APKDock Logo
Sampul Novel The Betrayal

The Betrayal

7.9 / 10.0
Hubungan erat Malika, Shereen, dan Silva kini retak akibat asmara. Ketegangan dimulai ketika Malika secara jujur dan menyesal mengaku kepada Silva bahwa ia menyukai Erga. Kehadiran pria itu pun menciptakan dilema besar, di mana Erga kini bingung memilih antara Malika atau Silva. Di tengah kekacauan ini, Shereen berupaya keras mendamaikan situasi. Sanggupkah persahabatan mereka selamat dari badai cinta dan rasa dikhianati ini?

The Betrayal Bab 1

“Hallo, Sil, elo di mana? Tadi gue ke rumah elo, tapi elo nggak ada di rumah,” ucap Malika di seberang ponselnya.

“Hallo, Ka. Oh, iya, gue lagi di rumahnya Vera. Ada apa ya?” jawab Silva penasaran.

“Nggak apa-apa kok, gue cuma mau ke rumah elo aja. Habis bete di rumah terus. Tapi kalau elo ada di rumah Vera, ya udah di lanjut aja. Bye ....”

“Ya udah, Ka. Nanti sore gue pulang, kita ketemu di rumah Shereen aja, ya, jam 4 sore! Oke, bye ...."

Setelah mengakhiri pembicaraannya di ponsel, Malika memutuskan siang itu ke kediamannya Shereen. Terlihat dari raut wajahnya kalau ia sedang bete dan bad mood.

Sesampainya di rumah Shereen, ia langsung masuk begitu saja sebab pintu rumah sahabatnya itu tidak di kunci. Ya, Malika sudah biasa seperti itu di rumah Shereen. Inget di rumah sahabat kecilnya saja tidak di semua rumah orang ya.

Malika memasuki kamar Shereen dan terlihat Shereen sedang asyik menonton televisi di dalam kamarnya. Selanjutnya ia dan Shereen malah asyik bercengkrama dan berghibah ria. Tidak terasa hari menjelang sore, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu rumah Shereen dan mengucapkan salam. Ternyata itu Silva.

“Hi Guys! Kalian pada tahu nggak sih, gue tuh lagi senang banget,” ucap Silva dengan muka berseri-seri dan mata berbinar-binar.

“Elo kenapa? Kok tumben kelihatannya happy banget. Habis menang lotre, ya? Emang senang kenapa sih, Sil?” sahut Shereen penasaran.

“Ya, apa sih? Nggak biasanya lho, elo happy gini dan sambil senyum-senyum segala lagi,” sambung Malika juga ikut penasaran.

Akhirnya Silva menjelaskan bahwa ia tadi dari rumahnya Vera, lalu ia sempat dikenalkan ke saudaranya Vera yang bernama Erga. Yang membuat Silva terlihat happy banget karena mereka baru kenalan dan Erga sudah mengutarakan isi hatinya. Silva bahagia banget sebab sudah cukup lama ia menjomblo.

Lagipula Silva itu mudah jatuh cinta. Asal ada laki-laki yang mau dengannya dan ia merespon, langsung ia terima. Seperti Erga ini, baru kenal sesaat sudah resmi berpacaran.

“My God! Elo nggak salah Silva, baru kenal udah langsung jadian aja,” tutur Malika terkejut.

“Habis gimana ya, daripada elo ngejomblo terus. Ya udah ada yang mau sama gue, kenapa nggak?” balas Silva santai.

“Up to you,” teriak Malika dan Shereen berbarengan sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka masing-masing.

Karena hari hampir gelap, Silva dan Malika akhirnya pulang ke rumah masing-masing, sepanjang jalan Silva senyum-senyum tidak jelas. Malika merasa risih melihat kelakuan aneh sahabatnya.

***

Di kamarnya Malika masih tidak habis pikir, mengapa Silva bisa-bisanya menerima seorang laki-laki yang baru ia kenal bahkan baru ia temui hari ini? Silva bisa mengenal Vera memang melalui Shereen. Seperti Silva mengenal Shereen, ya karena Malika yang mengenalkan. Vera itu teman kampusnya Shereen. Jadi Shereen kuliah di kampus yang berbeda dengan Malika dan Silva. Tapi mereka bertiga memang sangat akrab dan dekat dikarenakan rumah mereka saling berdekatan.

Terutama Malika dan Silva, sebenarnya mereka bertetangga namun, awalnya tak saling mengenal. Sejak masuk Universitas yang sama mereka berdua mulai akrab. Hidup di kota besar seperti Jakarta, nama tetangga sendiri saja tidak kenal.

***

Sejak resmi berpacaran dengan Erga, Silva berkelakuan sangat aneh. Ia tidak hentinya selalu membicarakan kekasih barunya. Hingga membuat kedua sahabatnya yang bernama Malika maupun Shereen sangat bosan mendengarkan curhatannya. Mereka kemungkinan menjadi iri, karena status jomblo yang selalu melekat pada diri mereka berdua.

“Si Silva benar-benar dah itu anak, nggak ada bosan-bosannya curhat tentang cowoknya,” ucap Malika frustrasi.

“Ya Ka, benar banget. Gue aja malas kalau ada dia pasti curhat tentang pacar barunya itu. Perasaan yang lain punya pasangan nggak gini-gini amat dah,” tukas Shereen mengiyakan perkataan Malika.

Tidak lama kemudian, datanglah Silva ke rumah Malika. Apalagi secara kebetulan memang di rumah Malika ada Shereen di sana. “Habis dibicarakan muncul orangnya. Panjang umur banget itu, Anak," celetuk Malika.

“Hi Guys, besok gue mau diajak jalan sama Erga dong,” tutur Silva bersemangat.

“Bodoh amat," protes Malika dan Shereen berbarengan.

“Bosan gue dengarnya Sil, Erga terus yang elo omongin. Nggak di rumah, nggak di kampus omongan elo sama terus,” tukas Malika.

“Ya tahu deh, kalian pada iri, 'kan sama gue? Ya udah, kalian boleh ikut deh. Kebetulan Erga mau ajak gue ke tempat billyard. Erga bilang nanti dia ajak saudaranya juga 2 orang. Makanya gue nanti mau bilang Erga supaya kalian juga bisa ikut.”

“Kapan Sil? Boleh juga tuh daripada bete di rumah terus, 'kan, Ka?”

“Yoi, lumayan sekalian cuci mata." Malika tersenyum penuh arti.

“Hari Sabtu katanya, tapi siang sampai sore paling. Kalau malam tahu sendiri bokap gue tuh gimana orangnya. Dia tuh ketat banget padahal gue udah dewasa masih aja nggak boleh pulang malam-malam. Sebentar lagi juga gue ulang tahun ke-19 tahun, seminggu lagi.”

“Oh iya, seminggu lagi elo ultah ya? By the way Erga tahu nggak tuh?” tutur Malika.

“Tahu sih, pas waktu pertama jadian gue udah cerita. Dia kan tanya, ya udah, gue beritahu aja.”

***

Hari Sabtu, pun tiba. Malika sudah berada di rumah Shereen. Memang Silva yang menyuruh Malika agar menunggu di rumah Shereen. Setengah jam kemudian, Silva dan Erga datang dengan mengendarai mobil pribadi milik Erga. Dua orang pria yang ternyata adalah sepupu Erga, juga sudah berada di dalam mobil. Malika dan Shereen segera Erga perkenalkan kepada kedua laki-laki sepupunya itu.

“Vera, 'kan sepupu elo juga, Ga. Kok nggak diajak si Vera?” tutur Shereen menanyakan Vera teman kampusnya.

“Oh katanya sih, dia ada acara sama teman-temannya. Kemarin sih udah gue ajak katanya nggak bisa ada acara lain,” jelas Erga memberitahu alasan Vera tidak bisa ikut dengan mereka.

