
Tipu Daya Untuk Mendapatkan Ibuku
Bab 2
Mungkin karena mereka yakin aku sudah tidur, pintu kamar Ibu bahkan tidak ditutup rapat saat mereka memulai di dalam.
Dari celah pintu, aku bisa melihat Hubert duduk di tepi ranjang membelakangiku, sementara Ibu berdiri di depannya dengan gaun tidur seksi dan berpose menggoda.
Ibu melepaskan jaket Hubert, bergerak di atas tubuhnya dengan lincah. Gerak-geriknya menggoda sekaligus aneh, seperti seseorang yang sedang melakukan ritual.
Sementara itu, tangan Hubert mulai meraba ibuku. Dari bibir, dada, lalu semakin menurun. Hingga mencapai perut, gerakan keduanya sama-sama berhenti.
Setelah saling tersenyum, Ibu meraih tangan kasar Hubert dan membawanya semakin turun lagi. Ini ibuku yang baru saja membentakku?
Pakaian Hubert perlahan-lahan dilepaskan. Aku baru tahu pria paruh baya ini memiliki tubuh yang begitu bagus, sama sekali tidak kalah dari Ayah yang sudah lama berolahraga, bahkan setara dengan mahasiswa jurusan olahraga di kampus.
Melihatnya, aku sampai tak kuasa menelan ludah. Menurut spekulasiku, ibuku pasti tidak bersedia mengakui bahwa dirinya menyukai Hubert. Makanya, saat aku menyarankannya untuk mempererat hubungannya dengan Hubert, dia langsung marah karena merasa malu.
Bagaimanapun, dalam hatinya memang hanya ada Ayah. Namun, yang bisa membuatnya bahagia saat ini hanyalah Hubert.
Jika faktanya memang seperti itu, tidak ada yang salah dari hubungan ini. Asalkan ibuku memiliki keberanian untuk menerima kenyataan ini, dia juga bisa menerima pasangan barunya ini.
Di dalam kamar, kemesraan masih berlanjut, bahkan semakin intens. Pemandangan itu membuatku yang masih merupakan seorang gadis merasa sangat malu. Wajahku panas, bahkan entah sejak kapan celana dalamku mulai basah. Tanganku mulai bergerak ke bawah tanpa terkendali, membuatku merasakan dunia baru.
Sekitar satu jam kemudian, Hubert keluar dari kamar Ibu. Dia menuju ruang tamu untuk mengambil segelas air, lalu kembali ke kamar, sementara Ibu yang masih telanjang bulat berbaring di ranjang sambil menunggu disuapi.
Adegan panas tadi membuatku tak kuasa jatuh ke duniaku sendiri. Ketika aku tersadar kembali, Hubert sudah berdiri di depan celah pintu dan bertatapan denganku. Itu artinya, dia tahu aku mengintip sejak tadi!
Saat kami bertatapan, benakku dipenuhi tubuh telanjang Hubert, punggungnya yang seksi, serta tangannya yang besar. Aku menggigit bibirku, jariku yang berada di dalam celana dalamku lantas bergerak semakin liar.
Hubert tidak mengatakan apa pun, melainkan hanya memasang ekspresi misterius, lalu berjalan pergi begitu saja.
Setelah Hubert pergi, kesadaranku sontak kembali. Aku hendak menutup pintu kamar Ibu, tetapi malah melihat pemandangan yang lebih liar.
Sepertinya ibuku masih belum puas. Dia berbaring di ranjang sambil menggerakkan tubuhnya naik turun, lalu mengemut jarinya yang basah dengan ekspresi penuh nafsu.
Jelas-jelas tidak ada apa-apa di bawah tubuhnya, tetapi gerakannya malah semakin cepat dan ekspresinya tampak semakin menikmati. Dia terlihat jauh lebih bersemangat daripada saat berhubungan intim dengan Hubert tadi.
Napas Ibu tersengal-sengal. Samar-samar, aku mendengar dia menyebut nama Ayah. "Calvin, dasar kamu ini. Kamu sudah mati, tapi masih menghantui pikiranku! Ah ... pelan sedikit ...."
Saat desahan Ibu semakin menggoda, tubuhnya pun menggeliat di ranjang dan memasang berbagai postur yang memalukan.
Melihat ini, punggungku terasa dingin. Hasrat yang tadi terbangkitkan karena mereka pun menjadi sirna.
Aku memanggil ibuku dua kali, tetapi dia seperti tidak mendengar dan terus bergumam dengan tak tahu malu di ranjang. Bahkan saat aku menutup pintu, aku melihat dia mengeluarkan beberapa mainan kecil dari nakas.
Aku pernah melihat beberapa mainan itu secara tak sengaja. Ayah yang membelinya dulu saat masih hidup.
Saat ini, Ibu memegang mainan kecil itu, membuka kedua kakinya, sambil terus memohon ampun ke udara.
Anda Mungkin Juga Suka





