APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Hot Personal Trainer

The Hot Personal Trainer

Penyesalan mendalam menghantui Beyonce Linch setelah mendatangi kediaman sahabatnya, Aldrich Jonas. Akibat pengaruh alkohol, Beyonce nekat mengejek pemilik gym itu sebagai gay dan menantangnya. Tersinggung dengan ucapan tersebut, Aldrich hilang kendali dan tega merenggut paksa kehormatan Beyonce. Padahal, dua hari lagi Beyonce akan melangsungkan pernikahan dengan tunangannya, Zack. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit atas peristiwa kelam itu.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Menikah denganmu?” Beyonce tertegun menatap Aldrich yang mematung dan seperti orang linglung.

Menyadari salah bicara, Aldrich mulai gusar. Sementara itu, Beyonce tiba–tiba menertawainya dengan terpingkal–pingkal.

“Kau selalu sukses menghiburku dengan candaan mu ini, Al,” tukas Beyonce dengan enteng.

‘Apa? Dia bilang hanya candaan?’ batin Aldrich mendera kecewa.

Beyonce tak tahu, kalau ajakan menikah yang diucapkan Aldrich tulus dari lubuk hatinya. Bahkan bisa dinyatakan kode keras, tetapi sayangnya sahabatnya itu tidak kunjung peka.

“Mungkin di dalam mimpi … aku menjadi suamimu,” sahut Aldrich ikut tertawa kecut demi menyembunyikan rasa malu.

“Lagi pula, kenapa Zack itu bertambah aneh sekarang? Mana ada dalam waktu seminggu dan terkesan dadakan, lalu dia menyuruhmu untuk mengecilkan badan? Semua butuh proses, Bey sayang. Tidak ada yang instan.”

“Kau benar, Al. Tapi bagaimana lagi? Lihatlah pahaku ini terlalu besar dan kendur, bukan? Berbeda ukurannya sewaktu aku fitting gaun pengantin Minggu lalu, aku takut gaunku itu tak muat. Please Al, bantu aku?” rengeknya sambil mengguncang tangan Aldrich dengan tampang memelas. “Uang tabunganku sekarang juga telah menipis, karena telah habis terkuras demi biaya pernikahan—” Beyonce segera membekap mulut karena keceplosan.

Aldrich tercengang mendengarnya, refleks mencengkeram dengan kuat kedua bahu Beyonce dan menatapnya begitu intens.

“Memangnya si Zack tak mau patungan, huh?” Aldrich tersulut emosi. Ia tak terima jika pria itu memanfaatkan Beyonce.

“Tidak, Al. Ma–maaf, tadi aku hanya bercanda,” ralat Beyonce dengan gugup.

“Bercanda? Hai, Bey. Sorot matamu itu tak bisa menipuku. Jawab dengan jujur!” desaknya.

Akhirnya Beyonce mengaku. “Patungan sih, Al. Tapi … aku yang lebih banyak mengeluarkan uang. Kata dia, tabungannya juga menipis setelah membayar gedung dan lain-lain, jadi aku—”

“Jadi kau menurut saja begitu disuruh-suruh menghabiskan uangmu demi fantasi gilanya! Dia yang ingin mewujudkan pesta pernikahan mewah. Tapi kau yang membiayainya?!” tanya Aldrich menekan dengan suara keras, hingga semua orang di gym tersebut menjadikannya pusat perhatian.

Beyonce mengangguk lemah. Aldrich rasa masalah ini semakin serius. Tak ingin pembicaraannya didengar orang lain, Aldrich lalu menarik tangan Beyonce.

“Kau mau membawaku ke mana, Al?”

“Ikut saja dan jangan cerewet!”

Tiba di depan ruang ganti yang kebetulan sepi. Aldrich mengajaknya bicara beberapa mata.

“Dengarkan aku baik–baik. Jangan terlalu polos jadi wanita, Bey. Menurutku, Zack sepertinya menipumu dan hanya memanfaatkanmu saja," peringat Aldrich sekali lagi.

