APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Bayaran Tuan Muda

Wanita Bayaran Tuan Muda

Akibat jebakan licik Eveline, kakak tirinya, Olivia terpaksa menikah dengan Jordan untuk menggantikan posisi sang kakak. Jordan yang merasa tertipu kemudian termakan oleh fitnah kejam Eveline yang menyudutkan Olivia. Tanpa perlindungan dari keluarganya, Olivia pun terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak berbayar dari Jordan. Di tengah sandiwara pernikahan ini, akankah hubungan mereka benar-benar berakhir saat kontrak selesai, atau justru benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Olivia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menangis. Rasanya sesak di dada mengingat kejadian yang selalu terlintas di dalam pikirannya.  Oliv membuka pintu mobil dan berjalan menuju danau yang sering ia datangi di saat hatinya sedang terpuruk.

"Kamu jahat Dion, entah harus bagaimana aku bicara kepada orangtuaku," isak tangis Oliv kembali di dalam keheningan.

Pandangannya terus terpacu ke depan melihat air yang tenang tanpa terusik oleh angin atau hewan lain yang ada di dalam danau itu.  Ponselnya berdering.

Drrrttt.

terlihat nama Mamah Ratna menghubunginya untuk segera menyuruh arti segera pulang.

"Hallo, Mah," ucap Olivia.

"Kamu segera pulang, dua hari lagi Kakak mu akan menikah," seru Mamah Ratna.

Olivia tercengang, bagaimana mungkin Kakaknya Evelin menikah secara mendadak. ia segera beranjak dari duduknya meninggalkan danau dan kembali mengendari mobil. Di dalam perjalanan. Olivia masih memikirkan nasib buruknya, ia tidak tahu harus bicara apa kepada Papah nya.

Beberapa menit telah berlalu, Olivia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Ia membuka pintu mobil sambil menghembuskan napas berat, mau tidak mau Olivia harus jujur dan tidak ada lagi yang harus ia tutup-tutupi. Olivia berjalan gontai sementara di dalam rumah Evelin sudah menunggu kedatangan adik tirinya. Ia ingin bicara sesuatu kepada Olivia, senyum  menyeringai saat ia melihat Olivia datang membuka pintu, sesegera mungkin Eve menghampiri Oliv sebelum Papah nya melihat kehadiran Olivia, Evelin menyeret pergelangan tangan Olivia masuk kedalam kamarnya.

Selama mereka serumah, Olivia selalu mengalah karena Evelin selalu berbuat senonoh kepadanya. Walaupun semua harta kekayaan milik Olivia tapi yang berkuasa Evelin dan Mamah Ratna.

"Awwhh! Kak sakit," ringis Oliv.

Bugh!

Pintu di tutup oleh Eve, ia segera membanting Oliv sampai jatuh ke bawah lantai. Sungguh tidak punya hati nurani, Eve selalu berbuat seenaknya kepada Olivia. Ia tidak segan berbuat licik kepadanya begitu juga Ratna ia juga tidak menyukai Olivia. Hanya harta lah yang selalu mereka inginkan, Papah David tidak mengetahui mereka melakukan hal buruk kepada Olivia karena selama lima belas tahun ini sikap Ratna dan Eve tidak menunjukan ketidak sukaannya  kepada Olivia. David pikir anak tiri dan istri keduanya menerima Olivia dengan baik.

"Dengarkan aku adik manisku. Dua hari lagi aku  akan menikahi seorang pria yang sangat jelek, aku tidak mau hidup dengannya. Tapi aku mau kau yang harus menggantikan aku sebagai pengantin wanitanya. Semua surat pernikahan atas nama kamu tanpa sepengetahuan Papah atau pun pengantin pria itu," tegasnya membuat  Olivia tercengang. Bagaimana mungkin dia menggantikan kakak nya untuk menikahi pria yang tidak Olivia cintai atau pun mengenalnya.

"Ta-pi, itu tidak masuk akal Kak," jawab Olivia ragu.

"Tidak masuk akal bagaimana! Kamu harus menuruti semua yang aku katakan mengerti. Urusan papah biar aku yang urus, kamu harus membantuku untuk melepaskan semua beban pernikahan ini. Bagaimana pun aku tidak menyukai pria tengil itu," tegas kembali Eve sambil memeluk dadanya melihat ke  arah Olivia dengan angkuhnya.

"Bagaimana tawaranku, anak manis?" tanya Eve memastikan.

"Ak-u, bisa memikirkannya lagi, tapi untuk saat ini aku mohon lepaskan aku. Rasanya tubuhku sangat lelah hari ini," pinta Olivia dengan polosnya.

"Baiklah, besok aku tunggu jawaban kamu. Mau tidak mau, kamu harus mau!" cecarnya kembali sambil menarik dan mendorong tubuh Olivia keluar kamar.

Sungguh malang nasib Olivia, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ia tidak tahu kehidupan setelah menikahi pria yang tidak ia kenal bagaimana. Mungkin ia harus memikirkan lebih matang kembali, di tambah kisah asmara dengan Dion pun sudah musnah di telan bumi Olivia harus bisa melupakan semuanya. Kenangan indah bersama Dion harus ia relakan hanyut jauh kedasar jurang, ia tidak mau lebih dalam menyendiri, mungkin tawaran Eve untuk menjadikan dirinya mengganti pengantin adalah jalan yang tepat untuk melupakan semua kisah asmaranya dengan Dion.

Langkah kakinya tepat berhenti di salah satu depan pintu yang dimana David berada disana. Ya itu adalah ruang kerja papah David, ia mengetuk pintunya dengan sangat pelan.

Tok ... tok

"Masuk."

Olivia masuk membuka pintu secara perlahan pintu itu tidak lama ia buka. Senyuman manis terukir dari raut wajah David menyambut hangat putri kesayangannya. Oliv berjalan pelan ke arah meja kerja David yang dimana papahnya sedang sibuk mengutak-atikan laptop di hadapannya.

"Pah," ucap Olivia duduk tepat di hadapannya sambil menundukan wajahnya. Walaupun anak orang kaya. Tetap saja Olivia pendiam dan selalu bersikap sopan kepada Papahnya.

"Apa sayang? Bagaimana hari mu, apa menyenangkan?" tanya  David mematikan laptopnya sambil menatap serius kepada sang putri.

"Pah, hubungan Oliv sama Dion sudah berakhir hari ini," ucap parau Olivia mencoba untuk tetap kuat agar tidak mengeluarkan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

"Apa! Apa kamu serius. Maksud Papah hubungan kalian sudah lama sebentar lagi kalian tunangan dan langsung menikah. Apa ada masalah lain yang membuat kalian berpisah begini?" tanya David.

"Tidak, Pah. Hanya saja kita sudah tidak cocok lagi. Mau bagaimana lagi, sebuah pernikahan harus di dasari dengan adanya  cinta dan kecocokan satu sama lain," jawabnya lembut sambil mencoba untuk memperlihatkan senyuman manisnya. Oliv tidak mau papahnya marah atau malu mendengar yang sebenarnya terjadi.

"Ya sudah. Papah tidak mau memaksa kamu untuk melanjutkan pernikahan mu dengan Dion. Semoga saja kamu mendapatkan pria yang sangat mencintaimu melebihi apapun," sahut Davin sambil berdiri menghembuskan napasnya berat dan memeluk putri kesayangannya.

Ingin sekali Olivia menjerit merangkul kesedihannya di hadapan orangtuanya. Tapi itu bukan Olivia, ia selalu bersikap baik-baik saja agar David tidak begitu cemas. Walaupun yang sebenarnya dirinya sangat rapuh.

"Olivia istirahat dulu," ucapnya yang segera di angguki oleh David.

"Jaga kesehatan sayang," sahut David.

Setelah pertemuannya dengan David untuk menjelaskan hubungannya dengan Dion. Olivia pamit pergi untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah. Ia menutup pintu ruang kerja papahnya kemudian ia berjalan menuju kamar miliknya. Oliv membuka pintunya secara perlahan dan menutupnya kembali. Setelah itu ia segera membanting tas yang ia pakai. Tubuhnya ia hempaskan ke atas tempat tidur.

"Piiuhhh!"

"Ya Tuhan, kenapa nasibku seperti ini. Apa aku tidak berhak bahagia!" ujarnya kembali bangun dan menuju ke tempat meja rias yang dimana ada photo dirinya bersama Dion.

"Dasar laknat pengkhianat. Aku sangat membencimu Dion, hubungan kita berakhir seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa bangkit kalau bayangan menjijikan itu terlintas di pikiranku," ucap Olivia membanting photo Dion masuk ke dalam tong sampah. Ia menangis sejadi-jadinya tidak lupa Oliv menyalakan pengendap suara agar tangisannya tidak di dengar orang lain.

