APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tujuh Tahun Kebohongan, Aku Kembali dengan Dendam

Tujuh Tahun Kebohongan, Aku Kembali dengan Dendam

Demi mengobati putranya, Alya Diani rela menderita sebagai pembersih TKP selama tujuh tahun. Tragisnya, pengorbanan itu hanyalah eksperimen sosial kejam dari kekasihnya, Bima. Setelah dihina dan ditolak anaknya sendiri demi wanita lain, mereka mengira Alya hanyalah rakyat miskin biasa. Padahal, ia adalah putri kandung dari keluarga kaya Darmawan. Begitu kebenaran terungkap, Alya pun pulang ke keluarganya untuk menuntut balas atas segala rasa sakitnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Selama tujuh tahun, aku bekerja sebagai pembersih lokasi kejadian perkara, menggosok sisa-sisa kematian demi menyelamatkan nyawa putraku. Akhirnya, aku berhasil mengumpulkan Rp4 Miliar untuk pengobatan eksperimental yang akan menyembuhkan kelainan genetik langka yang dideritanya.

Tetapi ketika aku tiba di rumah sakit, aku tidak sengaja mendengar pacarku, Bima, sedang berbicara. Bukan tentang penyembuhan. Ini adalah "eksperimen sosial," sebuah ujian selama tujuh tahun untuk membuktikan bahwa aku bukan cewek matre. Putraku tidak pernah sakit.

Sahabatku juga terlibat, ikut tertawa. Lalu aku mendengar suara putraku.

"Aku tidak mau Ibu bau itu kembali. Aku mau Tante Jihan. Dia wangi kue kering."

Mereka mempermalukanku di sekolahnya, menyebutku seorang petugas kebersihan yang sakit jiwa. Putraku menunjukku dan berkata pada semua orang bahwa dia tidak mengenalku, sementara pria yang kucintai menyeretku pergi, menuduhku sebagai aib.

Cintaku bukanlah cinta; itu adalah data. Pengorbananku bukanlah pengorbanan; itu adalah sebuah pertunjukan. Mereka telah membuat anakku sendiri berbalik melawanku demi permainan gila mereka.

Mereka pikir mereka sedang menguji seorang pembersih miskin yang lugu. Mereka tidak tahu bahwa dia adalah Bramantyo Yudoyono, pewaris dinasti miliaran. Dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa aku adalah Alya Diani dari keluarga Darmawan.

Aku mengangkat telepon dan menelepon kakakku.

"Aku pulang."

Bab 1

Alya POV:

Rupiah terakhir yang kuperoleh dari membersihkan sisa-sisa kematian adalah rupiah yang seharusnya menyelamatkan nyawa putraku.

Selama tujuh tahun, aku telah menggosok habis momen-momen terakhir yang brutal dari kehidupan orang lain. Bau pemutih dan anyir darah seolah meresap permanen ke dalam hidungku, hantu abadi dalam indraku. Aku bekerja sampai tanganku kasar dan kapalan, sampai punggungku terasa sakit luar biasa, semua demi angka di layar ponsel. Hari ini, angka itu akhirnya mencapai targetnya. Empat miliar rupiah. Biaya pengobatan eksperimental yang akan menyembuhkan kelainan genetik langka Joshua.

Cek terakhir terasa berat di sakuku, sebuah beban suci. Aku baru saja menyelesaikan sebuah TKP di apartemen pusat kota, sebuah akhir yang sepi yang meninggalkan rasa pahit di mulutku, tapi itu tidak penting. Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi berlutut di lantai dingin yang bernoda. Tidak ada lagi melihat garis kapur orang asing dalam tidurku.

Mobil bak tuaku berderak saat aku melaju menuju rumah sakit, sebuah kotak biru cerah berisi miniatur pesawat luar angkasa diletakkan di kursi penumpang. Joshua menyukai apa pun yang berhubungan dengan luar angkasa. Aku membayangkan wajahnya berbinar, tangan mungilnya dengan hati-hati merakit bagian-bagian plastik itu. Sebentar lagi, kami akan punya banyak waktu untuk hal-hal seperti ini. Sebentar lagi, dia akan sehat, dan aku bisa menjadi seorang ibu seutuhnya. Bukan pembersih. Bukan wanita yang terus-menerus dihantui oleh momok tagihan medis. Hanya... Ibu.

Aku memarkir mobil dan menurunkan kaca spion, mencoba merapikan diri. Aku terlihat lelah, lebih tua dari usiaku yang baru dua puluh sembilan tahun. Ada lingkaran hitam permanen di bawah mataku, dan rambutku diikat ekor kuda dengan asal. Aku sedikit berbau pembersih industri. Bau yang tidak pernah bisa benar-benar hilang. Tapi senyumku tulus, lebih lebar dari tahun-tahun sebelumnya. Aku akan membawa mereka kabar terbaik dalam hidup kami.