Sampai di tempat billyard, Erga dan kedua sepupunya segera melakukan open table. Mereka sempat mengajak Silva dan kedua sahabatnya untuk ikut bermain. Namun, sayangnya dari mereka tidak ada yang berminat. Mereka semua ternyata tidak bisa memainkan permainan bola sodok itu.

“Ayolah cewek-cewek! Pada ikutan main, biar seru. Daripada duduk bengong gitu. Nanti bete lho!” seru Rifki.

“Ya, ayo main! Kita ajarkan kok, biar pada bisa. Daripada bete duduk-duduk aja,” sambung Deva.

Erga masih saja bersama kedua sepupunya memaksa Silva dan para sahabatnya untuk bermain, namun mereka tetap saja menolak. Erga akhirnya memesan minuman dan snack untuk mereka berenam.

Silva mendekati Erga dan meminta untuk menyudahi permainan dan mengajaknya pulang sekarang juga. Erga juga terkejut saat melihat jam yang melingkar di tangan kanannya ternyata sudah menunjukkan pukul 17:35 WIB. Erga dan yang lainnya, pun bergegas segera menuju ke parkiran mobil. Mereka segera meluncur pulang meninggalkan tempat billyard tersebut.

Namun Deva dan Rifki tidak ikut mengantar Silva dan para sahabatnya. Mereka ada urusan lain. Di mobil sekarang hanya tinggal Silva, Erga, Malika dan Shereen. Silva tampak gelisah karena jalanan mulai macet. Jalanan dipenuhi kendaraan karena malam minggu banyak sekali orang keluar rumah untuk menikmati momen weekend.

“Aduh nyokap gue udah WA nih. Katanya udah di mana, kenapa udah maghrib belum sampai di rumah? Dan nyokap gue bilang, katanya bokap gue udah marah-marah karena gue belum pulang,” cerita Silva semakin panik dan cemas.

“Duh, gimana ya? Macet gini, Sil. Bilang aja lagi di jalan terjebak macet. Sebentar lagi sampai gitu,” tutur Shereen menenangkan.

"Tapi, Reen? Bokap gue, 'kan ...," sanggah Silva terjeda.

Apa yang membuat Silva memotong ucapannya? Mereka berempat pun tidak lagi bersuara. Hanya terdengar suara rintik hujan yang perlahan mulai membasahi aspal jalan.

***

Hi, Readers!

Ini novelku yang pertama di platform Bakisah/Ceriaca

Semoga kalian suka dengan ceritaku ini.

Terima kasih & selamat membaca.

Ikuti jejakku di IG: @yenifri29 & @yukishiota29

Lanjut Membaca

Daftar Isi The Betrayal

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai dari Laurence Andrews untuk ke-99 kalinya. Bukannya peduli, Laurence malah mengusir Josie dari mobil demi menerima telepon dari sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan pernah pergi. Namun, ia tidak sadar bahwa kesabaran Josie telah habis akibat terus diabaikan. Di saat yang sama, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera bercerai dan pergi dari negara itu selamanya.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali bersama seorang wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menjanjikan pesta pernikahan formal sebagai ganti atas keputusannya menikahi perempuan itu. Statusku sebagai putri bangsawan dan menantu konglomerat membuatku menolak keras menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan, aku akan membuat hidupnya hancur hingga dia jatuh miskin.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya saat koma, tetapi setelah sadar, ia malah menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi meninggalkan segalanya dan menuju bandara.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
8.1
Setelah disiksa hingga tewas oleh penculik demi melindungi ayahnya, seorang gadis malang harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya justru sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya. Panggilan telepon terakhirnya diabaikan dengan penuh kebencian. Keesokan harinya, jenazahnya ditemukan di depan kantor polisi dalam kondisi mengenaskan. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli forensik memimpin langsung proses otopsi jasad putrinya sendiri tanpa menyadari identitas korban yang sangat ia benci.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan