APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Second Marriage

The Second Marriage

Kehancuran rumah tangga Lara dan Ilham dipicu oleh perselingkuhan, menyisakan kepedihan mendalam serta hak asuh putri mereka, Cherry. Pasca-perceraian, Ilham berupaya rujuk kembali. Namun, sosok Banyu hadir menawarkan perlindungan dan masa depan baru. Kini, Lara berdiri di persimpangan jalan, berjuang menyembuhkan trauma masa lalunya demi memilih antara mantan suaminya atau lembaran baru yang lebih bahagia.
Bab
Bagikan

Bab 1

Disebuah komplek perumahan elite hiduplah satu keluarga dalam sebuah rumah sederhana. Pagar hitam dengan warna campuran coklat mendominasi pagar pendek dirumah tersebut. Seorang wanita paruh baya tampak memegang selang sembari menyiram tanaman toga yang tampak layu dan kering. Sembari bersenandung wanita paruh baya tersebut tampak sesekali melirik rumah depannya. Sambil memegang selang matanya tajam melirik seperti ujung pisau. Tak sadar, air yang harusnya menyiram tanaman toga malah keliru membasahi satpam komplek yang tengah berjalan, "Masyallahhh.. Ibu!!!" serunya sembari mengusap wajahnya yang basah. Sontak wanita paruh baya tersebut melempar selang "Astaga bapak! Ngapain basah-basahaan kayak anak SD,".

"Bu kamu lihat ini saya basah sendiri apa apa disiram," bapak satpam tersebut menyeka wajahnya kesal. Wanita itu hanya tersenyum, "Asupan pagi pak, biar ganteng. Jarang lho saya bilang gini tapi dilihat-lihat bapak ini ganteng mana rajin, cocok sama Mia baby sitter Cherry," godanya. "Heleh, kamu ini ngelantur. Saya ini basah kuyup begini kalau masuk angin kamu mau gantiin saya ngeronda?" sang satpam tampak masih kesal.

Dari dalam rumah keluar wanita muda dengan seragam baby sitter yang dikenakannya. "Bu, kok malah diluar. Dari tadi mas Ilham nyariin katanya ditunggu sarapan di meja makan, lho pak kumis itu kenapa bajunya basah semua," ucapnya sembari menunjuk satpam didepannya. "Pagi mbak Mia eh, kamu pagi-pagi sudah cantik," ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tadi ngomel-ngomel," wanita paruh baya itu melirik satpam tersebut sembari membuang muka. Satpam yang dipanggil pak kumis itupun menaikkan alisnya heran.

"Eeee dasar nenek nenek," batinnya

Mia menuntun wanita itu memasuki rumahnya, "Mas Ilham sudah makan ta Mia," tanya wanita itu.

Mia menganggukkan kepalanya, "Sudah Bu," ucapnya.

"Rumah gak tau bersih, heran aku. Lha masak semua tanamanku mati," wanita itu mengomel sembari menatap seorang wanita yang tengah berjalan tertatih di depannya. Wanita itu hanya diam dan menundukkan Kepala.

"Bu, emang mbak Ju kemana? Kan ada Mbak Ju, Sayang kamu makan dulu," tanya seorang pria di meja makan sembari menatap sang istri.

"Iya mas sebentar lagi, aku mau ke belakang dulu," ucapnya sembari melenggang pergi meninggalkan meja makan. Ilham tahu bahwa sang istri pasti menuju dapur. Ilham menatap sang ibu dan berjalan mengikuti sang istri.

Ilham melihat istrinya tengah mencuci piring, dari belakang kaki mungil sang istri nampak bengkak, banyak Stretch Mark di lipatan kakinya.

"Ayo makan dulu, kan ada Mbak Ju. Ngapain kamu cuci piring," rayunya dari kejauhan.

"Ya mas sebentar," tolak sang istri.

"Kamu ini dibilangin ngeyel, heran aku. Dikasih yang enak malah gak mau," gerutu Ilham lalu pergi meninggalkan istrinya yang terdiam.

Lara mematikan kran yang menyala secara perlahan, meletakkan spons pencuci piring kemudian. "Kalau aku makan seperti katamu apa ibumu suka?" batinnya. Air matanya menetes, ia mengingat sindiran sindiran yang dilontarkan sang ibu mertua.

