APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Devil CEO

The Devil CEO

Ethand Girogino Alves memimpin Alves Corp dengan tangan besi dan ucapan yang selalu menusuk hati. Namun, keangkuhan sang CEO berjuluk iblis ini langsung mendapat tantangan sengit begitu ia bertemu Emma Liandra Jones. Di balik parasnya yang menawan, Emma adalah ahli teknologi informasi yang sangat cerdas. Ia menolak tunduk meski Ethand merendahkan harga dirinya. Pertarungan harga diri pun dimulai di kantor, di mana keteguhan Emma perlahan meruntuhkan keyakinan sang bos.
Bab
Bagikan

Bab 1

Alves Corp pagi ini terlihat tidak seperti biasanya. Ketika mendengar tuan Alves mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO, beberapa karyawan membentuk beberapa tim. Bukan tim kerja tetapi tim gosip.

Dilantai sepuluh Alves Corp terdengar ramai. Tim manajemen sibuk dengan aktivitas pagi yang tidak biasa. Mereka membentuk lingkaran dan mulai bergosip dengan suara sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh petinggi perusahaan yang kebetulan lewat.

"Dengar-dengar putra tunggal tuan Alves yang akan menjadi pemimpin kita kali ini." Seorang lelaki dengan nada serius memulai acara gosip mereka pagi itu. Sedangkan beberapa orang yang mengelilinginya manggut-manggut mengiyakan.

"Dengar-dengar juga, katanya pak Albert lah yang akan menempati posisi CEO Alves Corp kali ini." Seorang lelaki dengan dasi biru tua juga tidak mau kalah dengan persepsinya. Beberapa orang menggelengkan kepalanya ketika mengingat Albert hanyalah keponakan tuan Alves.

"Menurut saya, putra tunggal tuan Alves lah yang akan menjadi CEO kita." Seorang perempuan dengan alis menukik membuat siapa saja yang melihatnya akan berpikir bahwa dia adalah tokoh protagonis di drama-drama masa kini.

"Ehem." Suara deheman dari seorang lelaki yang diketahui sebagai sekretaris mantan CEO Alves Corp berdiri tidak jauh dari kumpulan pegawai yang sedang bergosip itu. Sontak pegawai-pegawai yang berkerumun itu bubar dan kembali ke meja kerja masing-masing.

"Selamat pagi," sapa Ryan ramah.

"Pagi, Pak." Sahutan serempak dari tim manajemen membuat Ryan tersenyum senang. Ia mengakui keberhasilan Alves Corp berkat kerja keras tim manajemen juga.

"Jam sebelas kita diharapkan untuk turun ke lobi perusahaan untuk menyambut CEO baru kita," ucap Ryan semangat. Beberapa pegawai saling pandang. Seistimewa itu kah CEO baru mereka. Jika keseluruhan pegawai Alves Corp harus menyambutnya maka lobi perusahaan tidak akan cukup menampung ribuan pegawai Alves Corp.

Namun itu adalah perintah sekretaris perusahaan. "Iya, Pak," jawab mereka serempak.

"Baiklah silahkan lanjut bekerja." Ryan membalikkan badan dan hendak keluar dari ruangan, "berhenti menduga-duga siapa CEO kita kali ini, jam sebelas nanti kalian akan tahu siapa orangnya." Ryan pun berbalik dan pergi dari ruangan itu.

"Siapapun CEO kita kali ini, kita harus tetap bekerja yang terbaik untuk Alves Corp," ucap seorang lelaki berperut buncit yang ternyata adalah manajer tim manajemen. Semua pegawai tim manajemen yang mendengar itu langsung mengepal tangan dan mengayunkan ke udara sambil berteriak, "Pasti!" Itulah semangat tim manajemen.

***

Seorang gadis tergesa-gesa menuju halte bus. Rok hitam di atas lutut dan kemeja putih yang dikenakannya sangat cocok dengan badannya yang ramping. Flat shoes hitam yang dikenakannya terlihat sedikit kusam, namun itu tidak berpengaruh pada penampilannya. Sebab aura dan kecantikannya menutup semua kekurangan yang ada pada dirinya termasuk sepatu kusam itu.

"Tunggu kamu, Alin. Pulang nanti aku pasti kan memukulmu," ancam Emma kesal lantaran sepatu pantofel dengan tinggi heels lima centimeter kepunyaannya dipakai oleh adiknya pagi ini.

Setelah menunggu lima menit di halte bus, akhirnya bus yang ditunggunya pun tiba. Emma mengambil posisi duduk di belakang. Ia memilih kursi belakang agar terhindar dari perhatian para penumpang bus tersebut. Beberapa lelaki dan anak sekolah sesekali menoleh ke belakang untuk sekedar melihat wanita cantik berkemeja putih itu. Rambut yang digerainya sangat cocok di wajahnya yang oval. Mendapat perhatian dari para lelaki, Emma membuka kaca jendela bus dan memilih untuk melihat keadaan kota Vunia siang itu. Tidak lama berselang, mereka sampai di lampu merah pusat kota. Emma yang sementara asik mengamati keadaan kota tidak sengaja tatapannya bertemu dengan seorang lelaki yang memakai kacamata hitam di dalam mobil Bugatti Chiron yang merupakan mobil termahal di dunia. Ketika menyadari bahwa ada seorang wanita yang menatapnya, lelaki tersebut langsung menaikkan kaca jendelanya.

"Ck. Aku bukan mengagumi anda, tapi mobil yang anda kendarai. Seandainya uang membeli mobil itu dipakai untuk membangun rumah sakit jiwa." Emma mulai mengomel ketika ia diperlakukan demikian oleh orang yang tidak dikenalnya.

Setelah lampu merah berganti ke lampu kuning, Emma terkejut ketika melihat mobil Bugatti Chiron itu melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Sungguh di luar dugaannya. Masih ada orang kaya sombong yang mengendarai kendaraannya sesuka hati seperti itu. Emma hanya menggelengkan kepalanya.

Emma melihat jam di tangannya. Masih ada tiga puluh menit lagi. Ia masih bisa mempersiapkan diri untuk wawancara pertamanya di Alves Corp pagi ini.

Perusahaan dengan model bangunan seperti Piramida dan kaca mengkilat yang dapat memantulkan bayangan langit dan bangunan di sekitarnya. Perusahaan itu adalah Alves Corp. Perusahaan satu-satunya yang memiliki kekayaan melebihi semua kekayaan di kota Vunia. Bahkan merupakan perusahaan terkaya di dunia yang memiliki aset di bidang industri, perbankan, pertanian dan teknologi.

Ketika melihat ujung Piramida Alves Corp yang sudah tidak jauh dari bus yang ditumpanginya, Emma mulai meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa menjadi salah satu pegawai di perusahaan terkaya itu.

Drt..drt

Ponsel Emma bergetar. Setelah melihat layar ponsel ternyata itu adalah sebuah pengingat. Hari ini ternyata ulang tahunnya.

Emma merasa ada yang kosong. Biasanya Orlando akan menelepon atau mengirimkan pesan selamat ulang tahun. Namun sampai sekarang, Orlando belum menghubunginya.

"Mungkin dia lagi sibuk kerja." Emma kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Melihat bus sudah sampai di halte yang tidak jauh dari Alves Corp, Emma pun turun. Setelah membayar ongkos bus, Emma kemudian berjalan ke perusahaan yang tampak ramai tersebut.

Ada Bugatti Chiron yang dilihatnya di lampu merah tadi terparkir di depan pintu masuk perusahaan Alves Corp. Terlihat seorang lelaki dengan jas abu-abu menundukkan kepala kepada lelaki muda dengan jas warna hitam. Tubuhnya yang atletis, dada bidang dan rahang tajamnya seperti aktor Brazil yang biasa dilihat Emma di majalah-majalah dewasa. Wajahnya kurang jelas dilihat Emma karena lelaki itu memakai kacamata hitam dan berdiri menyamping.

Emma menghentikan langkahnya. Ia menunggu sampai acara penyambutan itu berakhir.

"Apakah lelaki itu orang istimewa? Mengapa semua orang menundukkan kepala?" Emma tersenyum lucu. Ia merasa bahwa lelaki berkacamata hitam itu sangat gila hormat.

BRUGH!

Seorang lelaki yang berumur sekitar empat puluh lima tahun jatuh tersungkur. Ia mendapat tendangan telak di tulang keringnya.

"Selain gila hormat ternyata dia juga seorang berhati iblis." Emma yang mengamati dari kejauhan hanya mampu berkomentar. Ia sangat membenci orang yang tidak menghargai orang tua. Apalagi sampai melukainya.

Tidak lama kemudian, semua pegawai yang berdiri di depan perusahaan masuk ke dalam setelah lelaki berkacamata hitam itu masuk terlebih dahulu. Melihat situasi mulai senggang dan tidak ada lagi pegawai di sana, Emma berjalan mendekat dan masuk ke perusahaan tersebut.

"Permisi," sapa Emma dengan anda ramah ketika sampai di meja resepsionis.

"Iya, ada yang bisa kami bantu?" jawab wanita penjaga meja resepsionis tersebut.

"Saya Emma, salah satu peserta tes wawancara," ucap Emma.

"Silahkan naik ke lantai lima belas. Di sana akan ada penjaga yang akan mengantarkan anda ke tempat tes wawancara."

Emma mengangguk cepat dan mengucapkan terima kasih kepada wanita itu.

Lobi Alves Corp sangat luar biasa. Mengalahkan kemegahan hotel bintang lima. Emma melangkah menuju lift yang sudah ada beberapa pegawai yang menunggu di depannya. Tidak lama kemudian lift itu terbuka dan orang-orang yang menunggu bersama Emma pun masuk.

