya membalas dengan senyum paling manis yang bisa ia berikan, bibirnya membentuk lengkungan sempurna. Hehe, kamu makin cantik kalau lagi ngegombal, ya,"

Dul menyela, mencoba menahan senyum sambil melempar es ke keranjang. "Eh, Mba mau beli es satu nggak?" Tasya menatap Dul, tidak ingin si penjual pergi begitu saja. Ia menepuk dagunya dan mengerutkan alis, berusaha merancang cara supaya bisa bertahan lebih lama.

"Kira-kira, masih sisa berapa porsi, Dul?" tanyanya dengan suara lembut. "Kurang lebih dua puluh, Mba," jawab Dul sambil menghitung es di kotak pendingin. Tasya tersenyum penuh arti, lalu berkata, "Kalau begitu, aku borong semuanya, tapi kamu temani aku makan, ya!"

Ia menatap Dul sambil memainkan alis, penuh godaan. Dul tertawa kecil, lalu mengangkat bahu santai. "Siapa, sih, yang bisa nolak permintaan wanita secantik Mba Tasya?" ujarnya tulus, menghapus lelah seharian dengan senyuman itu.

Dul sudah pernah merasakan manisnya bibir Tasya, kenangan itu membuat kedekatan mereka terasa hangat, hampir seperti rahasia yang mereka bagi bersama.

Saat Dul mulai merapikan posri pesanan dari Tasya, tiba-tiba Tasya menatapnya dengan senyum menggoda. "Kamu nggak kangen sama aku, Dul?" godanya, matanya berbinar.

Dul cuma mengangkat bahu santai. "Nggak, Mba. Cuma kangen aja!" jawabnya sambil menyembunyikan senyum kecil. Tiba-tiba, tangan Tasya mencubit perut Dul dengan cekatan. "Nyiuutt...!"

Dul terkejut, es yang tadi dia pegang itu langsung meluncur dan mendarat tepat di dada Tasya. "Aduh, dingin, Dul!" teriak Tasya, sambil menarik nafas panjang.

Dul merengut, membela diri. "Siapa suruh cubitin aku, Mba? Lagian, kok kamu cuma pakai singlet gitu?" Tasya cuma melempar pandangan sambil tersipu. "Dul, aku mau bersihin badan dulu. Kalau udah selesai langsung masuk, ya!"

Dia lalu berlari kecil ke dalam rumah. Dul mengerutkan kening, tak bisa menahan senyum saat matanya tertuju pada lekuk pinggul Tasya yang bergoyang pelan. "Wih, semok banget bokongmu, Mba..." batinnya.

Dia kembali fokus pada pesanan, tapi pikirannya sudah melayang ke tubuh Tasya, berharap kenangan manis bulan lalu akan terulang lagi.

Tak lama kemudian, Tasya melangkah keluar membawa talenan untuk wadah es Dul. Begitu muncul di pintu, Dul spontan melotot, matanya membesar seolah nyaris melompat keluar saat melihat Tasya hanya membalut tubuhnya dengan handuk mandi tipis.

"Cepetan, Dul! Nanti tetangga pada julid liatin kita," bisik Tasya sambil melempar senyum nakal.

"I-iya, Mba," jawab Dul terbata, napasnya tercekat, tangan gemetar sedikit.

Tasya, yang jelas-jelas berniat menggoda, meletakkan es di atas meja lalu sengaja menunggingkan pinggulnya. Tatapan Dul tak bisa lepas dari lekuk tubuh Tasya yang menggoda-dan tanpa dalaman sama sekali.

"Astajim, mataku ternodai..." gumam Dul dalam hati, dadanya sesak ketika pandangannya jatuh ke paha mulus Tasya yang terekspos.

Tasya menoleh sebentar, matanya menyapu wajah Dul, menikmati kekagetan yang terpancar jelas. Lalu ia duduk di sofa berhadapan, membuka jarak kakinya lebar-lebar seolah ingin membuat Dul semakin terperangkap dalam perasaannya.

"Dul, kamu kenapa sih? Dari tadi cuma ngelototin aku terus, ada apa?" Tasya akhirnya memecah keheningan dengan nada penasaran, matanya tak lepas menatap wajah Dul.

Dul tiba-tiba terbatuk, wajahnya memerah, bibir gemetar. "J–jambut, e–em... m3mek, eh... anu, Mba, aku mau izin makan esnya dulu ya!" jawabnya terbata-bata, keringat dingin mulai menitik di pelipis.

Pandangannya berusaha menghindar tapi seolah tak bisa melepaskan diri dari tatapan Tasya yang menusuk. Tasya tersenyum tipis, lalu melirik ke bawah celana jeans Dul, menyadari sesuatu yang membuat pipinya hangat.

Dengan santai, dia mengulurkan tangan, "Ayo, duduk di sini aja."

Kaki Dul seperti bergerak sendiri, tanpa sadar menapak mendekat ke sisi Tasya.

Sluuuurrrppp... Tasya menikmati es krim yang dipegangnya, suara hisapan itu mengisi ruang hening. "Enak banget, Dul," ujarnya sambil menjilati ujung es yang mulai mencair.

Dul menelan ludah, lalu tanpa sadar berkata, "Kalau jilatin ini sih, Mba, lebih enak lagi."

Wajahnya makin merah tapi ada keberanian yang baru saja muncul. "Udah mulai nakal ya? Padahal bulan lalu minta ciuman aja sudah bikin keringetan," goda Tasya dengan nada menggoda, matanya berbinar.