"Bunda!!" Suara mungil terdengar melengking.

Lara menyeka air matanya cepat dan menuju sumber suara dengan berjalan perlahan mengingat kedua kakinya yang bengkak.

"Ya nak!!" Sahutnya.

"Anak bunda sudah bangun, maaf ya. Nyari bunda ya tadi?" ucapnya sembari menggendong anaknya.

Gadis mungil itu menganggukkan kepalanya, "Bunda cantik," katanya sembari menggosok matanya.

"Tidurnya nyenyak tidak?" Tanya Lara lagi.

Gadis itu menganggukkan kepalanya lagi. "Bunda ngapain?"

"Bunda nyuci piring, trus bunda mau masak buat jualan," ucap lara.

"Aku mau di kamar sama bunda, ayo bunda," gadis itu menarik tangan Lara mengajaknya menuju kamar.

"Lho Cherry, sudah bangun." ucap Mia dari kejauhan.

"Sama mbak Mia yuk. Kita jalan-jalan sambil lihat kambing di ujung lapangan," rayu Mia yang baru saja datang.

"NGGAK! Aku mau sama bunda, ayo bunda," Cherry tetap menarik tangan Lara erat.

"Cherry, tuh liat bunda kamu, kasihan lho. Kakinya lagi bengkak, jalannya kayak robot pasti sakit," ucap Mia.

Cherry melirik sang ibu dan menatap kedua kaki ibunya yang bengkak. "Bunda sakit?" Tanyanya.

Lara menggelengkan kepalanya, "Bunda ngga sakit, kaki bunda cuman bengkak," ucapnya.

"Orang ngga sakit kok, Pergi sana!!" usir Cherry sambari menatap Mia.

Lara menatap Mia dan memberi syarat untuk pergi. Lara menggandeng tangan Cherry menuju kamarnya. Mereka tidur berdua dan bercanda gurau.

Tiba-tiba wanita paruh baya masuk begitu saja, "Cherry sayang, sudah bangun. Ikut Oma jalan-jalan yuk," ajaknya.

"Ngga mau," tolak Cherry.

"Bener ngga mau? Oma punya permen sama coklat lho," rayunya.

"Permen?" Tanya Cherry penasaran.

"Iya, yuk.. yuk.. Emang kamu ngga bosan? Dikamar kayak ayam ngga ngapa-ngapain? Maen princessnya udah selesai. Waktunya bangun, masa perempuan siang bangunnya," sembari melirik Lara.

Lara yang merasa tersindir segera bangkit. "Lho bunda mau kemana? Bunda kan sakit," tahan Cherry.

"Ehh.. Biarin aja cantik orang bundamu sehat, tuh masih nafas. Lupa ya kalau harus buka kedai? Yang masak kan bunda, kalau bundamu ngga masak kasian kedainya ngga buka," ucap Oma.

Cherry menganggukkan kepalanya, "Hati-hati ya bunda," ucapnya.

Lara menuju dapur dengan kedua kaki yang bengkak. Meski perlahan ia mencoba berjalan sekuat tenaga. Dari kejauhan ia mendengar kegaduhan. Sambil menggeret kakinya yang begitu sakit ia berjalan menuju sumber suara.

"Mas, emang kamu ngga bantuin istrimu?" ucap seorang wanita.

"Gunanya bayar Mbak Ju terus apa beb?" jawab seorang pria.

"Beb??" batin Lara.

"Mas, jangan disana agak naik dikit," Lara mendengarkan lagi.

"Ahh.." desahan terdengar jelas.

Lara menutup mulutnya dengan tangannya.

"Emang istrimu ngga bisa begini ya?" tanya wanita itu.

"Penyakitan kayak gitu kok ngarep enak-enak. Yang ada males gak bergairah beb. Enakan sama kamu kalau enak-enak," Lara terdiam, matanya merah menahan tangis.

"Makanya kamu sih nggak ketemu aku duluan waktu itu, coba kalau dulu kamu udah sama aku. Pasti kamu nggak akan ngerasa kesepian apalagi kecewa," jelas mia.

Lara memeras bajunya yang kering seakan menahan rasa sesak. Ia tak menyangka akan menerima rasa sakit yang begitu dalam. Ia berjalan menuju dapur, meninggalkan gudang dengan rasa sesak di dada.

