
Tetanggaku yang Menggoda
Bab 3
Aku tak kuasa menahan diri sampai menjulurkan satu tangan lagi untuk membelainya.
Kedua puting merah bergesekan di telapak tanganku. Sensasinya sungguh luar biasa.
Tak hanya lembut, tapi juga seperti ada serat-serat halus yang berdenyut di telapak tanganku.
Aku menelan ludah, menikmati tubuh Luna dengan rakus.
Ekspresinya juga terlihat sangat menikmati sentuhanku. Dia perlahan memejamkan mata, mengembuskan napas dengan lembut.
Aku lanjut menundukkan kepala, mengisap dadanya.
Tubuhnya pun gemetar. Mulutnya berdesah. "Kakak, kenapa rasanya bisa senyaman ini? Ah!"
Aroma tubuhnya sungguh memikat. Aku gosok putingnya dengan gigiku, membuat tubuhnya gemetar semakin hebat.
Dia memelukku erat, membenamkan kepalaku dalam-dalam di dadanya.
Selesai isap, aku menekan kepalanya ke bawah selangkanganku.
Kemudian, aku mengeluarkan alatku dan menodongkannya ke depan mulut Luna.
Luna menatapku dengan mata sayu, tidak mau buka mulut.
Aku pun membuka paksa mulutnya, memaksakan alatku masuk.
Luna meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi, aku menahan kepalanya erat-erat.
Tubuhku perlahan mulai bergerak maju mundur.
Mulutnya begitu lembut. Bungkusan hangat menyelimuti alatku.
Setiap sel di tubuhku terasa seperti akan meledak.
Luna meronta hebat hingga akhirnya berhasil melepaskan diri dari genggamanku. Dia menutup mulutnya sambil berteriak, "Kak, tumormu bau sekali. Aku nggak mau bantu kamu mengisapnya."
Setelah itu, dia berlari ke arah kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Tepat di depanku, dia melepas semua bajunya dan mulai mandi. Dia bahkan tidak menutup pintu.
Aku memperhatikan tubuhnya yang memikat dari luar pintu. Montok, putih, dan lembut.
Tetesan air perlahan mengalir di tubuhnya. Kemudian, dia memasukkan jari ke bagian bawah tubuhnya!
Dia mengelus-elus diri sendiri sambil terengah-engah.
Aku hampir terpesona. Alatku yang baru saja diisap olehnya kini membengkak luar biasa besar.
Tak lama kemudian, Luna keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang.
Wajahnya memerah, ekspresinya menunjukkan hasrat yang tak terpenuhi.
"Kak, aku merasa seperti ada semut merayap di bawah tubuhku. Rasanya sangat nggak nyaman. Apakah akan tumbuh tumor di bawah tubuhku?"
Melihatnya seperti ini, aku tak kuasa menahan diri lagi. Aku mengangkatnya dan membawanya ke atas ranjang.
Setelah dibaringkan di atas ranjang, satu tangannya masih menyentuh kelaminnya sendiri.
"Kak, sentuhan Kakak barusan terasa sangat nikmat. Apa Kakak boleh menyentuhku lagi?”
Aku meraih selangkangannya. "Kakak akan bantu kamu isap. Nanti kamu nggak akan merasa nggak nyaman lagi.”
Baru aku selesai bicara, Luna langsung membuka sendiri kedua kakinya. Aku memandangi bagian bawahnya yang mulus tanpa rambut sehelai pun.
Kemudian, aku perlahan membenamkan kepala dan menjulurkan lidah.
Berbekal pengalaman dari film yang aku tonton, aku mengisap Luna dengan rakus.
Perut bagian bawah Luna bergerak naik turun dengan cepat, kedua kakinya gemetar.
"Kak, Kakak, kenapa gatal sekali? Apa bisa lebih kuat?"
Aku tak kuasa menahan diri lagi, buru-buru menanggalkan pakaianku, lalu menindih di atas tubuh Luna.
Luna melihat alat kelaminku sambil berkata, "Kakak, tumormu menonjol, sementara tumorku berlubang. Coba Kakak lihat, apa Kakak bisa memasukkan tumormu ke dalam lubangku.”
Tentu saja aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Ibunya baru saja memintaku untuk merawat putrinya dengan baik, aku malah memperlakukan putrinya seperti ini.
Luna sudah tidak tahan. Dia nyaris menangis.
"Kakak, tolong bantu Luna. Luna merasa sangat nggak nyaman."
Melihat bibir merahnya yang indah, aku menciumnya dengan ganas.
Saat menyentuh bibirnya, rasanya seperti ada ribuan semut merayapi tulang-tulangku, gatal tak tertahankan.
Terutama bagian bawahku, rasanya berdenyut-denyut luar biasa.
Tak peduli lagi. Aku mengangkat punggungku dan membidik klitoris Luna…
Anda Mungkin Juga Suka





