APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tumbal Rumah Bersalin

Tumbal Rumah Bersalin

Di balik sosok ramahnya sebagai bidan Desa Tlogo Ungu, Warni menyimpan misteri kelam. Trauma akibat kemiskinan dan pengucilan masa lalu mendorongnya bersekutu dengan siluman ular putih bernama Nyai Sukma lewat perantara Romlah. Demi kejayaan bisnis dan kekayaan instan, kesepakatan mistis pun terjalin. Namun, ritual pesugihan ini menuntut bayaran mengerikan: ibu melahirkan di malam Jumat Kliwon dan darah daging Warni sendiri sebagai tumbal pertama. Sanggupkah ia menumbalkan bayinya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam ini Warni baru saja membantu seorang wanita muda yang bernama Linda dalam melakukan persalinan pertamanya. Seperti biasa setiap menyelesaikan tugasnya Warni selalu melihat kalender yang ada di ruang persalinan. Tepat seperti dugaan Warni, malam ini adalah malam jumat kliwon malam dimana dia harus menyerahkan satu tumbal kepada Nyi Sukma.

"Hari ini adalah hari kamis malam jumat kliwon, aku harus menyiapkan tumbal berikutnya untuk Nyai Sukma," batin Warni sambil melihat kalender yang ada di hadapannya.

“Bagaimana keadaan Istri dan Anak saya, Bu Bidan?" tanya Hartono saat melihat Warni keluar dari ruang bersalin.

"Istri dan anak Bapak sehat. Sebentar lagi kami akan memindahkannya ke kamar melati, tapi untuk sementara jangan dijenguk atau diganggu dulu, jadi Bapak bisa pulang dulu ke rumah." Bidan Warni menjelaskan sambil tersenyum ramah.

"Tapi bagaimana mungkin saya tidak boleh menjaga istri saya, sedangkan di rumah bersalin yang lain saja tidak ada masalah jika keluarga menjaga pasien," protes Hartono yang tidak terima dengan keputusan Warni.

"Wanita yang baru saja melahirkan tentu akan merasakan kelelahan yang luar biasa, jadi untuk memulihkan keadaannya dia harus banyak istirahat. Itulah kenapa kami melarang anggota keluarga untuk menjaga pasien," jawab Warni dengan tegas.

"Tapi …."

Sambil tersenyum ramah, "Bapak bisa melihat kondisi Ibu Linda yang masih ada di ruang bersalin."

Sebenarnya ada rasa ragu dalam hatinya saat akan meninggalkan Linda. Namun, setelah melihat kondisi sang istri yang kelelahan Parto akhirnya bersedia meninggalkan sang istri dan pulang ke rumah. Warni memang tidak mengizinkan pasiennya di temani oleh keluarga mereka, ini di lakukannya untuk mempermudah Nyi Sukma mengambil tumbal yang disediakan untuknya.

“Sus. Pasien yang baru saja bersalin tolong pindahkan ke ruang melati," ucap Bidan Warni kepada seorang perawat.

"Baik, Bu Bidan," jawab seorang perawat bernama Sari sambil menutup sebuah buku yang ada di hadapannya.

Setelah memberi perintah kepada Sari, Warni pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya yang terletak di ujung koridor. Yuni salah satu perawat yang duduk di samping Sari terlihat sedikit curiga dengan perintah yang diberikan Warni. Pasalnya selama ini pasien yang diletakkan di kamar melati selalu berakhir tragis.

"Sari, aku ikut. Ya," ucap Yuni sambil menggenggam tangan Sari yang akan meninggalkan mejanya.

"Kamu 'kan harus membersihkan ruang bersalin. Jika Bidan Warni tahu kamu meninggalkan ruang bersalin dalam keadaan kotor dia akan marah," jawab Sari sambil menoleh ke arah Yuni.

“Sus, bagaimana keadaan putri saya?” tanya Linda kepada Sari dan Yuni.