Seketika, Tasya mencondongkan badan, bibirnya menyentuh lembut bibir Dul. Suara pelan "cup, cup, cup" berulang kali, membangkitkan getaran di dada Dul.

"Heh, bentar, Mba," Dul protes sambil tertawa kecil, "Biasanya sambil pangutan juga, lho!"

Tasya menatap Dul tanpa menjawab, lalu tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut tapi tegas. Dengan tarikan pelan, dia mengajak Dul masuk ke kamarya.

Begitu pintu tertutup, Tasya melepaskan lilitan handuknya, napasnya sedikit berat. "Come on, baby, tubuhku sekarang milikmu," bisiknya penuh keyakinan.

Dul mengangguk gugup, matanya membelalak, "Bo-boleh masukin itu, Mba?" tanyanya lirih, berharap mendapat izin.

"Tentu, tapi jangan sampai ada yang tahu, ini rahasia kita saja," jawab Tasya sambil tersenyum misterius.

Mendapat lampu hijau, Dul langsung melucuti pakaiannya perlahan, tangan gemetar. Ia menghampiri Tasya dengan tatapan cemas tapi penasaran.

"Kamu udah pernah, kan?" suara Tasya mengandung rasa ingin tahu, seakan ingin tahu apakah Dul benar-benar siap. Dul hanya menggeleng, bibirnya tercekat, jari-jarinya mulai meraba lembut dada Tasya yang mengundang.

"Indah banget dadamu, Mba," katanya serak, tangannya menopang kedua ******** Tasya seolah mencoba mengukur beban rasa di balik kelembutan itu.

Perlahan tubuh Tasya menunduk, dan mulutnya sejajar dengan Dul. "Mba kenapa, apa punyaku kecil?" tanya Dul sambil menunduk sejenak, namun Tasya memilih diam.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Wanita Pecandu Brondong

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Bukan Don Juan
9.1
Ketampanan dan tubuh atletis membuat pria ini dengan mudah memikat hati para wanita. Berawal dari keisengan belaka, ia justru terjerumus ke dalam kecanduan hubungan terlarang. Ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan saat menjalin perselingkuhan berisiko dengan istri orang lain secara rahasia. Kisah ini menyoroti perjalanan penuh gairah seorang pria yang nekat menantang bahaya demi mengejar kenikmatan sesaat yang sembunyi-sembunyi.
Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Kehidupan sekolah baru Kayla Prawijaya terusik sejak kehadiran murid pindahan asal Singapura, Mexsi Megantara. Kayla bingung mengapa Mexsi sangat membencinya sejak awal bertemu. Namun, tabir rahasia terbuka saat terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi merupakan cinta pertama Kayla. Kebencian Mexsi pun luluh menjadi cinta setelah tahu Kayla berjuang melawan kanker darah. Kini, sanggupkah Mexsi tetap bertahan mendampingi gadis itu melewati ujian hidup yang begitu memilukan?
Sampul Novel Kesempatan Kedua: Terlahir Kembali
8.8
Setelah mengorbankan martabatnya demi Romeo Fernandez, Violet justru berakhir tragis di meja operasi. Beruntung, ia terlahir kembali dan bertekad segera bercerai demi menyelamatkan dirinya. Namun, Romeo yang dulu membencinya malah berbalik memohon rujuk. Enggan mengulang kesalahan, Violet memilih memeluk musuh bebuyutan mantan suaminya, Charles Griffin, dan memperkenalkannya sebagai kekasih baru di hadapan.
Sampul Novel Mantan Istriku yang Penurut Adalah Seorang Bos Rahasia?!
9.4
Tiga tahun Emilia menjadi istri yang patuh bagi Brandon, namun diceraikan demi perempuan lain. Pasca-perceraian, Emilia bangkit sebagai sosok kuat yang sangat berbeda. Brandon terkejut mendapati identitas rahasia mantan istrinya sebagai peretas, dokter, hingga pembalap. Saat Brandon berusaha mengejarnya lagi, Emilia memilih menikmati kebebasan dan memamerkan keahliannya yang luar biasa. Brandon harus menerima fakta bahwa Emilia adalah bos rahasia.
Sampul Novel My Perfect Hero
8.6
Demi menjaga nama baik keluarganya, Raline terpaksa menikah dengan Liam Bernardus Nelson untuk menggantikan sang kakak yang melarikan diri di hari pernikahan. Liam, seorang miliarder yang terkenal dingin dan kejam, perlahan menunjukkan sisi pelindung saat Raline menghadapi masa-masa sulit. Namun, pernikahan mereka yang mulai harmonis kini terancam hancur ketika Bora kembali dan mencoba merebut Liam. Raline pun harus berjuang keras mempertahankan posisinya sebagai istri sah.
Sampul Novel Nafkah Istri Pertama
9.6
Demi mendapatkan keturunan, seorang istri rela mengizinkan suaminya menikah lagi. Sayangnya, niat tulus demi kebahagiaan keluarga ini justru menjadi awal dari penderitaan panjang. Kehadiran istri kedua ternyata membawa kehancuran bagi kedamaian rumah tangga mereka. Kini, ia harus tegar menghadapi kenyataan pahit akibat keputusan yang awalnya dianggap sebagai solusi terbaik untuk masa depan pernikahan mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan