APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Betrayal

The Betrayal

Hubungan erat Malika, Shereen, dan Silva kini retak akibat asmara. Ketegangan dimulai ketika Malika secara jujur dan menyesal mengaku kepada Silva bahwa ia menyukai Erga. Kehadiran pria itu pun menciptakan dilema besar, di mana Erga kini bingung memilih antara Malika atau Silva. Di tengah kekacauan ini, Shereen berupaya keras mendamaikan situasi. Sanggupkah persahabatan mereka selamat dari badai cinta dan rasa dikhianati ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Hallo, Sil, elo di mana? Tadi gue ke rumah elo, tapi elo nggak ada di rumah,” ucap Malika di seberang ponselnya.

“Hallo, Ka. Oh, iya, gue lagi di rumahnya Vera. Ada apa ya?” jawab Silva penasaran.

“Nggak apa-apa kok, gue cuma mau ke rumah elo aja. Habis bete di rumah terus. Tapi kalau elo ada di rumah Vera, ya udah di lanjut aja. Bye ....”

“Ya udah, Ka. Nanti sore gue pulang, kita ketemu di rumah Shereen aja, ya, jam 4 sore! Oke, bye ...."

Setelah mengakhiri pembicaraannya di ponsel, Malika memutuskan siang itu ke kediamannya Shereen. Terlihat dari raut wajahnya kalau ia sedang bete dan bad mood.

Sesampainya di rumah Shereen, ia langsung masuk begitu saja sebab pintu rumah sahabatnya itu tidak di kunci. Ya, Malika sudah biasa seperti itu di rumah Shereen. Inget di rumah sahabat kecilnya saja tidak di semua rumah orang ya.

Malika memasuki kamar Shereen dan terlihat Shereen sedang asyik menonton televisi di dalam kamarnya. Selanjutnya ia dan Shereen malah asyik bercengkrama dan berghibah ria. Tidak terasa hari menjelang sore, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu rumah Shereen dan mengucapkan salam. Ternyata itu Silva.

“Hi Guys! Kalian pada tahu nggak sih, gue tuh lagi senang banget,” ucap Silva dengan muka berseri-seri dan mata berbinar-binar.

“Elo kenapa? Kok tumben kelihatannya happy banget. Habis menang lotre, ya? Emang senang kenapa sih, Sil?” sahut Shereen penasaran.

“Ya, apa sih? Nggak biasanya lho, elo happy gini dan sambil senyum-senyum segala lagi,” sambung Malika juga ikut penasaran.

Akhirnya Silva menjelaskan bahwa ia tadi dari rumahnya Vera, lalu ia sempat dikenalkan ke saudaranya Vera yang bernama Erga. Yang membuat Silva terlihat happy banget karena mereka baru kenalan dan Erga sudah mengutarakan isi hatinya. Silva bahagia banget sebab sudah cukup lama ia menjomblo.

Lagipula Silva itu mudah jatuh cinta. Asal ada laki-laki yang mau dengannya dan ia merespon, langsung ia terima. Seperti Erga ini, baru kenal sesaat sudah resmi berpacaran.

“My God! Elo nggak salah Silva, baru kenal udah langsung jadian aja,” tutur Malika terkejut.

“Habis gimana ya, daripada elo ngejomblo terus. Ya udah ada yang mau sama gue, kenapa nggak?” balas Silva santai.

“Up to you,” teriak Malika dan Shereen berbarengan sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka masing-masing.

Karena hari hampir gelap, Silva dan Malika akhirnya pulang ke rumah masing-masing, sepanjang jalan Silva senyum-senyum tidak jelas. Malika merasa risih melihat kelakuan aneh sahabatnya.

***

Di kamarnya Malika masih tidak habis pikir, mengapa Silva bisa-bisanya menerima seorang laki-laki yang baru ia kenal bahkan baru ia temui hari ini? Silva bisa mengenal Vera memang melalui Shereen. Seperti Silva mengenal Shereen, ya karena Malika yang mengenalkan. Vera itu teman kampusnya Shereen. Jadi Shereen kuliah di kampus yang berbeda dengan Malika dan Silva. Tapi mereka bertiga memang sangat akrab dan dekat dikarenakan rumah mereka saling berdekatan.

Terutama Malika dan Silva, sebenarnya mereka bertetangga namun, awalnya tak saling mengenal. Sejak masuk Universitas yang sama mereka berdua mulai akrab. Hidup di kota besar seperti Jakarta, nama tetangga sendiri saja tidak kenal.