“Alhamdulillah, Putri Ibu dalam keadaan sehat dia saat ini sudah ada di ruang bayi. Sekarang saya akan memindahkan Ibu ke ruang rawat inap,” jawab Sari sambil tersenyum.

"Dek, Mas pulang dulu ya. Besok pagi Mas akan kesini lagi buat jemput kamu dan anak kita," ucap Hartono saat akan meninggalkan ruang bersalin.

"Tapi, Mas. Aku takut jika harus sendirian disini." Linda terlihat menahan tangis.

"Tidak apa-apa, disini 'kan ada Suster dan Bu Bidan. Besok setelah shalat subuh Mas janji akan langsung ke sini." Hartono berusaha untuk menenangkan sang istri.

"Iya, Bu. Kami disini akan menjaga Ibu Linda jadi Ibu tidak perlu takut," ucap Sari sambil tersenyum ramah.

Linda akhirnya menuruti perintah Hartono walaupun sambil menangis. Setelah Hartono meninggalkan ruang bersalin Sari langsung membawa Linda ke kamar melati dengan kursi roda. Warni yang saat ini sudah ada di ruangannya terlihat berbicara dengan seorang wanita cantik yang memiliki tubuh layaknya seekor ular.

“Bagaimana? apa sudah ada mangsa untukku malam ini,” tanya wanita tersebut.

“Sudah, Nyai. Malam ini Nyai sudah bisa menemuinya di kamar melati, karena saya sudah perintahkan Perawat untuk membawa wanita itu ke kamar Tersebut." Warni menjawab sambil menunduk dan bersimpuh di hadapan wanita bertubuh ular tersebut.

"Bagus, aku suka jika kamu tidak melupakan kewajibanmu," ucap wanita ular itu sambil berlalu meninggalkan Warni yang masih bersimpuh.

Tidak ada yang tahu jika hampir 2 tahun ini Warni yang terkenal sebagai Bidan teladan, baik dan ramah ternyata melakukan perjanjian dengan siluman ular putih. Kondisi ekonomi yang sulit, serta hinaan para tetangga di masa lalu rupanya membuat Warni memiliki dendam yang sudah mendarah daging. Hingga akhirnya dia tega menjadikan warga Desa Tlogo Ungu sebagai tumbal pesugihannya.

"Aku yakin, besok pagi akan ada pasien yang lebih banyak lagi dari hari ini.  Bahkan uang dan kekayaan yang aku miliki akan semakin bertambah," ucap Warni sambil tertawa lirih.

***

Keesokan harinya terlihat beberapa orang telah berdiri di depan ruang melati. Warni yang baru saja tiba di Klinik langsung berlari ke arah kerumunan orang tersebut. Rasa bahagia terlihat dari tatapan matanya saat melihat Linda tergeletak di ranjang dengan kondisi membiru di sekujur tubuhnya.

“Bagaimana ini, Bu Bidan. Kenapa Istri saya bisa meninggal seperti ini?” tanya Hartono yang tidak lain adalah suami dari pasien tersebut sambil menangis sesenggukan.

“Bapak tenang dulu, saya akan coba memeriksa pasien.” Warni menjawab sambil mengusap pundak Hartono yang ada di hadapannya.

“Suster Yuni, tolong bawa semua orang keluar dari ruangan ini. Biar saya dan Suster Sari bisa memeriksa jenazah Ibu Linda," perintah Warni kepada Yuni.

Warni hanya mempekerjakan 4 orang perawat yang akan diganti setiap 12 jam sekali. Setelah meminta semua orang untuk keluar dari ruangan itu, Bidan Warni dengan ditemani Suster Sari langsung masuk untuk memeriksa apa penyebab kematian Linda. Di tempat terpisah terlihat beberapa Perawat sedang berbincang di meja resepsionis.

