APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Untuk Diriku yang Pernah Mencintaimu

Untuk Diriku yang Pernah Mencintaimu

Dilatih keras sejak kecil untuk menjadi pelindung sekaligus istri pewaris sindikat mafia Valerio, sang protagonis akhirnya menikah dengan Axel Valerio setelah rivalnya, Estella, tewas. Namun, setelah mengorbankan nyawa demi melindungi Axel dari tembakan, ia mendengar kenyataan pahit bahwa tempat di sisi Axel hanya untuk mendiang Estella. Saat terbangun dari kematiannya, ia secara misterius kembali ke masa lalu, tepat di hari penobatan Axel sebagai kepala keluarga baru, siap mengubah takdirnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

: Apa Kau Nggak Keberatan?

POV Sienna.

Makan malam telah usai. Tuan Donni sudah menyelesaikan acara bersulang . Lalu, seperti yang sudah kuduga, Estella menatapku dan memberi anggukan singkat.

Waktunya tiba. Dia menyerahkan mikrofon padaku dengan senyum yang begitu terang, sampai nyaris bisa membakar.

Aku melangkah ke atas panggung. Menegakkan punggung dan menghadap kerumunan yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.

"Aku merasa terhormat bisa berdiri di sini malam ini." Aku mulai berbicara, suaraku tenang. "Aku sudah mengenal Axel dan Estella hampir sepanjang hidupku. Melihat mereka akhirnya menemukan jalan pertemuan satu sama lain … itu keajaiban yang langka. Estella, nggak perlu diragukan lagi, adalah wanita yang sempurna untuk Axel. Mereka saling tertarik dan nggak terelakkan. Seolah memang sudah ditakdirkan."

Aku baru saja menyelesaikan kalimat itu ketika suara mengejek terdengar dari antara tamu.

"Kalau begitu kenapa kamu masih di sini, Sienna? Nggak usah cemburu deh."

Tawa lain menyusul lebih keras. "Bukankah dia seharusnya sudah pergi? Padahal alasan dia bertahan di Keluarga Valerio hanya untuk mendapatkan Axel."

"Aku yakin dia hanya nggak mau kehilangan gaya hidup mewahnya," sahut seorang wanita di barisan depan, suaranya dipenuhi kebencian. "Ayahnya sudah mati, ibunya lumpuh. Siapa lagi yang akan membiayainya?"

Tawa menggema di ruangan seperti gelombang racun.

Aku menoleh sedikit, cukup untuk menangkap ekspresi Estella. Dia tampak berseri-seri dan sangat puas.

Jadi itu rencananya. Membawaku ke sini, memberiku panggung, berpura-pura menghormatiku … hanya untuk menyaksikanku jatuh. Bahkan di malam pesta pertunangannya sendiri.

Aku menegakkan tubuh. Acuh tak acuh, tenang dan teguh.

"Untuk kalian yang sepertinya khawatir padaku..." Aku lanjut, suaraku pelan tapi tajam. "Aku lulus dari Universitas Cakra Buana, sarjana dan pascasarjana dengan beasiswa penuh. Semua SKS aku lewati. Aku nggak butuh siapa pun dan nggak akan pernah membutuhkan orang untuk menanggung hidupku."

Ruangan mulai sedikit hening.

"Aku sangat berterima kasih pada Keluarga Valerio atas kepercayaan dan pelatihan yang diberikan. Tapi aku juga nggak datang ke sini dengan tangan kosong. Aku yang memimpin negosiasi untuk kemitraan paling menguntungkan di kasino Keluarga Valerio. Aku yang menangani seluruh perjanjian di pihak Utara. Aku rasa banyak di antara kalian pernah berkunjung ke kasino Valerio, entah untuk mencari hiburan … atau urusan lain."

Aku menatap tajam seorang wanita elegan di barisan depan. "Nyonya Salma, aku membantumu dalam transaksi itu. Kamu mungkin nggak ingat jumlah pastinya, tapi aku ingat. Jujur saja, itu bukan bantuan yang bisa diberikan sembarang orang."

Beberapa tamu mulai gelisah di kursinya.

"Dan sejak aku turun tangan, nggak ada satu pun kesepakatan di Kasino Valerio yang gagal. Aku hanya berharap, Estella..." lanjutku lembut sambil menoleh padanya. "Kamu bisa meminjamkan kekuatanmu pada Axel sekarang. Tentu saja, kalau kamu nggak terlalu sibuk dengan … hal-hal lain."

Aku mengangkat gelas, senyumku tak pernah pudar. "Maaf, aku agak terbawa suasana. Mari kita kembali pada alasan kita berkumpul malam ini."

Aku menatap para hadirin.

"Untuk Estella dan Axel. Semoga masa depan kalian seindah malam ini."

Tepuk tangan mereka terdengar ragu, itu hanya formalitas.

Aku pun berbalik untuk turun dari panggung.

Namun, Estella menghampiriku, pipinya memerah oleh sesuatu yang kelihatannya bukan karena sampanye.

"Sienna," katanya dengan suara cukup keras untuk didengar oleh orang di separuh ruangan. "Kalau kamu nggak butuh Keluarga Valerio, lalu bagaimana dengan kalung berlian di lehermu itu? Apa kamu akan bilang kalau kamu membelinya dari uang beasiswamu juga? Dan gaun adibusana yang kamu pakai, bukankah itu dibayar oleh Nyonya Tiana?"

Aku tidak langsung menjawab. Hanya menoleh menatap Axel yang berdiri di pinggir panggung, diam seperti batu. "Axel," tanyaku tenang, "Apa kamu nggak keberatan?"

Responnya yang hanya diam saja sudah memberiku jawaban. Dia tidak akan menghentikan pertunjukan kecil Estella.

Aku tertawa pelan, pahit. Kupikir, cukup dengan menyingkir dari dia dan Estella, dengan membiarkan kisah keduanya seindah dongeng, mereka akan membiarkanku pergi dengan tenang.

Ternyata tidak. Beberapa orang tidak akan bisa melepaskanmu tanpa mencabik-cabikmu lebih dulu

Tatapanku menyapu ruangan, lalu kembali pada Estella. Bahkan dibalik riasan yang berlapis-lapis itu, dia tidak bisa menyembunyikan kecemburuan yang membara di matanya.

"Terus kenapa?" kataku dingin. "Nyonya Tiana pikir aku tampak cantik dengan gaun ini dan memberikannya padaku sebagai hadiah kelulusan. Apa itu salah?"

Bibir Estella melengkung sinis. "Kamu bilang nggak butuh dukungan Keluarga Valerio. Jadi buktikan. Lepas semua yang mereka berikan padamu sebelum kamu menyebut dirimu rendah hati. Kalau nggak, bukankah sama saja kamu munafik?"

Tanpa bicara, aku meraih kalung di leherku, membuka kaitnya dan menyerahkannya padanya.

Lalu, tanpa ragu, aku menarik ritsleting gaunku. Kain itu meluncur turun dari bahuku dan jatuh ke lantai.

Semua orang terkejut.

Di balik gaun adibusana itu, aku mengenakan gaun dalam sewarna kulit. Aku khawatir gaun itu terlalu terbuka jadi kuputuskan untuk memakainya agar nyaman, tapi sekarang terasa seperti baju zirah.

"Yang ini," kataku pelan. "Kubeli sendiri. Aku rasa ini boleh tetap kupakai, 'kan?"

Mata Estella menyipit, tapi dia mengangkat bahu. "Tentu saja."

Lalu dia menunjuk ke arah kakiku. "Bagaimana dengan sepatu hak tinggi itu?"

Aku melepaskannya. Melangkah ke tepi panggung dan menendangnya lembut ke arahnya.

"Puas sekarang?"

"Puas sekali," katanya lalu melingkarkan lengannya di lengan Axel. "Sayang, aku lelah. Kita pulang, ya?"

Axel menatapku sejenak. Tatapannya tidak terbaca.

Lalu mengangguk. "Tentu, sayang."

Tuan rumah menghilang. Para tamu mulai bubar dengan bisik-bisik rendah.

Aku berdiri tanpa alas kaki di atas panggung dengan kepala tegak.

Estella mungkin mengira dia telah menang kalau penghinaan seperti ini saja akan menghancurkanku.

Tapi kenyataannya? Aku merasa … bebas. Estella boleh memiliki mahkotanya. Lagipula, mahkota itu tidak pernah cocok untukku.

Di depan semua orang, aku telah memutus ikatan terakhirku dengan Keluarga Valerio dan itulah satu-satunya penutupan yang kubutuhkan.

Saat aku melangkah keluar ke udara malam yang hangat, sebuah mobil hitam mengilap berhenti di tepi jalan. Jendela penumpang turun perlahan.

