APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Blue Eyes

The Blue Eyes

Sejak menetap di sebuah vila angker, hidup Ferdianto tidak lagi sama. Pertemuannya dengan Viana, arwah noni Belanda yang penuh misteri, memicu berbagai teror supranatural yang mencekam. Ferdianto pun tersadar bahwa nyawanya kini tengah terancam bahaya besar. Di tengah situasi yang mendesak, sanggupkah ia menyelamatkan diri dari ancaman maut? Mampukah ia memecahkan teka-teki serta misteri utama di balik semua kejadiaan mengerikan ini sebelum terlambat?
Bab
Bagikan

Bab 2

TBE 02

Semenjak saat itu Viana selalu hadir setiap hari. Terkadang dia muncul di waktu petang. Duduk manis di seberang meja makan sambil menemaniku bersantap. Kadang pula dia hanya muncul selintas di halaman, bolak-balik dari ujung kiri ke kanan sambil memegangi payung berenda khas Noni Belanda.

Malam ini, seperti hari-hari sebelumnya Viana.sudah duduk di kursi seberang meja. Memandangiku seraya mengulaskan senyuman sambil merapikan rambut panjangnya yang tergerai, dengan jemari lentik berpoles pewarna merah.

Kali ini Viana mengenakan pakaian yang bagus. Bila biasanya dia akan menggunakan gaun panjang dengan warna-warna cerah, tetapi kali ini berbeda. Gaun biru tua itu tidak terlalu panjang dan kuperkirakan hanya sebatas betis. Aksen renda putih di bagian bawah dada dan tiga buah kancing mutiara sebagai aksesori tambahan, menjadikan tampilannya sangat anggun.

Saat Bu Ismi, istrinya Pak Tono meletakkan minuman hangat untukku di atas meja, tiba-tiba saja Viana memunculkan diri dengan seringai jahil di wajahnya. 

"Astagfirullah!" seru perempuan paruh baya itu.

"Kenapa, Bu?" tanyaku sembari menghentikan gerakan menyuap. 

"Itu ... hantu itu ...." lirihnya sambil menutup wajah dengan tangan kiri. Tatapannya mengarah lurus ke seberang meja, tempat di mana sosok Viana balas menatap sembari menaikkan alis.

Aku berdehem untuk mengalihkan perhatian Viana, dan saat dia menoleh aku langsung menggerakkan dagu untuk memberikan kode agar dia segera pergi. Viana mengerucutkan bibir dan melipat tangan di depan dada. Mengangkat hidung bangirnya tinggi-tinggi sebelum sosoknya perlahan menghilang. 

"Hantu yang mana?" tanyaku pura-pura lugu. Padahal dalam hati aku ingin tertawa. 

Bu Ismi membuka separuh tangan kanan untuk mengintip. Kemudian, menurunkan tangan dan mengusap dada beberapa kali. 

"Hantu cewek bule. Berbaju biru. Rambutnya panjang," jelas Bu Ismi. Matanya berputar ke sekeliling ruangan untuk memastikan Viana telah tidak ada. 

"Emang, dia sering muncul?" 

"Iya. Konon katanya, rumah ini dulu adalah rumah orang tuanya," jawab Bu Ismi sembari menarik kursi di sebelahku. Beliau duduk dan menuangkan air ke dalam gelas, kemudian meminumnya hingga habis. 

Aku memandangi Bu Ismi dan menunggunya melanjutkan cerita. Cerita awal mula vila ini memang sangat ingin kuketahui. Terutama karena kemunculan Viana, dan beberapa makhluk tak kasatmata lainnya yang beberapa kali tertangkap mata tengah melintas di halaman depan ataupun belakang.

"Ibunya dulu nyai Belanda, istri simpanan gitu. Saat ayahnya kembali ke Belanda, Viana dan ibunya tidak diajak serta. Mereka tetap tinggal di sini sampai ibunya wafat. Makamnya ada di bukit itu," terang Bu Ismi sambil menunjuk bukit di samping kanan villa. 

"Terus, Viana gimana?" tanyaku. Sangat penasaran dengan lanjutan ceritanya. 