Rapuh, sedih, sakit Hati. Hanya Olivia yang merasakannya sendiri, andai Mamahbnya masih ada kemungkinan besar Olivia tidak akan selalu menyendiri begini.  Tangisan itu pecah saat ia mengingat pengkhianatan Dion kepada dirinya. Sangat sakit yang dirasakan Olivia sekarang, tidak bisa ia gambarkan bagaimana sekarang hatinya yang sangat terluka.

"Mamah, Olivia kangen," ucap parau dalam tangisnya. Ia merangkul tubuhnya di keheningan malam bersama derasnya air mata yang keluar membasahi seluruh pipi cantiknya.

Keesokan harinya, Olivia mencoba untuk menguatkan diri, menatap hati yang telah hancur berkeping-keping. Olivia tahu semua ini terjadi karena Tuhan yang telah menunjukkan kebenarannya. Bagaimana jadinya jika bulan depan tetap bertunangan dengan Dion, tanpa mengetahui jika ternyata pria itu bejat. Tentu hal itu akan lebih menakutkan, bukan? Namun, bagaimanapun juga, hati Olivia tetap sakit.

Bagaimana mungkin ketulusan cinta yang dirawat dan jaga selama bertahun-tahun harus hancur dalam beberapa menit. Disebabkan kesalahan Dion yang fatal menjalin hubungan haram dengan wanita lain. Yang saat ini Olivia pikirkan adalah bagaimana cara move on? Tentu dengan adanya kejadian itu membuat Olivia sadar jika pilihannya bukanlah yang terbaik.

"Tetapi urusan move on, tentu saja sulit! Ditambah lagi, menghapus semua kenangan yang telah terjadi! Argghhh!" Olivia benar-benar merasa kacau pagi ini.

Kejadian itu menambah beban hati, mental, dan tentu akan sulit untuknya percaya lagi dengan cinta. Bahkan, pria yang terlihat baik bertahun-tahun ternyata adalah seorang bajingan yang mengunakan topeng. Bulir cairan bening dari sudut mata tak henti menggelinding. Punggung tangannya mengusap kasar. Melarang diri sendiri agar tidak menangis sebab tak pantas membuang tenaga untuk pria tak berakhlak seperti Dion.

Olivia mencoba mengatur napas, dadanya terasa sedikit lega setelah menagis. Mungkin air mata itu telah membawa beban hati sedikit berkurang. Saat ini yang Olivia inginkan hanya ketenangan. Tak ingin diganggu oleh siapapun dan tak ingin berjumpa dengan siapa-siapa.

"Kau bisa Olivia, kau kuat dan mampu untuk menghadapi ini semua!" Olivia mensugesti dirinya sendiri.

Tubuhnya masih tak beranjak dari ujung kasur yang dia duduki. Tiba-tiba saja sepintas bayangan Evelin muncul dalam ingatannya. Kakak tirinya itu menunggu jawaban Olivia besok, berarti dia harus menemui kakaknya pagi ini.

"Evelin nambah-nambah masalah aja. Seenak jidat menyuruh menggantikan posisinya menjadi pengantin. Emang dia kira nikah itu main-main! Dasar aneh!" Olivia bangkit dengan ngomel sendiri.

Kakinya melangkah menuju kamar Kakak tirinya. Mengetuk pintunya pelan dan Evelina langsung tahu siapa tamunya. Bergegas dibukanya pintu itu dan menarik tangan adiknya masuk.

"Ayo masuk ...."

"Enggak Kak," tolak Olivia lembut sembari memaksakan senyum. "Di sini aja!"

"Ehhh, jangan. Ayo pokoknya masuk!"

Evelin dengan sedikit kasar menarik tangan adiknya. Sebenernya, Evelin tidak suka bersikap kasar jika kemampuannya dituruti. Evelin menyuruh adiknya duduk.

"Enggak Kak, Olive enggak lama kok. Cuman menyampaikan langsung balik."

"Iiih, kamu ini bandel banget sih! Apa susahnya disuruh duduk. Oke jadi, katakan apa tanggapanmu. Pasti kamu setujukan? Setuju dong!"

Sayangnya, saat Evelin merekahkan senyuman malah Olivia mengelengkan kepalanya. Yang Sontak membuatnya kaget bukan main. Apa jangan-jangan, adiknya menolak?

"Oliv, kamu ...."

