APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tuan Arogan dan Pelayan Hati

Tuan Arogan dan Pelayan Hati

Demi menebus kesalahan masa lalu, Nara menyamar menjadi pelayan untuk Jaden Luther, seorang CEO angkuh yang kini lumpuh dan mengasingkan diri. Sikap dingin Jaden perlahan melunak berkat kehadiran Nara yang tulus. Namun, saat cinta mulai bersemi di antara mereka, rahasia kelam masa lalu terbongkar dan mengancam hubungan tersebut. Akankah ketulusan Nara bertahan, atau justru berubah menjadi dendam yang menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Tidakkk!"

"Nara, kamu mimpi buruk lagi?" tanya wanita paruh baya yang ada di samping Nara.

Wajah pucat dan peluh yang membasahi dahi wanita bernama Nara itu tampak sangat jelas, bahkan napas naik turun juga terlihat pada dadanya.

"Iya, Bu. Aku bermimpi lagi tentang pria itu," ucapnya dengan bibir bergetar.

Seketika wanita yang dipanggil ibu oleh Nara memberikan segelas air minum dan dengan cepat Nara menghabiskannya.

"Kamu sebaiknya tenang dulu. Coba tarik napas dalam dan embuskan perlahan."

Nara pun mengikuti apa yang ibunya sarankan, dan tentu saja hal itu berhasil membuat Nara sedikit tenang.

"Bu, aku minta tolong agar Ibu menjaga Nio di sini selama aku menjalankan rencanaku nanti. Apa Ibu bisa membantuku?"

Tangan yang tampak keriputan itu mengusap lembut pucuk kepala putrinya. "Kamu tenang saja, ibu akan menjaga Nio dengan baik di sini, kamu lakukan saja rencanamu itu, Nara."

"Terima kasih, Bu karena selama ini selalu mendukung apa yang aku lakukan, dan maaf jika selama ini aku selalu menyusahkan Ibu."

"Nara, aku ini ibumu dan ibu sangat tau bagaimana sifat kamu. Kamu wanita yang baik dan sangat bertanggung jawab dengan hidupmu. Lakukan apa yang menurut hatimu benar."

"Terima kasih, Bu." Nara dengan luapan perasaan haru memeluk ibunya dengan erat.

"Ya sudah, sekarang kamu tidurlah dulu dan coba tenangkan hatimu agar mimpi buruk itu tidak datang lagi." Nara mengangguk dan kembali memejamkan kedua matanya.

Pagi itu tampak terlihat bocah laki-laki duduk di atas tempat tidur rumah sakit sedang memainkan puzzle yang ada di depannya.

"Hai, Sayang, bagaimana perasaanmu saat ini?"

"Ibu, aku senang sekali hari ini," ucapnya dengan wajah bahagia.

"Senang kenapa?"

"Senang karena hari ini tante dokter akan mengajak aku jalan-jalan lagi di taman dan katanya ada teman baru nantinya di sini."

"Oh ya? Wah! Kamu akan memiliki banyak teman nantinya." Cubitan kecil tepat pada hidung bocah laki-laki itu.

"Iya, Bu. Aku sebenarnya ingin sekolah dan punya banyak teman nantinya, tapi kata Ibu tunggu aku sembuh dulu dari sakitku, baru nanti aku bisa sekolah. Aku kapan sembuhnya sih, Bu?"

Wanita itu terdiam mendengar pertanyaan putranya karena dia sendiri tidak tau jawaban apa yang harus dia berikan.

"Nio, kamu pasti akan segera sembuh, tapi Nio harus bersabar dulu karena Ibu Nara kamu masih berusaha agar Nio bisa segera sembuh dan nanti bersekolah," sela suara dari arah belakang Nara.

"Iya, Nio. Ibu masih berusaha agar Nio segera sembuh, Nio mau, kan membantu ibu melakukan semua ini?" Bocah kecil itu pun dengan cepat mengangguk. "Pintar sekali anak tampan ibu ini." Nara dengan senang memeluk putranya itu.

"Nio sangat sayang sama Ibu dan Nio akan menuruti semua yang Ibu perintahkan."

Nara melepaskan pelukannya dan dia mengecup lembut pipi putranya. "Ibu juga sangat sayang sama Nio. Nio, ibu mau bicara sesuatu sama Nio. Nio mau mendengarkan Ibu, kan?"