"Aneh, bagaimana mungkin Ibu Linda bisa tiba-tiba meninggal dunia," ucap Yuni yang saat itu ada di meja resepsionis.

“Kamu benar, sepertinya ada yang tidak wajar dengan kematian Ibu Linda," jawab Nur yang saat itu duduk di samping Yuni.

"Apa jangan-jangan ... ." tiba-tiba Yuni menghentikan ceritanya.

"Jangan-jangan apa. Sus?" tanya Hartono yang ternyata mendengar perbincangan mereka.

"Tidak. Pak, tidak ada apa-apa." Yuni terlihat gugup.

“Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Istri saya!” bentak Hartono hingga membuat Yuni dan perawat lain terkejut.

“Sudah, Nak. Ikhlaskan Istri mu, biarkan dia meninggal dengan tenang," bujuk Bu Asih sambil mengusap punggung Hartono.

"Tidak, Bu! Aku yakin ini pasti ada yang tidak beres dengan rumah bersalin ini!" teriak Hartono sambil menoleh ke arah sang ibu.

Disaat Hartono sedang mencari informasi tentang penyebab kematian istrinya melalui Perawat yang ada di tempat itu. Di saat yang bersamaan Warni dan Sari yang baru saja memeriksa penyebab kematian Linda langsung menghampirinya. Warni pun mengajak Hartono untuk masuk ke dalam ruangannya.

"Kami sudah memeriksa jenazah Ibu Linda, kami bisa simpulkan penyebab kematiannya adalah pecahnya pembuluh darah di otak yang pecah." Warni mulai menjelaskan saat mereka sudah duduk di dalam ruangan.

"Tapi bagaimana mungkin pembuluh darah istri saya bisa pecah, sedangkan saat terakhir saya pergi dia dalam kondisi baik-baik saja, " jawab Hartono sambil memukul meja yang ada di hadapannya.

"Saya harap Bapak bisa berlaku sopan disini! Kematian Ibu Linda diluar kehendak kami, pecahnya pembuluh darah seseorang bisa disebabkan karena tekanan darah yang terlalu tinggi. Jadi kematian Ibu Linda tidak ada hubungannya dengan rumah bersalin ini, " jawab Warni dengan tatapan tajam.

Hartono menatap Warni dengan tatapan curiga, "Aku yakin ada yang tidak beres dengan rumah bersalin ini."

Hartono yang merasa tidak ada jawaban pasti tentang kematian Istrinya langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan. Sambil menahan amarah dan air mata, Hartono dan keluarganya membawa jenazah Linda pulang ke rumah untuk segera dimakamkan. Bidan Warni yang mendengar ucapan Hartono terlihat gugup. Namun, sebisa mungkin dia pendam agar tidak membuat semua orang curiga.

"Dasar! Orang miskin yang nggak punya aturan," ucap Warni yang terlihat kesal. 

Waktu berlalu dengan begitu cepat, kematian Linda menyebar dengan cepat. Bahkan kematian mendadak itu  menjadi topik utama di Klinik tersebut. Kamar melati pun menjadi  momok yang menakutkan bagi para wanita yang akan melakukan persalinan di Klinik tersebut.

"Apa benar Ibu Linda meninggal karena pecahnya pembuluh darah di otak?" tanya Yuni kepada Sari.

"Menurut hasil pemeriksaan sih begitu. Memangnya kenapa?" jawabnya.

"Tidak. Hanya saja aku merasa jika ada keanehan pada Rumah bersalin ini," ucap Yuni sambil sedikit berbisik. 