Eksperisi wajah Eveline yang semula ceria kini telah berubah masam. Tatapan mata miliknya menyelidik, menatap adiknya tak berpaling sedikitpun. Olivia tampak bergetar mencoba meremas roknya saat melihat tatapan mata kakak tirinya itu.

"Apa, kamu tak setuju, Olivia? Apa yang membuatmu ragu?"

"Maaf kak, kenapa Kakak tidak katakan saja pada pria itu jika tidak suka. Kenapa malah menerimanya?" tanya Olivia kalem.

"Ehh, kamu enggak usah menasehatiku! Yang jelas kamu harus mau, titik!"

Mata Eveline langsung berubah merah karena marah. Ditambah lagi dengan nasihat adiknya yang bukan mencari solusi tetapi terkesan menghakimi.

"Maaf kak, Oliv enggak bisa. Kakak enggak bisa seenaknya maksain kehendak sendiri!"

Olivia mendegus, hatinya belum pulih sebab kejadian putusnya kemarin. Sampai rumah malah ditambah dengan kakaknya yang seenak hati menyuruh hal diluar kendali Olivia.

Merasakan hidupnya yang sangat menyedihkan ini. Olivia jadi kasihan dengan diri sendiri. Semoga Tuhan selalu memberi ketabahan hati pada dirinya.

"Ya udah, Kak. Oliv mau pamit kembali ke kamar." Tubuhnya meranjak bangkit.

Evelin yang sudah geram sebab adiknya tak menurut langsung mendorong keras bahu adiknya. Sontak, Olivia terduduk kembali.

"Enak aja main pamit, kamu pikir kamu bisa lolos dari sini. Hah! Ingat ya kamu harus mau mengikuti permintaanku dan aku gak terima penolakan!"

"Kakak apa-apa sih, enggak bisa gitu dong."

Eveline bukanlah orang yang mau memikirkan orang lain. Jadi, dia hanya berpikir untuk melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.

Tanpa merasa kasihan, Evelin menarik kasar rambut panjang adiknya sampai terdongkak ke atas. Olivia menahan tangan sang Kakak, mencoba menghentikan sebab merasa sakit karena tarikan itu.

"Aduh ... aww, sakit Kak!"

Mata Olivia berkaca-kaca, kepalanya berdenyut sakit. Evelin masih mencoba mengancamnya lagi. "Mau ya adik manis!"

"Enggak!" Olivia kukuh pada pendirian meskipun harus menahan sakit.

"Bodoh, kau hanya menggantikanku. Yakin tidak mau?" sentak Eveline dengan sedikit menarik kasar rambut Olivia.

"Awwww!" jerit Olivia memegang tangan kakaknya.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, sontak membuat Eveline kaget. Tak lama, kenop pintu itu terbuka.

"Kalian sedang apa? Lho, Olivia kenapa kamu menangis?"

Deg! Di situ, seketika detak jantung Eveline berhenti berdenyut. Untungnya, papanya tak melihat apa yang dilakukannya.

"Tak usah, khawatir Pah. Tadi, Olivia minta ajarin Elevin pasang lensa mata. Biasanya untuk pemula gitu sih, Pah. Sampai keluar air mata karena masih pemula, hehe."

"Ohhh, ya sudah. Papa kira kalian berantem."

"Enggaklah, Pah." Oliva mengusap lembut air matanya.

Ya, Elevin memang begitu, ia pandai bersandiwara dengan siapa saja. Termasuk David, dengan mudah mempercayai. Pria itu kembali menutup pintu sebab kedua anaknya baik-baik saja. Selepas kepergian David, Elevin tersenyum jahat dan mengunci pintunya. Lagi-lagi menatap ke arah Olivia.

"Anak manis, apa kau masih ingin mencoba untuk menolak?"

"Ya, tentu saja. Menikah dengan pria tak dikenal adalah masalah besar, asal kau tahu itu!"

Olivia mencoba tegas, memberanikan diri mengatakan jika tidak ya tidak. Jujur, Evelin bangga dengan keberanian adiknya yang suka mengalah itu, tiba-tiba tegas pada pendiriannya dan tak gentar. Tiba-tiba saja, Eveline membalik badan mengambil sesuatu dalam laci dan menyembunyikan di balik badan, berjalan pelan mendekati adiknya.

Olivia susah bangkit, memutar knop pintu ketika hendak keluar tetapi pintu di kunci. Evelin tertawa kecil menatap tingkah lucu adiknya itu. Kenapa dia tidak ingat jika pintunya baru saja dikunci dan saat ini kunci itu ada di kantong saku Eveline.

