
Tujuh Hari Pembalasan Dendam Sang Istri
Bab 3
Nash tersenyum penuh kasih. Dia menatap bibir merah merona Sachi. Tanpa bisa menahan diri, dia mengangkat dagunya dan menciumnya.
Ciuman mereka semakin dalam, lalu akhirnya mereka masuk ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu mulai bergoyang.
Quinn bersembunyi di balik tiang, wajahnya pucat pasi. Dia menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara sedikit pun, sementara air matanya jatuh deras.
Nash menghamili Sachi. Padahal dia selalu berkata bahwa wanita yang paling dia cintai adalah Quinn, tetapi sekarang dia justru bersedia mengulang semua kenangan spesial mereka untuk wanita lain!
Saat itu, Quinn sangat ingin menerobos keluar dan berteriak marah, tetapi pada akhirnya dia hanya membalikkan badan dan pergi.
Quinn sendiri bahkan tak tahu bagaimana dia bisa meninggalkan tempat itu. Dia tidak kembali ke rumah sakit, melainkan berjalan tanpa arah di sepanjang jalan.
Tak jauh dari sana, berdiri kantor pusat Grup Peak. Layar elektronik besar di gedung itu tengah memutar ulang sebuah rekaman dari dua tahun lalu.
Itu adalah rekaman pernikahan yang membuat semua wanita di ibu kota iri setengah mati. Sebuah kastel romantis, anak-anak pembawa bunga yang manis, dan wajah Nash serta Quinn yang berlinang air mata bahagia.
Semua itu terasa seperti baru terjadi kemarin.
Quinn terus menatap layar itu, sampai air matanya jatuh lagi. Saat ini, sebuah pesan masuk. Dari Nash.
[ Quinn, ada rapat mendadak di kantor. Malam ini aku nggak bisa pulang. Besok kita ngobrol baik-baik ya. ]
Air matanya jatuh di atas layar ponsel. Quinn hanya bisa tersenyum pahit. Besok? Namun, waktunya sudah tidak banyak.
Dulu sebelum tahu Nash berselingkuh, dia sering menerima pesan-pesan seperti ini. Katanya rapat mendadak. Mungkin sebenarnya, semua rapat mendadak itu hanyalah kedok untuk bersama Sachi.
Quinn membalas.
[ Rapat sama Sachi? ]
Status pesan langsung berubah menjadi "sedang mengetik", tetapi lama dibalas. Setelah beberapa menit, Nash akhirnya menjawab.
[ Jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau nggak percaya, kamu bisa tanya ke asistenku. ]
Quinn tak membalas lagi. Beberapa detik kemudian, Sachi mengirim pesan.
[ Quinn, kamu pasti dengar obrolan kami di basemen tadi, 'kan? Jujur saja, cepat atau lambat aku pasti gantiin posisimu. Sekarang, separuh hati Kak Nash sudah buat aku. ]
[ Aku masih muda, lebih tahu cara memuaskan dia! Kalau kamu nggak mau jadi istri buangan, mending kamu sendiri yang minta cerai deh! ]
Kemudian, disusul beberapa foto. Stoking yang sobek dan bungkusan kondom yang sudah dibuka.
Tangan Quinn gemetar saat membaca pesan itu. Dia memang ingin bercerai dengan Nash setelah kematiannya, tetapi itu tidak berarti dia bisa menerima penghinaan seperti ini!
Guruh terdengar menggelegar. Hujan turun deras. Air menetes dari dagu Quinn yang pucat, tidak jelas mana air mata dan mana air hujan.
Akhirnya, dia mengirim pesan kepada Nash.
[ Nash, kita cerai saja. ]
Sesampainya di rumah, malam sudah larut. Quinn berbaring di sofa, tubuhnya terasa sangat tidak nyaman. Sepertinya dia demam tinggi.
Dia tak bisa menahan tawa getir. Dirinya sudah meninggal, kini hanya jiwa yang tersisa, tetapi masih bisa sakit juga.
Setelah duduk sebentar, dia memaksakan diri untuk berdiri, lalu naik ke atas kursi dan mengambil foto pernikahan dari dinding.
Jari-jarinya yang halus menyentuh dengan lembut, lalu tanpa ragu mengambil gunting dan merobek foto itu hingga hancur!
Foto itu dibuang begitu saja. Kemudian, dia mengeluarkan semua album dan bingkai yang berisi foto-foto bersama Nash. Setiap foto digunting hingga menjadi serpihan.
Setelah itu, dia mulai mengumpulkan semua hadiah dari Nash. Yang mahal dijual murah lewat aplikasi barang bekas, sementara yang buatan tangan dihancurkan dan dibuang ke tempat sampah.
Pada akhirnya, Quinn melangkah ke ruang galeri pribadi di rumah. Di balik etalase kaca, tergantung gaun pengantin yang dikenakan dulu. Dia menatapnya sejenak, lalu mengangkat gunting dan mengguntingnya hingga tak berbentuk lagi.
Cincin dengan berlian pink seukuran telur merpati yang dirancang khusus oleh Nash sendiri pun digenggam lama oleh Quinn. Harganya puluhan miliar. Setelah menatap untuk waktu yang lama, Quinn melemparkannya ke dalam kloset.
Dia dan Nash memang pernah saling mencintai. Kenangan itu begitu berharga. Namun, karena itulah, dia tak ingin kenangan itu ternoda oleh orang lain. Jadi, dia memilih untuk menghancurkannya sendiri.
Setelah semuanya selesai, Quinn jatuh terduduk ke lantai dengan tubuh lemas. Tepat saat itu, Nash menerobos masuk.
Anda Mungkin Juga Suka