"Sienna Michael?" Sebuah suara memanggil. Suaranya rendah dan halus. Wajahnya setengah tersembunyi oleh cahaya lampu jalan.

"Aku Erlang Kavindra," katanya. "Bisakah aku bicara sebentar denganmu?"

Aku mengerjap. Erlang Kavindra? Mafia Selatan itu?

Di kehidupanku yang lalu, aku hanya pernah mendengar namanya sekali. Saat aku mencoba menegosiasikan kesepakatan, aku langsung ditolak mentah-mentah. Kenapa dia ada di sini sekarang?

"Aku … pakaianku sedang nggak cocok untuk urusan bisnis," jawabku enteng. "Mungkin lain kali?"

"Ada gaun baru di kursi belakang," katanya datar. "Gantilah. Ada bar di sudut jalan. Aku akan traktir satu gelas bir."

Pria itu bersikeras.

Jadi aku tersenyum. "Baiklah."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Penyesalan Dan Pembebasan
8.6
Setelah sepuluh tahun menanggung kebencian Irfan pasca-pernikahan paksa mereka, sang protagonis akhirnya kehilangan pria itu dalam misi penyelamatan yang tragis. Diiringi penyesalan keluarga dan tuduhan sebagai pembawa sial, ia memilih mengakhiri hidupnya dengan racun. Namun, sebuah keajaiban membawanya terbangun kembali di malam sebelum hari pernikahan mereka. Sadar akan penderitaan masa lalu, kali ini ia bertekad untuk merelakan hubungan mereka dan memilih jalan hidup yang berbeda.
Sampul Novel Dokter Ajaib Primadona Desa
9.4
Kehidupan Tirta Hadiraja berubah drastis setelah ia tidak sengaja memakan seekor ular putih. Masalah impotensi yang dideritanya lenyap, digantikan dengan keperkasaan luar biasa, kemampuan mata tembus pandang, serta daya ingat super. Sebagai pemilik klinik, Tirta memanfaatkan keahlian baru ini untuk mengembangkan kemampuannya ke tingkat yang luar biasa. Di saat kejayaannya mulai menanjak, ia justru dihadapkan pada perebutan hati dari seorang janda, primadona desa, hingga putri konglomerat yang bersaing ketat untuk menjadi istrinya.
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez, agen rahasia Rusia berparas menawan, selalu menutup hati dari wanita walau banyak yang memujanya. Namun, hatinya goyah setelah bertemu kembali dengan sahabat kecilnya, Claudia Rodriguez. Meski Carlo berusaha meredam gejolak asmara tersebut, cinta di antara mereka justru semakin membara. Kini, ia menghadapi dilema pelik ketika diperintahkan menyelidiki kasus kejahatan ayah Claudia, Samuel Rodriguez. Carlo pun harus memilih antara loyalitas tugas atau perasaan cintanya.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Pascapengkhianatan perebutan wilayah yang nyaris merenggut nyawanya, bos mafia kejam Damian Verano hanyut di sungai selama tiga hari. Ia diselamatkan oleh Alira, gadis desa sederhana berusia delapan belas tahun. Walau bayang-bayang Sierra masih menghantui Damian, kepolosan Alira justru menumbuhkan benih cinta baru di hatinya. Mampukah sang penguasa dunia bawah tanah bersatu dengan gadis polos yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kelamnya?
Sampul Novel Less Than Evil
9.6
Di dunia yang kejam ini, seni menjilat dan kepalsuan menjadi senjata utama demi meraih kekuasaan. Hubungan antarmanusia tak lebih dari alat untuk saling memanfaatkan demi ambisi pribadi, tanpa menyisakan ketulusan sedikit pun. Kehidupan bertransformasi menjadi arena pertempuran bagi mereka yang pandai bersandiwara dan berganti topeng. Pada akhirnya, hanya sosok paling licik yang mampu bertahan di tengah persaingan hidup yang penuh tipu daya ini.
Sampul Novel Nelangsa TAKDIR
8.7
Pertemuan usai belasan tahun memicu obsesi kelam dalam diri Caleb. Ketika Eddith tak lagi mengingat masa lalu mereka, sukacita Caleb berubah menjadi kekejaman tanpa ampun. Kini, pria kejam itu mengendalikan seluruh hidup Eddith. Walau Eddith terus meronta dan menolak, gairah Caleb justru kian tersulut. Dibayangi ancaman penderitaan yang jauh lebih besar, Eddith kini terperangkap dalam cengkeraman takdir sosok pria yang ia cap sebagai bajingan.