
Usir Mantan Suami, Dia Dapat 6 Adik!
Bab 4
Simon meraih dokumen di meja dan melemparkannya padaku.
“Kalau begitu, pergi dari sini! Keluarga Hartono tidak menerima dokter yang bermain dengan pria liar sembarangan sepertimu!”
Aku bahkan malas untuk menatapnya dan berbalik untuk pergi. Bagus juga kalau pergi dari Keluarga Hartono. Aku tidak perlu melihat Simon dan Yelena bermesraan sepanjang hari.
Ketika keluar dari ruangan, aku melihat Yelena berdiri di ambang pintu. Dia menatapku dengan penuh kebencian.
“Anita, kenapa kamu selalu mencampuri urusanku?”
Aku tertawa parau. “Hanya orang bodoh sepertimu yang mau dengan Simon. Aku tidak mau.”
Aku kemudian melewatinya dengan acuh.
“Dokter Sanjaya, apa yang kamu lakukan? Tidak, Dokter Sanjaya!” Yelena tiba-tiba berteriak.
Aku menoleh dan terkejut melihatnya sudah jatuh dari tangga.
Mataku terbelalak. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Para pelayan di bawah segera mendekat ketika mendengarnya. Simon juga bergegas keluar dari ruang baca dan melihat Yelena jatuh.
“Yelena!” Dia memeluk tubuh Yelena yang penuh luka dan memanggilnya dengan sangat sedih.
Yelena berkata dengan lemah, “Ini bukan salah Dokter Sanjaya, aku yang salah. Aku merebutmu, wajar dia merasa tidak senang.”
Dia menatap Simon dengan berlinang air mata. “Tapi aku sungguh tidak rela memberikanmu padanya.”
“Anita!” Simon meraung marah. “Beraninya kamu berbuat seperti ini pada Yelena! Pelayan! Cepat tahan dia!”
Beberapa pelayan segera maju dan memaksaku untuk berlutut di depan Yelena. Lututku membentur lantai dengan keras dan membuatku terkesiap.
“Kamu pakai tangan yang mana untuk mendorong Yelena?” Simon melihatku dari atas.
“Aku tidak mendorongnya. Lihat saja CCTV.” Aku menyahut dengan geram.
Yelena bersembunyi di pelukan Simon dan terisak, “Tidak perlu melihatnya. Semua ini salahku. Aku sendiri yang jatuh, ini tidak ada hubungannya dengan Dokter Sanjaya.”
“Yelena, kamu terlalu baik,” ujar Simon sambil mengusap lembut kepalanya. “Kamu tidak perlu melindungi orang jahat sepertinya.”
Aku tertawa sinis. Tidak peduli kapan pun itu, Simon tidak akan pernah percaya padaku.
Simon berkata dengan dingin, “Kalau kamu tidak mau bilang tangan yang mana, patahkan saja tangan kanannya.”
Aku tersentak. Kalau aku kehilangan tangan, karirku akan benar-benar hancur sebagai seorang dokter. “Tidak! Jangan!” Aku menggeleng ketakutan. “Kamu boleh menjebloskanku ke penjara, tapi jangan lukai tanganku!”
Simon tersenyum sinis. “Tampaknya kamu begitu peduli. Kalau begitu, mari kita mulai dari jarinya. Ambilkan palu.”
Yelena tampak tersenyum puas di dalam pelukan Simon. Aku menggeram dengan kesal. Aku tidak mengerti mengapa aku selalu mendapat siksaan mereka padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun.
Simon sendiri yang mengambil palu itu dan memukulkannya ke jari kelingkingku. Sakitnya nyaris membuatku pingsan. Aku mengatupkan gigi rapat-rapat dan bertahan untuk tidak pingsan. Jari kelingkingku pun terpelintir tidak berbentuk.
“Ini hukuman karena tidak menurut,” bisiknya di telingaku. “Jelas-jelas kamu sangat menurut di kehidupan sebelumnya, kenapa sekarang...”
Aku tidak mendengar jelas kelanjutannya, tapi aku tahu bahwa dia juga hidup kembali. Kebencian lama dan baru bergejolak di hatiku. Aku menatapnya dengan tajam.
Dia kembali mengangkat palu. “Mohonlah padaku, aku akan melepaskanmu. Bagaimana?”
“Tidak!” Aku menggertakkan gigi. “Simon, aku akan melawanmu sampai mati sepanjang hidupku!”
Amarahnya memuncak dan dia mengangkat palu tinggi-tinggi. Tepat pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara tegas yang menggelegar.
“Apa yang kalian lakukan?!”
Anda Mungkin Juga Suka





