APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Blue Eyes

The Blue Eyes

Sejak menetap di sebuah vila angker, hidup Ferdianto tidak lagi sama. Pertemuannya dengan Viana, arwah noni Belanda yang penuh misteri, memicu berbagai teror supranatural yang mencekam. Ferdianto pun tersadar bahwa nyawanya kini tengah terancam bahaya besar. Di tengah situasi yang mendesak, sanggupkah ia menyelamatkan diri dari ancaman maut? Mampukah ia memecahkan teka-teki serta misteri utama di balik semua kejadiaan mengerikan ini sebelum terlambat?
Bab
Bagikan

Bab 3

TBE 03

Pagi hari menyapa dengan dinginnya udara yang menusuk. Embusan angin seolah-olah menerobos masuk lapisan kaus lengan panjang dan sweater rajut yang kukenakan.

Makin mendekati pergantian musim, maka cuaca pun menjadi tidak menentu. Sering kali, paginya dingin menggigit, tetapi siang sampai sore matahari bersinar dengan teriknya. Malam harinya kembali lagi ke udara sejuk, yang akan bertambah dingin seiring dengan pergantian jam. 

Bu Ismi sudah datang ke villa sebelum jarum jam dinding menunjuk ke angka tujuh. Suara senandung lagu khas Sunda terdengar dari bibirnya. Ibarat radio, mengalun tanpa henti dan cukup merdu di telinga. Hari ini, Titin---anak pertama Bu Ismi dan Pak Tono--- ikut membantu sang Ibu membersihkan rumah dan berbagai barang antik milik keluarganya Farid. 

Perempuan muda yang kali ini mengenakan jilbab merah muda dan blus senada itu, tampak sekali-sekali mencuri-curi pandang ke arahku yang sedang duduk di kursi putar dekat meja besar yang ada di ruang perpustakaan, yang berada tepat di belakang ruang tamu dan bersebelahan dengan kamar utama yang kutempati.

"Tin," panggilku sembari menengadah.

"Y-ya, Mas?" sahutnya dengan sedikit terbata. Mungkin dia terkejut karena tidak menyangka bahwa aku akan tiba-tiba memanggilnya. 

"Bisa tolong buatin teh manis? Kopiku udah tinggal ampasnya," pintaku sembari mengacungkan cangkir kopi yang memang sudah kosong.

Titin mengangguk dan bergegas ke luar. Aku kembali melanjutkan mengetik di laptop, dan baru berhenti saat melihat pantulan wajah Viana di layar benda elektronik tersebut.

"Kamu tuh, Mas. Sama aja dengan pria lainnya," ucapnya pelan sembari menggeleng.

Aku menoleh dan sedikit mengerutkan dahi. Bingung dengan maksud perkataannya dan sangat menunggu hantu berparas cantik itu melanjutkan ucapan.

"Jangan pura-pura!" desisnya sembari berpindah tempat dan duduk di samping kanan meja. 

Ujung gaun panjang hijau bercampur putih itu melambai menyentuh lantai. Kalau saja ada menyaksikan Viana berpenampilan seperti itu di malam hari, mungkin akan sedikit ngeri melihatnya yang seolah-olah tidak menapak.

"Apaan sih?" tanyaku sambil mengangkat alis.

Viana mendengkus. Kemudian, menunjuk ke arah pintu di mana Titin sedang melangkah masuk ke ruangan sambil membawa nampan. Perempuan bertubuh mungil itu meletakkan satu gelas berisi air teh dan sepiring peuyeum goreng ke atas meja. (tape goreng) 

"Makasih," ucapku sambil meraih gelas dan menyesap teh yang rasa manisnya sangat pas dengan selera.

Titin memperhatikanku sekilas sebelum membalikkan tubuh dan jalan menjauh dengan mengepit nampan di depan dada. Sepertinya dia tidak menyadari bila Viana sejak tadi memperhatikan gerak'geriknya. 

"Tadi, maksud kamu apa, Vi?" tanyaku pelan. Berusaha berhati-hati agar tidak terdengar ke luar. 

"Kamu itu, sama aja dengan pria lain. Senengnya memanfaatkan perempuan!" jelasnya dengan suara yang ketus. 

"Memanfaatkan?" Aku kembali menaikkan alis, karena makin tidak mengerti dengan maksud omongan hantu berparas cantik ini. 