Aku ingin memberi mereka kejutan. Bima—Bima Saputaku, pria yang telah mendampingiku melewati semua ini—mungkin ada di ruang keluarga pribadi yang disediakan rumah sakit untuk pasien jangka panjang. Jihan, sahabatku, mungkin telah membawakan Joshua makanan ringan favoritnya.

Lorong menuju ruangan itu sepi. Semakin dekat, aku mendengar suara-suara dari balik pintu yang sedikit terbuka. Aku memperlambat langkahku, tanganku sudah meraih kenop pintu, senyum membeku di wajahku.

Itu suara Bima, halus dan percaya diri, bukan nada lelah yang biasa ia gunakan saat membahas kesehatan Joshua. "Data dari uji coba plasebo ini konklusif, Pak Yudoyono. Dokter Evans telah mengonfirmasinya. Tanda-tanda vital Joshua tetap stabil sempurna. Responsnya persis seperti anak sehat berusia enam tahun."

Darahku seakan membeku. Pak Yudoyono? Uji coba plasebo?

Suara lain, terdengar klinis dan asing, menjawab. "Luar biasa. Ini eksperimen sosial yang menarik, Bramantyo. Tujuh tahun adalah waktu yang lama. Apakah Anda puas dengan hasilnya?"

Bramantyo? Nama pacarku Bima Saputra. Aku menempelkan telingaku lebih dekat ke pintu, jantungku berdebar kencang dengan irama yang memuakkan di dalam dadaku.

"Hampir," kata Bima—Bramantyo—. "Dia sudah membuktikan kalau dia bukan cewek matre. Dia bekerja di pekerjaan yang akan membuat kebanyakan orang muntah hanya untuk mengumpulkan uang. Dia tidak pernah meminta sepeser pun lebih dari yang bisa ditutupi oleh 'gajiku'."

Lalu aku mendengarnya. Jihan. Sahabatku. Suaranya ringan, main-main. "Jadi, tesnya sudah selesai? Akhirnya kamu bisa memberitahunya yang sebenarnya?"

Rasa ngeri yang dingin, tajam, dan menyesakkan, melingkupi paru-paruku. Ini pasti sebuah kesalahan. Lelucon yang mengerikan dan keji.

"Belum," kata Bramantyo, dan aku bisa membayangkan keangkuhan di wajahnya. "Kurasa kita butuh enam bulan lagi. Hanya untuk memastikan karakternya benar-benar baik. Begitu dia menyerahkan cek terakhir itu, kita akan mengamatinya selama setengah tahun. Lihat apakah dia membencinya. Lihat apakah dia berubah."

"Enam bulan lagi?" Suara Jihan diwarnai sesuatu yang terdengar seperti kegembiraan. "Bram, kamu kejam sekali. Aku suka."

Lalu, aku mendengar suara putraku. Joshua. Cerah dan jelas.

"Ayah, apa kita bisa segera pulang? Aku tidak mau Ibu bau itu kembali. Dia selalu bau seperti cairan pembersih yang tidak enak."

Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari pukulan fisik. Ibu bau.

"Sebentar lagi, jagoan," kata Bramantyo dengan penuh kasih sayang. "Kita hanya perlu menunggu sedikit lebih lama."

"Aku tidak mau dia," desak Joshua, suaranya meninggi menjadi rengekan. "Aku mau Tante Jihan. Dia wangi kue kering dan dia membelikanku Lego baru. Ibu cuma bisa menangis."

"Aku tahu, Josh," kata Jihan, suaranya berubah menjadi bisikan manis yang memuakkan. "Tante Jihan akan tinggal bersamamu. Kita akan bersenang-senang, hanya kita bertiga."

"Hanya enam bulan lagi," ulang Bramantyo, suaranya tegas, seperti seorang CEO yang menutup kesepakatan. "Lalu tesnya selesai. Kita akan lihat apakah Alya Diani pantas menjadi seorang Yudoyono."

Alya Diani. Dia tidak pernah memanggilku begitu selama bertahun-tahun. Baginya, bagi semua orang di kehidupan ini, aku adalah Alya Saputra.

Miniatur pesawat luar angkasa dalam kotak birunya tiba-tiba terasa seberat satu ton di tanganku. Aku terhuyung mundur dari pintu, tanganku membekap mulut untuk menahan suara yang mencoba keluar dari tenggorokanku.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun hidupku, tubuhku hancur, semangatku luluh lantak. Bukan untuk sebuah penyembuhan. Itu adalah sebuah tes. Tes kesetiaan. Sebuah permainan kejam yang rumit yang diatur oleh pria yang kucintai, sahabatku, dan diterima oleh putra yang telah kukorbankan segalanya untuknya.

Tumpukan uang yang telah kukumpulkan, setiap rupiah yang berlumuran darah dan air mata, bukan untuk pengobatan yang menyelamatkan jiwa. Itu adalah tiket masuk ke dalam sebuah keluarga yang mengamatiku seperti tikus laboratorium di dalam kandang.

