APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tuan Mafia dan Gadis Desa

Tuan Mafia dan Gadis Desa

Dulu, Luke dan Mika disekap bersama oleh klan Mawar Hitam di sebuah rumah tua. Mika tak bisa melupakan tato kuno di dada Luke, sedangkan Luke selalu teringat keharuman tubuh Mika yang menenangkan. Kini takdir mempertemukan mereka kembali. Sayangnya, mereka kini berada di kubu yang berlawanan sebagai musuh yang saling mengincar nyawa. Di tengah konflik dendam masa lalu, akankah benih cinta bersemi di antara mereka, atau justru ambisi masing-masing yang akan menuntut kematian lawan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah berpisah dari lingkungan desa yang familiar, Mika merasa telah memasuki dunia yang benar-benar berbeda. Kota Zaro sangat ramai bahkan sampai pagi jalanan tidak pernah sepi. Dia pernah membaca koran dan beberapa majalah tentang kehidupan perkotaan namun ini diluar ekspektasinya. Bahkan pakaian yang dikenakannya jauh berbeda dengan para penghuni kota. Gedung-gedung yang tinggi, lalu lintas padat dan kermaian-pikuk kota menjadi pemandangan yang mengejutkannya. Dia merasa kecil di tengah keramaian tersebut.

“Secepatnya kamu akan terbiasa dengan lingkungan perkotaan, Mika,” ujar Deby yang memahami raut wajah dan sorot mata adiknya.

“Dimana kita akan tinggal, Kak?” tanya Mika. Hari sudah larut dan mereka berdua masih berjalan tanpa tujuan sembari membawa tas pakaian.

“Bukankah kamu memiliki uang pemberian kakek?” tanya Deby. Mika mengangguk dan mengeluarkan sebuah kantong berwarna abu-abu. Mata Deby berbinar ketika melihat ketebalan kantong tersebut.

“Kita cari penginapan terlebih dahulu.” Bola mata Deby bergerak ke sana kemari seakan mencari ide kemana mereka menginap malam ini. “Kita istirahat sebentar di sana,” ujar Deby sembari menunjuk pada sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Disisinya ada sebuah tempat sampah dan sebuah bunga yang tidak dikenali oleh Mika.

Kedua kakak beradik itu meletakkan tas dan duduk di atas bangku. Mika membasuh keringatnya dan terus mengamati bangunan dan taman yang di desain apik dan elegan. “Apakah rumah di kota ini mahal, Kak?”

“Mahal.” Deby mengulum bibirnya sejenak dan menatap lekat wajah adiknya. “Berapa banyak uang yang kamu bawa?” tanya Deby.

“Aku belum menghitung uang dari kakek. Kalau uang tabunganku ada lima belas juta.”

Mata Deby berbinar ketika mendengar nominal uang yang disebutkan Mika. Sudah lama ia bekerja di kota ini namun belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. “Aku tahu dimana kita harus menginap.”

“Benarkah? Aku sudah lelah, Kak. Pengen mandi juga.” Mika tersenyum senang lantas berdiri dan memikul tasnya.

“Berikan uangmu padaku. Aku harus membayar penginapannya.”

Mika terdiam dan mengernyit, “sampai di penginapan baru aku membayarnya, Kak.”

Deby menahan kesal dan membuang tatapannya ke tempat sampah. “Baiklah.”

Tidak mudah menipu adiknya. Memang Mika baru menginjakkan kakinya di kota Zaro, namun ia sangat jeli dan sudah belajar tentang kejahatan dan penipuan di kota besar. Kedua kakak beradik itu kembali menapaki trotoar dan berjalan menuju sebuah kompleks perumahan yang sedikit sepi. Terlihat deretan kamar seperti kos-kosan berjajar rapi.

“Di sini lebih tenang daripada jalanan tadi.” Mika melayangkan pandangannya ke sekitar. Ada pohon tabebuya yang sedang mekar. Mahkota kuning tabebuya berjatuhan di tanah, ketika cahaya lampu jalan mengenainya menampakkan pemandangan malam yang indah.

“Untuk sementara kita kontrak di sini. Jika sudah dapat kerja kita bisa mencari rumah atau apartemen.”

Mika mengangguk setuju. Tekadnya untuk mencari kebenaran tentang ibunya semakin kuat. “Pagi aku akan bekerja, malam baru mencari keberadaan ibu.”