Emma hampir tidak bisa bernapas karena lift itu sesak akan pegawai Alves Corp. Semua pegawai turun menyambut CEO baru mereka sehingga ketika kembali ke ruangan lift menjadi sesak.

"Huahhh" Elena merasa lega ketika keluar dari lift tersebut.

"Apakah anda peserta tes wawancara?" tanya seorang lelaki dengan seragam satpam. Emma mengangguk.

"Silahkan masuk ke ruangan di sebelah sana." Satpam itu menunjuk ke sebuah ruangan bertuliskan 'Ruangan Wawancara'.

"Terima kasih," ucap Emma kepada satpam itu lalu berjalan menuju ruangan wawancara.

Ketika Emma membuka pintu, ternyata peserta sudah banyak di dalam ruangan tersebut. Emma mencari tempat duduk kosong dan mengeluarkan tanda pengenalnya. Setelah memakai tanda pengenal, Emma merapikan rambutnya dan menyelipkan ke samping telinganya.

Emma memejamkan mata dan berdoa. Setelah ia membuka mata, Emma terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang lelaki yang dilihatnya di depan perusahaan tadi ternyata peserta wawancara juga.

"Menarik sekali pria itu." Emma tertawa lucu.

Tidak disadari Emma, lelaki yang ditujunya juga ternyata mendengar perkataannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Della terkejut saat matanya bisa melihat lagi dan mendapati dirinya telah menikah dengan Hurst Owen, adik dari kekasihnya. Kebenaran menyakitkan terungkap saat ia tahu Brady Owen, sang kekasih, sengaja meninggalkannya yang buta demi Betty Kirk. Brady berjanji akan kembali sebulan lagi dan menganggap pernikahan adiknya tidak sah. Namun, Hurst mulai jatuh cinta pada Della. Tanpa memberi tahu bahwa ia sudah sembuh, Della justru mengajak Hurst meresmikan pernikahan mereka agar sah seutuhnya.
Sampul Novel Jeli cinta
8.2
Karier Aitana sebagai manikuris andalan di Spa Luna hancur seketika akibat tuduhan palsu merebut kekasih kliennya. Fitnah ini ternyata menyeret Iker, pemilik Glow Agency yang licik. Saat berjuang membersihkan namanya, Aitana justru mengungkap skandal besar: banyak kliennya yang berselingkuh dengan Iker. Di tengah ancaman kerja dan persaingan agensi, ia terjebak dilema cinta segitiga yang rumit. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti kata hatinya.
Sampul Novel Keluarga Benalu Ingin Kaya Mendadak
8.0
Izzah sangat tahu bahwa keluarga suaminya cuma parasit yang ingin merebut harta pribadinya. Tapi, mereka keliru jika mengira ia perempuan lemah yang gampang dikelabui. Izzah takkan tinggal diam membiarkan seluruh asetnya dijarah. Berbekal kecerdikan serta ketegasan, ia siap melindungi apa yang menjadi haknya. Izzah pun bersiap melawan setiap rencana jahat dan taktik licik yang dilancarkan oleh mertua beserta keluarganya.
Sampul Novel Langit dan Evelyn
8.6
Evelyn sangat menginginkan kebebasan tanpa pasangan, sementara Langit bertekad menghindari pernikahan seumur hidupnya. Walau sama-sama menyimpan trauma dan luka masa lalu yang mendalam, takdir justru menjebak mereka dalam situasi pelik. Dua orang yang sangat anti terhadap komitmen ini terpaksa tinggal bersama di bawah satu atap. Di tengah ketakutan akan sebuah ikatan, mampukah keduanya bertahan serumah tanpa membiarkan benih cinta tumbuh?
Sampul Novel Pelarian Manis Istri Pengganti
7.8
Demi menyelamatkan label musik keluarga, Cantika rela menyamar sebagai Aulia dan menjadi istri pengganti Kenan Adiwangsa selama tiga tahun. Namun, ia hanya mendapatkan sikap dingin dari Kenan serta ancaman bahaya dari kelicikan Elara. Begitu Aulia kembali, sang ibu justru mengusir Cantika dengan kejam. Cantika akhirnya memilih pergi dari lingkaran penderitaan tersebut demi menyembuhkan lukanya. Di lembaran baru, ia berhasil menemukan kebahagiaan dan cinta sejati dari pria yang tulus menghargainya.
Sampul Novel Pesona Liar Sang Pelakor
9.3
Seorang istri tanpa sengaja mendengar rencana jahat ibu mertuanya dengan seorang wanita seksi. Demi memperoleh cucu, sang mertua ingin mendepaknya karena dianggap mandul dan menyuruh wanita itu memikat suaminya, Ali. Meski terkejut, ia tidak tinggal diam karena yakin dirinya jauh lebih menarik. Ia pun memilih berpura-pura mengikuti permainan kotor tersebut, siap membalikkan keadaan, dan bertekad menjadikan mereka semua hanya sebagai figuran dalam skenario balas dendamnya.