APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpikat Pesona Tuan Remington

Terpikat Pesona Tuan Remington

William yang trauma asmara membeli Sarah demi pelampiasan nafsu. Namun, kehamilan Sarah mengacaukan batinnya, membuatnya bimbang memilih antara Sarah atau Jessica, cinta pertamanya. Di sisi lain, Sarah yang melarikan diri dari sang ayah yang kejam justru terjerat komitmen rumit. Walau meragukan ketulusan William, Sarah enggan kehilangan pria itu dan calon bayinya. Akankah mereka menemukan jalan keluar dari pusaran konflik emosi ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Barang selanjutnya yang akan kami lelang berhasil menggemparkan dunia perhiasan.” Sang pembawa acara mengeluarkan senyum misteriusnya lalu menyingkir dari tengah panggung.

Lima detik kemudian seorang wanita keluar dari sudut panggung dengan peti kaca berisi kalung dengan liontin berlian biru besar. Rantai kalung itu dihiasi berlian putih yang lebih kecil. Siapa pun yang melihatnya bisa tahu kalau kalung ini akan mencapai harga fantastis. Sang pembawa acara kembali berjalan ke tengah panggung, menatap orang-orang yang sibuk mengagumi kalung itu. Dia berdeham.

“Saya akan membuka harga untuk kalung yang sangat cantik ini seharga 500 juta.”

Terdengar kasak-kusuk suara sebelum seorang wanita bergaun merah ketat dengan topeng yang juga berwarna merah mengangkat papan nomornya lalu berkata, “700 juta.”

Sang pembawa acara tersenyum. “700 juta satu, 700 juta dua, tujuh ra—“

“750 juta,” potong seorang pria botak berjas hitam dan kemeja putih.

Pembawa acara itu menepuk tangannya sekali. “750 juta. Ada yang ingin menawar harga lebih tinggi lagi?”

Terjadilah pertengkaran harga antara si wanita bergaun merah dan si pria berkepala botak. William memperhatikan mereka dalam diam. Tidak tertarik. Pikirannya melayang ke seseorang. Seorang perempuan yang berhasil merebut hatinya dan menghancurkannya dengan berkeping-keping. Kalau saja perempuan itu tidak memutuskan hubungan mereka, William pasti akan mengangkat papan nomornya dan menawarkan harga paling tinggi hingga tidak ada siapa pun yang bisa mengalahkannya. William dapat membayangkan bagaimana penampilan mantan kekasihnya ketika memakai kalung tersebut.

Mata William terpejam selagi bayangan sang mantan kekasih muncul. Saat helai demi helai pirangnya tertiup angin hingga berantakan. Senyumnya yang menampilkan deretan gigi putih dan rapi. Mata biru yang selalu menatap William penuh cinta, yang mungkin tidak akan pernah sama lagi. William membayangkan kalung itu bertengger manis di leher jenjang miliknya. Bagaimana kalung itu menyatu bersama rambut pirang miliknya. Indah. Bibir William terangkat sedikit kala membayangkan hal yang tidak akan pernah terjadi.

Lamunan William buyar saat ketukan palu terdengar. Pada akhirnya wanita bergaun merah yang memenangkan pertengkaran merebutkan kalung berlapiskan berlian itu dengan harga lima miliar. William bisa membelinya dengan harga sepuluh miliar.

Seratus miliar pun sanggup aku beli. 

Wanita yang tadi membawa keluar peti kaca itu kembali untuk menyimpan kalung hingga akhirnya sampai ke tangan si wanita bergaun merah. Sang pembawa acara mengoceh di tengah panggung. Tentang betapa menyenangkannya malam ini. Banyaknya barang-barang antik dan mewah. Namun, William tidak mendengarkan semua itu. Dia ingin acara ini segera berakhir dan pulang ke rumah. Harapannya tidak terkabul karena sang pembawa acara berkata kalau masih ada satu barang terakhir. Barang yang katanya dapat membuat mata semua orang yang ada di ruangan tertutup ini melotot.