"Hahaha ... enggak bisa buka pintunya ya, dek?" ejeknya.

"Kak, tolong aku mau keluar. Urusan kita sudah selesai."

"Kata siapa?"

Olivia tercekat saat menatap kakak tirinya sudah mengacungkan gunting tepat di bawah lehernya.

"Urusan kita belum selesai sampai kau menyetujui. Bukankah dari awal kau sudah tahu, aku bukanlah orang baik. Jadi, maaf jika aku ingin mengores sedikit lehermu sampai kau setuju untuk menggantikanku."

"Ka-kak jangan begitu!" Napas Olivia langsung ngos-ngosan. Sekujur tubuh tiba-tiba panas dingin, saat besi gunting itu sudah menyentuh kulit lehernya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar Perselingkuhan
9.6
Pernikahan Kaindra dengan Tanika, seorang sosialita, terasa hambar karena dugaan pengkhianatan. Dibanding melabrak sang istri, Kaindra memilih membalas dendam lewat hubungan gelap yang membara bersama rekan kerjanya, Fiona. Ia pun mendekati Isvara, sahabat karib istrinya yang licik, untuk membongkar rahasia Tanika. Kini, di pusaran dusta dan hasrat, Kaindra harus memilih: terus mencari kebenaran yang merusak atau mundur sebelum semuanya hancur.
Sampul Novel Kembar Manis: Memuaskan Diri dalam Cinta Ayah
8.1
Ningsih terpaksa menjadi ibu pengganti demi membiayai pengobatan ibunya. Lima tahun berlalu, ia telah sukses menjadi dokter anak dan dipertemukan kembali dengan Charles, pria misterius masa lalu yang mengasuh seorang putra. Konflik kian rumit saat lelaki lain hadir membawa bayi perempuan yang diakui sebagai anak kandung Ningsih. Di tengah misteri masa lalu yang perlahan terbongkar, sanggupkah Ningsih menghadapi takdir berliku ini?
Sampul Novel Perceraian, Kelahiran Kembali, dan Kesuksesan Manis
9.3
Terbangun kembali di masa lalu setelah meninggal akibat aneurisma, Carissa bertekad mengubah nasibnya. Ia kembali ke masa saat suaminya, Senator Baskara, lebih mementingkan Helena, sang selingkuhan. Bahkan, Kevin, putra kandungnya, tega menghina Carissa demi perempuan itu. Sadar pengorbanannya sia-sia dan dirinya hanya dijadikan alat politik, Carissa menolak menjadi istri penurut. Ia pun mantap menandatangani surat perceraian demi memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Satu Malam Dengan Adik Ipar
8.2
Rencana Rani merayakan tiga tahun pernikahan hancur karena Arman tidak kunjung pulang. Saat terjaga, ia justru terkejut mendapati adik iparnya, Rafka, ada di sisinya. Ketegangan pun menyelimuti mereka, terlebih setelah Rani membongkar pengkhianatan suaminya yang berselingkuh. Di tengah luka hati yang mendalam, Rani kini terjebak dalam dilema besar. Ia bimbang antara mempertahankan komitmen lamanya atau menyambut ketertarikan tak terduga pada Rafka yang selalu hadir mendampinginya.
Sampul Novel TERJERAT OBSESI PEWARIS TUNGGAL
8.9
Bagi Anaya Trixie, menjadi target Nolan Eriko Zermain adalah petaka. Pewaris tunggal Zermain Group itu memakai cara kotor untuk menjebaknya, mulai dari memanfaatkan penyakit ibunya hingga memaksa Anaya hamil, padahal Nolan telah bertunangan dengan anak konglomerat. Di kala wanita lain merasa iri, Anaya justru berjuang meloloskan diri karena sangsi akan ketulusan Nolan. Apakah tindakan Nolan didasari oleh cinta sejati atau hanya obsesi gelap yang sarat nafsu?
Sampul Novel WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira
8.9
Terdampar di dimensi asing, Anindira didera trauma mendalam setelah mengalami pemerkosaan hingga dirinya hamil. Di balik kepedihan itu, sang ayah biologis dari bayinya terus mengawasi dan berharap bisa menebus kesalahannya. Perjalanan hidup Anindira pun diwarnai hubungan poliandri bersama empat pria berbeda, yang terikat karena insiden hingga intrik politik. Saat takdirnya kian rumit dengan kehadiran dua pria lain, akankah sosok yang tulus mencintainya diberi kesempatan kedua?