"Iya. Memanfaatkan! Tahu aja kalau perempuan itu sejak tadi melirik, langsung deh main perintah!" sergahnya. 

Sejenak hening, kemudian tawaku pecah. Baru paham maksud sikap Viana yang aneh sejak tadi. "Nggak apa-apalah. Sekali-sekali ini minta tolong sama dia," timpalku setelah tawa usai. 

Viana hanya diam dan menatapku dengan sorot mata yang sangat dingin. Tangannya dilipat di depan dada. Dagu terangkat dan makin memperjelas lekukan lehernya yang jenjang dan mulus.

"Ehm, Vi, kenapa kamu nakut-nakutin pak Iman?" tanyaku sambil bertopang dagu. Berusaha mengalihkan pembicaraan agar dia lupa bila tengah kesal denganku.

"Nggak nakutin kok. Aku cuma ngasih pelajaran aja sama orang yang suka buang hajat di sembarang tempat. Jorok!" jawabnya dengan hidung yang mengerut. 

"Ngasih pelajaran boleh. Tetapi jangan bikin orang sampai demam begitu," balasku. 

"Itu bukan salahku. Dia aja yang lemah hati."

Tawaku kembali pecah. Tak peduli bila hal ini akan memancing tanya Bu Ismi dan Titin. Viana tampak mengulum senyum, kemudian perlahan sosoknya memudar dan akhirnya benar-benar lenyap.

***

Senja yang indah menggantikan teriknya matahari siang tadi. Angin yang berembus ringan membuat udara terasa sedikit sejuk. 

Dedaunan di dahan pohon-pohon di pekarangan itu turut melambai, seakan-akan tengah menari terdorong angin sebelum tiba saatnya mereka gugur ke bumi.

Aku melangkah hati-hati menaiki bukit di sebelah kanan villa. Beratnya ransel yang disampirkan di punggung, membuat gravitasi bumi menguat untuk menarikku ke bawah. Sepatu boot cokelat yang digunakan juga sudah terbenam beberapa kali di berbagai titik lumpur, dan memaksaku untuk mengingat bila nanti harus membeli sepatu karet, seperti yang biasanya dipakai pak Tono bila tengah berkebun.

Setelah berjuang selama beberapa menit, akhirnya aku sampai di atas bukit. Berdiri tegak di depan sebuah makam lama yang nisannya terbuat dari marmer yang sangat indah. Di bagian tengah nisan tertulis nama pemilik makam ini. Yaitu Siti Mariam. Kelahiran tahun 1912, dan wafat pada tahun 1970. 

Aku duduk bersila di sebelah kanan makam. Memandangi sekeliling yang terasa sangat sunyi. Beberapa titik kendaraan yang banyak melintas di jalan raya depan villa, menandakan bahwa hari ini merupakan penghujung minggu. 

Seperti halnya daerah pegunungan lainnya, di sini banyak terdapat villa milik pribadi yang terkadang disewakan ke para pelancong. 

Walaupun daerah ini tidak sepopuler Puncak atau Lembang, tetapi dengan bertaburnya hotel kecil dan villa, menandakan daerah ini cukup banyak pengunjung. Ditambah lagi dengan dibangunnya sebuah waterpark di ujung jalan utama, menjadikan tempat ini makin ramai dikunjungi di penghujung minggu. 

Hawa dingin di bagian lengan kiri sontak membuatku menoleh. Viana telah hadir kembali dengan seulas senyuman indah di bibirnya. Aku seolah terhipnotis dan tidak sanggup mengalihkan perhatian. Terus saja memandangi wajahnya yang sangat menawan. 

"Aku, boleh minta tolong?" tanyanya dengan suara pelan.

"Kalau bisa, akan kutolong. Kalau nggak, cuma bisa bantu agar ada yang mau menolongmu," jawabku seraya tersenyum lebar. 

"Hmmm," sahutnya sambil memicingkan sebelah mata. 

"Minta tolong apa? Buruan ngomongnya. Bentar lagi aku mau turun," pintaku.

"Tolong bantu menyempurnakan jasadku," jawabnya. 

Aku terperangah dengan mata yang sedikit membola. Seolah tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Sepersekian detik berikutnya aku terdiam, berusaha mencerna perkataannya. "Bagaimana caranya?" tanyaku setelah bisa menguasai diri. 

