
Terpisah Antara Dua Dunia
Bab 6
“Kalian lanjut makan saja, aku sudah selesai. Masih ada urusan di rumah, aku pamit dulu, ya.”
Talita tersenyum tipis, mengabaikan ketegangan semua orang di ruangan, lalu melangkah keluar dari ruang makan.
Toh, tujuan kedatangannya hanya untuk mengerjai mereka.
Dan itu berhasil, semua orang makan dalam ketakutan, seolah-olah sedang menelan kotoran.
John tak tahan lagi. Dia meninggalkan teman-temannya dan buru-buru mengejarnya.
“Sayang, dengarkan aku ….”
Talita menoleh dengan ekspresi yang pura-pura bingung, “Kenapa? Bukannya masih acara perayaan? Kok nggak temani teman-temanmu?”
John menatapnya lekat-lekat dan bertanya, “Kamu nggak marah?”
Talita melanjutkan langkah sambil tersenyum, “Kenapa aku harus marah?”
John cepat-cepat menyusulnya, “Itu … soal Ivy duduk di sebelahku, itu benar-benar kebetulan. Aku hanya mencintaimu, aku nggak akan mengkhianatimu.”
Talita menanggapinya dengan enteng, “Aku tahu, lagipula ada pria lain juga di sebelahnya.”
“Aku percaya padamu.”
Tiga kata itu diucapkan dengan pelan dan jelas, sambil tersenyum samar, sulit ditebak maknanya.
Tiba-tiba, John merasa seolah tak mengenal Talita. Tapi, perasaan itu pun sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dia terdiam lama, baru kemudian bertanya dengan hati-hati, “Benar?”
“Iya.”
Mendapat jawaban pasti, akhirnya John menghela napas lega, tapi entah kenapa, perasaan tak nyaman masih menggantung di hatinya.
“Kalau begitu, tunggu aku sebentar. Aku bilang dulu ke mereka, nanti kita pulang bersama.”
Usai bicara, tanpa memberi kesempatan Talita menolak, John langsung kembali ke ruang makan.
Sementara itu, Talita memanfaatkan waktu untuk menyembunyikan surat perjanjian cerai di dalam mobil.
Setelah itu, John nyaris tak beranjak dari rumah, menemaninya selama dua hari penuh.
Talita merasa agak jengkel. Untung saja di hari ketiga, perusahaan rekaman untuk album John yang lain menghubunginya untuk kerja sama, jadi John pun pergi ke studio.
Dua jam kemudian, John meneleponnya.
“Sayang, ada selembar kontrak di atas meja ruang rekaman, aku lupa bawa tadi. Aku butuh itu sekarang, bisa tolong antarkan ke sini?”
Talita mengiyakan dan mengantar kontrak itu ke studio. Dia bahkan melihat sendiri proses penandatangannya.
Setelah pihak perusahaan pergi, John melirik ponselnya, lalu telinganya tampak agak memerah.
Tak lama kemudian, dia mendekat dan memeluk pinggang Talita.
“Terima kasih, sayang. Tapi aku harus rekaman ulang, jadi nggak bisa pulang bersamamu.”
Nada suaranya terdengar menyesal, Talita pun diam-diam menghindar sedikit darinya.
“Nggak apa-apa, aku bisa pulang sendiri.”
“Kalau begitu, aku pesankan kue kering palmier dan mille crepe durian kesukaanmu ke rumah.”
Usai bicara, John ingin mencium keningnya, tapi Talita pura-pura tak melihat dan malah menunduk menepuk debu di celana lututnya.
Begitu keluar dari studio, Talita melihat Ivy turun dari sebuah mobil.
Ivy juga melihatnya, tapi tak menyapa.
Ivy hanya melonggarkan genggaman di kerah mantelnya, lalu masuk ke studio tanpa menoleh.
Talita mengangkat alis dan melihat dada putihnya yang setengah terlihat di balik mantel, terlihat juga tali berenda hitam di bahunya. Saat angin berhembus, kaki jenjang dan putih di balik ujung mantel pun tampak samar-samar.
Di balik mantelnya, Ivy hanya mengenakan satu set lingerie seksi.
Satu menit kemudian, Talita berbalik dan masuk kembali ke studio.
Begitu masuk ke ruang rekaman, Ivy langsung melepas mantelnya.
Jakun John bergerak naik turun.
“Kamu datang memakai ini?”
Ivy langsung memeluknya, “Bukannya kamu yang sengaja menyuruh Kak Talita pulang karena lihat foto yang kukirim?”
“Kamu nggak menghubungiku dua hari ini, satu pesan pun nggak ada. Aku takut kalau aku nggak menggodamu lagi, kamu bakal lupa denganku!”
“Aku nggak sengaja sebut soal kehamilan di depan dia malam itu. Aku hanya terlalu sayang denganmu, jadi nggak bisa menahan diri. Jangan marah, ya?”
Talita berdiri di luar pintu dan mendengar semuanya. Tak lama kemudian, terdengar suara napas berat John, disusul bunyi berderit dari gesekan meja.
Suara Ivy yang gemetar pun terdengar tak beraturan, “John, pelan-pelan … aku lagi hamil ….”
John menarik napas dalam-dalam, suaranya tertahan, “Iya … iya, aku pelan-pelan ….”
Dengan wajah datar, Talita menekan tombol untuk menghentikan rekaman di ponselnya, lalu melangkah pergi dengan tenang.
Anda Mungkin Juga Suka