Deby mengangkat kedua alis matanya jengah, “aku hanya bisa bekerja dan tidak bisa membantumu.” Mika terkejut dengan ucapan Deby. Ia ingin menyanggah kalimat kakaknya namun ia sudah lelah berjalan dan tidak bertenaga untuk berdebat.

“Di sini sebulan harga sewanya sejuta. Keluarkan uangmu.” Deby mengangkat tangan kanannya dengan mata enggan melihat sang adik.

Mika segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop. Deby melongo kaget ketika melihat adiknya masih menyimpan uang di dalam amplop. Entah ada berapa amplop yang dibawanya untuk menyimpan lima belas juta. Belum lagi kantong cokelat pemberian kakek Jhon.

“Ini, Kak. Bulan depan kita patungan bayarnya,” ujar Mika.

“Hm.” Deby berwajah ketus dan berjalan menuju sebuah rumah dengan dua satpam di depannya. Entah apa yang mereka perbincangkan, Mika hanya berdiri dan melihat dari jauh. Tidak lama kemudian Deby kembali sembari membawa satu lembar kertas. “Isi data diri terlebih dahulu. Aku lupa nama lengkap dan tanggal lahirmu.”

“Apa?” Mika tidak mengerti dengan isi pikiran kakaknya. Mungkin yang dipedulikan Deby hanyalah dirinya sendiri. Tidak ingin berdebat, Mika hanya bisa menelan salivanya. “Nama lengkap Belavina Mikaila Orion, tiga maret dua ribu tiga.”

“Ternyata kamu masih bocil.”

“Bocil itu apa, Kak?” Mika mengerutkan keningnya dan baru mendengar kata itu.

“Nanti juga kamu tahu.” Deby kembali ke arah dua satpam dan menyerahkan lembaran kertas pada mereka. Setelah itu mereka berdua diantar oleh seorang satpam ke kamar yang telah disewa.

Sesampainya di kamar, Mika langsung mengecek seluruh isi kamar untuk memastikan bahwa kamar yang mereka tempati aman. Sedangkan Deby sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Mandi dulu, Kak.”

“Hm.”

Mika mengeluarkan pakaian dari tasnya dan memasukannya ke dalam lemari. Tidak diketahuinya jika Deby terus memantau geraknya. Sesekali matanya menyipit dan bertanya-tanya dimana adiknya meletakkan amplop lain dan kantong cokelat.

“Besok aku akan bertemu teman lamaku untuk mencari kerja. Jika sudah dapat aku akan membawamu ke sana.” Deby menghembuskan napas kesal karena tidak melihat amplop putih maupun kantong cokelat dalam tumpukan pakaian Mika.

“Baik, kak.”

***

Dalam ruangan yang dihiasi dengan kemewahan, Luke berdiri menghadap ke jendela kaca. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tatapannya jauh ke hamparan luas kota Zaro. Ruangan kebesarannya dihiasi dengan kemewahan yang tersembunyi dalam bayang-bayang kejahatan. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata tua yang mengekspresikan aura usia dan kekuatan, sementara lampu-lampu gantung kristal menggantung dengan megah di setiap sudut ruangan. Udara dalam ruangan terasa berat dengan rokok dan beberapa minuman keras, menciptakan lingkungan yang penuh ketegangan dan rahasia.

Tok…tok…

Suara ketukan tidak membuat Luke bergerak dari posisinya. Satu-satunya orang yang leluasa keluar masuk dari ruangannya adalah Mark, wakil ketua Reposay sekaligus sahabatnya. Namun derap langkah kali ini berbeda membuat Luke mengernyit dan melirik ke kanan. Di sana terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan gambar siapa saja yang masuk ke dalam ruangannya. Seketika senyum tipis terukir di bibirnya.

“Leon kembali, Tuan Besar.”

Luke berbalik dan menatap sejenak lelaki itu dari kepala sampai ujung kaki. Leon berjubah hitam, wajahnya terdapat bekas luka di bawah rahang kanan mencerminkan pengalaman panjang dalam dunia kriminal. “Selamat datang, Leon.”

“Maaf, Tuan. Keberadaan wanita itu seakan telah ditelan bumi.” Leon mendapat tugas menyelidiki keberadaan wanita yang disekap bersama Luke di hutan Ballad. Namun tidak ditemukan. Bahkan wanita itu tidak meninggalkan jejaknya sedikitpun.