Kali ini dua orang pria mendorong sesuatu yang ditutup oleh kain hitam dan diletakkan di tengah ruangan. Melihat peti kaca yang digunakan amat besar, William menebak kalau barang yang satu ini adalah patung. Pikirannya berkelana, sehebat apa sebuah patung hingga membuat semua orang melotot? Menurutnya, patung apa pun bentuknya tetaplah sama. Pajangan. Tidak bisa dibawa pergi ke mana pun. Tidak bisa dipamerkan setiap saat. Hanya benda mati besar yang diletakkan di tengah ruangan atau di taman dan terkadang menjadi menyeramkan saat malam hari. William tidak tertarik. Dia berniat untuk pergi sebelum acaranya selesai, tetapi niatnya hilang begitu kain hitam itu disingkap.

Sang pembawa acara benar. Semua mata orang yang ada di sana membulat dengan sempurna. Yang berada di dalam peti kaca tertutup kain itu bukanlah patung seperti yang William pikirkan sebelumnya. Di sana ada manusia. Manusia sungguhan. Perempuan. Dengan gaun hitam ketat yang menempel erat di tubuhnya, sepatu hak tinggi bertali yang juga berwarna hitam, dan sebuah kalung murahan yang melingkari lehernya. Rambut cokelat keemasan perempuan itu dikepang dan disampirkan ke bahu kanannya. Sebuah topeng kecil berwarna hitam bertengger manis di wajahnya. Semua orang tahu apa yang akan terjadi padanya saat berhasil terjual. Sang pembawa acara membuka harga sebesar 25 miliar untuk perempuan itu, yang berdiri tanpa berbicara apa pun.

“26 miliar,” ucap seorang pria yang memiliki janggut tebal di dagunya dengan topeng biru tua yang menutupi setengah wajahnya. William ikut menoleh ke belakang seperti yang lainnya.

William mengangkat papan nomornya lalu berkata, “30 miliar.” Dia lalu menoleh ke belakang kembali, bertatap mata dengan pria berjanggut itu.

“32 miliar.” Si pria berjanggut kembali mengucapkan harga, membuat William mengepalkan tangannya kuat.

“40 miliar.”

Kini si pria berjanggut yang mengepalkan tangannya. Dia menatap William tajam meski tidak tahu siapa orang di balik topeng itu. Pria berjanggut itu kembali mengangkat papan nomornya, mengucapkan nominal besar lainnya dan berharap William tidak bisa menandinginya. Namun, harapannya langsung pupus begitu William mengangkat papan nomornya lagi.

“100 miliar!” seru William lagi, merasa sudah lelah tawar menawar.

Dia yang awalnya tidak tertarik sama sekali pada acara lelang ini dan berpikir tidak akan mengeluarkan uang sedikit pun, justru menjadi orang yang paling banyak mengeluarkan uang. Tujuan awalnya hanya datang untuk memenuhi undangan. William sendiri tidak menyangka dia akan membeli seorang perempuan dari pasar lelang dan berebut dengan seorang pria yang tidak dia ketahui wajahnya.

Sebelum si pria berjanggut sempat memberi harga baru, sang pembawa acara terlebih dahulu mengetuk palu, menyebutkan nomor milik William, dan berkata selamat padanya. Seperti sebelumnya, dua pria itu datang ke panggung untuk membawa si perempuan yang sudah berhasil terjual kembali ke dalam. Nantinya William akan menemui sang pembawa acara lalu membawa pulang ‘barang’ yang dibelinya. Mata William terus menatap ke arah perempuan itu, bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Selepas kepergian peti kaca besar itu, sang pembawa acara kembali bersuara. Mengatakan betapa malam ini sungguh luar biasa. Semua perkataannya diulang-ulang untuk mengulur waktu hingga membuat William tidak tahan dan memutuskan untuk pergi dari sana. William membuka pintu berwarna emas sedikit dan keluar. Segera dia menarik napas panjang. Rasa sesak di dadanya sedikit berkurang, tetapi tidak menyembuhkan. William memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar gedung ini hingga sebuah email pemberitahuan datang padanya.

Tampaknya William tidak butuh email pemberitahuan itu karena sekarang dia tengah melihat perempuan tadi. Perempuan yang dia beli dengan harga 100 miliar. William akhirnya memutuskan untuk mengikuti dua orang pria yang membawa perempuan itu hingga ke ruangan lainnya. Ruangan tempat menyimpan barang lelang. Kalung berlian biru itu juga ada di sana, membuat bayangan sang mantan kekasih kembali datang.

“Saya ingin mengambil ba–perempuan itu.” William menunjuk si perempuan lalu menampilkan papan nomornya.

Dua pria tadi memanggil seseoran dari ruangan lain. Pria tua berambut putih tersenyum ramah begitu keluar dari sana. Dia menyodorkan secarik cek pada William yang langsung dia tulis dengan harga kesepakatan sebelumnya. Sang pria tua meminta dua pria sebelumnya untuk mengantarkan perempuan itu ke mobil William, tetapi William menolak.

Tangan kiri William terselip di pinggang perempuan itu ketika dia membawanya pergi dari gedung mewah itu. Menyusuri lorong sunyi yang hanya diisi oleh gema sepatu mereka berdua hingga tiba di parkiran yang penuh dengan lampu dan penjaga. Salah satu penjaga menghampiri William dan memberikan kunci mobil padanya yang diterima William tanpa mengucapkan satu kata pun. William membuka pintu mobil untuk perempuan itu. Sekilas mereka bertatapan dan William dapat melihat.

Tidak ada kehidupan di mata abu-abu milik perempuan itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan, pebisnis dingin tanpa ampun, terusik saat Yezi kembali ke hidupnya. Merasa diabaikan oleh wanita blasteran Jepang-Indonesia itu, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal pada ayah Yezi. Tak gentar, Yezi membalas ancaman tersebut menggunakan rekaman rahasia dari tiga tahun lalu. Di balik arogansi dan persaingan bisnis yang sengit, ada rahasia besar masa lalu yang mengikat mereka berdua.
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta, wanita tangguh yang kerap diremehkan karena penampilannya yang sederhana, fokus meniti karier demi membuktikan dirinya setelah dicampakkan akibat perbedaan kasta. Takdir mempertemukannya dengan Evan, seorang pengusaha duda yang sukses. Di tengah badai dan dendam masa lalu yang terus menguji hubungan mereka, keduanya kini harus bersatu guna menyelidiki dalang di balik kekacauan yang melanda perusahaan masing-masing.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Clara dikhianati oleh suaminya, Marco, yang mendorongnya ke jurang saat piknik demi bersama selingkuhannya, Chika. Meski terluka parah, Clara selamat dan mendengar rencana licik Marco yang ingin memalsukan kematiannya. Di tengah keputusasaan, tekadnya untuk membalas dendam membara. Kehadiran Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya yang datang menolong, menjadi titik balik bagi Clara. Bersama Julian, ia kini bersiap menghancurkan Marco.
Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT
8.0
Hanya sebulan setelah pernikahan kami, Rio tega mengkhianatiku dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Kehadiranku di rumah diabaikan bagai pajangan tak berharga. Puncaknya, Rio merenggut paksa kehormatanku demi menuntut ganti rugi mahar. Saat mengadu ke orang tua, aku justru tidak mendapat pembelaan sama sekali. Merasa hancur dijadikan tumbal dalam pernikahan tanpa cinta ini, aku memutuskan pergi sejauh mungkin dan melenyapkan jejak untuk menyembuhkan luka batin yang teramat perih.
Sampul Novel My Iceberg
9.3
Akibat salah paham, Prana Guntara yang kaku dan otoriter tega mengusir istrinya, Ganistra Yunata. Ia tidak tahu bahwa sang istri pergi dalam kondisi mengandung anaknya. Setelah empat tahun berpisah, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun, sikap Prana kini berubah drastis. Ia menjadi sangat protektif dan terobsesi untuk mendapatkan Ganistra kembali. Prana pun bertekad tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari sisinya untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Sayangnya Tak Ada Kata Andaikan
9.4
Saat memergoki Silvano, tunangannya, berciuman dan berjanji akan membiarkan cinta pertamanya, Marisha, merebutnya di altar, hati Juvena hancur. Namun, alih-alih melabrak mereka, Juvena memilih jalan lain yang jauh lebih ekstrem. Dia diam-diam merancang rencana balas dendam yang matang. Di hari pernikahan mereka sebulan kemudian, Juvena berniat menayangkan bukti perselingkuhan Silvano dan Marisha ke hadapan semua tamu undangan, sementara dirinya telah bersiap kabur ke luar negeri.