"Viana menjual rumah ini dan pindah ke kota. Lama tidak terdengar kabar beritanya. Ada kali puluhan tahun," jelas Bu Ismi. "Pembeli villa pertama, pak Dirga menjual villa ini ke pak Ridwan, orang tuanya mas Farid. Terus ibu dan keluarga diajak tinggal di sini untuk mengurus villa," sambungnya. 

Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya. Kemudian, melanjutkan makan malam yang tertunda sambil mendengarkan dongeng Bu Ismi dengan saksama, berharap ada setitik informasi yang bisa membuka tabir tempat tersebut.

Berbelas menit berikutnya, Bu Ismi pamit pulang ke rumahnya. Aku memandangi punggung perempuan paruh baya itu hingga sosoknya menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti area sekitar vila.

Udara yang sudah dingin makin membekukan tubuh. Aku merapatkan jaket berbahan babytery yang cukup mampu melindungi dari dinginnya malam. Meraih topi rajut dari atas meja bufet ruang tamu dan mengenakannya hingga menutupi tengkuk. 

Kemudian, menarik senter yang digantung di dinding belakang pintu, menyalakan benda itu hingga sinarnya cukup terang. Menutup dan mengunci pintu depan, lalu jalan ke luar. 

Menyusuri jalan di depan villa hingga sampai di pagar yang sudah terkunci. Membuka gembok dan mengangkat ujung pintu yang sedikit macet, sebelum membuka pagar dan menutupnya kembali. Melangayunkan langkah melalui jalan sepi. Melewati dinding berlumut dari tembok pembatas dengan rumah sebelah. 

Penghuni rumah di sebelah kanan ini adalah seorang pria tua yang ditemani seorang asisten rumah tangga dan dua orang satpam, yang merupakan warga dari kampung sekitar tempat ini. Selama hampir satu bulan tinggal di sini, hanya sesekali aku bertemu dengan penghuni rumah. Selain karena aku yang keluarnya tidak tentu, mereka juga memang jarang keluar bila tidak ada keperluan. 

"Mau ke mana, Mas Anto?" tanya Pak Rohim, satpam rumah sebelah, sesaat setelah aku tiba di dekat pagar.

"Mau ke warung, Pak. Pengen ikutan ngobrol sama warga yang suka nongkrong di sana," jawabku seraya menyunggingkan senyuman.

"Nongkrong di sini aja, bareng bapak. Kita ngopi sambil ngemil ini," tukas Pak Rohim sambil mengangkat piring berisi makanan yang masih mengepul. 

Aku terdiam sesaat, kemudian melangkah mendekati beliau dan mendudukkan diri di samping kanan. Pak Rohim dengan cekatan menuangkan kopi hitam dari termos kecil yang selalu beliau bawa. Memberikan gelas itu padaku, serta menggeser piring berisi singkong ke tengah-tengah bangku panjang yang kami duduki. 

"Pak Iman, ke mana? Tumben Bapak cuma jaga sendirian?" cecarku basa basi memecah kesunyian. 

"Iman lagi sakit. Demam turun naik dari kemarin," jawabnya. "Kayaknya sih karena sawan, ketempelan hantu cewek itu," lanjutnya yang membuatku terkesiap. 

"Ketempelan?"

"Iya, dia bilangnya sih gitu, Mas. Dua malam yang lalu, dia kebelet buang air. Udah nggak kuat nahan, mau ke kamar mandi di dalam rumah juga udah nggak sanggup, katanya. Akhirnya dia pipis di bawah pohon itu," terangnya sambil menunjuk ke pohon jambu air yang rimbun. Sebagian batang pohon itu menjorok ke arah halaman villa yang kutempati. 

"Terus, habis itu dia kayak melihat hantu noni Belanda itu lagi duduk di batang pohon yang ke arah villa. Langsung lari tunggang langgang si Iman. Ngebangunin bapak yang lagi tidur di kursi," ungkapnya sembari mengarahkan jari telunjuk pada kursi berbahan kulit yang sudah pudar warnanya yang berada di sudut kanan.

"Pulangnya dia mengeluh nggak enak badan. Ehh, demamnya jadi keterusan sampai sekarang," sambung Pak Rohim sambil memperhatikan sekeliling. Mungkin beliau takut obrolan kami ini didengar oleh orang lain. 