Lara bergegas memasak tanpa suara, dengan cepat ia berusaha menyelesaikan tugasnya. Ia benar-benar ingin segera memasuki kamarnya. Waktu berlalu begitu cepat, dua jam sudah berlalu Lara tengah membereskan dapur. Sambil terdiam ia membersihkan peralatan dapur yang tadi ia gunakan.

Lara memejamkan matanya, rasa lelah rasanya terkalahkan oleh rasa sakit yang ia rasakan. Lara melepas celemek yang ia pakai, "Sudah?" tanya Ilham dari belakang.

Lara hanya menganggukkan kepalanya, tak mengeluarkan suara apapun. Lara berjalan meninggalkan Ilham di dapur. Ilham menyiapkan keperluan untuk dibawa ke kedai.

Sementara Lara bergelut dengan pikiran sendunya didalam kamarnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
9.3
Kehidupan Vanya Devara hancur seketika saat bisnis keluarganya bangkrut dan sang tunangan, Bastian Wicaksono, berpaling ke wanita lain. Di tengah keputusasaan setelah kematian ayahnya, sosok miliarder Rangga Mahardika datang mengulurkan bantuan finansial dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum hari pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia mengerikan. Rangga ternyata adalah dalang di balik kehancuran keluarga dan kematian sang ayah. Segala kebaikan yang diterimanya selama ini hanyalah kedok penebusan dosa atas konspirasi kejam yang menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Antara Benci dan Cinta
8.6
Kematian tragis mengungkap kepalsuan dalam novel modern Antara Benci dan Cinta. Demi melindunginya dari kejaran wanita kaya, seorang pria sepakat berpacaran selama tiga tahun dengan sang protagonis. Meski telah mengorbankan harta dan tenaga hingga pria itu sukses, hubungan mereka berakhir pahit demi wanita lain. Rekaman suara kejam membuktikan dirinya hanya dianggap batu loncatan yang tidak menarik. Namun, setelah nyawanya hilang, sang mantan kekasih justru kehilangan akal sehat didekap jasadnya.
Sampul Novel BUKAN CINTA LOKASI
8.1
Proyek film mempertemukan aktris menawan Naomi Clara dengan Azka Dananjaya. Awalnya menepis perasaan, Clara akhirnya luluh oleh kepedulian tulus dari Azka. Namun, kisah asmara mereka langsung dihadapkan pada ujian berat. Keluarga Azka menentang keras hubungan tersebut karena Clara tidak berasal dari kalangan ningrat. Di tengah rintangan perbedaan kasta yang mengancam, Azka berjanji untuk tetap mencintai Clara apa adanya.
Sampul Novel En-PD163
8.4
Janna, seorang ilmuwan berbakat, jatuh cinta pada Kingsley di tempat riset mereka. Namun, pernikahan yang diraih dengan perjuangan ini hancur karena Kingsley terobsesi pada wanita lain hingga tega menyakiti Janna. Kecewa atas pengkhianatan tersebut, Janna memutuskan bercerai dan pergi. Saat Kingsley akhirnya sadar telah dimanfaatkan dan ingin kembali, Janna telah membuka lembaran baru bersama kekasih baru yang tulus mencintainya.
Sampul Novel Ibu Pengganti untuk Bayi Bapak Kos
9.2
Eva terjebak pernikahan kontrak menjadi ibu pengganti bagi anak bapak kosnya. Mengira hanya perlu mengasuh bayi tersebut, ia justru menghadapi tuntutan cinta dari sang suami. Di sisi lain, Eva masih berpacaran dengan kekasihnya. Kini, ia berada dalam dilema besar antara mempertahankan kesetiaan pada pacar atau menyerah pada perhatian intens suaminya.
Sampul Novel Kosan Satu Nusa
9.7
Bagi mahasiswa perantau dari aneka daerah, Kosan Satu Nusa tampak seperti tempat tinggal biasa. Padahal, bangunan sederhana ini menyimpan berbagai kenangan mendalam yang terukir seiring berjalannya waktu. Setiap sudutnya merekam dinamika kisah hidup para penghuni yang tinggal di sana. Lewat novel ini, Anda akan diajak menyelami jalinan kisah penuh makna tentang hangatnya persahabatan serta lika-liku pengalaman masa muda yang tidak terlupakan di perantauan.