APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Nikah SMA

Terpaksa Nikah SMA

Mila memimpikan pernikahan bahagia dengan suami kaya yang sangat mencintainya. Namun, kenyataan pahit menghancurkan harapan itu ketika Arjuna menorehkan luka mendalam. Akibat kehamilan di luar nikah, mereka terpaksa menjalani pernikahan dini yang penuh konflik dan air mata. Dibayangi masa lalu yang menyakitkan, kini Mila dihadapkan pada pilihan sulit di persimpangan jalan: terus bertahan dalam hubungan ini atau menyerah dan melepaskan segalanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aina mendekap erat tubuh Mila yang bergetar. Sekarang mereka berada di rumah sederhana, yang hanya memiliki dua kamar kecil. Ya, itulah rumah Aina. Sangat jauh berbeda dengan rumah Mila, bahkan kamar pembantunya lebih besar dari rumah ini, tapi Mila sangat bersyukur, setidaknya masih ada yang bisa ia tempati. Mila mengembangkan senyum manisnya, melihat Aina yang tertunduk lesu karena tidak enak kepada Mila.

"Na, kamu kok gitu?"

"Maaf, ya, Mil. Rumahku kecil banget, beda jauh sama rumah kamu."

"Ya ampun, Na, seharusnya aku yang gak enak sama kamu, karena aku udah nyusahin kamu.”

“Nggak kok, Mil, justru aku seneng banget dan sekarang aku gak kesepian lagi."

"Na, makasih banyak, ya, aku gak tau lagi gimana caranya ngebalas kebaikan kamu."

"Mil, ini gak sebanding dengan apa yang kamu dan keluarga kamu kasih ke aku, Kalo bukan karena kalian, aku gak akan mungkin bisa sekolah sampai detik ini."

"Mulai sekarang, kita jalani hidup kita dan lupakan masa lalu. Setuju?" ucap Aina menyemangati.

"Setuju!" Mila menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Aina. Mereka tertawa bersama. Mila bersyukur, bisa mengenal sosok teman yang setia seperti Aina.

Dulu Aina satu sekolah dengan Mila, tapi Aina memilih pindah, karena mendapatkan beasiswa yang dicarikan orang tua Mila. Tentu saja atas dasar bujukan dari Mila. Mila prihatin karena Aina, dulu sering menjadi korban bullying, jadi Mila menyuruh Aina untuk pindah. Kebetulan, pamannya Mila adalah pemilik sekolah Aina yang dulu. Tentunya bukan hal yang sulit bagi Mila melakukan hal itu.

"Mil, ayo bangun, aku udah masak, nih." Mila mengucek-ngucek matanya, kemudian berjalan menuju dapur mengikuti Aina.

Tumis kangkung dan tempe goreng terhidang, di atas meja kayu berukuran 4×4 Meter di tengah ruang dapur. Mila duduk di atas kursi plastik.

Mila mengamati makanan itu saksama. Sedari dulu, Mila tak pernah memakan makanan sesederhana itu, tapi cepat-cepat Mila mencicipi hidangan tersebut. Mila merasa tidak enak hati kepada Aina, mungkin saja rasanya tak seburuk yang Mia pikirkan.

Mila memakan-makanannya dengan rakus. Ternyata benar! Tidak seburuk yang Mila pikirkan, justru masakan itu sangat enak menurutnya. Apalagi sambal terasi yang Aina buat sungguh lezat, Aina tertawa melihat Mila yang makan dengan tergesa-gesa, seperti sedang dikejar hutang.

"Mil, makannya pelan-pelan aja. Makanannya gak akan lari ke mana-mana, kok.” Aina menertawakan kelakuan Mila. Menurutnya itu sangat lucu. Sementara Mila, tersenyum kikuk menahan malu.

"Oh iya, Mil, kamu gak sekolah?"

Mila berpikir sesaat. “Aku gak tahu gimana caranya."

"Aku dengar, kemarin sekolahku ngadain bantuan gitu. Semacam ujian untuk orang-orang tidak mampu, yang akan mendapat beasiswa. Kamu mau coba?" Aina cepat-cepat menutup mulutnya. Lalu merutuki mulutnya yang asal bicara. Mila jadi kebingungan melihat tingkah Aina yang tiba-tiba seperti itu.

"Maaf ya, Mil, bukan maksud aku buat ngatain kamu."

Namun, Mila membalasnya dengan tertawa ringan. “Nggak pa-pa, tenang aja. Ngomong-ngomong, masakan kamu enak banget!"

"Syukur, deh, kalo kamu suka. Aku kira kamu gak suka."

"Kamu gak liat aku habis sepiring penuh, nih?”

"Ya udah. Aku cuci piring dulu ya, Mil, kamu bisa nonton TV di depan."

"Gak, kita cuci bareng biar cepat. Kalo urusan cuci piring, aku juga bisa.” Mila mengedipkan sebelah mata, membuat Aina terkekeh geli.

Acara cuci piring itu, mereka kerjakan sembari bercanda dan tertawa bersama. Beberapa saat Mila melupakan semua masalah yang terjadi padanya. Mila bahagia dipertemukan dengan orang baik seperti Aina, sejujurnya dari dulu Mila mengagumi Aina, gadis itu selalu mendapat peringkat satu padahal dia hidup sendiri. Hal itulah yang membuat Mila menemui Aina kala itu, agar gadis cerdas itu---Aina keluar dari international school. Mila tidak mau Aina terus-terusan menjadi bahan bullying.

Malam mulai larut. Setelah puas menonton TV, Aina dan Mila tidur di kamar masing-masing, sungguh berbanding terbalik dengan kehidupan Mila dulu. Mila memandang langit-langit kamar, sambil mengusap perutnya yang rata. Mila rindu orang tuanya, setetes air bening menetes dari pelupuk mata, yang ia tutup paksa.

"Ma, apa kesalahan Mila begitu tak termaafkan? Sampai-sampai kalian mengusir Mila seperti ini." Mila kembali membuka mata, ia sangat sedih. Mila benci kepada Mona dan laki-laki bejat itu.

Mila menyalahkan dirinya sendiri, ia bodoh telah mempercayai seorang penjilat seperti Mona. Mila sungguh menyesal. Kini, penyesalannya sudah tidak berarti lagi. Mila gagal menjaga amanah dari kedua orang tuanya.

Aina muncul di lawang pintu yang tertutup tirai itu, ia memanggil-manggil Mila dengan nada pelan.

"Mil, kamu belum tidur, 'kan?" tanya Aina yang hanya menyembulkan kepalanya saja di balik tirai.

Mila berbalik badan menghadap temanya itu, apa yang Aina lakukan mengundang tawa Mila.

"Kamu! Ngapain di sana? Aku sempat terkejut. Sini masuk.” Tangan Mila melambai-lambai, memanggil Aina.

Aina duduk di samping Mila yang masih berbaring.

"Mil, aku tidur di sini ya, plis! Tadi aku mimpi buruk," ujar Aina merapatkan kedua telapak tangannya, seolah memohon dengan sangat pada Mila.

"Iya, gak usah minta izin juga. Nih, tidur di sini," Mila menepuk bagian kasur di sebelah kirinya.

Aina menurut. Gadis itu merebahkan tubuhnya di samping Mila, ia menatap langit-langit kamar.

"Kamu belum ngantuk? Aku mau cerita," ujar Aina, matanya masih setia menatap langit-langit kamar dengan sendu.

"Belum. Cerita aja, aku dengerin, kok," jawab Mila mulai menyimak cerita Aina.

"Sejujurnya aku gak sanggup kesepian gini. Aku selalu tersenyum, padahal dalam hati menangis.” Aina mengisyaratkan luka di wajahnya yang semakin sendu. Mila diam mendengarkan, sambil menatap Aina yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar.

"Sendiri itu menyakitkan, setelah di-bully di panti, aku memutuskan keluar dari sana. Rumah ini, ternyata rumah lama orang tuaku, entah di mana mereka sekarang. Kata ibu panti, mereka menitipkanku sementara di sana. Setiap hari, aku menunggu orang tuaku datang sampai larut malam, tapi tidak ada tanda-tanda kalau mereka akan datang. Aku putus harapan. Saat aku keluar, rasanya sama saja. Aku kembali merasakan kesendirian. Uang tabunganku menipis, sampai akhirnya aku melamar pekerjaan di kafe blackdemon. Kafe itu milik kakak kelasku. Dan sekarang aku bahagia punya teman yang sesungguhnya. Tempat aku berkeluh kesah. Makasih ya, Mila, karena sudah mau membantuku.” Aina terisak, membayangkan semua perlakuan buruk yang diterimanya selama ini.

Mila menggenggam tangan Aina, menyalurkan kehangatan di sana. “Yang sabar, Na. Makasih karena sudah bercerita dan mau terima aku di sini."

"Iya. Yuk, kita tidur, besok harus sekolah. Kamu juga bakalan ikut tes itu juga, 'kan?" Mila mengangguk. Aina menyampingkan tubuh, kemudian menutup mata untuk menyelami alam mimpinya.

"Iya, aku mau sekolah. Tapi mimpiku buat jadi dokter sepertinya gak bakalan kesampaian,” ujarnya, lalu tersenyum miris.

Mila membatin. Mimpinya semasa kecil harus terhenti karena kehadiran sebuah nyawa di perutnya.

"Tenang, Mila, kamu harus kuat! Kamu gak sendiri. Ada Aina dan Dia di sisi kamu," lanjut Mila menyemangati dirinya sendiri. Setelah itu Mila langsung memejam, menyusul Aina ke alam mimpi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Demi melunasi utang keluarganya, Rachel Martinique terpaksa menikahi seorang CEO lumpuh yang asing baginya. Kehidupan dokter bedah ini berubah drastis saat memasuki pernikahan tanpa cinta tersebut. Alih-alih kebahagiaan, ia justru disambut kebencian mendalam dari sang suami baru. Di tengah ketegangan dan ketidakpastian rumah tangga, akankah benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka, ataukah takdir buruk yang akan menyudahi hubungan ini?
Sampul Novel CINTA YANG TERTUKAR
8.4
Mahya, wanita kelahiran 1991, selalu gagal dalam percintaan akibat ulah sahabatnya sendiri. Di balik sikap manisnya, sang sahabat diam-diam kerap menghancurkan asmara Mahya secara manipulatif. Meski berulang kali dikhianati, kepolosan membuat Mahya terus memercayainya. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa tak terduga memicu kemarahan besar Mahya. Apakah kedok busuk sahabatnya itu akan segera terbongkar?
Sampul Novel Godaan Istri Orang
9.1
Dalam novel romantis modern Godaan Istri Orang, Zayn sering kali menjadi sasaran penghinaan oleh Sienna, seorang pemain kartu berparas cantik yang selalu bersikap tinggi hati karena pekerjaan Zayn yang hanya melayani tamu. Roda nasib berputar saat Zayn tanpa sengaja mengungkap rahasia kecanduan tersembunyi milik wanita angkuh tersebut. Seketika, sikap Sienna berbalik drastis hingga ia rela memohon bantuan Zayn. Menghadapi perubahan ini, Zayn mencoba meredam hasratnya sambil menyusun rencana terselubung untuk memberi pelajaran dan membalas semua perlakuan meremehkan yang pernah ia terima dari Sienna.
Sampul Novel Istri Yang Diabaikan
9.5
Saat hamil tua, Lili mengalami kemalangan akibat kelalaian suaminya, Azzam. Ia terjatuh tanpa ada yang menolong hingga harus kehilangan sang buah hati. Walau Azzam sangat menyesali perbuatannya dan bertekad untuk berubah sewaktu Lili dalam kondisi kritis, situasi justru kian memburuk. Desakan tiada henti dari sang ibu mertua membuat Lili akhirnya memilih kabur dari rumah. Kini, Azzam harus berjuang melacak istrinya demi memperbaiki ikatan pernikahan mereka yang telah retak.
Sampul Novel KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH
8.9
Kanaya terpaksa menikahi Bisma demi berbakti pada orang tuanya, walau cintanya masih milik Hamdan. Pernikahan mereka diuji saat Bisma menghamili pacarnya, Vilia. Dengan ketegaran hati, Kanaya malah membantu pernikahan kedua suaminya. Namun saat Bisma mulai mencintainya, Hamdan datang kembali untuk melamar Kanaya. Kini, ia terjebak dalam dilema cinta yang sangat rumit.
Sampul Novel Menunggu Perceraian yang Dinantikan
9.0
Keputusan berpisah diambil sang istri setelah Navish, suaminya, lebih memilih mengantar obat flu untuk sang asisten saat dirinya terjebak di lift dalam kondisi klaustrofobia. Menganggap istrinya hanya merajuk karena sebatang kara, Navish menandatangani berkas cerai dengan penuh percaya diri, yakin masa tunggu 30 hari akan membuatnya memohon kembali. Di tengah pamer kemesraan Navish dengan asistennya di media sosial, sang istri justru diam-diam mengemasi barang dan bersiap terbang ke New York.