Aku hanya bisa manggut-manggut mendengarkan beliau terus berbicara. Hal seperti ini baru pertama kalinya aku dengar. Sementara keluarga Pak Tono mengaku hanya beberapa kali melihat kelebatan makhluk astral di sekitar vila, tetapi mereka tidak pernah ditakut-takuti.

Kabut kian tebal dan suhu udara makin menurun drastis. Kendatipun sudah mengenakan jaket tebal dan kepala tertutup, tetap saja aku kedinginan. Pak Rohim yang melihatku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan mengajakku pindah ke ruangan kecil yang merupakan tempatnya beristirahat yang letaknya tepat di samping kiri garasi.

Kami melanjutkan pembicaraan sambil menikmati cangkir kopi kedua. Sekali-sekali aku memindai sekitar, dan menuruti intuisi kali ini aku memandangi pohon jambu air di bagian atas. Tatapanku bersirobok dengan sepasang mata beriris biru di salah satu dahan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kasih Sayang Yang Datang Terlambat
9.7
Sebuah hukuman kejam berujung maut. Akibat anak dari wanita idaman ayahnya pingsan karena dehidrasi, sang protagonis dituduh bersalah dan dikurung di dalam bagasi mobil yang gelap. Sang ayah yang murka mengabaikan tangisannya dan melarang siapa pun membebaskannya. Terjebak di garasi sunyi tanpa ada yang mendengar jeritannya, ia perlahan meregang nyawa. Ketika sang ayah akhirnya kembali setelah tujuh hari untuk melepaskannya, ia tidak menyadari bahwa putrinya telah tewas dalam kesendirian.
Sampul Novel Kuakhiri Dendam Ini
9.0
Kebahagiaan Anisa menyambut kepulangan Barry dari luar negeri sirna seketika. Saat membuka koper sang suami, ia justru menemukan sesosok mayat wanita cantik yang tak bernyawa. Penemuan mengerikan ini seketika merusak ketenangan hidupnya dan memicu kekacauan besar di rumah mereka. Kini, Anisa terperangkap dalam pusaran misteri gelap yang mengancam keselamatan jiwanya.
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara, seorang wanita mandiri berparas menawan yang tinggal jauh dari keluarga, kerap memikat hati banyak pria. Di balik daya tariknya, keseharian Ara selalu dilingkupi teror mistis yang mencekam. Ia bahkan menjalin hubungan unik hingga berteman dengan makhluk gaib. Namun, semua gangguan supranatural yang membayangi hidupnya mendadak sirna setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan Ara yang semula penuh misteri berubah drastis menjadi ketenangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Perempuan Bersuami Dua
9.6
Kehidupan rumah tangga Mak Bayah sangat tidak biasa. Dukun desa ini tinggal bersama dua suami sekaligus dalam satu rumah secara damai. Namun, keharmonisan tersebut menyimpan misteri besar. Di balik itu semua, Mak Bayah memiliki ambisi yang sangat gelap. Mengandalkan ilmu hitam dan kemampuan mistisnya, ia siap melakukan apa saja demi memikat pria mana pun yang ia dambakan. Saat obsesinya telah memuncak, tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan niatnya.
Sampul Novel Skandal Sang Influencer
8.1
Sepupuku adalah influencer kecantikan yang terobsesi dengan konten transformasi riasan. Karena aku menolak menjadi modelnya, ia nekat mendandani jenazah nenek kami saat pemakaman demi popularitas siaran langsung. Tindakanku yang menghentikan aksi tersebut memicu kemarahannya. Menjelang hari pernikahanku, ia tiba-tiba datang membawa kosmetik asing misterius dan menawarkan jasa rias pengantin. Aku pun menyetujuinya, karena sejak awal aku telah mengetahui niat buruk di balik topeng ramahnya.
Sampul Novel TERSESAT DI SARANDJANA
9.8
Pendakian gunung perdana Anang Syah berujung petualangan menegangkan ketika dirinya terlempar ke dimensi gaib. Ia tersesat dan terjebak di dalam kemegahan Sarandjana, sebuah negara misterius yang tak kasat mata. Di dunia asing yang penuh keajaiban sekaligus rintangan ini, Anang harus berjuang keras bertahan hidup. Akankah ia berhasil menemukan jalan pulang ke dunia nyata, atau justru terjebak selamanya di negeri tersebut?