"Ambil jasadku dari kuburan lama, dan pindahkan ke sini. Aku ingin dikuburkan dengan layak di sebelah makam ibu," jawabnya dengan suara yang bergetar. Jemari lentiknya mengusap marmer dengan pelan dengan diiringi sorot mata sendu.

Aku mengalihkan pandangan kembali ke jalan. Otak berpikir keras mencari cara agar bisa memenuhi permintaan Viana yang benar-benar unik. "Makammu saja aku tidak tahu, Vi. Bagaimana hendak memindahkannya?" tanyaku. 

Viana menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Kemudian, tiba-tiba dia sudah berpindah duduk di hadapanku. "Makamku tidak jauh dari sini. Bahkan, kamu sering melewatinya," ujarnya sembari menatapku dengan sepasang mata berembun.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kasih Sayang Yang Datang Terlambat
9.7
Sebuah hukuman kejam berujung maut. Akibat anak dari wanita idaman ayahnya pingsan karena dehidrasi, sang protagonis dituduh bersalah dan dikurung di dalam bagasi mobil yang gelap. Sang ayah yang murka mengabaikan tangisannya dan melarang siapa pun membebaskannya. Terjebak di garasi sunyi tanpa ada yang mendengar jeritannya, ia perlahan meregang nyawa. Ketika sang ayah akhirnya kembali setelah tujuh hari untuk melepaskannya, ia tidak menyadari bahwa putrinya telah tewas dalam kesendirian.
Sampul Novel Kuakhiri Dendam Ini
9.0
Kebahagiaan Anisa menyambut kepulangan Barry dari luar negeri sirna seketika. Saat membuka koper sang suami, ia justru menemukan sesosok mayat wanita cantik yang tak bernyawa. Penemuan mengerikan ini seketika merusak ketenangan hidupnya dan memicu kekacauan besar di rumah mereka. Kini, Anisa terperangkap dalam pusaran misteri gelap yang mengancam keselamatan jiwanya.
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara, seorang wanita mandiri berparas menawan yang tinggal jauh dari keluarga, kerap memikat hati banyak pria. Di balik daya tariknya, keseharian Ara selalu dilingkupi teror mistis yang mencekam. Ia bahkan menjalin hubungan unik hingga berteman dengan makhluk gaib. Namun, semua gangguan supranatural yang membayangi hidupnya mendadak sirna setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan Ara yang semula penuh misteri berubah drastis menjadi ketenangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel Perempuan Bersuami Dua
9.6
Kehidupan rumah tangga Mak Bayah sangat tidak biasa. Dukun desa ini tinggal bersama dua suami sekaligus dalam satu rumah secara damai. Namun, keharmonisan tersebut menyimpan misteri besar. Di balik itu semua, Mak Bayah memiliki ambisi yang sangat gelap. Mengandalkan ilmu hitam dan kemampuan mistisnya, ia siap melakukan apa saja demi memikat pria mana pun yang ia dambakan. Saat obsesinya telah memuncak, tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan niatnya.
Sampul Novel Skandal Sang Influencer
8.1
Sepupuku adalah influencer kecantikan yang terobsesi dengan konten transformasi riasan. Karena aku menolak menjadi modelnya, ia nekat mendandani jenazah nenek kami saat pemakaman demi popularitas siaran langsung. Tindakanku yang menghentikan aksi tersebut memicu kemarahannya. Menjelang hari pernikahanku, ia tiba-tiba datang membawa kosmetik asing misterius dan menawarkan jasa rias pengantin. Aku pun menyetujuinya, karena sejak awal aku telah mengetahui niat buruk di balik topeng ramahnya.
Sampul Novel TERSESAT DI SARANDJANA
9.8
Pendakian gunung perdana Anang Syah berujung petualangan menegangkan ketika dirinya terlempar ke dimensi gaib. Ia tersesat dan terjebak di dalam kemegahan Sarandjana, sebuah negara misterius yang tak kasat mata. Di dunia asing yang penuh keajaiban sekaligus rintangan ini, Anang harus berjuang keras bertahan hidup. Akankah ia berhasil menemukan jalan pulang ke dunia nyata, atau justru terjebak selamanya di negeri tersebut?