***

Sejak resmi berpacaran dengan Erga, Silva berkelakuan sangat aneh. Ia tidak hentinya selalu membicarakan kekasih barunya. Hingga membuat kedua sahabatnya yang bernama Malika maupun Shereen sangat bosan mendengarkan curhatannya. Mereka kemungkinan menjadi iri, karena status jomblo yang selalu melekat pada diri mereka berdua.

“Si Silva benar-benar dah itu anak, nggak ada bosan-bosannya curhat tentang cowoknya,” ucap Malika frustrasi.

“Ya Ka, benar banget. Gue aja malas kalau ada dia pasti curhat tentang pacar barunya itu. Perasaan yang lain punya pasangan nggak gini-gini amat dah,” tukas Shereen mengiyakan perkataan Malika.

Tidak lama kemudian, datanglah Silva ke rumah Malika. Apalagi secara kebetulan memang di rumah Malika ada Shereen di sana. “Habis dibicarakan muncul orangnya. Panjang umur banget itu, Anak," celetuk Malika.

“Hi Guys, besok gue mau diajak jalan sama Erga dong,” tutur Silva bersemangat.

“Bodoh amat," protes Malika dan Shereen berbarengan.

“Bosan gue dengarnya Sil, Erga terus yang elo omongin. Nggak di rumah, nggak di kampus omongan elo sama terus,” tukas Malika.

“Ya tahu deh, kalian pada iri, 'kan sama gue? Ya udah, kalian boleh ikut deh. Kebetulan Erga mau ajak gue ke tempat billyard. Erga bilang nanti dia ajak saudaranya juga 2 orang. Makanya gue nanti mau bilang Erga supaya kalian juga bisa ikut.”

“Kapan Sil? Boleh juga tuh daripada bete di rumah terus, 'kan, Ka?”

“Yoi, lumayan sekalian cuci mata." Malika tersenyum penuh arti.

“Hari Sabtu katanya, tapi siang sampai sore paling. Kalau malam tahu sendiri bokap gue tuh gimana orangnya. Dia tuh ketat banget padahal gue udah dewasa masih aja nggak boleh pulang malam-malam. Sebentar lagi juga gue ulang tahun ke-19 tahun, seminggu lagi.”

“Oh iya, seminggu lagi elo ultah ya? By the way Erga tahu nggak tuh?” tutur Malika.

“Tahu sih, pas waktu pertama jadian gue udah cerita. Dia kan tanya, ya udah, gue beritahu aja.”

***

Hari Sabtu, pun tiba. Malika sudah berada di rumah Shereen. Memang Silva yang menyuruh Malika agar menunggu di rumah Shereen. Setengah jam kemudian, Silva dan Erga datang dengan mengendarai mobil pribadi milik Erga. Dua orang pria yang ternyata adalah sepupu Erga, juga sudah berada di dalam mobil. Malika dan Shereen segera Erga perkenalkan kepada kedua laki-laki sepupunya itu.

“Vera, 'kan sepupu elo juga, Ga. Kok nggak diajak si Vera?” tutur Shereen menanyakan Vera teman kampusnya.

“Oh katanya sih, dia ada acara sama teman-temannya. Kemarin sih udah gue ajak katanya nggak bisa ada acara lain,” jelas Erga memberitahu alasan Vera tidak bisa ikut dengan mereka.

Sampai di tempat billyard, Erga dan kedua sepupunya segera melakukan open table. Mereka sempat mengajak Silva dan kedua sahabatnya untuk ikut bermain. Namun, sayangnya dari mereka tidak ada yang berminat. Mereka semua ternyata tidak bisa memainkan permainan bola sodok itu.

“Ayolah cewek-cewek! Pada ikutan main, biar seru. Daripada duduk bengong gitu. Nanti bete lho!” seru Rifki.

“Ya, ayo main! Kita ajarkan kok, biar pada bisa. Daripada bete duduk-duduk aja,” sambung Deva.

Erga masih saja bersama kedua sepupunya memaksa Silva dan para sahabatnya untuk bermain, namun mereka tetap saja menolak. Erga akhirnya memesan minuman dan snack untuk mereka berenam.

Silva mendekati Erga dan meminta untuk menyudahi permainan dan mengajaknya pulang sekarang juga. Erga juga terkejut saat melihat jam yang melingkar di tangan kanannya ternyata sudah menunjukkan pukul 17:35 WIB. Erga dan yang lainnya, pun bergegas segera menuju ke parkiran mobil. Mereka segera meluncur pulang meninggalkan tempat billyard tersebut.

Namun Deva dan Rifki tidak ikut mengantar Silva dan para sahabatnya. Mereka ada urusan lain. Di mobil sekarang hanya tinggal Silva, Erga, Malika dan Shereen. Silva tampak gelisah karena jalanan mulai macet. Jalanan dipenuhi kendaraan karena malam minggu banyak sekali orang keluar rumah untuk menikmati momen weekend.