Beyonce menggeleng tak setuju. “Tidak, tidak. Aku mengenal Zack dengan baik, Al. Dia hanya malu dengan rekanan bisnisnya saja—"

"Halah, persetan dengan itu! Sadarlah Bey, tinggalkan dia sebelum terlambat. Banyak pria lain mengantre jika kau mau membuka hatimu setelahnya,” potong Aldrich.

“Tidak. Aku hanya mencintai Zack. Jangan berkata begitu lagi, Al. Tolong … bantu aku kali ini, saja. Aku mohon, hanya kau yang aku percaya dan bisa membantuku.” Beyonce menyatukan tangannya ke depan Aldrich.

Melihat sahabatnya bersedih, hati Aldrich teriris. Kesedihan Beyonce juga kesakitannya, kiranya begitulah cinta yang tulus.

“Oke Bey, kali ini aku akan membantumu. Datanglah sore nanti ke rumahku, karena aku punya alat kebugaran yang baru aku beli kemarin dan kau bisa menggunakannya secara gratis,” kata Aldrich membuat wajah murung Beyonce menjadi ceria.

“Gratis? Aku mau, Al! Aku mau!” sahut Beyonce tersenyum lega dan penuh semangat.

Menggunakan alat kebugaran dan mendapat trainer gratis dari sahabatnya. Itu suatu keberuntungan, bukan?

Senyuman Beyonce memudar setelah mendengar ucapan Aldrich.

“Ya. Tapi dengan satu syarat!”

“Syarat apa?" Beyonce bertanya dengan sedikit memaksa, matanya mencuram pada Aldrich.

“Datanglah ke rumahku nanti sore. Kau akan tahu sendiri, Bey.” Aldrich mengedipkan sebelah matanya ke Beyonce sambil berlalu.

Meninggalkan wanita itu sendiri dalam wajah tercenung karena penasaran.

Sore itu pun tiba, tapi Beyonce tak kunjung datang ke rumah Aldrich. Bahkan sudah lima kali Aldrich coba untuk menghubungi Beyonce. Lima kali pula tidak direspon, malah operator provider itulah yang menjawab setiap panggilannya.

“Akh! Kamu ada di mana Bey? Jangan membuatku khawatir,” gumam Aldrich sambil terus mencoba menelepon.

“Mengapa telepon dariku tidak diangkat! Apa … aku harus menghubungi Zack?” pikirnya sesaat berhenti mondar–mandir di depan jendela ruang tamu.

Niat itu diurungkan Aldrich karena dia malas berurusan dengannya. Tapi mendadak perasaan Aldrich menjadi tak enak bercampur gelisah, hingga makanan yang sengaja ia masakkan untuk Beyonce menjadi dingin.

Rencananya, hari itu Aldrich bermaksud mengungkapkan perasaan cintanya lagi pada Beyonce. Siapa tahu wanita cantik tersebut akan berubah pikiran? Dan itu pun akan dijadikannya syarat sebelum Aldrich akan memberikan pelatihan gratis untuknya.

Aldrich tahu kebusukan dari Zack dan ia tak mau hidup Beyonce nantinya menderita jika terlanjur menikah dengannya.

Jadi sebelum terlambat, Aldrich ingin memperingatkannya lagi dan misalnya usahanya berhasil. Ia bersedia menerima Beyonce apa adanya, tanpa memandang fisik karena ia tulus mencintai Beyonce.

***

Sudah terlewat tiga jam lebih Beyonce belum juga sampai ke rumah. Aldrich semakin panik bila terjadi sesuatu pada Beyonce, sehingga ia memutuskan untuk pergi mencarinya keluar. Namun begitu ia mencapai pintu, terdengar ketukan cukup keras di luar pintu rumahnya dan Aldrich hafal betul siapa pengetuknya itu.

“Buka Al, aku datang!”

Tok! Tok!

“Astaga! Kenapa suaranya terdengar seperti tengah mabuk?" Aldrich yang terkejut lekas membuka pintu.

Brukk!

Tubuh Beyonce langsung ambruk dan jatuh tepat di pelukan Aldrich. Kuat dugaan memang Beyonce mabuk karena Aldrich mencium bau alkohol menyeruak dengan kuat dari mulut Beyonce.

“Bey, kau mabuk? Sebenarnya ada apa?!" cerca Aldrich khawatir, lantaran baru kali ini melihat Beyonce mabuk.

Sahabatnya itu gadis sederhana, jangankan minum-minuman beralkohol. Pergi ke Club malam pun tak pernah.

Beyonce nyengir menatap Aldrich. “Ssst …” Jari telunjuknya ditempelkan ke bibir Aldrich, matanya hanya terbuka sedikit begitupun kewarasannya.

Pria itu mematung, jantungnya berdegup kencang merasakan jari Beyonce menempel di bibirnya.

“Aku benci Zack! Dia menyebalkan, selalu menyuruhku mengecilkan bentuk tubuh. Padahal ia sudah tahu kalau setiap hari aku sibuk bekerja di kantor!" ungkap Beyonce bernada kesal.

Aldrich membuang napas kasar yang berhembus menerpa helaian rambut Beyonce yang menutupi wajah. “Zack lagi, Zack lagi? Dasar kutu busuk!" geram Aldrich mengumpatinya, “mari ku papah ke sofa, biar aku mengambilkan susu untukmu!"

“Susu? Tidak, Al! Aku mau olahraga saja sekarang, mana alat itu … apa namanya ya? Hehe, aku lupa.”

“Curved treadmill.”

“Ya, milk.” Beyonce salah menyebut.

Aldrich memutar malas bola matanya karena Beyonce mulai melantur. Efek alkohol telah menguasai sebagian akal sehatnya.

Daripada pusing mendengar ocehan Beyonce, Aldrich langsung saja menggendong tubuhnya duduk di atas sofa.

“Hai, kau mau membawaku ke mana? Ke surga? Turunkan aku, Al!”

“Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali membawakan susu untukmu.”

“Hehe,” cengar-cengir Beyonce menanggapi Aldrich yang berlalu pergi ke dapur.

Tak tahunya wanita itu malah menyusulnya dan mengejutkan Aldrich karena Beyonce telah berada di sebelahnya. Wanita itu berdiri dengan pose manja meliuk-liukkan tubuhnya.

Bibirnya dimanyunkan maju, sedangkan kancing kemejanya terbuka sambil bergelayut manja mengalungkan kedua tangannya ke leher Aldrich.

“Aku kurang apa sih, Al? Kurang cantik? Kurang seksi atau dadaku ini kurang besar?" racau Beyonce tak keruan.

Aldrich menyeret salivanya dengan susah payah ketika ditanya begitu, apalagi saat kedua bola matanya tak sengaja turun dan mengamati ke arah dada Beyonce.

‘Jaga kewarasanmu, Al. Ingat! Dia sahabatmu sendiri, kau jangan terpancing!’ batinnya kalut, Aldrich segera memalingkan wajahnya ke arah lain, demi menghindari pemandangan surgawi yang meruntuhkan iman itu.

“Ekhem! Bey, sebaiknya kau tunggu saja di sofa!” suruh Aldrich sambil menahan napas, ketika suhu tubuhnya mulai naik.

“Ah, Aldrich. Kenapa kau mengusirku? Aku maunya di sini bersama kamu, titik!" kukuh Beyonce menolak.

Wanita itu memang keras kepala, meski Aldrich berulang kali menyuruhnya pergi. Justru Beyonce akan semakin menjadi-jadi. Aldrich sampai kesulitan menuang susu di gelas karena tangannya gemetaran terus digoda wanita mabuk itu.

“Please, Bey, nanti susunya tumpah."

“Aldrich! Kamu jahat! Pokoknya aku tak mau pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi!” Beyonce mendengkus kesal.

“Yang mana?” Aldrich berakting lupa.

Dia sangat malu dan risih membahas tentang aset wanita. Kalau Aldrich seorang wanita sih, wajar saja ditanyakan soal dalaman wanita. Masalahnya Aldrich ini lelaki tulen dan jantan.

“Ih! Dadaku ini?"

