APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Last Love of Promise

The Last Love of Promise

Rain Octaviani, gadis berusia dua puluh tahun, terpaksa menikah dengan Dion Langit Anggara, pria dingin berumur tiga puluh tahun, demi memenuhi perjodohan keluarga. Pernikahan formalitas ini berjalan tanpa cinta karena keduanya membawa luka masa lalu. Rain dikhianati oleh Dewa, sedangkan hubungan masa lalu Dion terhalang restu. Di tengah dinginnya hubungan ini, mampukah mereka menyembuhkan luka batin satu sama lain dan menumbuhkan cinta yang tulus?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Kita yang berawal dari aku dan kamu yang bertemu dalam satu hati, apakah mampu bertahan dalam berbagai situasi suatu saat nanti?” Langit Senja R

“Kamu percaya cinta itu ada, Rain?” tanya Dion datar.

Rain melongo mendengar ucapan dari dosennya yang memiliki gelar killer, dosen yang suka membuat hati mahasiswi terbang tetapi jatuh seketika dan dosen yang selalu membuat mahasiswa kesal karena hampir seluruh kekasih mereka selalu melihat dan berandai-andai memiliki kekasih seperti Dion.

“Permisi pak . . . apa saya tidak salah dengar?” tanya Rain sangat hati-hati.

Dion mendengus kasar, dia membakar rokoknya dan kemudian menatap Rain dengan tatapan serius, “Kamu percaya jika cinta itu ada?”

Rain mengangguk, “Percayalah pak, mana ada kehidupan tidak ada cinta dan apalagi jika kita mencintai orang yang tepat untuk pertama dan terakhir kalinya. Pasti akan berakhir sangat indah nantinya.”

“Secepat itu kamu mengartikan cinta? Dan sangat sederhana sekali kamu mengartikan apa itu cinta, tapi okelah.” Dion tersenyum puas.

Rain yang melihat dosennya yang tersenyum begitu manisnya itu jantungnya berdegup sangat cepat tetapi semua itu langsung ditepisnya karena mengingat ada nama Dewa yang selalu mendampingnya saat suka maupun duka.

“Tapi apa yang kamu lakukan jika cinta-mu itu bertepuk sebelah tangan nantinya? Dan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Kamu menerimanya atau tetap bertahan meskipun nantinya menjadi yang kedua?” kini Dion bertanya kembali ke arah Rain.

“Bapak bertanya gini apa tadi salah makan atau bagaimana? Atau ada sedikit benturan?” polos Rain tanpa kontrol.

“Hei!! Jawab saja!! Mau saya cancel tuh sidang skripsimu?” ancam Dion sambil melotot ke arah Rain.

“Eh jangan pak, canda pak. Suer deh cuman bercanda, maaf pak. Bisa diulangi pertanyaan bapak tadi?” pinta Rain sedikit ketakutan tetapi terpaksa untuk tersenyum.

“Apa yang kamu lakukan jika cinta-mu itu bertepuk sebelah tangan nantinya? Dan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Kamu menerimanya atau tetap bertahan meskipun nantinya menjadi yang kedua?” Dion menjelaskan kembali ke Rain.

Rain mengangguk dan mencba mencari jawaban, sementara itu Dion telah membakar rokoknya kembali untuk ke-dua kalinya. Dia tersenyum saat Dion membakar rokoknya tepat di depannya itu.

“Saya tahu jawabannya pak, cinta itu ibarat api. Dimana api yang mampu menghanguskan atau menghabiskan semua yang telah disentuhnya, sederhannya gini. Jika api itu harapan yang sia-sia maka bagaimana caranya kita memadamkan api itu dan mengembalikan semua yang telah hangus terbakar api tersebut,” jawa Rain tersenyum penuh kemenangan.

“Sederhana sekali ya jawabanmu, tapi terimakasih telah menjawab pertanyaan saya yang kurang bermutu untukmu. Saya pergi dulu, permisi.”

Dion segera berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar cafe. Sementara itu Rain melongo mendengar jawaban dosennya tersebut, dia tak ambil pusing dan segera pulang untuk menyiapkan berkencan sekaligus memberikan berita yang paling bahagia untuk keasihnya, Dewa Geofani.

Kini senja menyapa malam, sesuai jadwal Rain yang telah bersiap untuk dijemput oleh kekasihnya tersebut. Sesaat setelah berdandan begitu cantiknya, ibunya datang mendekatinya.

“Mau pergi kencan nih anak gadis mama? Gimana kabarnya skripsimu? Lancar semuanya kan?”

“Eh mama, semuanya lancar Ma dan tiga hari lagi aku sidang skripsi terus setelah itu apakah Dewa boleh datang untuk memintaku ma? Hanya bertunangan saja ma,” rengek Rain seperti anak kecil yang meminta mainan baru.

Mamanya tersenyum dan menggeleng pelan mendengar rengek’an anak gadis semata wayangnya itu,

“Jalani semuanya dulu, dan biar Tuhan yang mengatur semuanya Rain. Mama bukan gak suka sama Dewa tetapi . . . biar ayahmu saja nanti yang cerita setelah pulang dari dinas luar kota, okey anak mama yang paling cantik.”

Rain menatap mata mamanya sangat dalam, mencari sebuah jawaban atas ucapan mamanya. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan semuanya.

“Mama buka dulu ya, itu pasti Dewa. Rapikan dulu lagi bajunya Rain,” pinta Mama.

Rain mengangguk dan dengan cekatan merapikan anak rambutnya serta menambahkan lip gloss untuk membuat semakin cantik dan manis saat berkencan dengan Dewa Geofani. Setelah penampilannya terlihat sempurna, kini dia segera menyusul dan menyambut kekasihnya sudah menunggu dirinya malam ini.

“Malam bubub, maaf ya lama. Ma, Rain berangkat dulu ya.” Rain pamit ke arah mamanya.

“Baik-baik ya nak Dewa dan jangan pulang terlalu larut. Baik-baik ya sayang selamat berkencan.” Mamanya memeluk Rain.

Dewa pun pamit ke arah mamanya Rain dan dengan segera ke-dua insan itu menuju ke sebuah tempat yang sangat indah, romantis dan mungkin bisa membuat hati setiap pasangan semakin saling mencintai, Bukit Panah Asmara.

“Sudah sampai nih, yuk turun.”

“Eh iya,” ucap Rain seakan menerka dengan gerak gerik serta ucapan Dewa yang berubah.

Rain yang merasakan perbedaan yang sangat mencolok sikap Dewa hanya bisa menerka-nerka dia hanya bisa membuang jauh-jauh pikiran negatif yang selalu datang dalam pikirannya. Di mana dulu Dewa selalu menggandeng erat tangannya kini dia berjalan sendiri, di mana dulu Dewa selalu menjadi sandaran dan tempat bergelayut manja saat berjalan berdua kini dia hanya berjalan sendiri, di belakang Dewa.

“Apa aku punya salah ke dia? Apa waktuku untuknya selama ini hilang untuk skripsi?” lirih Rain.

Kini ke-dua insan telah duduk berdampingan tanpa satu atau dua kata, hanya angin yang berhembus pelan sebagai penanda kesunyian diantara mereka berdua. Setelah semua pesanan telah datang.

“Kita habiskan dulu, setelah itu aku mau ngomong jujur ke kamu,” ucap Dewa dengan suara berat.

“Kamu? Sejak kapan dia manggil aku dengan kamu? Padahal tadi siang baik-baik saja. Ya Tuhan, apalagi ini?” teriak Rain dalam hati.

“Rain? Are you okay?” tanya Dewa sembari memegang dagu Rain.

“Eh iya, I’m okay.” Balas Rain sembari meraih sendok dan menyuapkan beberapa makanan ke mulut mungilnya tersebut.

Setelah hampir lima belas menit berlalu untuk menghabiskan makanan, kini Dewa duduk di samping Rain,

“Aku mau tanya boleh?”

“Apa?”

“Janji dulu tapi, setelah semua penjelasanku nantinya yang akan mungkin membuatmu membenciku selamanya,”

“Baiklah aku berjanji,” balas Rain sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

Dewa mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rain yang sembari tersenyum.

“Apakah kamu yakin sama aku yang akan mendampingimu nanti selamanya, Rain? Ataukah ada yang bisa memisahkan kita berdua nantinya?” tanya Dewa sembari menggenggam erat tangan Rain.

“Kenapa kamu tanya seperti ini? Ada masalah?” Rain bertanya balik.

“Berat Rain, mungkin akan membuatmu sakit hati tetapi aku percaya jika kamu akan kuat nantinya,”

“Kamu kenapa sih Dewa!! Ceritakan semuanya!!” teriak Rain yang sudah tak mampu membendung teriakan hatinya.

Dengan segera Dewa memeluk Rain, menenangkannya untuk kesekian kalinya selama mereka menjalani kisah cinta mereka berdua.

“Kamu tadi sudah berjanji bukan, Rain? Gimana aku mau cerita jika kamu se-emosional gini,” ucap lembut Dewa.

Rain menatap wajah Dewa yang sangat teduh baginya, membuatnya sangat tenang ketika berada didekatnya.

“Baiklah, ceritakan semuanya. Aku siap menerima semuanya.”

Dewa menghembuskan nafasnya dengan kasar, terlihat bibirnya sangat ingin mengucapkan sebuah kata. Dia tak ingin menyakiti kekasihnya itu tetapi bagaimanapun Dewa harus jujur ke Rain, “Keluargaku telah menjodohkan aku dengan seorang dokter.”

“Hah? Jangan bercanda gitu Dewa. Pasti kamu bercanda kan? Iya kan?” tanya Rain sembari meninju bahu Dewa.

“Rain, aku gak bercanda. Perpisahan ini bukanlah duka meski harus menyisakan luka untukku dan pastinya untukmu. Tapi, jika aku berbohong ke kamu pasti kamu akan kecewa juga.” terang Dewa sembari menatap netra Rain.

“Dewa . . . jangan bercanda . . . aku sangat mencintaimu dan kenapa kamu setuju dengan semua perjodohan itu? Bukankah kamu akan melamarku setelah aku sidang nantinya? Tiga hari lagi aku akan selesai Dewa,” rengek Rain dengan air mata yang sudah mengalir di belahan pipinya.

“Rain, tiga hari lagi juga aku akan menikah dengan pilihan orangtuaku. Maafkan aku Rain, aku akan berdoa untukmu agar mendapatkan pasangan yang bisa membuatmu lebih bahagia setelah bersamaku nantinya.” Dewa tersenyum pedih ke arah Rain.

“Secepat inikah hubungan kita . . . . Dewa?” tangisan Rain pecah dalam pelukan Dewa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
9.3
Kehidupan Vanya Devara hancur seketika saat bisnis keluarganya bangkrut dan sang tunangan, Bastian Wicaksono, berpaling ke wanita lain. Di tengah keputusasaan setelah kematian ayahnya, sosok miliarder Rangga Mahardika datang mengulurkan bantuan finansial dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum hari pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia mengerikan. Rangga ternyata adalah dalang di balik kehancuran keluarga dan kematian sang ayah. Segala kebaikan yang diterimanya selama ini hanyalah kedok penebusan dosa atas konspirasi kejam yang menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
8.9
Pernikahan rahasia Risa selama delapan tahun kandas setelah Teguh melamar Selia. Merasa dikhianati, Risa memilih bercerai dan pergi dari restoran mereka. Dengan angkuh, Teguh mengusir Risa dan Heru, adiknya, demi sang selingkuhan. Namun, kehancuran bisnis akibat ulah Selia memaksa Teguh menyusul Risa ke Swiss demi mengemis maaf. Kini, Risa yang telah bangkit siap membongkar kebenaran pahit masa lalu dan membiarkan Teguh tenggelam dalam penyesalan.
Sampul Novel Pesona Ibu Susu Anakku
7.8
Bima tak menyangka Jenny, siswi SMA yang dahulu ia tolong, kini menjadi ibu susu bagi bayinya. Kehamilan Jenny di usia muda menyimpan teka-teki besar. Seiring waktu, daya tarik gadis itu mulai menggetarkan hati Bima yang sebenarnya telah beristri. Akibat sebuah salah paham, keduanya terpaksa menikah siri. Bima bahkan berniat menceraikan Soraya, istri sahnya. Namun, Jenny enggan melukai hati sesama perempuan. Akankah Soraya mampu bertahan atau justru terdepak?
Sampul Novel Rahasia di Balik Cinta Kita
8.1
Kebahagiaan rumah tangga Aruna dan Rayhan hancur seketika setelah sebuah pesan misterius mengungkap jati diri sang suami yang sebenarnya. Masa lalu Rayhan yang kelam dan berdarah mulai terkuak, menyeret sosok Alara yang berwajah serupa dengan Aruna. Terjebak di tengah konspirasi dan pengkhianatan, Aruna kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia pergi demi menyembuhkan luka, atau bertahan mendampingi pria yang ia cintai meski fondasi hubungan mereka dibangun di atas kebenaran yang mengerikan?
Sampul Novel Skandal Dengan Boss
8.6
Akibat terlambat wawancara, lamaran kerja Anjani ditolak oleh Alvaro. Kecewa dengan keputusan tersebut, Anjani nekat memfitnah Alvaro telah menghamilinya di hadapan sang tunangan. Kebohongan ini membuat Alvaro diusir dari rumah. Tak terima, Alvaro memburu Anjani dan memaksanya tinggal satu atap. Siapa sangka, kebencian itu justru memicu skandal asmara hingga Anjani benar-benar mengandung. Kini, Alvaro harus memperjuangkan cinta mereka di tengah penolakan keras orang tuanya.
Sampul Novel Tiga Ibu Kevin
8.5
Diangkat dari kisah nyata, novel ini mengikuti perjalanan hidup Kevin yang tumbuh dalam keluarga poligami dengan tiga ibu. Akibat perselisihan hebat di rumah, ia terpaksa berpindah pengasuhan, memicu konflik batin yang mendalam. Di tengah perilaku aneh sang ayah dan rumitnya hubungan dengan para ibu tirinya, Kevin berjuang keras mencari jati diri. Saksikan ketegaran remaja ini melewati berbagai cobaan pahit demi meraih kedamaian di tengah badai keluarganya.