Cintaku bukanlah cinta bagi mereka. Itu adalah data. Pengorbananku bukanlah pengorbanan. Itu adalah sebuah pertunjukan.

Aku menatap miniatur pesawat luar angkasa di tanganku. Hadiah untuk seorang anak laki-laki yang tidak menginginkanku. Simbol masa depan yang ternyata bohong.

Seluruh hidupku adalah kebohongan.

Air mata mengalir di wajahku, panas dan tanpa suara. Tawa dari dalam ruangan, sebuah adegan keluarga kecil yang bahagia, bergema di lorong steril itu. Itu adalah suara hatiku yang hancur berkeping-keping.

Aku berbalik dan berjalan pergi, langkahku kaku. Aku melewati sebuah tong sampah abu-abu besar di dekat lift. Tanpa ragu, aku mengangkat tutupnya dan menjatuhkan kotak biru cerah itu ke dalamnya. Benda itu mendarat dengan bunyi gedebuk yang hampa.

Semua sudah berakhir, pikirku, kata-kata itu menjadi jeritan tanpa suara di benakku. Bukan ujiannya. Tapi kita.

Aku selesai.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Apakah Ini Cinta?
8.4
Menikah dengan Tristan yang super posesif karena sindrom Jacob membuat hidupku terkunci. Setelah memaksa tunanganku pergi dan menuntut pernikahan, Tristan memantauku selama sepuluh tahun dengan gelang pelacak. Meski sangat mengekang, sang miliarder juga melindungi dan memanjakanku tanpa batas dari siapa pun yang menghinaku. Namun, saat aku akhirnya hamil setelah dia membatalkan vasektominya demi mendapatkan hatiku, sebuah tragedi terjadi. Kakaknya menyerbu vila kami, menuduhku berselingkuh berdasarkan bukti palsu, dan memukulku hingga keguguran di hadapan Tristan yang baru tiba.
Sampul Novel Belenggu Ceo Bastard
7.9
Nica harus menjalani kenyataan pahit saat terjebak dalam cengkeraman Dave, seorang miliarder kejam yang tidak mengenal belas kasihan. Setiap tangisan dan rasa sakit yang dialami Nica justru menjadi kepuasan tersendiri bagi Dave, yang terus memperlakukannya dengan semena-mena. Di bawah dominasi kekuasaan sang miliarder, Nica tidak berdaya dan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Hubungan penuh paksaan ini pun meninggalkan trauma mendalam yang merenggut kebebasannya.
Sampul Novel BOS! JATUH CINTA LAGI
7.8
Nayana Previtha dan Regan Maxwell dipersatukan oleh kepedihan yang sama akibat dikhianati pasangan mereka. Demi membalas dendam kepada para mantan, Regan menawarkan sebuah kesepakatan kerja sama kepada Nayana. Siapa sangka, kolaborasi tersebut justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga di antara keduanya. Hubungan mereka pun kian dalam hingga saling bergantung. Akankah ikatan baru ini membawa kebahagiaan sejati, atau justru menorehkan luka yang lebih dalam?
Sampul Novel CEO Mesum
9.1
Alice Handerson, sekretaris berprinsip kokoh, selalu menghadapi sikap menggoda dari bosnya di tempat kerja. Di balik profesionalismenya, ia kerap terseret dalam ketegangan penuh sensasi di kantor. Ketika sebuah tawaran kontroversial datang dari sang atasan, Alice bimbang antara akal sehat dan gejolak batinnya. Hubungan penuh dinamika cinta dan benci ini menantang batas kekuasaan serta gairah mereka dalam kisah romansa modern yang berani.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
9.3
Kehidupan Keyla Valerie hancur lebur setelah menyaksikan suaminya berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah rasa sakit hati dan keputusasaan yang mendalam, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda tampan bergaya badboy. Tak disangka, pemuda kaya raya tersebut langsung mengklaim Keyla sebagai calon istrinya. Bagaimana kelanjutan nasib Keyla dalam menghadapi babak baru kehidupannya yang tak terduga ini? Simak kisah lengkapnya.
Sampul Novel Duet Maut Janda dan CEO Badass
8.2
Pasca bercerai, Vina Pryanika (29) terjepit kesulitan finansial. Di bawah pengaruh alkohol, ia tidak sengaja menampar Eros Gaharu, seorang CEO teknologi yang terkenal kejam dan pemarah. Sebagai bentuk balasan, Eros meniduri Vina yang tidak berdaya. Di tengah konflik ini, Vina bertekad menghancurkan keluarga mantan suaminya. Keduanya pun bersekutu dalam kolaborasi mematikan demi menuntaskan dendam masing-masing. Akankah kemitraan ini menumbuhkan rasa yang tak terduga?