Luke berjalan menuju sebuah meja hitam panjang dan memutar pelan sebuah musik jazz, menciptakan latar belakang yang kontras dengan suasana yang ada. Pada saat seperti ini, Leon tahu segala sesuatu dalam ruangan ini mengingatkannya pada peraturan tak tertulis dunia mafia, di mana kepatuhan adalah harga yang harus dibayar.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Luke sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Pertanyaannya memotong keheningan dan ketegangan yang terasa berlarut-larut.

“Tidak jauh berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Namun kali ini berbeda.” Leon segera mengatupkan kedua bibirnya. Hal itu membuat Luke mengarahkan ekor matanya pada pemuda itu. “Leon tidak sengaja bertemu seorang wanita di atas kereta. Auranya berbeda dan terlihat mahal.”

“Kapan kamu dewasa?”

Sebuah kalimat dari Luke berhasil membuat Leon bungkam. Ia memang berpengalaman dalam dunia gelap namun lemah dalam percintaan. Bahkan beberapa perencanaannya mampu mengubah dinamika kekuatan dalam dunia kriminal.

“Temani aku ke San Club.” Luke tahu jika Leon baru saja kembali. Namun ia membutuhkan pemuda itu untuk menyelesaikan beberapa kasus.

“Apakah kakak membutuhkan seorang gadis? Aku bisa mencarinya.” Leon terlihat bersemangat. Namun raut senangnya berubah serius kala manik hitam Luke menghujam wajahnya.

Sudah lama Luke tidak bersama wanita. Entah apa yang membuat lelaki bertemperamen dingin itu tidak mencari kekasih. Namun satu hal yang diketahui Leon, kakak lelakinya itu pernah merasakan pengkhianatan besar yang dilakukan ibu mereka terhadap sang ayah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ashes of Midgard
9.4
Rio terbangun dalam kegelapan tanpa memori apa pun, terkecuali namanya sendiri. Ia terdampar di Midgard, sebuah dunia fantasi abad pertengahan yang asing dan penuh bahaya. Demi bertahan hidup, Rio bersatu dengan orang-orang yang mengalami nasib serupa. Bersama-sama, mereka mendirikan kelompok tentara bayaran dan melatih kemampuan bertarung. Perjalanan penuh ketidakpastian pun dimulai bagi mereka yang bangkit dari abu demi mengukir takdir baru di tengah dunia yang kejam ini.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Nyawa seorang ilmuwan jenius terancam bahaya besar setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan krusial. Demi keselamatannya, seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh ditugaskan dalam misi khusus untuk melindunginya. Namun, di tengah situasi menegangkan yang mengintai mereka, benih asmara justru tumbuh. Pertemuan intens ini memicu konflik batin dalam diri sang gadis, saat dedikasi profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta mendalam.
Sampul Novel Gairah Sang Bodyguard
8.7
Nyawa penyanyi pop terkenal, Venus Harristian, terancam setelah ia melihat sebuah kejahatan besar. Polisi bernama Dion Elang Juliandra pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya demi menjaga keselamatan Venus hingga persidangan tiba. Namun, interaksi yang intens justru memicu getaran asmara di antara keduanya. Situasi menjadi rumit karena Venus dan Dion sama-sama telah bertunangan. Di bawah bayang-bayang teror, mereka kini terjebak dilema antara komitmen dan gairah yang membara.
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Demi kedamaian abadi, dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis dirantai erat, menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya. Sorak amarah terus mendesak agar nyawanya segera dilenyapkan. Namun, saat eksekusi mati tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah keputusasaan. Sosok penyelamat tiba-tiba muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah berada di depan mata.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, anak konglomerat yang aktif di geng motor penentang shadow economy, jatuh cinta pada Rafka, pemuda genius korban perundungan. Di balik kepolosannya, Rafka ternyata juga anggota geng motor. Mereka dipertemukan dalam misi besar meruntuhkan organisasi kuat bernama R Black. Di tengah tumpukan rahasia yang perlahan terungkap, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengacaukan misi berbahaya ini?
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Dibesarkan secara sederhana oleh Mbah Wiguna, Satya Wiguna tumbuh menjadi pemuda tangguh nan bersahaja. Bersama para sahabatnya, ia melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu untuk menumpas kebatilan. Ketika kekuatannya berada di titik tertinggi, entitas alam gaib mengangkatnya sebagai panglima perang. Membawa kekuatan dahsyat Pedang Naga Siluman, Satya memikul tugas krusial demi menjaga dimensi moksa dan bumi dari ancaman invasi besar Raja Iblis yang haus kekuasaan.