Mata Aldrich melotot ketika Beyonce sengaja menyembulkan dadanya itu tepat di mata Aldrich.

“A–aku tak tahu Bey, minggir lah! Nanti susu di gelas yang kubawa menjadi tumpah,” peringat Aldrich dengan salah tingkah.

“Jawab dulu!” Beyonce memberondong.

“Bey … jangan tanyakan itu padaku. Aku tak tahu,” elak Aldrich mulai sesak napas. Ia bisa melampaui batas jika terus digoda.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar Sugar Mommy
9.1
Di usia 36 tahun, Cantika Paramitha kerap dicibir karena masih melajang. Namun, hidupnya berubah sejak Arsenio Gunadharma, pemuda 25 tahun lulusan Oxford, bekerja sebagai sekretaris barunya. Ketampanan dan kecerdasan Arsen memicu gairah yang tak terbendung dalam diri Cantika. Meski terpaut usia jauh, ketertarikan kuat membawa mereka ke jenjang pernikahan. Sayangnya, Arsen menyimpan rahasia besar mengenai identitas aslinya yang siap mengguncang keluarga Cantika.
Sampul Novel Hasrat Liar Sang PILOT
9.6
Kehidupan Adrian, kapten pilot tampan berumur 35 tahun sekaligus seorang ayah, penuh dengan godaan di dunia penerbangan. Dikelilingi para pramugari menawan, ia tak mampu membendung hasrat liarnya dan mulai mendekati rekan-rekan kerjanya demi memuaskan nafsu terpendam. Di sisi lain, sang istri yang bernama Dewi tentu tidak tinggal diam menghadapi perselingkuhan ini. Akankah rumah tangga mereka bertahan di tengah badai pengkhianatan? Simak konflik panas pernikahan mereka.
Sampul Novel Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan
9.4
Selama tiga tahun, Claire Nolan merawat suaminya, Julian Westwood, yang lumpuh. Bukannya dihargai, Julian malah membencinya hingga tega mengunci Claire di luar rumah selama 99 hari. Saat bisa berjalan lagi, Julian justru langsung menjemput cinta pertamanya di bandara. Sadar kasih sayangnya tak dihargai, Claire memutuskan mengakhiri kontrak dan meminta cerai. Kepergian Claire akhirnya meninggalkan penyesalan mendalam bagi Julian yang terlambat menyadari segalanya.
Sampul Novel Mantan Yang Sempurna
8.9
Malam sebelum pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi awal dari misteri yang kelam. Sang istri pulang dalam kondisi mabuk berat dengan pakaian berantakan, diantar oleh mantan kekasihnya, Dylan Wiguna. Dalam kondisi setengah sadar, ia meracau dan memanggil nama Dylan. Kebenaran menyakitkan pun terungkap bahwa pernikahan ini hanyalah alat demi memenuhi fantasi menyimpang sang mantan yang menyukai wanita bersuami. Ia bahkan memohon agar Dylan tidak meninggalkannya.
Sampul Novel Menikah dengannya
8.8
Setiap jam lima pagi, Hasna sudah terjaga untuk beribadah dan membantu sang ibu di dapur. Meski kerap menghadapi penolakan kerja hingga belum juga mendapat pekerjaan baru, ia tetap tegar. Namun, ketenangan setelah sarapan mendadak sirna saat ayah dan ibunya mengajak berbicara serius. Hasna pun sangat terkejut ketika orang tuanya menyatakan rencana untuk menjodohkannya dengan seorang pria pilihan mereka.
Sampul Novel Prajurit Raja Perkasa
9.6
Mantan anggota pasukan khusus, Peter Wang, memulai peran baru sebagai pengawal pribadi Bella Song di perusahaan elite Golden City. Walau sempat menganggap remeh pekerjaan ini, Peter justru terseret ke dalam pertikaian sengit melawan geng kejam dan musuh-musuh tangguh. Di tengah pertempuran yang mendebarkan, pesonanya memikat banyak wanita, mulai dari Amelia, Elaine, Shelly, hingga Lisa. Sanggupkah sang prajurit tangguh mengatasi semua bahaya di kota ini?