"Tentu saja, Ibu!" serunya cepat.

"Beberapa hari ini Nio akan bersama dengan nenek di sini karena ibu harus pergi dalam beberapa hari untuk bekerja. Nio tidak akan marah, kan kalau ibu pergi meninggalkan Nio untuk bekerja?"

"Tidak, Bu. Nio tidak akan marah sama Ibu karena Nio tau Ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan agar Nio nanti bisa sekolah. Itu yang nenek ucapkan sama Nio."

Nara melihat ke arah ibunya dan wanita paruh baya itu menaikkan bahunya ke atas. "Setidaknya penjelasan itu lebih mudah dicerna oleh Nio," ucap Ibunya Nara.

"Terima kasih ya, Sayang. Ibu janji, jika nanti ibu ada waktu senggang, ibu akan datang ke sini untuk menemui Nio. Nio harus jadi anak baik selama ibu bekerja."

"Okay, Ibu!" serunya sembari menautkan jarinya berbentuk huruf O.

Nara yang sekarang duduk di dalam pesawat tampak terdiam mengingat semua yang sudah dia lakukan sehingga mimpi buruk itu selalu menghantui hidupnya.

"Aku akan menebus semua kesalahanku pada Jaden Luther, semoga pria itu akan bisa memaafkan semua kesalahanku." Nara melihat foto seseorang yang dia pegang dari tadi.

*

Seorang wanita dengan rambut dikepang dua dan kacamata putihnya tampak berdiri di depan pintu sebuah rumah yang memiliki dekorasi Eropa klasik. Dia sedang menunggu pintu di depannya terbuka.

Tidak lama pintu di buka oleh seorang pria paruh baya dengan baju seragam pelayannya.

"Maaf, saya Naraya Agatha atau bisa di panggil Nara."

"Oh, Nona Nara, silakan Anda masuk karena Nyonya besar Miranti sudah menunggu Anda di dalam." Pelayan laki-laki itu dengan sopan memerintahkan Nara untuk masuk.

Nara berjalan masuk melewati lorong dengan hiasan banyak lukisan di sebelah kanan kirinya.

"Kalian pergi dari kamarku! Atau aku akan mencekik kalian sampai mati! Pergi!"

Nara terkejut saat tiba-tiba mendengar suara seorang pria berteriak marah di sana. Langkah Nara terhenti dan melihat pada pintu kamar berwarna hitam, di mana baru saja seorang pelayan wanita keluar dengan wajah ketakutan dari dalam kamar itu.

"Orang yang berteriak itu adalah cucuku, Nara. Dia Jaden Luther dan dia adalah orang yang harus kamu rawat nantinya." Tiba-tiba di sana berdiri seorang wanita tua dengan penampilan rapinya.

"Maaf, dia kenapa marah-marah seperti itu, Nyonya Besar Miranti?"

"Panggil saja aku nenek Miranti, dan ikutlah denganku, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu."

Nara berjalan mengikuti ke mana langkah wanita tua itu berjalan. Mereka sekarang berada di dalam ruang kerja dan nenek Miranti memberikan sebuah sobekan dari majalah tahun lalu.

Nara membacanya dan dia tampak menunjukan wajah datarnya. "Ini apa, Nyo--. Maksudku Nenek?"

"Setahun yang lalu Jaden mengalami sebuah kecelakaan tunggal yang mengakibatkan kakinya lumpuh dan kata dokter kesempatan untuk sembuhnya sangat kecil. Sejak saat itu dia berubah menjadi orang yang tempramen dan sangat dingin."

Nara tampak menarik napasnya dalam dan mencoba mengembuskannya perlahan. Nara sedang mencoba menenangkan dirinya. "Apa Nenek sudah berusaha membawa Tuan Muda Jaden ke rumah sakit yang lainnya untuk mencari opini kedua?"

"Semua sudah aku lakukan untuk mengembalikan kesembuhan cucuku, tapi semuanya sia-sia. Jaden pun seolah sudah tidak memiliki keinginan untuk sembuh. Dia sangat membenci dirinya sendiri, apa lagi calon tunangannya juga meninggalkannya setelah tau cucuku mengalami kelumpuhan. Jaden benar-benar berubah menjadi orang yang tidak aku kenali." Perlahan butiran air mata keluar dari kelopak mata nenek Miranti.