"Keanehan."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Di balik tembok megah Cachtice Castle, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed menyimpan rahasia kelam yang mengguncang Eropa Timur abad ke-15. Dituduh membunuh lebih dari 600 gadis muda dalam ritual mandi darah demi menjaga kecantikannya, ia menjadi legenda paling menakutkan dalam sejarah Hongaria. Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo menyelidiki laporan kekejaman yang melibatkan ritual bebas dan pembunuhan sadis di dalam kastilnya. Saat para pembantunya dijatuhi hukuman mati, status bangsawan melindungi sang countess dari eksekusi. Ia justru dikurung di kastilnya sendiri, hidup dalam isolasi hingga akhir hayatnya pada 21 Agustus 1614. Kisah ini adalah fiksi yang terinspirasi dari sejarah kelam Blood Countess—cikal bakal legenda vampir Eropa, disajikan sebagai roman gelap yang mencekam dan penuh gairah terlarang.
Sampul Novel Dijodohkan Hantu
8.7
Erina, gadis yatim piatu penyintas kebakaran yang bisa melihat makhluk halus, terus diikuti hantu wanita selama sepekan. Arwah itu memohon agar Erina menghibur suaminya yang tengah berduka. Walau awalnya enggan, Erina akhirnya bersedia menemui Eldrick Damiano. Tak disangka, pertemuan tersebut menumbuhkan rasa cinta di diri Erina. Sayangnya, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah setia selamanya kepada sang mendiang istri.
Sampul Novel Ibu Tiri yang Buta Hati
9.1
Kiara kehilangan satu mata demi melindungi ayahnya, Ditya Danaraja, dari serangan perampok yang menewaskan ibunya. Sejak itu, sang ayah yang bipolar melindunginya secara ekstrem dari siapa pun yang mengusik Kiara. Setelah menjalani operasi pemulihan mata di luar negeri, Kiara pulang untuk menyambut pernikahan baru ayahnya. Namun, ibu tiri yang diklaim lembut justru menculik Kiara ke pabrik kosong. Menuduhnya ingin merebut suami orang dan mencuri perhiasan mendiang istri pertama, sang ibu tiri kini mengancam akan mengulitinya hidup-hidup.
Sampul Novel Kak, Kalian Sungguh Kejam
8.9
Akibat tuduhan palsu sang adik tiri tentang alergi makanan, seorang protagonis dihukum oleh ketiga kakak laki-lakinya—seorang pebisnis, penyanyi terkenal, dan pelukis genius. Mereka mengurungnya di ruang bawah tanah yang kedap tanpa memedulikan permohonannya. Sementara mereka pergi ke rumah sakit untuk merawat sang adik tiri, protagonis perlahan kehabisan oksigen hingga akhirnya tewas mengenaskan. Tiga hari kemudian, saat mereka kembali dan baru teringat untuk membukakan pintu, semua sudah terlambat.
Sampul Novel Terlahir Kembali: Menyelamatkan Anakku Dari Sahabatku
8.6
Saat sahabatnya mengalami kerontokan rambut parah, sang protagonis menolak meminjamkan ASI miliknya. Sahabatnya kemudian membeli ASI terinfeksi dari internet hingga tertular penyakit. Menyalahkan penolakan tersebut, sang sahabat menyusup ke rumah dan mencekik anak perempuan protagonis hingga tewas menggunakan rambutnya. Setelah membalas dendam secara brutal, sang ibu tiba-tiba terbangun dan kembali ke masa lalu, tepat di hari saat permintaan ASI itu pertama kali diajukan.
Sampul Novel Tipu Daya Untuk Mendapatkan Ibuku
7.8
Sejak kepergian Ayah untuk selamanya, rumah kami tidak pernah sama lagi. Ibu mulai menunjukkan gelagat aneh dengan membawa pulang manusia-manusia dari kertas. Ia berdalih bahwa sosok-sosok mati itu adalah teman untuk mengusir sepi di malam yang sunyi. Meski awalnya membingungkan, sebuah rahasia mengejutkan akhirnya tersingkap saat aku mengintip ke dalam kamar melalui celah pintu. Di sana, Ibu tampak tanpa busana di atas ranjang bersama mereka, membuatku mulai menyadari kengerian yang sesungguhnya sedang terjadi.