“Aduh nyokap gue udah WA nih. Katanya udah di mana, kenapa udah maghrib belum sampai di rumah? Dan nyokap gue bilang, katanya bokap gue udah marah-marah karena gue belum pulang,” cerita Silva semakin panik dan cemas.

“Duh, gimana ya? Macet gini, Sil. Bilang aja lagi di jalan terjebak macet. Sebentar lagi sampai gitu,” tutur Shereen menenangkan.

"Tapi, Reen? Bokap gue, 'kan ...," sanggah Silva terjeda.

Apa yang membuat Silva memotong ucapannya? Mereka berempat pun tidak lagi bersuara. Hanya terdengar suara rintik hujan yang perlahan mulai membasahi aspal jalan.

***

Hi, Readers!

Ini novelku yang pertama di platform Bakisah/Ceriaca

Semoga kalian suka dengan ceritaku ini.

Terima kasih & selamat membaca.

Ikuti jejakku di IG: @yenifri29 & @yukishiota29

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arwah Istri Sah
9.1
Demi membalas penderitaan selingkuhannya yang sempat terjebak di dalam mobil, seorang suami miliarder tega menghukum istri sahnya dengan sangat kejam. Tanpa memedulikan jeritan dan penjelasan sang istri, ia mengurungnya di dalam peti kayu yang dipaku rapat. Ditinggal berlibur selama seminggu bersama wanita idaman lain, sang suami tidak pernah menduga bahwa hukuman sadis itu akan berakhir fatal. Saat peti akhirnya dibuka kembali, sang istri telah kehilangan nyawa dalam kondisi mengenaskan, meninggalkan jasad dingin yang penuh luka.
Sampul Novel Biarlah Kau Jadi Kakak Ipar Selamanya
8.7
Kematian kakak kembar suaminya membuat sang kakak ipar hilang ingatan dan mengklaim suami saya sebagai pasangannya. Demi kesehatannya, suami dan ibu mertua membujuk saya menyetujui sandiwara ini. Saya terpaksa melihat mereka hidup bersama, sementara putri kami harus menyaksikan ayahnya dipanggil papa oleh anak lain. Saat putri saya sakit parah, perselisihan pecah hingga gunting menancap di dada saya. Namun, saya justru terbangun kembali di hari keputusan fatal itu dimulai.
Sampul Novel Cintya Persusuan  Di Balik Tahta
8.3
Sebagai selir paling dimanja karena keunikan tubuhnya, Rona menarik perhatian penuh dari Kaisar dan Pangeran Surowi. Namun, malam-malam di kamarnya berubah menjadi ketegangan saat kedua pria berkuasa itu mengajukan rencana gila untuk membaginya bersama. Meski dijanjikan kenaikan status sosial oleh Pangeran Surowi, Rona yang ketakutan mencoba menolak tawaran tersebut dengan menegaskan asal-usulnya yang hanya seorang budak biasa di hadapan senyuman misterius sang Kaisar.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal telah menegaskan keengganannya memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan penolakan keras sang suami, Aurora bertekad bulat untuk tidak menggugurkan kandungannya. Demi menyelamatkan sang buah hati, ia pun mulai menyusun sebuah rencana rahasia untuk pergi dan menyembunyikan kehamilannya dari Julian.
Sampul Novel Miliki Mu
8.9
Demi menyelamatkan bisnis sang ayah yang kolaps dan membiayai pengobatan ibunya, Cherly terpaksa menyetujui rencana Hartono. Tugasnya adalah mendekati Edward, cucu Hartono yang berhati dingin, untuk memberikan seorang penerus. Di usia 33 tahun, Edward masih dilingkupi kesedihan mendalam akibat kepergian Yuni, tunangannya yang wafat lima tahun lalu. Ia pun sangat membenci Cherly yang dianggap licik dan murahan. Akankah kehangatan Cherly mampu mencairkan dinginnya hati Edward?
Sampul Novel Walau Tak Seindah Mantanmu (Sentuh Hatiku, Hubby!)
9.2
Pernikahan Dinar dan Inder terjalin murni karena kesepakatan timbal balik. Inder mengincar warisan bisnis sang ayah, sedangkan Dinar memerlukan dana untuk studi kebidanannya. Lambat laun, benih cinta tumbuh di hati Dinar, tetapi sang suami yang bersikap dingin masih terbayang-bayang pesona mantan kekasihnya. Ketika Dinar yang lelah berniat mengajukan perceraian, ia justru menemukan sebuah rahasia besar masa lalu Inder yang membuat hubungan pernikahan mereka kian rumit untuk diakhiri.