Ada sesuatu yang seketika membuat hati Nara sangat sakit saat melihat nenek Miranti menitihkan air mata. Rasa bersalah di hati Nara juga semakin besar setelah mendengar Jaden sampai ditinggal oleh tunangannya karena kecelakaan itu.

"Nek, apa aku bisa bertemu dengan Tuan Muda Jaden Luther?"

Nenek Miranti melihat Nara dengan wajah serius.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta dan Benci
8.2
Demi wasiat sang ayah, Hera terpaksa menikah dengan Gama Dirgantara. Namun, pria berstatus duda itu bersikap sangat dingin karena belum bisa melupakan Karin, masa lalunya. Gama bahkan berjanji tidak akan pernah memberikan hatinya kepada Hera. Keadaan berubah total sejak peristiwa tak terduga terjadi saat Gama mabuk. Di tengah penolakan dan rasa benci, sanggupkah Hera bertahan demi menyelamatkan pernikahan penuh luka ini dan meluluhkan hati Gama?
Sampul Novel Bercinta Denganku Lagi, Dokter Jacob?!
8.1
Jacob Carson Indrajaya, dokter forensik blasteran Australia-Indonesia, menghadapi kejadian aneh di RS Dr. Sarjito saat sesosok jasad korban pembunuhan tiba-tiba bangkit tanpa memori. Jacob pun menamainya Jane dan merawatnya di rumah hingga mereka berdua saling jatuh cinta. Siapa sebenarnya Jane? Mengapa dia diincar untuk dibunuh? Ikuti perjuangan Jacob mengungkap misteri kelam dan memecahkan teka-teki besar di balik identitas asli wanita yang dicintainya.
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Kehidupan rumah tangga Cantika Putri dan Ardi Permana berjalan sangat harmonis. Pernikahan mereka dipenuhi kasih sayang tulus, dengan Ardi yang begitu memuja kecantikan serta kesempurnaan fisik istrinya. Di sisi lain, kisah ini juga menyoroti kehidupan seorang miliarder sukses bernama Reza Dirgantara. Sang pengusaha kaya raya tersebut diketahui sedang menjalin kasih dengan Luna Amara, sosok gadis desa yang berparas menawan namun tetap hidup dalam kesederhanaan.
Sampul Novel KUBALAS KAU DENGAN ELEGAN
8.2
Kehidupan tenang Sahira seketika hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh dengan sahabat dekatnya sendiri. Di tengah kepedihan mendalam akibat pengkhianatan ganda tersebut, secercah harapan tiba-tiba datang dari masa lalunya. Kehadiran kembali seorang miliarder menawarkan perlindungan sekaligus mengajak Sahira menyembuhkan luka hati bersama. Akankah ini menjadi awal dari babak baru yang bahagia bagi Sahira setelah melewati pengkhianatan yang begitu menyakitkan?
Sampul Novel Scarred Hearts
9.7
Aryadi dan Alyasha terjebak dalam kepalsuan rumah tangga yang harmonis. Kebohongan mereka runtuh ketika perselingkuhan masing-masing terbongkar secara senyap. Walau saling mengkhianati, keduanya tetap bersandiwara demi mempertahankan status sosial. Namun, kepura-puraan ini mulai menemui batasnya. Saat ego menguasai diri, kehancuran hubungan mereka tak lagi bisa dicegah. Di tengah badai konflik ini, Arion dan Annanda menjadi korban tidak bersalah atas ego orang tua mereka.
Sampul Novel Seandainya Waktu Bisa Kembali
8.2
Demi menyelamatkan cinta pertamanya, Lolly, yang menderita gagal ginjal, seorang hakim tega mengambil keputusan sepihak untuk merebut ginjal istrinya sendiri. Sang istri mencoba menjelaskan bahwa dirinya juga mengidap penyakit yang sama dan akan mati jika kehilangan organ tersebut. Namun, sang suami justru menuduhnya cemburu dan tidak berhati nurani. Dipaksa menjalani operasi transplantasi, kondisi sang istri terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal sendirian di sudut rumah sakit yang sepi.