
Tumbal Untuk Bisnis Gelap
Bab 5
"Jordan, jangan pergi! Temani aku sebentar lagi. Aku cuma ingin ada seseorang untuk diajak bicara."
Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Meskipun tahu aku seharusnya tidak tinggal lebih lama, aku tidak bisa menolak permohonannya. Dengan enggan, aku memutuskan untuk mengobrol dengannya.
Saat itu, Shely sudah hampir sadar dari mabuknya. Dia menuangkan dua cangkir teh dan duduk di sampingku. "Jordan, jujur saja, apa saja yang dilakukan si berengsek George waktu dia bersamamu?"
Aku tahu seharusnya aku menjaga rahasia bosku. Namun, melihat betapa menyedihkannya Shely, aku memutuskan untuk berterus terang. Bagaimanapun, George yang bisa mengabaikan istri sebaik ini dan malah melakukan hal-hal seperti itu di luar sudah sangat merusak penilaianku terhadapnya.
Aku menceritakan semuanya kepada Shely dengan jujur.
Setelah mendengar ceritaku, Shely mulai menunduk dan mengusap air matanya. Aku segera mencoba menenangkannya. "Kak, jangan marah. Aku juga merasa Bos salah. Nanti kalau dia kembali, aku akan bicara dengannya."
"Jordan, kamu masih muda. Jangan pernah cobain ASI itu!" ujar Kak Hong tiba-tiba sambil mengangkat wajahnya.
"Waktu kecil, ASI memang memberikan kita nutrisi yang cukup. Tapi kalau sekarang kamu meminumnya, itu sama saja seperti merokok. Bukan cuma membuat kecanduan, tapi juga merugikan tubuh!"
Mendengar hal itu, aku merasa bingung. "Tapi, Kak, kondisi tubuh Kak George sekarang tampaknya baik-baik saja."
Shely menoleh padaku sambil terkekeh-kekeh, "Jangan lihat dari penampilan luarnya yang tampak bersemangat, tapi kalau urusan ranjang ... dia nggak pernah memuaskanku."
Aku langsung menjadi canggung setelah mendengar hal itu. Aku menunduk dan tidak berani menatap Shely lagi. Namun, Shely malah bangkit dan berdiri di hadapanku.
"Jordan, menurutmu aku ini gimana?"
Pada saat ini, aku baru menyadari bahwa Shely yang mengenakan kemeja putih dan rok ketat itu, tubuhnya tidak kalah dari wanita lain di luar sana.
"Kak, apa yang kamu lakukan?"
Shely menarik roknya, lalu mendekatiku perlahan-lahan. "Panggil aku Shely saja ...."
Tangannya yang lembut itu telah bersandar di bahuku.
"Kak, jangan begitu ...." Detak jantungku berpacu kencang dan suaraku gemetaran.
"Kakak sudah lama nggak merasakan sentuhan pria. Anggap saja bantu Kakak, biarkan si berengsek itu tahu rasanya diselingkuhi ...."
Anda Mungkin Juga Suka





