
Tetanggaku yang Menggoda
Bab 2
“Kak, bagian bawahmu membesar lagi. Apa kamu merasa sakit?”
Dia mengulurkan tangan dan menyentuh alatku, lalu berseru, “Ah, panas banget!”
Saat tangan mungilnya yang lembut dan halus menyentuhku, darahku berdesir, seluruh tubuhku seperti terbakar.
“Jangan, jangan sentuh.” Sensasi itu hampir membuatku kehilangan kendali. Aku pun langsung menepis tangannya.
Luna menatapku dengan sedih, seperti kelinci kecil yang menyadari kesalahannya. “Maaf, Kak. Aku nggak bermaksud menyakitimu.”
Melihat tatapan polosnya, aku sangat gembira, memutuskan untuk merayunya.
“Kamu menyakitiku, jadi menurutmu apa yang harus kamu lakukan?”
Luna merasa terpojok. “Aku nggak sengaja, Kak. Menurut Kakak, apa yang harus aku lakukan?”
Aku pun memberanikan diri untuk melepas celanaku, menyisakan celana dalam.
“Kakak punya tumor di sini. Kalau kamu bisa bantu isap, Kakak nggak akan merasa sakit lagi.”
Setelah mendengar perkataanku, Luna menatap selangkanganku dengan penuh penasaran, lalu berkata, "Tumor Kakak besar sekali. Coba Kakak pegang punyaku. Punyaku rata, nggak ada apa-apa.”
Aku menelan ludah, mengulurkan tangan untuk menyentuh selangkangannya.
Teksturnya lembut dan empuk seperti roti kukus. Celahnya pun terasa sangat ketat. Dengan pegang saja bisa tahu bahwa celah itu belum pernah ditembus.
Aku pun memasukkan jariku, mendorongnya dengan kuat.
Luna tiba-tiba tersipu, mengeluarkan suara terengah-engah yang lembut.
"Ah, Kakak! Sentuhan Kakak terasa sangat nikmat. Aku merasa hangat di sekujur tubuhku.”
Gadis kecil ini mungkin memang kurang waras, tetapi dia memiliki semua reaksi fisiologis yang normal. Aku girang sekali.
Setelah menarik tanganku keluar, aku masih berpura-pura bodoh. "Benar-benar nggak ada apa-apa di sana."
Kemudian, aku langsung melepas celana dalamku. Sebuah alat besar tiba-tiba mencuat keluar, terpampang jelas di depan Luna.
“Luna yang baik, bantu kakak isap tumor ini. Setelah kamu isap, Kakak nggak akan merasa sakit lagi.”
Luna menatap alatku dengan heran, lalu berjongkok. Wajah mungilnya perlahan mendekat.
Aku bisa merasakan napasnya yang hangat. Jantungku berdebar kencang karena saking gugupnya. Tubuh terasa berdenyut tak tertahankan.
Meskipun aku sering masturbasi, aku masih perawan dan belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.
Saat Luna mendekat, kakiku lemas dan gemetar tak terkendali.
Tepat saat Luna nyaris menyentuh alatku, dia tiba-tiba berdiri dan berulang kali menggelengkan kepala.
"Kakak, tumormu terlihat sangat menakutkan. Baunya pun aneh. Aku nggak mau mengisapnya."
Penolakannya sangat tegas.
Aku hanya bisa membujuknya dengan sabar, "Kamu tega melihat kakak kesakitan? Kalau kamu bantu kakak isap, kakak akan membelikanmu es krim. Bagaimana?"
Begitu mendengar es krim, wajah Luna langsung berseri-seri. Dia menatapku dengan penuh semangat.
"Luna paling suka es krim! Luna mau Lixue!"
Lixue sangat murah. Cukup belasan ribu rupiah untuk dapat layanan isap, ini sungguh transaksi yang luar biasa.
Aku pun segera mengeluarkan ponselku untuk memesan es krim.
Tak lama kemudian, es krim datang. Luna mengisap sedotan dengan mulut kecilnya. Pemandangan ini membuatku merasa panas. Aku benar-benar ingin diisap seperti itu olehnya.
Saat dia menelan, dadanya naik turun. Payudaranya yang bulat bergoyang-goyang.
Aku pun mengulurkan tangan dan meremasnya. Tekstur lembut dan kenyal terasa jelas di telapak tanganku. Sensasinya sungguh nikmat.
Luna mundur dengan kaget. "Kakak nakal sekali! Aku sedang makan es krim, Kakak malah menggelitik aku!”
Aku meniru cara bicaranya. "Luna, kamu punya tumor di sini? Dadaku rata, nggak ada apa-apa.”
Tak disangka, dia langsung mengangkat bajunya, memperlihatkan dua payudara besar berwarna putih dengan puting berwarna merah muda. Dia benar-benar sepolos itu!
"Aku juga punya dua tumor di sini. Kalau kamu bantu isap punyaku, aku akan isap punyamu juga.”
Anda Mungkin Juga Suka





